Sabtu yang cerah ini menjadi saksi bersatunya dua keluarga besar, Brett dan Tiano, dalam sebuah pernikahan yang megah. Ballroom hotel bintang lima di Jakarta Pusat telah disulap menjadi tempat yang begitu indah, dengan dekorasi serba putih dan emas. Lampu kristal berkilauan di langit-langit, sementara rangkaian bunga mawar dan lily menghiasi setiap sudut ruangan. Para tamu undangan yang datang tampak anggun dalam balutan gaun dan setelan terbaik mereka. Di depan altar yang dihiasi bunga putih, Ruby Brett berdiri dengan anggun dalam gaun pengantin off-shoulder berwarna putih dengan ekor panjang yang menjuntai indah. Wajahnya yang cantik tampak berseri, mencerminkan kebahagiaan yang memenuhi hatinya. Di sampingnya, Harvey Tiano, dengan setelan tuxedo hitam yang elegan, menatap Ruby penuh cinta. Pastor yang memimpin upacara pernikahan itu membuka dengan doa, lalu mempersilakan kedua mempelai untuk mengucapkan janji suci mereka. "Saudara-saudari sekalian, kita berkumpul di sini untuk m
Keesokan harinya,Pagi itu, matahari bersinar lembut di langit Estonia, menciptakan kehangatan yang nyaman bagi pasangan yang sedang berbulan madu. Di dalam kamar hotel mereka di Saaremaa, Isaac membuka mata dan langsung menemukan Leticia masih terlelap dalam pelukannya. Dia tersenyum, lalu mengecup lembut kening istrinya."Sayang, bangun, hari ini kita punya petualangan baru," bisiknya lembut.Leticia menggerakkan tubuhnya pelan, lalu membuka matanya dan tersenyum melihat Isaac. "Mmm… aku masih ingin bermalas-malasan di tempat tidur bersamamu," gumamnya manja.Isaac terkekeh. "He-he-he. Kalau begitu, bagaimana kalau kita berangkat agak siang? Kita bisa sarapan dulu di kamar, santai sejenak, baru berangkat ke Haapsalu."Leticia mengangguk setuju, lalu meregangkan tubuhnya sebelum duduk di atas ranjang. "Itu ide yang bagus. Aku penasaran seperti apa Haapsalu."Setelah bersiap dan sarapan bersama, mereka pun berangkat dengan mobil sewaan menuju kota kecil Haapsalu. Perjalanan dari Saa
Pagi yang cerah menyambut Kota Tallinn dengan sinar mentari yang lembut. Cahaya keemasan masuk melalui celah tirai kamar hotel, menyinari wajah Leticia yang masih terlelap di pelukan sang suami. Perlahan, Isaac membuka matanya dan tersenyum melihat istrinya yang tidur dengan begitu damai. Dia menatap wajah Leticia sejenak sebelum mengecup keningnya lembut. "Sayang, sudah pagi," bisiknya. Leticia mengerjapkan matanya perlahan, lalu tersenyum begitu melihat suaminya. "Pagi sudah tiba?" tanyanya dengan suara serak khas orang yang baru bangun tidur. "Ya, dan aku punya rencana seru untuk kita hari ini," ujar Isaac sambil mengusap pipi Leticia dengan ibu jarinya. Leticia mengangkat alis, tertarik. "Rencana apa?" Isaac tersenyum penuh misteri. "Aku akan mengajakmu ke tempat yang sangat indah dan tenang yaitu di Saaremaa Island." Leticia langsung bangun dari tidurnya dengan mata berbinar. "Pulau terbesar di Estonia itu?" Isaac mengangguk. "Benar. Di sana kita bisa menikmati pant
Setelah seharian menjelajahi keindahan alam dan sejarah Estonia, Isaac dan Leticia akhirnya kembali ke hotel mewah mereka di pusat kota Tallinn. Malam di luar terasa sejuk, dengan cahaya lampu kota yang berpendar indah di kejauhan.Begitu memasuki kamar, Leticia melepaskan jaketnya dan meregangkan tubuh dengan lega. "Hari ini sungguh luar biasa. Aku masih bisa merasakan semilir angin di Lahemaa dan keanggunan kastil itu," ucapnya sambil tersenyum ke arah suaminya.Isaac berjalan ke minibar, menuangkan segelas anggur merah untuk mereka berdua. "Aku setuju. Dan yang lebih menyenangkan adalah aku bisa menghabiskan semuanya bersamamu."Leticia menerima gelas anggur yang diberikan Isaac, lalu duduk di tepi tempat tidur sambil menyesapnya perlahan. Matanya menatap suaminya dengan penuh arti. "Aku merasa kita harus mengakhiri hari ini dengan sesuatu yang lebih istimewa."Isaac mengangkat sebelah alisnya, mendekat ke arah Leticia. "Kamu punya sesuatu dalam pikiran?"Leticia tersenyum miste
Matahari pagi di Estonia menyelinap masuk melalui celah tirai kamar suite mewah itu, menyapukan cahaya keemasan yang lembut ke seluruh ruangan. Udara di luar begitu dingin, akan tetapi di dalam kamar, kehangatan masih tersisa dari malam penuh gairah yang baru saja mereka lalui.Leticia menggeliat pelan di bawah selimut tebal, tubuhnya terasa nyaman dalam dekapan Isaac yang masih tertidur. Napasnya teratur, seolah-olah masih terbuai dalam mimpi indah. Dia mengangkat kepalanya perlahan, memperhatikan wajah suaminya yang tampak begitu damai. Seulas senyum terbentuk di bibirnya saat Leticia mengingat setiap momen magis yang mereka habiskan bersama semalam.Pelan-pelan, perempuan cantik itu menyentuh pipi Isaac, lalu berbisik lembut."Isaac Sayang, bangun," ucapnya lembut.Isaac mengerang kecil sebelum akhirnya membuka matanya yang kelam, lalu tersenyum melihat istrinya."Pagi, Cintaku," gumamnya serak, suaranya masih berat oleh sisa kantuk. Dia pun menarik Leticia ke dalam pelukannya, me
Malam pun tiba juga Kota Tua Tallinn, menyajikan suasana yang romantis dengan jalanan berbatu yang diterangi lampu kuning temaram. Isaac dan Leticia berjalan berdua, tangan mereka saling menggenggam erat. Udara dingin musim semi terasa menyegarkan, membuat Leticia merapatkan mantel wolnya."Kota ini benar-benar indah di malam hari, Isaac." Leticia menoleh ke suaminya dengan senyum hangat.Isaac mengangguk. "Ya, Sayang. Suasananya sangat tenang dan romantis. Aku senang kita memutuskan untuk berjalan-jalan malam ini."Mereka pun melewati alun-alun kota tua yang masih dipenuhi beberapa turis dan penduduk lokal yang menikmati malam. Aroma kopi dari kafe-kafe kecil yang masih buka menyebar di udara, menggoda selera mereka."Kamu mau mampir ke salah satu kafe untuk minum coklat panas?" tanya Isaac.Leticia menggeleng pelan. "Mungkin nanti. Aku ingin menikmati suasana malam ini lebih lama sebelum kita duduk dan bersantai."“Baiklah, Sayang.”Mereka pun terus berjalan, melewati bangunan-bang
Setelah selesai makan dan beristirahat sejenak, tepat pada pukul sepuluh pagi waktu Tallinn, Isaac menatap istrinya, Leticia, dengan senyum hangat. Matahari bersinar lembut di atas langit biru, memberikan suasana yang sempurna untuk menjelajahi kota yang menawan ini."Sayang, bagaimana kalau kita mulai petualangan kita di Kota Tua Tallinn sekarang?" ajak Isaac sambil menggandeng tangan sang istri.Leticia mengangguk penuh semangat. "Tentu! Aku sudah tidak sabar melihat keindahan arsitektur abad pertengahan yang ada di sini."Mereka pun melangkah ke arah Tallinn Old Town, salah satu pusat sejarah terbaik di Eropa yang masih terjaga keasliannya. Jalanan berbatu yang khas, bangunan-bangunan tua yang indah, serta suasana romantis yang kental membuat Leticia takjub."Lihatlah, Isaac!" seru Leticia sambil menunjuk ke sekeliling."Bangunan ini terlihat seperti berasal dari dongeng!"Isaac tersenyum melihat istrinya yang tampak begitu bahagia. "Memang benar. Kota Tallinn seperti membawa kit
Pagi yang cerah akhirnya tiba, suasana di Bandara Kingsford Smith, Sydney, begitu hangat dengan kehadiran dua keluarga besar yang berkumpul untuk melepas kepergian Isaac dan Leticia. Hari ini adalah awal perjalanan bulan madu mereka ke Estonia, negara yang terkenal dengan keindahan alam dan kota tuanya yang menawan.Isaac tampak gagah dalam balutan kemeja putih dengan celana chino coklat, sementara Leticia anggun dengan gaun santai berwarna merah muda. Keduanya berdiri di tengah-tengah keluarga mereka, merasakan kehangatan perpisahan ini.Tuan Edward, ayah Isaac, menepuk bahu putranya dengan bangga. "Nak, ini adalah awal dari kehidupan baru kalian. Ingat, pernikahan itu bukan hanya tentang cinta, tapi juga tentang pengertian dan kesabaran. Jaga Leticia baik-baik."Isaac tersenyum dan mengangguk. "Tentu, Daddy. Aku akan selalu menjaganya, dengan segenap hatiku," sahutnya tegas.Di sebelahnya, Nyonya Agnes, ibunya Isaac, menatap sang menantu dengan penuh kasih. Lalu berkata,"Leticia
Senja perlahan menyapa langit Beach Byron Bay, memancarkan cahaya keemasan yang menari di permukaan laut. Angin pantai bertiup lembut, membawa aroma asin yang berpadu dengan wangi bunga lili putih yang menghiasi tenda resepsi. Musik lembut mengalun dari sudut panggung, menciptakan suasana syahdu yang memeluk seluruh tamu dalam kehangatan malam.Di tengah taman pasir yang telah dihiasi lampu-lampu gantung kecil berbentuk lentera, Leticia dan Isaac masih berdansa dengan penuh cinta. Mata keduanya saling bertaut, seolah-olah waktu berhenti hanya untuk mereka. Gaun putih Leticia bergoyang lembut mengikuti langkah kakinya yang selaras dengan gerakan Isaac.“Kamu tahu, Sayang?” bisik Isaac di telinga istrinya. “Momen ini adalah salah satu yang paling aku impikan sejak lama.”Leticia tersenyum, matanya berbinar.“Aku juga. Rasanya, seperti mimpi yang menjadi kenyataan.”Isaac mempererat genggamannya di pinggang Leticia dan menariknya sedikit lebih dekat. “Karena ini memang kenyataan, Sayan