FAZER LOGINPukul tujuh pagi tepat. Pelataran Rumah Sakit Anak Palermo masih tampak sepi dari aktivitas pengunjung. Jacobs berdiri di samping mobilnya, menyilangkan tangan di dada seraya menatap cemas ke arah jalan raya. Tak lama kemudian, sebuah sedan perak berhenti meluncur mulus. Detektif Edoardo melangkah keluar dari mobil dan bergegas menghampiri Jacobs. "Jacobs!" sapa Edoardo tegang. "Bagaimana? Sudah ada kabar dari Mario?" Jacobs menggelengkan kepalanya berat. "Ponselnya mati total sejak semalam. Kau tidak berhasil menyusulnya?" Edoardo menghela napas lelah. "Semalam sekitar jam delapan, aku sempat menelponnya. Mario bilang dia sedang berada di sebuah kafe di pusat kota, bertemu dengan pacarnya, Adela. Tapi tiga jam kemudian sewaktu aku menelponnya lagi... nomornya sudah tidak aktif sampai pagi ini." Jacobs mengernyitkan alisnya heran. "Tidak biasanya Mario menghilang tanpa melapor saat kita sedang menangani kasus besar." "Mungkin dia menginap di tempat Adela dan lupa mengisi d
Malam harinya, di rumah kediaman keluarga Botticelli. Suasana rumah terasa begitu dingin dan mencekam. Sepulang dari Kedai Paman Brutus, Jacobs tidak mengucapkan sepatah kata pun kepada Elena. Pria itu melangkah masuk ke rumah, mendobrak pintu kamarnya, lalu menguncinya dari dalam. Di luar kamar Jacobs, Elena berdiri menangis terisak-isak. Jemarinya mengetuk pintu kayu kamar kakaknya berulang kali dengan rasa bersalah yang membakar jiwanya. "Kak Jacobs, maafkan aku..." bisik Elena di balik pintu seraya menyandarkan dahi yang basah oleh air mata. "Tolong bicara padaku, Kak! Tolong..." Namun dari dalam kamar, tak ada jawaban sedikit pun. Malam semakin larut. Elena tidak bisa memejamkan matanya sama sekali. Ia duduk di tepi ranjang kamarnya, menangis sesenggukan meratapi kebodohannya yang telah membuat kakak tersayangnya sangat kecewa. Tiba-tiba, pintu kamar Elena yang terbuka sedikit terdorong pelan. Jacobs berdiri di ambang pintu. Pria tegap itu menatap adiknya yang sedan
Di dalam Kedai Ayam Goreng Paman Brutus, Suasana terasa sangat semarak dan hangat. Seorang musisi jalanan paruh baya yang mampir ke kedai tampak sedang memetik senar gitar akustiknya dengan merdu di dekat perapian, membawakan lagu-lagu romantis khas Italia selatan. Elena duduk melamun menatap uap panas yang membubung dari piring ayam gorengnya. Suara petikan gitar romantis itu secara perlahan menerbangkan pikirannya kepada sosok Alando Vicenzio—pria yang telah mencuri seluruh hati dan jiwanya dengan ketampanan dan kehangatannya. Mengenai Alando, ia hampir melupakan sesuatu! Dia harus bicara pada Jacobs tentang hubungannya dengan Alando. Elena memindahkan pandangannya kepada Jacobs. Kakaknya itu tampak sedang makan dengan sangat lahap, menikmati sajian ayam krispi Paman Brutus setelah seharian lelah bertugas. Elena memegang jemarinya yang dingin di bawah meja. Ia berdehem pelan untuk mengumpulkan keberaniannya. "Kak Jacobs," panggil Elena dengan suara agak gemetar. "Ada... ad
Di pesisir kota Palermo, langit malam mulai menurunkan kegelapan yang pekat. Udara dingin bertiup keras dari arah laut, membawa aroma garam yang pekat. Mobil sedan Jacobs berhenti di tepi jalan berkerikil. Elena keluar dari pintu mobil, merapatkan mantel hangatnya seraya memandang ke depan. Di persimpangan jalan pesisir yang agak terpencil, berdiri sebuah kedai kayu kecil dengan papan nama usang berbunyi: Kedai Ayam Goreng Paman Brutus. Jacobs menoleh satu kali ke arah Elena, memberikan kode agar adiknya berjalan lebih dulu, sementara ia memarkirkan mobilnya dengan benar. Meski kedainya berukuran kecil dan sederhana, suasana di dalamnya tampak sangat hangat dan ramai oleh pengunjung lokal yang ingin menikmati hidangan hangat di sore yang dingin ini. Pemilik kedai itu adalah Brutus, seorang pria berusia 50 tahun bertubuh gemuk, berkulit hitam legam khas Brasil dengan ramah senyum yang lebar. Ia mengelola kedai tersebut bersama istrinya, seorang wanita paruh baya yang penyayang
Langit di atas Palermo menggantung abu-abu dan lembap. Awan mendung tebal merayap lambat dari arah Laut Tyrrhenian, membawa hawa dingin yang menusuk tulang.Di pelataran Rumah Sakit Anak Ospedale Bambino Palermo, pepohonan cypress melambai lemas diterpa angin sore.Di dalam kabin mobil sedan hitamnya yang terparkir di bawah naungan pohon mahoni, Jacobs Botticelli menyandarkan punggung tegapnya pada jok kulit.Stetoskop milik adiknya masih tergeletak di dasbor, namun fokus Jacobs tertuju sepenuhnya pada ponsel yang ia himpit di antara telinga dan bahunya."Bagaimana pergerakan mereka, Mario?" tanya Jacobs dengan nada berat dan tenang.Dari balik speaker telepon, suara Detektif Mario Casio terdengar diiringi krepitasi sinyal radio yang agak terganggu. "Dua unit intelijen rahasia sudah menyebar di seluruh sudut kota Palermo, Jacobs. Kita memperketat pengawasan di dermaga pelabuhan, stasiun kereta, hingga zona perbatasan wilayah luar kota untuk melacak jejak George Lazaro Riciteli dan
Di Rumah Sakit Anak Palermo menjelang siang.Setelah berhasil membujuk Dante kecil meminum dosis obatnya hingga anak tampan itu tertidur lelap di ranjangnya, Elena melangkah keluar dari bangsal VIP. Namun, seorang perawat wanita bergegas menghampirinya."Dokter Elena!" ujar perawat itu. "Ada seorang tamu penting yang sedang menunggu Anda di ruang kerja pribadi Anda."Elena mengernyitkan alisnya heran. Siapa yang menemuinya di tengah jam kerja dinas seperti ini? Apakah Jacobs? Tapi rasa-rasanya Jacobs tidak akan mengetuk pintu ruangannya tanpa memberi kabar."Baiklah, aku akan ke sana," jawab Elena. Ia berbalik menatap Lily yang berdiri di dekat nurse station. "Lily, bisakah kau melanjutkan pemeriksaan di bangsal tiga? Aku harus menemui tamuku sebentar.""Tentu saja, Elena. Serahkan padaku," balas Lily lembut.Elena berjalan cepat menyusuri koridor medis menuju ruang praktiknya di lantai dua. Namun, begitu ia berbelok di ujung lorong, langkah kaki Elena seketika terhenti kaku.Di depan







