مشاركة

58. Tabrakan di Bandara

مؤلف: Ellailaist
last update تاريخ النشر: 2026-10-28 14:13:17

Langkah Gia menyusuri koridor terminal bandara semakin cepat. Jam menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit, sementara ia harus segera bergabung dengan kru penerbangannya di ruang briefing.

Tidurnya yang tidak nyenyak semalam membuat kepalanya terasa berat. Namun, ia tidak punya banyak waktu untuk memikirkan kelelahan itu. Seragam pramugarinya sudah rapi, topi terpasang sempurna, dan koper kabin kecilnya meluncur mengikuti langkah di atas lantai bandara.

Meski berusaha memusatkan perhatian
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • DIAM-DIAM KAPTEN GALAK ITU POSESIF PADAKU!   Pengumuman

    Hai, pembaca setia kisah Gia-Gara... Semoga sehat selalu,Dengan ini, aku selaku author buku ini, pertama-tama ingin mengucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya karena harus memberi pengumuman ini...Pengumuman apa hayo? Penasaran nggak?heheDengan berat hati aku umumkan kalau buku ini sedang 'tertahan' (hold) untuk sementara waktu. Karena ada beberapa hal yang masih dalam proses editing.Sementara menunggu buku ini kembali ongoing, teman-teman bisa banget kok mampir di cerita aku yang lain.hehe Maap numpang promo sekalian. ^^Semoga teman-teman pembaca sehat selalu ya, Dan jangan lupa kalau buku ini udah ongoing lagi, kalian harus baca lanjutannya yaak ^^Atas pengertian teman-teman semua, aku ucapkan terima kasih banyak....Salam sayang from Author~Ellailaist~

  • DIAM-DIAM KAPTEN GALAK ITU POSESIF PADAKU!   59. Pertemuan Ketiga

    Mata Gia perlahan terbuka. Langit-langit putih menyambut pandangannya, diiringi aroma antiseptik yang cukup tajam hingga membuat hidungnya sedikit mengernyit.Ia mengerjap beberapa kali, berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya lampu di ruangan itu. Kepalanya masih terasa berat, sementara tubuhnya lemas seperti kehilangan tenaga setelah berdiri terlalu lama.“Akhirnya kamu sadar juga.”Suara bariton itu membuat Gia menoleh ke samping. Matanya seketika membesar ketika mengenali pria yang berdiri di dekat tempat tidurnya.Pria berjas rapi yang tadi pagi bertabrakan dengannya di lobi kedatangan kini mengenakan jas putih. Sebuah stetoskop melingkar di lehernya, sementara papan laporan medis berada di tangannya. Penampilan itu membuat Gia sempat bertanya-tanya apakah ia masih setengah bermimpi.“Anda ... dokter?” tanyanya, masih sulit menyembunyikan keterkejutan.Pria itu tersenyum tipis sembari membetulkan letak stetoskopnya. Pada jas putih yang dikenakannya, sebuah tanda pengenal bertul

  • DIAM-DIAM KAPTEN GALAK ITU POSESIF PADAKU!   58. Tabrakan di Bandara

    Langkah Gia menyusuri koridor terminal bandara semakin cepat. Jam menunjukkan pukul lima lewat tiga puluh menit, sementara ia harus segera bergabung dengan kru penerbangannya di ruang briefing.Tidurnya yang tidak nyenyak semalam membuat kepalanya terasa berat. Namun, ia tidak punya banyak waktu untuk memikirkan kelelahan itu. Seragam pramugarinya sudah rapi, topi terpasang sempurna, dan koper kabin kecilnya meluncur mengikuti langkah di atas lantai bandara.Meski berusaha memusatkan perhatian pada pekerjaan, pikirannya masih tertuju pada Audy dan Gara. Sejak malam sebelumnya, ia belum mendapat kesempatan untuk mengetahui perkembangan penyelidikan yang dilakukan Gara. Ia hanya bisa berharap kondisi Audy membaik dan perempuan itu bersedia memberikan keterangan yang dibutuhkan.Gia melirik jam tangannya, lalu memutuskan mengambil jalan pintas melalui lobi kedatangan internasional. Area itu cukup ramai oleh penumpang yang baru keluar dari pemeriksaan imigrasi dan bea cukai. Ia harus berh

  • DIAM-DIAM KAPTEN GALAK ITU POSESIF PADAKU!   57. Dering di Tengah Malam

    Jam dinding menunjukkan pukul dua pagi, tetapi Gia belum juga bisa tidur. Ia mondar-mandir di kamar tanpa alas kaki, sesekali berhenti di dekat jendela sebelum kembali berjalan ke sisi tempat tidur.Sejak Gara pergi beberapa jam lalu, pikirannya terus tertuju pada kabar buruk di kantor. Audy ditemukan tidak sadarkan diri setelah diduga keracunan obat, tepat ketika ia hendak memberikan keterangan lebih lanjut perihal penyebaran foto dirinya dan Rafa. Gia tidak tahu bagaimana kondisi perempuan itu sekarang, apalagi apa yang sedang dilakukan Gara untuk menyelidikinya.Ia meraih gelas di meja nakas dan meneguk air yang tersisa. Tenggorokannya terasa kering, sementara rasa cemas membuatnya sulit duduk tenang. Ponselnya tergeletak di samping bantal, tetapi layarnya tetap gelap. Tidak ada pesan dari Gara, bahkan sekadar kabar bahwa keadaan di kantor sudah terkendali.Gia kembali meletakkan gelas, lalu duduk di tepi tempat tidur. Ia baru saja berniat memaksa diri berbaring ketika dering pon

  • DIAM-DIAM KAPTEN GALAK ITU POSESIF PADAKU!   56. Saksi yang Dibungkam

    Gara segera mengangkat panggilan tersebut. “Ada perkembangan?”“Kapten, gawat.” Suara Arga terdengar tergesa-gesa. “Audy baru saja ditemukan tidak sadarkan diri di ruang arsip.”Gara menghentikan langkahnya. “Apa maksudmu tidak sadarkan diri? Apa yang terjadi?”“Kami belum tahu pasti bagaimana kejadiannya. Petugas keamanan menemukannya beberapa saat lalu, dan sekarang dia sedang diperiksa oleh dokter klinik perusahaan.”Gara menggenggam ponselnya lebih erat. “Kondisinya bagaimana?”“Dokter menduga dia mengalami keracunan obat, Kapten. Kejadiannya berlangsung tidak lama sebelum dia sempat memberikan keterangan lebih lanjut tentang uang yang diterimanya.”Gia yang berdiri tidak jauh dari Gara langsung menegang. Ia bisa mendengar setiap kata Arga, dan mendadak merasa sulit bernapas lega.Audy adalah satu-satunya orang yang sejauh ini mengakui keterlibatannya dalam penyebaran foto. Jika perempuan itu tidak bisa memberikan keterangan, mereka mungkin kehilangan kesempatan untuk mengetahui s

  • DIAM-DIAM KAPTEN GALAK ITU POSESIF PADAKU!   55. Ancaman dari Dalam Keluarga

    “Padahal dia bertemu langsung dengan Renata? Bukankah sudah jelas Renata dalangnya?” ucap Gia dengan alis berkerut.“Benar. Tapi dia mengaku Renata hanya menyerahkan amplop dan menyampaikan instruksi singkat. Menurut keterangannya, dia tidak tahu siapa yang sebenarnya berada di balik rencana itu.”Gara menatap angka lantai yang terus berubah, rahangnya mengeras. “Kamu percaya begitu saja?”“Tentu tidak, Kapten. Saya sedang memeriksa rekaman kamera dan riwayat komunikasinya. Masalahnya, Audy punya alasan untuk menutup mulut. Sejak tadi dia terus mengulang bahwa dia tidak akan memberikan keterangan tambahan tanpa didampingi pihak tertentu.”“Pihak tertentu siapa?”“Dia belum menyebutkan namanya. Tapi sebelum pemeriksaan selesai, seseorang dari bagian hukum menghubungi kantor dan meminta agar Audy tidak ditanyai lebih lanjut sampai ada arahan resmi.”Gara terdiam. Permintaan dari bagian hukum bukan sesuatu yang bisa diabaikan begitu saja, terlebih jika mereka belum mengetahui siapa yang m

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status