LOGIN:-0
Sambil menyambar jas kerjanya di atas meja dengan gerakan kasar, Adnan menatapku tajam."Tapi kita bawa mobil masing-masing. Aku akan ikuti mobilmu dari belakang. Aku nggak mau repot-repot harus nganter kamu pulang setelah makan malam sialan ini selesai."Aku tertawa meremehkan untuk memprovokasi harga dirinya. Lalu melangkah maju, hingga ujung sepatu hak tinggiku nyaris menyentuh sepatunya."Bawa mobil masing-masing? Oh, ayolah, Pak Adnan. Mana ada sepasang kekasih pergi kencan tapi konvoi di jalanan kayak lagi pawai?" sindirku dengan nada manja."Saya mau kita satu mobil. Saya mau duduk manis di sebelah Anda. Layaknya sepasang kekasih yang sesungguhnya."Adnan kemudian mundur agar menjauh dariku."Jangan keterlaluan, Dilara! Aku udah turuti maumu, jangan mendikte gimana cara --- ""Apa harus saya ingatkan lagi tentang alamat rumah orang tua Anda, Pak?" potongku dengan unsur ancaman yang langsung membuat Adnan diam seribu bahasa.Tangannya mengepal kesal dengan mata menatapku geram.
Hatiku bergemuruh mendengar sindiran Adnan yang jelas-jelas keterlaluan dan sengaja dilakukan untuk meruntuhkan harga diriku.Namun, aku menolak untuk terpancing emosi dan terlihat lemah.Perlahan aku menarik nafas dalam-dalam lalu menunjukkan senyum tenang sambil menatap matanya."Benar kata Anda, Pak Adnan. Memang ada masalah di tempat tidur, seperti tuduhan Anda," jawabku santai.Membuat mereka yang hadir di ruang rapat saling lirik."Semalam saya tidur larut karena harus memeriksa ulang seluruh kesiapan sistem Solvio agar tidak ada error sekecil apa pun. Ditambah lagi kemacetan pagi ini sama sekali tidak bersahabat. Tapi saya jamin, keterlambatan setengah jam ini tidak akan mengurangi kualitas hasil kerja keras saya."Mendengar jawabanku yang berkelas dan berani, Adnan menghentikan ketukan pulpennya. Wajahnya sedikit kesal tapi dia segera menguasai diri agar tetap terlihat berwibawa."Bagus kalau begitu. Duduk di tempatmu, Dilara. Kita tidak punya banyak waktu untuk membahas urusa
Begitu melangkah keluar dari ruangan Adnan, aku menuju basemen dengan langkah santai sambil menikmati kemenangan kecil hari ini.Adnan mungkin mengira dia bisa mengendalikan bidak caturnya, tapi dia tidak sadar bahwa papan caturnya sendiri sudah berada di bawah kuasaku.“Jangan harap bisa mengaturku, Adnan. Karena aku datang, untuk menggunakanmu melawan Rifat. Jadi … bersiaplah.” Gumamku pada diri sendiri.Tepat saat aku memarkirkan mobil di basemen apartemen, ponselku bergetar.Sebuah notifikasi pesan masuk dari …“Kenan.”Aku membukanya dan seketika seulas senyum santai dan lepas terbit di bibirku.Kenan mengirimkan sebuah foto. Di atas meja makannya yang sederhana, sudah tertata rapi dua piring nasi goreng dengan kepulan asap tipis, lengkap dengan lauk cumi pedas manis k yang menggoda selera.Di tengah meja, sebuah lilin kecil dinyalakan sebagai pemanis.[Dari Kenan : Sudah siap, Tuan Putri. Cepat datang sebelum cumi pedas manisnya nggak manis lagi.]Kebetulan perutku keroncongan k
Tepat saat jam pulang kerja, layar ponselku menyala, menampilkan nama yang membuat senyum dingin terbit di bibirku.Adnan.Aku menggeser tombol hijau, menempelkan benda pipih itu ke telinga."Ke ruanganku sekarang. Jangan sampai ada yang lihat," perintahnya singkat.Dan langsung memutuskan sambungan sebelum aku sempat mengiyakan. Suaranya yang kaku memicu alarm kewaspadaan di kepalaku.Aku merapikan sisa berkas di meja lalu melangkah menuju lantai atas. Langkahku tenang, namun otakku bekerja dua kali lebih cepat.Di depan pintu eksekutif itu, aku memasang kembali topeng pegawai yang patuh. Aku mengetuk pintu dua kali lalu melangkah masuk.Adnan perlahan memutar kursi kebesarannya, lalu berdiri. Ia berjalan dan bersandar di tepi meja kerja. Kedua tangannya bersedekap di dada, matanya menatapku dengan sorot dingin."Udah dapat mangsa baru, Dila?" tanya Adnan tiba-tiba.Suaranya terdengar meremehkan sekaligus merendahkanku."Maksud Bapak apa?"Adnan mendengus sinis, senyum tipis yang mere
"Jalan ke klinik kandungan yang sudah kukirim ke ponsel," perintah Adnan pada sopirnya.Sopir itu buru-buru mengangguk dan menginjak pedal gas mengikuti arahan maps.Aku melirik jam di pergelangan tangan. Dengan drama ini, sudah bisa dipastikan kami berdua akan masuk kerja agak siangan. Tapi masa bodoh, toh Solvio tidak akan runtuh hanya karena pimpinannya terlambat beberapa jam demi memastikan reputasinya tetap aman.Sepanjang jalan, pikiranku menyusun langkah-langkah selanjutnya.Mobil akhirnya berhenti di depan sebuah klinik bersalin swasta elite."Masuklah. Aku tunggu di sini. Ingat, bawa obat dan resepnya ke mobil dan minum di hadapanku,” ucapnya tanpa menatapku.Aku mengangguk dengan raut wajah sendu yang kupaksakan, lalu melangkah keluar dari mobilnya. Begitu kakiku menginjak lantai klinik dan bayangan mobil Adnan terhalang dinding kaca, aku langsung merubah ekspresi wajahku.Dingin, fokus, dan licik.Setelah mendaftar menggunakan nama samara, karena aku tidak sebodoh itu untuk
Aku melangkah mendekati pintu kamar, menyandang tas kerjaku."Saya sudah siap, Pak," ucapku dengan nada dingin yang terluka.Adnan tersentak dari lamunannya, lalu buru-buru memasukkan ponsel ke dalam saku celana. Ia berdehem dan sesekali melirik ke arahku. Lalu berjalan mendahuluiku membuka pintu kamar.“Ayo.”Tidak ada percakapan selama perjalanan menuju apotek. Sopir Adnan, yang sempat kutakut-takuti, terus mencuri pandang lewat spion tengah.Sementara itu, Adnan duduk di sebelahku dan menatap ke luar jendela dengan sorot kosong. Aku tahu pikirannya sedang berkecamuk, terjebak di antara rasa bersalah padaku dan merasa mengkhianati jantung pemberian Vivian.Begitu mobil berhenti di depan sebuah apotek, Adnan langsung merogoh dompetnya. Ia mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan ribu dan menyerahkannya padaku."Beli obatnya sekarang. Aku tunggu di sini," ucapnya tanpa menoleh.Aku mengambil uang itu dengan tangan yang sengaja kubuat sedikit gemetar, lalu keluar dari mobil.Lima menit







