Beranda / Romansa / DIINGINKAN TIGA PRIA POSESIF / Wanita Yang Sulit Diabaikan

Share

Wanita Yang Sulit Diabaikan

Penulis: DAUN MUDA
last update Tanggal publikasi: 2026-04-09 15:46:08

Suara langkah sepatu yang tegas dan berirama itu memecah percakapan kami.

Adnan Aydan berdiri di sana, dengan setelan jas navy yang dipotong sempurna, tangannya memegang sebuah map hitam. Begitu aku menoleh, langkah kakinya terhenti.

Kedua mata kami beradu selama beberapa detik. Kemudian aku berdiri lebih tegap dan tersenyum padanya.

“Pagi, Pak Adnan.”

Pagi ini, aku bukan lagi wanita yang terlihat ‘berusaha tegar’ karena badai masa lalu. Tapi setelan kerja warna merah menyala ini memberi penegasan tentang keberanian dan peringatan dariku. Bahwa kini aku siap membalas siapapun yang menyerang bahkan menyakitiku tanpa alasan jelas.

Adnan memperhatikan sekilas riasan wajahku yang tegas, bibir merah menantang, dan binar mata penuh keyakinan tanpa sisa air mata. Sebuah citra wanita sempurna yang mandiri, berbahaya, dan sulit diabaikan.

Mata Adnan kemudian sedikit menyipit saat menatapku. Karena Dilara yang ia lihat kemarin siang, berbeda jauh dengan Dilara yang ia lihat pagi ini. Dan aku tahu ada kilat penasaran yang dibalik wajah profesionalnya.

“Pagi, Dilara.”

Lalu jemarinya bergerak dari atas hingga bawah, menilai penampilanku.

"Merah. Pilihan warna yang sangat berani untuk seorang pegawai baru, Dil."

Aku menyunggingkan senyum tipis namun penuh misi.

"Warna ini untuk mengingatkan saya, Pak Adnan. Bahwa Project Solvio yang saya pimpin bukan sekadar proyek sampingan. Ini adalah prioritas utama saya dan tim. Dan saya ada di sini untuk … menang."

Adnan menatapku lekat-lekat, seolah sedang membaca kepribadian dan strategi yang kusembunyikan dibalik blazer merah ini.

"Bagus. Simpan energimu untuk rapat di dalam. Sepertinya tim inti udah nunggu. Dan aku juga punya banyak pertanyaan untukmu."

"Tentu. Dengan senang hati akan saya jawab."

Aku dan Adnan berjalan beriringan menuju ruang rapat utama di lantai atas. Sedang Andre mengekor di belakang. Dia seperti kurcaci yang sedang berjalan di antara dua pemangsa yang sedang menyusun rencana perburuan besar.

Sepanjang lorong, beberapa karyawan berbisik dan terkesima dengan aura yang kupancarkan. Berjalan dengan punggung tegak di samping Adnan yang gagah. Dan setiap langkahku mengeluarkan bunyi klik yang berwibawa di atas lantai kantor Monexia Dynamics ini.

Begitu pintu ruang rapat terbuka, suasana mendadak hening. Enam anggota tim inti Project Solvio sudah duduk melingkar. Mereka yang kemarin sempat meremehkanku, kini tampak sedikit terkejut dengan penampilanku dalam balutan setelan kerja warna merah.

Sisanya adalah sepuluh staf yang ikut mendukung kelancaran proyek ini.

Adnan mengambil posisi duduk di kepala meja, sementara aku menghidupkan laptop kemudian berdiri di samping layar proyektor. Langsung mengambil kendali rapat tanpa perlu dipersilahkan.

"Pagi semuanya. Terima kasih sudah hadir tepat waktu," suaraku bergema, tenang namun penuh otoritas.

"Semalam, saya sudah melakukan analisis ulang terhadap Project Solvio. Kita punya satu celah besar dalam manajemen risiko yang jika tidak ditangani sekarang, akan menjadi senjata makan tuan saat berhadapan dengan Mandala Kapital di pasar."

Andre mengangkat tangan. "Celah apa, Dil?"

"Sistem verifikasi likuiditas untuk UMKM tingkat mikro," jawabku cepat.

Lalu jemariku menekan spasi di layar laptop dan muncullah diagram rumit di proyektor, yang kususun bersama ayah semalam.

"Mandala Kapital milik Rifat Aydan sangat agresif dalam memberikan pinjaman, tapi mereka punya kelemahan dalam memantau arus kas harian pedagang kecil. Mereka hanya melihat angka bulanan. Dengan kelemahan itu, kita akan masuk menggunakan sistem real-time monitoring."

Adnan menyandarkan punggungnya, melipat tangan di depan dada. Ia tidak banyak bicara, tapi matanya tidak pernah lepas dariku ketika menjelaskan. Ia memperhatikan bagaimana aku menjelaskan teknis perbankan yang rumit dengan bahasa yang mudah dipahami dan bagaimana aku menjawab setiap pertanyaan skeptis tim inti dengan argumen yang logis.

"Jika kita menerapkan ini, biaya operasional awal akan membengkak 15%, Dil. Ini angka yang banyak," interupsi salah satu analis senior.

"Ya, benar. Tapi sudahkah Anda menghitung risiko kredit macet yang bisa teratasi?”

Analis senior itu diam. Lalu jemariku kembali menekan spasi dan muncullah hitungan resiko itu.

“Angkanya turun hingga 40%.” Balasku dengan jawaban telak.

Kepala Adnan mengangguk, lalu aku menatap Adnan dan analis senior itu bergantian.

"Pilih mana? Keluar modal di depan untuk fondasi yang kuat, atau bangkrut di tengah jalan karena mengejar kuantitas seperti yang dilakukan Mandala Kapital?"

Ruangan kembali hening. Adnan mengetukkan jarinya di meja tanda sedang mempertimbangkan dua hal besar. Sedang para tim inti berdiskusi di meja masing-masing dengan wajah serius.

Kemudian mereka mengajak Adnan berdiskusi dengan berbagai kemungkinan buruknya. Hingga mereka mencapai satu kesepakatan.

"Lakukan sesuai rencana Dilara. Aku mau prototipe sistem verifikasi ini selesai dalam tiga hari,” ucap Adnan.

Aku tersenyum puas, sebuah kemenangan kecil yang terasa begitu manis. Mataku menatap Adnan penuh keyakinan yang baru saja memberikan titah finalnya.

Aku merasa seperti baru saja memenangkan satu petak penting dalam papan catur ini. Ini tidak sekadar menjual ide, tapi menjual keyakinan bahwa ide ini adalah aset paling berharga dari seorang Dilara Pasha yang sekarang bekerja di Monexia.

Dan aku adalah ancaman paling nyata bagi Mandala Kapital tentunya.

"Terima kasih atas kepercayaannya, Pak Adnan. Saya dan tim akan segera bergerak," ucapku dengan nada suara yakin bahwa aku siap memegang kendali.

Setelah rapat bubar, satu per satu anggota tim inti dan staf membereskan berkas mereka. Analis senior yang tadi mendebatku menjabat tanganku sebelum keluar, tanda rasa hormat yang terpaksa diberikan karena logikaku memang tak terpatahkan.

Kini, hanya tersisa aku dan Adnan di ruang rapat yang luas ini. Lalu aku menatapnya yang tetap di kursinya.

“Apa masih ada yang perlu ditanyakan, Pak Adnan?”

Mata tajam Adnan menatapku tanpa keraguan. Dan aku pun membalas tatapannya penuh keyakinan.

"Kamu berubah sangat cepat dalam satu malam, Dilara," ujar Adnan.

Aku hanya tersenyum tipis lalu mematikan layar proyektor. Mengemasi laptop dan dokumen dengan gerakan pelan tanpa menatap Adnan.

"Saya cuma ingin yang terbaik untuk karir dan Project Solvio, Pak. Dan menyesuaikan kecepatan dengan putaran dunia yang kejam ini."

Adnan tetap duduk sambil menatap pakaianku.

"Apa ini caramu memberitahuku bahwa kamu siap menyerang? Atau sedang menarik perhatianku, Dila?”

DAUN MUDA

tinggalkan komentar jika kalian suka dengan buku ini, makasih

| Sukai
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • DIINGINKAN TIGA PRIA POSESIF   Kasih Sayang Palsu

    “Kamu nggak perlu kaget atau panik kalau tiba-tiba ada black campaign yang keluar nyerang produk kita di pasaran."Seketika itu juga, Adnan menatapku dengan wajah penuh tanya."Apa maksudmu?"Aku menyandarkan punggung ke sofa, menatapnya sungguh-sungguh."Serangan itu datangnya dari Mandala Kapital. Rifat mau bikin Solvio cacat di mata publik, supaya produk dari perusahaannya tetap mendominasi pasar."“Rifat bukan orang bodoh yang ceroboh membiarkan strategi internalnya bocor ke luar."Aku menyunggingkan senyum tipis, memutar gelas anggur di depanku."Rifat memang nggak bodoh, Adnan. Dia pakai salah satu orang kepercayaannya di Mandala Kapital untuk nyusun strategi kotor itu."Aku menjeda kalimatku, mengingat laptop belasan juta milik Kenan yang kini sudah jadi rongsokan. Ada sedikit rasa bersalah yang melintas, namun segera kutepis jauh-jauh. Demi menghancurkan Rifat, semua bidak harus rela dikorbankan."Tapi sayangnya, orang kepercayaannya itu punya sedikit hati nurani. Dia kayak ngg

  • DIINGINKAN TIGA PRIA POSESIF   Menciummu Sekarang Juga

    Mendengar nama itu disebut dari mulutku, tubuh Adnan menegang. Sorot matanya yang semula dipenuhi kejengkelan kini berubah menjadi kewaspadaan."Rifat?" Adnan mengulang nama sepupunya sendiri.Aku mengangkat kepalaku dari pundaknya. Lalu menyunggingkan senyum miris karena luka masa lalu."Aku ada di Monexia bukan karena kebetulan, Adnan. Aku memilih menjeratmu bukan karena aku mendambakan posisi biar bisa disisimu. Tapi aku datang untuk menghabisi Mandala Kapital.”Kemudian aku menoleh dan menatapnya dengan sorot sungguh-sungguh.“Aku mau lihat Rifat jatuh, hancur, kalau perlu sampai dia miskin. Nggak punya apa-apa lagi di dunia ini."“Dila? Kamu serius?”"Aku mau sepupumu yang brengsek itu tahu kalau aku bisa dapatin apa pun yang kumau, termasuk lelaki yang kesuksesannya ada di atas dia. Yaitu … kamu."Aku menatap kedua mata Adnan tanpa keraguan.Tiba-tiba, aku tertawa namun terdengar sinis dan dingin. Lalu melepaskan cekalan tanganku di lengannya. Kemudian bersandar di sofa dengan ga

  • DIINGINKAN TIGA PRIA POSESIF   Calon Suamiku Galak

    Sambil menyambar jas kerjanya di atas meja dengan gerakan kasar, Adnan menatapku tajam."Tapi kita bawa mobil masing-masing. Aku akan ikuti mobilmu dari belakang. Aku nggak mau repot-repot harus nganter kamu pulang setelah makan malam sialan ini selesai."Aku tertawa meremehkan untuk memprovokasi harga dirinya. Lalu melangkah maju, hingga ujung sepatu hak tinggiku nyaris menyentuh sepatunya."Bawa mobil masing-masing? Oh, ayolah, Pak Adnan. Mana ada sepasang kekasih pergi kencan tapi konvoi di jalanan kayak lagi pawai?" sindirku dengan nada manja."Saya mau kita satu mobil. Saya mau duduk manis di sebelah Anda. Layaknya sepasang kekasih yang sesungguhnya."Adnan kemudian mundur agar menjauh dariku."Jangan keterlaluan, Dilara! Aku udah turuti maumu, jangan mendikte gimana cara --- ""Apa harus saya ingatkan lagi tentang alamat rumah orang tua Anda, Pak?" potongku dengan unsur ancaman yang langsung membuat Adnan diam seribu bahasa.Tangannya mengepal kesal dengan mata menatapku geram. A

  • DIINGINKAN TIGA PRIA POSESIF   Hubungan Intim Kita

    Hatiku bergemuruh mendengar sindiran Adnan yang jelas-jelas keterlaluan dan sengaja dilakukan untuk meruntuhkan harga diriku.Namun, aku menolak untuk terpancing emosi dan terlihat lemah.Perlahan aku menarik nafas dalam-dalam lalu menunjukkan senyum tenang sambil menatap matanya."Benar kata Anda, Pak Adnan. Memang ada masalah di tempat tidur, seperti tuduhan Anda," jawabku santai.Membuat mereka yang hadir di ruang rapat saling lirik."Semalam saya tidur larut karena harus memeriksa ulang seluruh kesiapan sistem Solvio agar tidak ada error sekecil apa pun. Ditambah lagi kemacetan pagi ini sama sekali tidak bersahabat. Tapi saya jamin, keterlambatan setengah jam ini tidak akan mengurangi kualitas hasil kerja keras saya."Mendengar jawabanku yang berkelas dan berani, Adnan menghentikan ketukan pulpennya. Wajahnya sedikit kesal tapi dia segera menguasai diri agar tetap terlihat berwibawa."Bagus kalau begitu. Duduk di tempatmu, Dilara. Kita tidak punya banyak waktu untuk membahas urusan

  • DIINGINKAN TIGA PRIA POSESIF   Kendala Di Tempat Tidur

    Begitu melangkah keluar dari ruangan Adnan, aku menuju basemen dengan langkah santai sambil menikmati kemenangan kecil hari ini.Adnan mungkin mengira dia bisa mengendalikan bidak caturnya, tapi dia tidak sadar bahwa papan caturnya sendiri sudah berada di bawah kuasaku.“Jangan harap bisa mengaturku, Adnan. Karena aku datang, untuk menggunakanmu melawan Rifat. Jadi … bersiaplah.” Gumamku pada diri sendiri.Tepat saat aku memarkirkan mobil di basemen apartemen, ponselku bergetar.Sebuah notifikasi pesan masuk dari …“Kenan.”Aku membukanya dan seketika seulas senyum santai dan lepas terbit di bibirku.Kenan mengirimkan sebuah foto. Di atas meja makannya yang sederhana, sudah tertata rapi dua piring nasi goreng dengan kepulan asap tipis, lengkap dengan lauk cumi pedas manis k yang menggoda selera.Di tengah meja, sebuah lilin kecil dinyalakan sebagai pemanis.[Dari Kenan : Sudah siap, Tuan Putri. Cepat datang sebelum cumi pedas manisnya nggak manis lagi.]Kebetulan perutku keroncongan ka

  • DIINGINKAN TIGA PRIA POSESIF   I Love You

    Tepat saat jam pulang kerja, layar ponselku menyala, menampilkan nama yang membuat senyum dingin terbit di bibirku.Adnan.Aku menggeser tombol hijau, menempelkan benda pipih itu ke telinga."Ke ruanganku sekarang. Jangan sampai ada yang lihat," perintahnya singkat.Dan langsung memutuskan sambungan sebelum aku sempat mengiyakan. Suaranya yang kaku memicu alarm kewaspadaan di kepalaku.Aku merapikan sisa berkas di meja lalu melangkah menuju lantai atas. Langkahku tenang, namun otakku bekerja dua kali lebih cepat.Di depan pintu eksekutif itu, aku memasang kembali topeng pegawai yang patuh. Aku mengetuk pintu dua kali lalu melangkah masuk.Adnan perlahan memutar kursi kebesarannya, lalu berdiri. Ia berjalan dan bersandar di tepi meja kerja. Kedua tangannya bersedekap di dada, matanya menatapku dengan sorot dingin."Udah dapat mangsa baru, Dila?" tanya Adnan tiba-tiba.Suaranya terdengar meremehkan sekaligus merendahkanku."Maksud Bapak apa?"Adnan mendengus sinis, senyum tipis yang mere

  • DIINGINKAN TIGA PRIA POSESIF   Permainan Dimulai

    Patah hati mengajarkan bahwa rasa sakit ini bisa mengubahku menjadi seseorang yang … berbahaya.Tangaku bersedekap dekat jendela apartemen, memandangi lampu kota dari bawah, dan rambut tertiup angin malam. Pemandangan seperti ini menenangkan. Tapi pikiranku sibuk menyusun rencana.“Adnan, Kenan.”D

  • DIINGINKAN TIGA PRIA POSESIF   Dua Umpan Sekaligus

    Bila aku memilih pergi, berarti telah menutup dan melupakan perbuatan Rifat. Tapi bila aku memilih tetap bekerja di sini dan membantu Adnan, berarti aku akan melihat wajah Rifat lagi. Tidak sekali, tapi mungkin berkali-kali. Oh Tuhan!Peluang luka di hati yang pernah ia torehkan, bukan berarti tid

  • DIINGINKAN TIGA PRIA POSESIF   Sepupu Saling Menghancurkan

    Aku percaya satu hal. Jika ingin bertahan di tempat baru, jangan memberi orang lain kesempatan meremehkanmu terlalu lama.Kadang takdir bekerja dengan cara yang aneh. Ia tidak datang momen besar yang menegangkan atau peristiwa yang berdarah-darah. Tapi justru muncul dalam hal yang tak terduga sama

  • DIINGINKAN TIGA PRIA POSESIF   Pria Bodoh

    Beruntungnya, di kota baru ini, aku tidak benar-benar memulai dari awal. Pengalaman pernah ikut meninjau laporan keuangan dan memimpin tim kecil untuk proyek cabang baru perusahaan milik keluarga, memiliki nilai tambah.Didukung oleh rekan bisnis papa yang mempermudah aku diterima di Monexia Dynami

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status