Home / Romansa / DIINGINKAN TIGA PRIA POSESIF / Jangan Ragu Hubungi Aku

Share

Jangan Ragu Hubungi Aku

Author: DAUN MUDA
last update publish date: 2026-04-10 22:26:15

Pertanyaan Adnan seolah-olah menegaskan bahwa dia mengerti jika aku telah mengetahui hubungan kekeluargaan antara dirinya dan Rifat.

Tapi aku tersenyum lalu menatapnya. Seolah aku tidak mengerti hubungan keduanya. 

"Sebagai pemimpin Project Solvio, tentu saya butuh perhatian penuh dari Anda selaku Direktur Monexia. Dan sebagai musuh dari rival Anda, saya butuh dukungan penuh Anda untuk menghancurkan kompetitor Monexia. Bukan begitu, Pak Adnan?"

Aku ingin dia menebak-nebak sejauh mana aku sudah menggali informasi tentang silsilah keluarganya.

Adnan terdiam sejenak. Ia tidak membantah, tidak juga mengonfirmasi.

Ia hanya menatapku dengan sorot mata yang seolah bisa menelanjangi setiap lapisan rencanaku. Kemudian, ia memutus kontak mata itu dan berdiri dari kursinya. 

"Segera eksekusi ide itu," ucap Adnan sambil merapikan jasnya yang tidak terlihat kusut sedikit pun.

"Tapi ingat, Dilara, kepercayaan dariku harganya sangat mahal. Aku mau prototipe sistem verifikasi ini ada di mejaku dalam tiga hari.”

Lalu menunjuk pakaianku.

“Jangan sampai warna merah yang kamu pakai hari ini cuma jadi simbol gertakan tanpa isi. Bagus diluar, kosong di dalam."

Aku tersenyum tipis, merasa tertantang. Sesuai dengan tebakanku semalam, jika Adnan bukanlah lelaki yang mudah ditaklukkan. Dan aku harus lebih sabar namun tetap cerdas untuk menghadapinya.

"Tiga hari adalah waktu yang singkat, Pak. Apalagi saya juga harus mempelajari celah para kompetitor yang jumlahnya tidak sedikit. Jadi, apa saya boleh minta bentuk dukungan nyata?"

Adnan menyipitkan mata saat menatapku. Seakan ada sinyal waspada yang langsung berbunyi di dalam otaknya.

"Apa yang kamu butuhkan?"

"Akses penuh ke data historis beberapa kegagalan proyek Monexia selama ini," jawabku lugas.

Aku ingin melihat bagaimana Rifat mencuri konsep itu secara detail agar aku tidak mengulangi lubang yang sama. Jika celah fintech sebesar Mandala Kapital bisa kukuasai, maka kompetitor fintech kecil yang baru bermunculan hanyalah perkara yang mudah.

Adnan menatapku lama, seolah sedang menimbang apakah memberikan kunci gudang rahasianya kepada ‘orang asing’ sepertiku adalah langkah yang bijak.

"Aku nggak mungkin kasih akses penuh Monexia ke kamu, Dila.”

Jawaban itu seakan memotong harapanku dalam sekejap. Lalu Adnan melangkah mendekat, menciptakan aura intimidasi yang membuat ruang rapat ini terasa lebih sempit.

"Data histori kegagalan Monexia Dynamics, bukan konsumsi publik. Apalagi untuk seorang Project Lead baru kayak kamu, Dila. Karena terlalu banyak rahasia dapur yang bisa disalahgunakan kalau jatuh ke tangan yang salah."

Aku tidak gentar dengan penolakannya kemudian muncul sebuah ide.

"Kalau begitu, bagaimana saya bisa bekerja cepat kalau tiap langkah saya terbentur birokrasi perizinan data, Pak? Akan sulit membuat prototipe dengan lengkap kalau kegagalan proyek sebelumnya tidak saya ketahui dari sisi mana penyebabnya."

Adnan menatapku lurus dengan melipat kedua tangan di depan dada.

"Kalau kamu butuh data spesifik, minta langsung padaku, Dila. Aku sendiri yang akan memilah dan kasih apa yang benar-benar kamu butuhin untuk proyek ini. Dan lagi, kedengarannya kurang pantas untuk karyawan yang baru bekerja dua hari lalu minta akses data perusahaan secara mandiri."

Aku tertawa kecil untuk memancing reaksinya. Kemudian bersandar di meja dan menatapnya santai.

"Maaf jika saya lancang, Pak Adnan. Kebetulan saya ini tipe karyawan yang tidak kenal jam kantor. Bagaimana kalau saya tiba-tiba butuh data jam tiga pagi? Apa saya harus ketuk pintu rumah Anda cuma minta satu lembar dokumen?"

Aku mau lihat sejauh mana Adnan akan terlibat dalam permainan ini. Lalu Adnan tersenyum tipis, nyaris menyerupai seringai yang berbahaya.

"Kalau gitu, aku akan standby. Hubungi aku jam berapa pun kamu butuh data itu, Dila. Aku akan menjawabnya, nggak peduli itu tengah malam atau dini hari sekalipun."

Padahal aku ingin akses data histori itu secara mandiri agar bisa dengan leluasa mengalahkan Rifat tanpa banyak perlawanan. 

Saat aku sedang berpikir, Adnan melangkah lebih dekat hingga jarak kami kurang dari satu meter. Ia sedikit menundukkan tubuhnya agar sejajar denganku. Membuat aroma parfumnya yang maskulin mengepung indra penciumanku.

"Kecuali ..." matanya menyipit tajam seolah sedang menelanjangi motif tersembunyiku. "Tujuan utamamu bukan untuk mempelajari kekurangan dari kegagalan proyek sebelumnya, tapi untuk nyuri data itu dariku. Kalau itu rencanamu, Dilara, kamu sedang berhadapan sama orang yang salah."

Adnan kembali berdiri tegak dan tangannya mempersilahkanku menuju ke arah pintu.

“Ini masih awal, kamu boleh angkat kaki dari sini kalau tujuanmu buruk.”

Tuduhannya yang tajam barusan seolah menjadi bensin yang menyulut api tantangan di dadaku.

Adnan Aydan bukan hanya cerdas, dia juga paranoid di dalam dunia bisnis yang penuh pengkhianatan. Dan aku tidak menyalahkannya.

Aku menegakkan punggung, membiarkan blazer merahku memberi kesan dominan. Lalu memajukan tubuhku sedikit untuk memperpendek jarak kami.

"Anda salah besar kalau mengira saya punya niat serendah itu, Pak Adnan. Kalau saya ingin mencuri data Monexia, saya tidak akan meminta izin secara terang-terangan di depan wajah Direkturnya. Saya akan melakukannya dengan cara yang jauh lebih halus."

Aku menjeda sejenak, membiarkan kalimat itu meresap sebelum melanjutkan dengan sungguh-sungguh.

"Saya di sini karena ingin menang. Dan kemenangan saya adalah kemenangan Anda juga. Kita punya tujuan yang sama, melihat Project Solvio melibas apa pun yang ada di depannya. Saya tidak akan mempertaruhkan reputasi dan harga diri untuk menjadi pencuri data."

Aku mengambil napas panjang lalu mengubah tatapanku menjadi lebih lembut. Tahu kapan harus menyerang dan menurunkan ego.

"Mengenai kelancangan saya barusan ... saya minta maaf. Saya terlalu bersemangat untuk membuktikan bahwa keputusan Anda merekrut saya tidak salah. Saya hanya ingin akses yang cepat agar prototipe ini sempurna. Tapi saya mengerti batasan Anda."

Adnan masih menatapku, mencari kebohongan dalam kejujuranku. Namun, aku memberikan tatapan paling tulus yang bisa kuberikan. Tatapan seorang rekan kerja yang ambisius, bukan seorang mata-mata.

"Maaf jika kata-kata saya menyinggung Anda, Pak. Saya hanya ingin bekerja secara totalitas," pungkasku sambil menundukkan kepala.

Suasana di antara kami yang tadinya tegang perlahan mulai mengendur. Adnan menarik napas, lalu mengangguk.

"Simpan permintaan maafmu, Dila. Aku lebih butuh hasil daripada kata-kata manis," suaranya kembali ke nada profesional meskipun sisa-sisa intimidasi itu masih terasa.

"Kalau kamu sungguh-sungguh ada di pihakku, buktikan dengan prototipe itu. Mengenai data ... kamu bisa pegang janjiku jam berapa pun itu, jangan ragu hubungi aku kalau kamu butuh 'peluru' untuk analisismu."

Begitu Adnan sudah tidak ada di ruangan ini, kekuatanku seolah luruh dalam sekejap.

Aku menyentuh dadaku, membiarkan paru-paruku menghirup oksigen sebanyak mungkin. 

"Hampir aja, Dila ... hampir aja," bisikku pada kesunyian ruangan.

Aku merutuki kebodohanku sendiri.

Keinginanku untuk membalas dendam lewat jalur profesional hampir saja membuatku terlihat seperti mata-mata amatir di depan Adnan. Pria itu terlalu cerdas untuk diprovokasi dengan cara murahan.

Jika tadi aku tidak segera menurunkan ego dan meminta maaf, mungkin detik ini aku sudah diseret keluar oleh petugas keamanan gedung.

“Aku harus lebih hati-hati.”

Adnan bukan hanya tiketku untuk menghancurkan Rifat, tapi dia juga pedang bermata dua yang bisa menebas leherku kapan saja jika salah langkah.

Lalu ponselku di atas meja berdenting nyaring. Sebuah notifikasi pesan masuk.

Aku meraihnya, berharap itu adalah pesan berisi instruksi lanjutan. Namun, pesan yang muncul di layar membuat jemariku membeku.

DAUN MUDA

tinggalkan komentar jika kalian suka dengan buku ini, makasih

| Like
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DIINGINKAN TIGA PRIA POSESIF   Melelehkan Es Di Hatimu

    “Kita minta traktir Pak Adnan,” ucapku santai.Seketika ruangan hening. Tim saling lirik dengan wajah ngeri."Dil, kamu gila? Pak Adnan itu jangankan nraktir, diajak senyum aja susahnya minta ampun," ucap Bagas penuh kekhawatiran."Tenang aja. Serahin ke aku.”Bagaimanapun, Adnan harus membayar 'denda' atas keraguannya pada tim Solvio. Karena loyalitas kami tidak murah, dan dia harus tahu cara menghargainya.Juga untuk membuatnya makin sering berinteraksi denganku. Dengan begitu sinyal-sinyal masa lalu Vivian akan kembali tergugah dan aku bisa mendekatinya.Tanpa menunggu persetujuan mereka, aku langsung menuju ruang kerja Adnan. Mumpung ini masih jam tiga. Masih ada satu jam lagi untuk membuat si manusia es itu mengikuti permainanku.Setelah meminta izin pada sekretarisnya, aku mengetuk pintu ruangan.“Masuk.”Begitu pintu terbuka, aroma lili yang sempat memudar di ruangannya kini kembali menyerbu masuk bersamaku. Adnan mendongak, matanya sedikit menyipit kala melihatku kembali."Ada

  • DIINGINKAN TIGA PRIA POSESIF   Apa Bapak Terganggu?

    Matanya tertuju pada setelan broken white-ku, lalu menatap wajahku yang terpoles make up tipis minimalis. Kami hanya bertukar pandangan selama beberapa detik hingga akhirnya Adnan tersadar dari lamunannya.Memorinya pasti menggali memori tujuh tahun silam saat Vivian masih hidup. Dan dibalik dadanya, jantung Vivian pasti sedang berdetak kencang.Beberapa detik kemudian dia menatapku lagi seakan meyakinkan pikirannya bahwa yang ia lihat tidak salah."Ada apa, Dil?”Aku memberi senyum tipis lalu berjalan mendekat ke mejanya agar aroma lili itu semakin kuat menjerat penciumannya."Maaf mengganggu waktunya, Pak. Saya ingin melakukan koordinasi final sebelum rapat besar nanti siang," ucapku dengan nada suara lembut.Wajah Adnan terlihat mulai sedikit gusar. Lirikan matanya kesana kemari. Itu artinya, pertahanannya mulai retak.Kemudian aku meletakkan map berisi data final proyek Solvio di atas mejanya. Tangannya segera membuka map itu dan membacanya. Tapi sepertinya Adnan kehilangan fokus s

  • DIINGINKAN TIGA PRIA POSESIF   Menatapku Tanpa Berkedip

    Aku bangun di hari Senin dengan perasaan luar biasa bersemangat. Lalu berdiri di depan cermin kamar masih mengenakan piyama biru panjang dan rambut tergerai.Mataku melirik jam dinding yang sudah bertengger di angka lima pagi. Setelah menata kasur, aku melangkah ke kamar mandi lalu membuka lemari. Tanganku mengambil setelan broken white yang kemarin kubeli bersama Kenan.“Beautiful, Dila.” Pujiku pada diri sendiri.Lalu berputar di depan kaca layaknya seorang putri. Mengilhami betapa pantasnya aku mengenakan setelan ini dan berperan sebagai mendiang Vivian.Blazer putih itu memeluk tubuhku dengan begitu pas, mencetak lekukan pinggangku yang ramping. Dipadu dengan rok senada selutut, yang makin mengekspose kaki jenjangku yang indah nan putih.Lalu aku membubuhkan make up minimalis di wajah tak lupa dengan lipstick pink rose agar makin menawan. Aku telah menanggalkan semua warna-warna yang terlalu mencolok karena Vivian tidak memakai warna itu.Lalu merapikan rambut sepunggungku dan meny

  • DIINGINKAN TIGA PRIA POSESIF   Aku Ada Untukmu

    Kenan mematung. Matanya terpaku lurus ke arah sepasang anak mnusia yang baru saja melintasi parkiran mall. Tangan Kenan mencengkeram kantong belanjaanku hingga urat tangannya nampak menonjol.Aku mengikuti arah pandangnya dan di sana, seorang perempuan dengan gaun floral tertawa sambil menggelayut mesra di lengan seorang pria yang usianya tidak lagi muda dan berperut buncit. Memakai jam tangan emas, dagu terangkat sombong, dan menenteng tas mewah LV.Mereka berjalan hilang dibalik pintu otomatis mall tanpa menyadari keberadaan Kenan."Ken?" panggilku lembut sambil menyentuh lengannya.Kenan tersentak lalu menarik nafas panjang. Sepertinya, aku menemukan kesempatan baru untuk membuatnya makin mudah untuk kudekati."Sorry, Dil.”“Kamu kenal laki-laki sama perempuan itu?” Tanyaku untuk mengorek pribadinya lebih jauh.Kenan mengangkat bahunya acuh lalu menunduk.Binggo!Pasti ini semua tidak jauh dari masalah asmara dan pengkhianatan. Aku tidak menyangkan alam akan seberpihak ini padaku.“

  • DIINGINKAN TIGA PRIA POSESIF   Bermain Dengan Dua Api

    “Itu … kakakku, Ken.""Kalau itu pacarmu juga nggak masalah sih, Dil.""Ngaco! Kakiku benar-benar nggak bisa dibuat jalan sama sekali, makanya aku minta bantuan kakak buat gendong aku sampai unit.”Kenan manggut-manggut, tapi keningnya masih berkerut."Kakak sepupu ya? Tapi kok kayak pernah lihat ya ... " Ia mengetuk-ngetuk setir, mencoba menggali ingatannya.Jantungku berdetak lebih cepat mendengar ucapannya. Berharap tebakanku sala“Oh ya? Ehm ... mirip siapa?”Kepalanya menggeleng pelan, "Wajahnya ... kalau dari samping mirip banget sama ... Adnan Aydan, bos Monexia. Tahu kan?"Aku meledakkan tawa yang sengaja kubuat sedikit kencang, menutupi rasa ngeri yang merayap di tengkuk."Hah? Adnan Aydan? Kamu becanda, Ken!"Aku memukul pelan lengannya, berpura-pura bahwa pernyataannya adalah hal paling konyol yang pernah kudengar."Aduh, Ken ... kalau kakakku itu Adnan Aydan, aku nggak bakal tinggal di apartemen kayak gini. Aku pasti udah punya rumah di Menteng, nggak perlu pusing jadi kepa

  • DIINGINKAN TIGA PRIA POSESIF   Kartu As Kesayanganku

    Mataku langsung tertuju pada deretan monitor di sudut ruangan yang masih menyala. Menampilkan baris-baris kode dan data yang sangat kukenali formatnya.Itu adalah dashboard sistem Mandala Kapital."Duduk dulu, Dil. Aku kilat ya mandinya!" seru Kenan sambil menyambar handuk dan menghilang ke balik pintu kamar mandi.Aku duduk di sofanya yang cukup berantakan, namun mataku tetap tertuju pada meja kerjanya.Kenan adalah orang kepercayaan Rifat dalam hal teknis. Dia tahu lubang tikus di Mandala Kapital. Seperti Rifat yang tahu cara mengkhianatiku dengan sempurna.Jika aku bisa mendapatkan hati Adnan dengan menjadi 'Vivian', maka aku akan mendapatkan loyalitas Kenan dengan menjadi 'teman' yang paling memahaminya.Suara kucuran air dari kamar mandi memacu adrenalinku. Tidak membuang waktu, aku mendekati meja kerja Kenan dengan langkah sedikit pincang.Cahaya biru monitor itu menyinari wajahku. Di hadapanku, terpampang ‘isi perut’ Mandala Kapital, perusahaan yang dibangun Rifat.Baris-baris k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status