MasukWarning, content dewasa dan kekerasan (Tidak disarankan bagi yang memiliki masalah mental) Hidup Iris tidak pernah benar-benar beruntung. Lahir di panti tanpa mengetahui siapa orang tuanya, bekerja di kafe kecil dengan gaji pas-pasan, dan bahkan... tidak punya pacar. Namun semua itu bukan puncak kesialannya. Kesialan yang sebenarnya dimulai saat Iris tanpa sengaja masuk ke dalam dunia Silas Montclair. Dunia yang tidak seharusnya dia sentuh, karena tidak ada yang namanya jalan keluar. Sejak saat itu, hidupnya tak pernah lagi berada di tangannya sendiri. Nyawanya menjadi taruhan. "Kau akan hidup, sebagai wanitaku."
Lihat lebih banyak"Saya mendengar Nona pingsan."Mata Iris bergerak. Kegelapan masih menyelimutinya, tapi telinganya samar-samar mendengar suara yang tak asing dan derap langkah kaki yang mendekat. "Dia hanya shock.""Apa dokter sudah memeriksanya? Haruskah saya—""Tidak perlu. Dia sudah bangun. Buka matamu."Suara Silas yang terdengar sedikit memerintah, menyentak kesadaran Iris. Matanya bergerak perlahan. Menyesuaikan cahaya yang masuk, sebelum dia akhirnya benar-benar membuka mata sepenuhnya. Untuk beberapa saat, Iris hanya menatap langit-langit ruangan. Dia mengalami disorientasi. Sampai suara langkah kaki yang semakin dekat, seketika menarik perhatiannya. Dia menoleh. Mendapati kehadiran Silas yang berhenti dan duduk di kursi tepat di seberangnya. Sementara di sampingnya, berdiri Marcus yang menatap ke arahnya. Dia melihat keduanya bingung, sampai kemudian, kilas balik adegan sebelumnya tiba-tiba muncul. Seketika, matanya melotot dan Iris spontan terduduk di sofanya. Tatapannya kini tertuju pe
"A-apa?"Mata Iris bergerak antara peti kecil di tangannya dan Silas bergantian. Bertahan. Bertahan sampai Silas datang. Kalimat itu tidak terdengar seperti pria itu akan datang dan menyelamatkannya tanpa dia terluka. Lebih seperti sebuah peringatan jika sesuatu yang buruk, mungkin bisa terjadi. Sesaat, Iris merasa telinganya seolah berdengung, tapi dia bisa mendengar suara detak jantungnya yang berdetak lebih cepat. Rona merah di wajahnya surut, membuatnya tampak lebih pucat. Pikiran menakutkan menyerangnya, membuat kepalanya sedikit pusing. Bahkan sebelum kejadian itu benar-benar terjadi. "Kau... kau mengatakan itu seolah tahu ada hal buruk yang akan terjadi padaku," gumam Iris dengan suara napas yang sedikit terengah-engah. Tangannya memegangi kepalanya yang pusing saat dia menatap Marcus dan Silas yang bergeming. Ekspresi keduanya tampak tenang. Hanya perlahan, Marcus melepaskan tangannya. "Tidak ada yang tahu apa yang akan kau hadapi nanti."Iris menahan napas dalam-dalam.
Mata Iris berkedip. Dia mematung di tempat saat mendengar perkataan Silas. Lalu melirik peti kecil itu dan Silas secara bergantian. Berharap jika Silas sedang bercanda, tapi pria itu tidak pernah bercanda. Matanya kemudian kembali tertuju pada perhiasan di peti tersebut. Ada kalung, gelang, jepit rambut, sampai anting. Semua itu adalah benda yang tidak terpasang di tubuhnya sekarang. Tepatnya nyaris tidak pernah dia gunakan, meski sebenarnya perhiasan semacam itu telah disediakan Silas. Berta juga beberapa kali mencoba menawarkan diri untuk memasangkannya, tapi dia selalu menolak. Iris hanya benar-benar memakainya saat Silas memaksanya mengajak keluar seperti ke pesta gala. "Untukku?" tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri. Suaranya terdengar seperti sebuah bisikan. Ada rasa kaget dan sorot tak percaya terpancar di matanya. Selain karena perhiasan itu tampak berbeda dari yang diberikan Silas sebelumnya, perhiasan tersebut juga diberikan langsung oleh Silas sendiri. Iris tidak
Tubuh Iris membeku mendengar jawaban Silas. Matanya berkedip beberapa kali. "P-pulau pribadi?"Pandangannya dengan cepat kembali menatap sekeliling. Mencoba melihat ujungnya, tapi pulau itu terlalu luas. Bukan pulau kecil yang hanya seluas apartemen. Karena di sana, Iris melihat ada beberapa bangunan permanen yang berdiri. Nilainya jelas tidak akan murah. Apalagi jika berada di dekat area pelabuhan yang menjadi jalur perdagangan di kawasan. Iris menelan ludah kasar. Berta tidak bilang soal pulau pribadi. Dia kira, wilayah kekuasaan Silas hanya sebatas pelabuhan saja. Namun tampaknya, tidak ada yang benar-benar bisa menebaknya secara pasti. Tangannya mengepal erat di kedua sisi. Ada rasa waspada yang sedikit berbeda di sana. Bukan gugup, tapi lebih ke rasa takut. Iris tidak melihat Silas mengajaknya ke sana untuk liburan. Tempat itu juga bukan tempat untuk bersenang-senang secara pribadi, tapi tampak seperti gudang di bawah kendali Silas. "Berhenti melamun."Iris tersentak saat me
"Hayes? Aku belum pernah mendengar nama itu. Di mana kamu tinggal? Orang tuamu bekerja di pemerintahan mana?"Suara seorang wanita paruh baya terdengar ikut menimpali percakapan. Membuat Iris mengerjap dan menatap wanita yang duduk di samping Octavian. Wanita berambut hitam panjang dengan senyum r
"Rumah orang tuaku."Iris menoleh ke arah Silas. Rasa penasarannya terjawab, tapi jawaban itu juga membuat pertanyaan lain muncul di kepalanya. Meski pertanyaan tersebut tertahan di mulutnya ketika dia menyaksikan Silas keluar dari mobil, diikuti oleh pintu di sebelahnya yang dibuka Elliot. Dia me
Iris tidak bergerak. Tidak juga berbalik. Dia diam di tempat ketika mendengar langkah kaki mendekat. Sampai suara langkah itu berhenti tepat di belakangnya. Kehangatan tubuh asing mulai terasa di punggungnya. Menyadarkan Iris jika pria itu berdiri terlalu dekat. “Aku tidak memanggilmu,”
"Masuklah!" Bruk! Tubuh Iris didorong kasar oleh Elliot, membuat keseimbangannya hilang kendali. Dia jatuh, tapi kali ini lututnya tidak merasakan sakit. Karena sebuah karpet bulu lembut menahannya. Iris terdiam, lalu menatap ruangan ketika menyadari Elliot telah membawanya ke ruangan lain. Buka






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan