LOGINSelena tak pernah menyangka satu kesalahan akan membuatnya menjadi milik Don Mackenzie, raja mafia yang ditakuti dunia bawah. Namun, saat pria itu berkata, "Kau tidak akan pernah lepas dariku!" Selena baru menyadari... ia telah terjebak dalam mimpi buruk yang tak memiliki jalan keluar.
View MoreLampu neon berpendar redup, berkedip-kedip di jalanan sepi yang biasa dilewati Selena saat pulang kerja. Selena menyeret langkahnya yang berat melewati gang sempit. Rumah kontrakannya terlihat menyedihkan, tripleksnya sudah mulai mengelupas di bagian bawah, lapuk di makan usia dan kelembapan.
"Aku lapar sekali," gumam Selena sambil mempercepat langkahnya.
Aroma sisa hujan semalam bercampur bau parit yang menggenang tak lagi mengusiknya. Indra penciumannya yang genius, yang mampu membedakan puluhan kelopak bunga dalam satu hirupan, kini lumpuh total. Semua terkalahkan oleh kelelahan yang menggerogotinya setelah dua belas jam berdiri tanpa henti di balik meja kasir minimarket.
Satu-satunya semangat yang tersisa di kepalanya adalah bayangan wajah pucat sang ibu di bangsal kelas tiga rumah sakit umum. Di sana, wanita yang melahirkannya terbaring tak berdaya dengan selang-selang kaku dan jarum infus yang menancap kejam di bawah kulitnya yang mulai keriput.
"Sedikit lagi, Selena. Bertahanlah," bisik Selena pada diri sendiri. Suaranya serak, tenggelam dalam sunyinya malam. Jemari tangannya yang gemetar meraba kunci di saku rok kerja yang mulai pudar warnanya. Tabungan bulan ini akhirnya genap. Jumlahnya cukup untuk menebus paket cuci darah minggu depan, memberikan ibunya perpanjangan napas satu minggu lagi.
Namun, begitu selot pintu terbuka, firasat buruk langsung menyengat tengkuknya.
Keheningan rumah itu terasa ganjil dan senyap, tapi ada sesuatu yang tidak beres. Laci lemari pakaian di sudut ruangan terbuka menganga. Sedangkan pakaian-pakaian bekasnya berserakan di lantai seperti habis diterjang badai. Jantung Selena mencelos, berdegup liar di rongga dada. Dengan napas tercekat, dia melompati tumpukan baju, berlutut di sudut ranjang tua ibunya, dan meraba kolong kasur. Tempat rahasianya.
Kosong.
Celengan kaleng usang dan buku tabungan bersampul hijau yang dia sembunyikan dengan sangat hati-hati di dalam lipatan kain bekas selimut telah raib. Kamar itu hampa. Namun, indra penciuman genius Selena tidak bisa dibohongi. Di antara bau debu, dia mencium jejak yang sangat familiar, bau tembakau murahan beraroma cengkih pekat milik sang ayah. Jejak itu masih segar, tertinggal menempel di sekitar kain dan area ranjang itu.
"Tidak ... Ya Tuhan, jangan sekarang," bisik Selena. Jemarinya mencakar lantai semen yang dingin, meraba-raba panik, berharap benda itu hanya terselip atau jatuh agak dalam. Sia-sia. Di sana hanya ada debu, kegelapan, dan keputusasaan yang nyata. Semua jerih payah, keringat, dan nyawa ibunya ... lenyap.
BRAAK!
Pintu depan mendadak terbuka kasar, menghantam dinding tripleks hingga bergetar hebat. Sesosok pria paruh baya masuk dengan langkah gontai dan sempoyongan. Pakaiannya kusut, kancing kemejanya terlepas dua di bagian atas, dan bau alkohol murahan menguar tajam, menusuk indra penciuman Selena yang sensitif hingga membuat lambungnya mual.
"Papa? Di mana uang yang aku simpan untuk Mama?!" Selena bangkit, suaranya naik satu oktav, serak oleh amarah yang berbaur ketakutan. "Papa ambil lagi?! Itu uang untuk cuci darah Mama, Papa!"
Denny, ayahnya, menatap Selena dengan mata merah yang sayu, tidak ada kilat amarah yang biasanya menyala jika pria itu ditagih utang.
"Jawab, Papa! Itu uang untuk cuci darah Mama! Papa benar-benar tidak punya hati, ya?!" teriak Selena, air matanya mulai luruh tanpa bisa ditahan. Dia juga sebenarnya sudah muak melihat Papanya yang hanya main judi dan mabuk-mabukan.
Denny tidak menjawab dengan makian atau tamparan seperti biasanya. Pria itu justru ambruk. Lututnya menghantam lantai yang kotor, lalu dia merangkak maju, memeluk erat kaki Selena. Air mata dan keringat dingin bercucuran di wajahnya yang kuyu dan dipenuhi kerutan penyesalan semu.
"Selena ... tolong Papa ... Papa dijebak," ratap Denny. Suaranya bergetar hebat, giginya gemertakan karena ketakutan. Jemarinya yang gemetar mencengkeram erat ujung rok Selena, seolah anak perempuannya adalah satu-satunya harapan yang ada
"Investasi itu, kasino ... semuanya bohong. Uang tabunganmu habis, Selena. Dan Papa punya utang satu milyar yang harus dibayar besok. Kalau tidak ..." Denny menelan ludah, matanya membelalak penuh teror, "mereka akan memotong tangan Papa dan membuang Papa ke laut!"
"Satu milyar?!" Batu besar seolah jatuh menimpa pundaknya. Pandangannya berputar. Angka itu terlalu abstrak untuk kepalanya yang hanya terbiasa menghitung lembaran recehan. "Lalu Papa korbankan nyawa Ibu demi judi Papa?!"
"Ada jalan keluar! Ada orang baik, Selena!" Denny mendongak dan berdiri cepat, mencengkeram kedua bahu putrinya dengan tatapan maut seorang pria yang terdesak di ujung tebing.
"M-Maksud Papa?"
"Tadi Papa bertemu dengan seorang pengusaha paruh baya yang sangat kaya. Dia pemilik kasino besar. Dia melihat fotomu di dompet Papa dan ... dan dia tertarik. Dia bersedia melunasi semua utang Papa, bahkan membiayai seluruh pengobatan ibumu di rumah sakit terbaik sampai sembuh total!"
Selena membeku. Secercah harapan yang terlalu manis mendadak menyeruak, tapi nuraninya langsung menolak. Akal sehat dan nuraninya langsung berteriak menolak. Di dunia ini, tidak ada makan siang gratis, terlebih dari seorang pemilik kasino.
"Syaratnya apa, Pa?" tanya Selena waspada.
Denny menurunkan pandangannya, tidak berani menatap manik mata putrinya yang jernih dan sarat akan luka.
"Kamu ... kamu hanya perlu menemani dia selama beberapa hari ke depan. Dia menyukai gadis muda yang polos sepertimu, Selena. Demi nyawa Ibumu, demi nyawa Papa. Hanya ini satu-satunya cara."
Selena tersenyum getir, sebuah senyuman disertai tangisan dari dalam dada.
"Apakah dia laki-laki tua yang suka main perempuan, Pa? Berapa umurnya? Sama dengan umur Papa? Atau lebih tua?"
Pak Denny semakin menunduk dalam-dalam, bungkam seribu bahasa. Keheningan itu adalah jawaban paling menyakitkan yang menghancurkan sisa-sisa rasa hormat Selena pada pria yang dipanggilnya 'Papa'.
Menikah? Dengan seorang bandot tua pemilik kasino yang hobi mengoleksi wanita muda? Lambung Selena bergolak mual. Dia merasa seperti sepotong daging yang dilemparkan ke kandang serigala oleh orang yang seharusnya jadi pelindungnya.
Bzzz ... Bzzz ...
Ponsel usang di saku baju kerjanya bergetar. Selena mengambilnya dengan tangan kaku. Satu pesan singkat muncul di layar hape yang retak. Pesan dari pihak administrasi rumah sakit umum:
Yth. Keluarga Nyonya Rebecca. Mengingatkan kembali bahwa tenggat waktu pembayaran administrasi sampai dengan malam ini pukul 22.00. Jika belum ada penyelesaian, dengan berat hati seluruh tindakan medis dan penunjang kehidupan akan dihentikan sementara.
Mata Selena membaca pesan itu berulang kali. Tanpa alat penunjang kehidupan, maka nyawa Mamanya ada di ujung tanduk. Waktu di layar menunjukkan pukul 19.00 WIB. Hanya tersisa beberapa jam lagi sebelum alat-alat itu dilepas dari tubuh Mamanya.
Selena memejamkan mata erat-erat. Air mata yang hangat meluncur deras membelah pipinya yang tirus. Di dalam dadanya, sesuatu telah patah dengan bunyi yang nyaring. Rasa hormatnya, masa depannya, impiannya tentang cinta—semuanya mati malam ini.
"Jam berapa dan di mana?" bisiknya. Suara itu bukan lagi milik Selena yang rapuh, melainkan suara kosong yang tak memiliki sisa kehidupan di dalamnya.
Hanya butuh waktu kurang dari lima detik. Don menerobos sebelum pengawal Vargas sempat menembak, Don sudah mencengkeram rahang pria itu, memutarnya dengan sudut mematikan hingga bunyi remukan tulang bergema mengerikan, lalu menyarangkan dua timah panas tepat di dadanya dari jarak dekat.DOR! DOR!Darah segar terpercik ke atas gaun sutra merah marun Selena. Sedangkan tubuh pengawal itu roboh tak bernyawa ke atas marmer.Selena terperanjat dengan napas tertahan saat melihat kematian di depan matanya secara langsung."Apa yang sudah kamu lakukan?" ucapnya bingung.Lututnya lemas seketika. Namun, sebelum tubuhnya menghantam lantai, sepasang lengan kokoh berotot merengkuh pinggangnya dengan cepat.Don menarik Selena rapat ke dada bidangnya. Detak jantung pria itu bergemuruh kencang, bukan karena panik, melainkan karena kemurkaan yang memuncak."Tuan, apa kau perlu memanggil dokter?" tanya Marco panik.Bukannya menjawan, Don malah menikmati aroma vanila-lavender yang menguar dari leher Sele
"Ingat! Apa pun yang terjadi, jangan pernah meninggalkannya sendirian.""Baik, Tuan Muda," jawab Marco patuh.Don berbalik, melangkah lebar meninggalkan ruang makan menuju aula utama. Setiap pijakan langkah sepatu kulitnya bergema, menyongsong bahaya yang menunggunya di luar.Di atas meja makan, Selena merosotkan bahunya, napasnya memburu cepat. Reaksi kimia dalam tubuhnya, perpaduan antara lonjakan adrenalin akibat bentakan Vargas dan kedekatan fisiknya dengan Don, membuat aroma minyak parfum racikannya kian tercium di sekitar ruang makan.Selena menatap Marco yang berdiri tegap menjaga ambang pintu, bersiap menghajar siapa saja yang berani menyentuh wanita milik Tuannya."Siapa yang berteriak di luar itu? Apa dia benar-benar kakek dari Don?"Marco menatap Selena dari sudut matanya, suaranya tetap formal dan tanpa emosi."Itu Tuan Vargas Mackenzie. Pria yang mendirikan kekaisaran ini dari darah dan tulang. Beliau yang mengatur perjodohan Tuan Muda Don dengan putri tunggal keluarga De
Seringai tipis yang sarat akan ketertarikan terukir di bibir Don. Dia menarik kembali tangannya tanpa rasa tersinggung, lalu menyusul Selena dan menarikkan kursi berukir klasik untuk gadis itu. "Makanlah," ucap Don dengan suara bariton yang teratur, duduk di ujung meja yang tak jauh dari Selena. "Kau belum menyentuh makanan sejak kemarin." Selena hanya menatap piring porselen berisi potongan daging premium dan saus kismis di hadapannya dengan ekspresi mual. "Aku tidak butuh belas kasihanmu. Lepaskan aku, maka aku bisa makan dengan tenang di tempatku." Don menghentikan gerakan jemarinya yang hendak meraih gelas anggur. Tatapan matanya mendadak meredup. Kemudahan yang coba dia berikan baru saja dihantam keras oleh benteng pertahanan Selena. "Aku memberimu makanan terbaik di kota ini, Selena," suara Don merendah, menekan setiap kata. "Jangan menguji kesabaranku." "Aku tidak pernah memintamu untuk memberiku makanan." Selena bersedekap, menatap lurus ke dalam manik mata Don yang taja
Selena yang mengira kalau Don atau seseorang yang masuk ke kamarnya untuk membebaskannya, ternyata bukan. Tiga orang wanita berpakaian seragam pelayan hitam-putih yang sangat rapi melangkah masuk dengan kepala menunduk dalam-dalam.Dua di antaranya mendorong gantungan baju beroda yang berisi puluhan gaun malam berbahan sutra, kasmir dan bahan premium lainnya dengan rancangan desainer ternama. Pelayan ketiga membawa nampan berisi berbagai jenis perhiasan dan perlengkapan mandi beraroma mewah."Selamat malam, Nona. Tuan Muda Don memerintahkan kami untuk membersihkan diri Nona dan mengganti gaun," ucap pelayan tertua dengan suara yang teramat halus, hampir berbisik.Selena melompat berdiri, menyilangkan kedua tangannya di dada, lalu melangkah mundur mendekati kepala ranjang."Tidak! Keluar dari sini! Aku tidak mau menyentuh barang-barang itu! Aku mau pakaianku sendiri!"Mendengar penolakan tajam Selena, ketiga pelayan itu bukannya bersikap tegas, melainkan justru tampak pucat pasi. Tubuh
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.