ログインDi kehidupan, Alin adalah lambang kepasifan. Ketika pamannya menjualnya kepada Valerio Moretti sebagai jaminan utang, Alin hanya bisa menangis dan menerima nasib. Dia mencoba mencintai Valerio, namun dikhianati oleh sepupu sekaligus sahabat yang paling dia percayai, Elena, yang berselingkuh dengan musuh Valerio. Alin dijebak, dituduh sebagai mata-mata, dan dieksekusi oleh tangan kanan Valerio atas perintah suaminya sendiri yang salah paham. Saat peluru menembus dadanya, Alin tidak merasakan sedih, melainkan kemarahan yang membakar. Dia terbangun di kamarnya yang lama. Kalender menunjukkan dua tahun lalu, tepat tiga bulan sebelum malam pernikahan mafianya. Berbekal ingatan masa depan, Alin bersumpah tidak akan menjadi domba sembelihan lagi. Dia tidak melarikan diri dari pernikahan itu; dia justru memeluknya, tetapi dengan satu syarat: Kali ini, dia yang akan memegang talinya.
もっと見るBau karat, bensin, dan darah segar berbaur menjadi satu di udara yang pengap.
Alinea Vance (Alin) sedang berlutut di atas lantai semen yang dingin dan kotor. Lututnya yang telanjang bergesekan dengan kerikil tajam, mengirimkan rasa sakit yang menusuk hingga ke sumsum tulang, namun rasa sakit itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kehancuran yang sedang mencabik-cabik dadanya. Gaun sutra putih yang dibelinya dengan penuh suka cita untuk merayakan ulang tahun pernikahan pertamanya kini telah koyak, ternoda oleh lumpur hitam dan cipratan darah dari pelipisnya yang terluka. Di depannya, bayangan seorang pria berdiri tegak, memegang sepotong logam hitam yang dingin dan mematikan. Enzo, tangan kanan suaminya, Valerio Moretti. "Ada kata-kata terakhir, Nyonya Moretti?" Suara Enzo terdengar tanpa emosi, datar seperti robot. Di dunia bawah tanah, tidak ada ruang untuk belas kasihan, terutama untuk seorang pengkhianat. Alin mendongak dengan susah payah. Rambutnya yang kusut menutupi sebagian wajahnya yang pucat pasi. "Aku... aku tidak melakukannya, Enzo. Demi Tuhan, aku tidak pernah menjual rute logistik Valerio kepada keluarga saingan. Aku tidak tahu bagaimana dokumen itu bisa ada di kamarku..." Suaranya parau, bergetar oleh keputusasaan yang sia-sia. Enzo tidak mengedipkan mata. "Bukti sidik jari Anda ada di seluruh dokumen itu, Nyonya. Dan musuh tahu persis sandi brankas Tuan Valerio, sandi yang hanya diketahui oleh Anda berdua. Tuan Valerio tidak suka membuang waktu untuk tikus." Mendengar nama itu, jantung Alin serasa berhenti berdetak. Valerio. Pria yang setahun lalu menikahinya dalam sebuah perjanjian bisnis yang dingin. Pria yang selama ini dia takuti, namun perlahan-lahan mulai dia cintai dalam diam. Alin selalu berpikir bahwa di balik tatapan mata Valerio yang sehitam malam, ada sedikit ruang aman untuknya. Dia telah mencoba menjadi istri yang penurut, tidak pernah bertanya, selalu tersenyum, dan menerima setiap jengkal keheningan yang diberikan pria itu. Dia mengira kepatuhannya akan membuahkan kepercayaan. Betapa naifnya dia. Di mata Valerio Moretti, dia tetaplah hanya seorang pion. Seorang gadis yatim piatu lemah yang dibuang oleh pamannya sendiri untuk membayar utang, dan kini, dihukum mati tanpa diberi kesempatan untuk membela diri. Valerio bahkan tidak sudi datang untuk mengeksekusinya sendiri. Pria itu menyerahkannya pada Enzo, seolah-olah Alin hanyalah seonggok sampah yang harus dibersihkan dari rumah besarnya. "Ini bukan perbuatanmu, Alin. Ini semua salahmu karena terlalu bodoh." Sebuah suara lembut, yang sangat akrab di telinga Alin, bergema dari sudut gudang yang remang-remang. Langkah kaki sepatu hak tinggi berdetak ritmis di atas semen, mendekat ke arah Alin yang tak berdaya. Alin menoleh. Di sana, berdiri Elena Vance, sepupu sekaligus satu-satunya orang yang Alin anggap sebagai sahabat, saudara, dan pelindung sejak orang tuanya meninggal. Elena mengenakan mantel bulu yang mewah, wajahnya yang cantik dipoles dengan riasan sempurna. Tidak ada sedikitpun riak kesedihan di matanya, yang ada hanyalah kilatan kepuasan yang kejam. "Elena..." bisik Alin, bibirnya yang pecah-pecah gemetar. "Kenapa... kenapa kamu ada di sini? Tolong katakan pada mereka... katakan pada Valerio kalau malam itu aku bersamamu..." Elena tertawa kecil, suara tawa yang biasanya terdengar merdu kini terdengar seperti lolongan iblis di telinga Alin. Elena berjongkok di depan Alin, mencengkram dagu Alin dengan kuku-kukunya yang panjang dan tajam, memaksa sepupunya itu untuk menatapnya. "Katakan pada Valerio?" Elena berbisik, sangat pelan hingga hanya Alin yang bisa mendengarnya. "Alin, sayangku yang bodoh... akulah yang menaruh dokumen itu di bawah kasurmu. Akulah yang memberikan sandi brankas Valerio kepada keluarga Rostov. Dan tebak siapa yang memberi tahu Enzo bahwa kamu mencoba melarikan diri malam ini?" Mata Alin membelalak sempurna. Pupil matanya bergetar hebat. "Kamu... kenapa? Aku mempercayaimu, Elena! Aku memberikan semua perhiasan ibuku padamu! Aku membantumu saat paman ingin menjualmu juga! Kenapa kamu melakukan ini padaku?!" Cengkeraman Elena di dagu Alin semakin mengencang, meninggalkan bekas kemerahan yang dalam. Tatapan matanya berubah menjadi penuh kebencian yang mendalam. "Karena kamu tidak pantas mendapatkan semua ini! Kamu hanyalah gadis yatim piatu yang pasif, lemah, dan menyedihkan! Tapi entah bagaimana, kamu mendapatkan gelar Nyonya Moretti. Kamu mendapatkan pria sekuat Valerio, sementara aku harus mengemis perhatian di lingkaran luar!" Elena melepaskan cengkeramannya dengan sentakan kasar, membuat Alin tersungkur ke lantai. Elena berdiri, menyeka tangannya dengan saputangan seolah-olah dia baru saja menyentuh sesuatu yang menjijikkan. "Jangan khawatir, Alin," ujar Elena sambil tersenyum manis, berbalik menghadap Enzo. "Setelah kamu pergi, aku yang akan menghibur Valerio. Aku akan memastikan dia melupakan bahwa wanita tidak berguna sepertimu pernah ada dalam hidupnya." Sebuah gelombang penyesalan yang begitu pekat dan hitam mendadak membanjiri seluruh kesadaran Alin. Penyesalan itu bukan karena dia akan mati, melainkan karena betapa bodoh dan pasifnya dia selama ini. Di kehidupannya, dia selalu menjadi penonton dalam takdirnya sendiri. Ketika orang tuanya meninggal, dia membiarkan pamannya merampas warisannya. Ketika pamannya menyuruhnya menikah dengan monster mafia seperti Valerio, dia hanya menangis dan menurut. Ketika Elena meminta ini dan itu, dia selalu memberikannya atas nama "keluarga". Dia terlalu baik. Terlalu naif. Terlalu percaya bahwa kepasifan akan melindunginya dari kekejaman dunia. Dan inilah upah dari kebaikannya yang bodoh, sebuah lubang peluru yang menantinya di sebuah gudang tua yang terasing. "Lakukan, Enzo," perintah Elena dengan nada dingin, melangkah mundur untuk memastikan gaun mahalnya tidak terkena cipratan darah. Enzo mengangkat senjatanya, mengarahkannya tepat ke tengah dada Alin. Moncong pistol itu tampak seperti mata hitam malaikat maut yang menatapnya tanpa belas kasihan. Alin memejamkan matanya. Air mata mengalir deras, membasahi pipinya yang kotor. Dalam detik-detik terakhir itu, wajah Valerio terlintas di benaknya, wajah pria yang tidak pernah benar-benar memandangnya sebagai seorang manusia, melainkan hanya sebagai properti yang bisa dihancurkan kapan saja jika dianggap merugikan. “Jika... jika Tuhan memberiku satu kesempatan lagi…” Alin menjerit di dalam hatinya, sebuah doa yang lahir dari keputusasaan dan kemarahan yang membakar. “Aku tidak akan pernah menjadi Alin yang lemah. Aku tidak akan menangis. Aku tidak akan membiarkan siapapun menginjak-injak ku lagi. Aku akan menghancurkan mereka... menghancurkan Elena, menghancurkan pamanku, dan membuat Valerio Moretti berlutut di bawah kakiku!” DOR! Suara tembakan menggema gila-gilaan di dalam gudang kosong itu, memekakkan telinga. Rasa sakit yang luar biasa, seolah-olah besi mendidih dihantamkan ke dadanya, langsung meledak. Alin jatuh tertelungkup ke belakang. Dadanya terasa terbakar, hancur berantakan. Dia bisa merasakan darah hangat mengalir deras, merembes keluar dan mengubah gaun putihnya menjadi merah pekat dalam sekejap. Nafasnya tercekat. Oksigen menolak masuk ke paru-parunya. Pandangan Alin perlahan-lahan mengabur, menggelap di tepinya. Hal terakhir yang dia lihat adalah senyum kemenangan Elena dan punggung Enzo yang berbalik pergi tanpa penyesalan. Kesadarannya mulai melayang. Rasa dingin yang ekstrim menjalar dari ujung kaki hingga ke kepalanya. Detak jantungnya melambat... semakin lambat... hingga akhirnya, keheningan total menelan dirinya.Alin merespons ciuman itu. Tangannya mengalung di leher Valerio, jemarinya menyusup ke dalam rambut hitam suaminya yang tebal. Namun di tengah ciuman yang semakin memanas, Alin memanfaatkan momen ketika Valerio terbuai oleh kenikmatan gairah tersebut untuk membalikkan posisi psikologis mereka.Alin menggigit kecil bibir bawah Valerio, membuat dia menggeram rendah di tengah ciumannya. Kemudian, dengan gerakan yang sangat lembut. Lalu Alin memiringkan kepalanya dan berbisik di telinga Valerio."Jika Anda menginginkan tubuh ini sepenuhnya, Don Valerio... berikan aku otoritas penuh atas pasukan Sektor Lima besok pagi."Valerio membeku seketika. Ciumannya terhenti. Matanya membelalak menatap Alin yang kini tersenyum manis di dalam pelukannya dengan deru napas yang masih memburu."Kamu... memanfaatkan momen ini untuk bernegosiasi bisnis lagi?" Valerio bertanya dengan suara penuh ketidakpercayaan, bercampur antara rasa takjub dan frustasi yang membakar dadanya."Aku seorang Vance yang kini
Perjalanan kembali ke Kastel Moretti berlangsung dalam keheningan dan ketegangan. Di dalam mobil, Valerio duduk di samping Alin, memperhatikan setiap gerakan kecil istrinya.Alin melepas mantel tebalnya, memperlihatkan gaun kasual sutra berwarna biru gelap yang membingkai indah bentuk tubuhnya. Rambut cokelat gelapnya yang sedikit basah oleh hujan terurai bebas, mengeluarkan aroma harum floral yang memenuhi kabin mobil."Mengapa kamu diam, Valerio?" Alin memecah keheningan, melirik suaminya yang tak melepaskan pandangan darinya. "Apakah interogasi Kapten Viper di kepalamu sudah selesai?""Aku tidak sedang memikirkan agen federal itu, Alinea," suara Valerio terdengar rendah dan serak. Tangannya yang terbalut sarung tangan kulit hitam terangkat, mengelus paha atas Alin yang terekspos di balik belahan gaunnya. "Aku sedang memikirkan bagaimana cara menghukum seorang istri yang tidak patuh kepada suaminya."Sensasi hangat dari telapak tangan Valerio menembus kain sutra tipis, membuat bul
Alin melepaskan genggaman tangannya dari pistol yang berada di dalam saku, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap Silas dengan pandangan mata yang penuh penghinaan."Paman Silas..." Alin berkata dengan suara yang sangat tenang dan jernih, menggelegar menembus deru suara hujan di luar. "Apakah kamu benar-benar mengira... aku datang ke dermaga tua ini sendirian tanpa membawa hadiah penutup untukmu?"Tepat pada saat Alin menyelesaikan kalimatnya, suara mesin mobil berdaya tinggi mendadak memecah kegelapan malam dari luar gudang!Sebuah kendaraan lapis baja berukuran raksasa menghantam dinding beton gudang tua hingga hancur berkeping-keping, menyemburkan debu dan puing-puing batu ke udara! Di belakang kendaraan tersebut, belasan lampu tembak menyala serentak, menyinari seluruh sudut gudang tua dengan cahaya putih yang menyilaukan mata!Dari dalam debu yang membumbung tinggi, sesosok pria tinggi besar melangkah keluar dengan senapan di tangannya. Aura membunuh yang amat peka
"Karena serangan Gideon semalam tidak akan pernah terjadi jika tidak ada dorongan dari petinggi di Eropa," Alin melepaskan tangan Valerio dari dagunya secara halus. "Seseorang di atas sana takut jika kita berhasil melegalkan bisnis kasino dan menguasai Sektor Lima, kekuasaan Moretti akan menjadi terlalu besar untuk dikendalikan."Valerio menatap istrinya beberapa saat sebelum sebuah helai nafas berat keluar dari dadanya. "Aku baru saja selesai menginterogasi komandan pengawal faksi selatan yang kita tangkap di pelabuhan.""Apa yang dia katakan?" tanya Alin cepat."Don Carlos tidak bergerak sendirian," Valerio melangkah mendekati jendela, menatap pemandangan halaman kastil di bawah sinar matahari pagi. "Dia mendapat perintah langsung dari seorang perantara yang mengaku bekerja untuk klan Vane di Eropa. Dan yang lebih menarik lagi... perantara itu memberikan foto wajahmu sebagai target utama yang harus ditangkap hidup-hidup."Alin terdiam sebentar. "Mereka tidak menginginkan kematia
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.