Share

5. Terpergok

last update publish date: 2024-10-25 07:26:45

Tubuhku bergetar hebat karena perasaan takut benar-benar mendominasi. Apalagi hujan yang semakin lebat membuat suasana bertambah mencekam. Bahkan bungkusan nasi goreng yang tadi kubawa sudah tercecer entah kemana.

"Tolong lepasin saya ...." Berulang kali aku memohon saat para preman itu menyeretku semakin jauh ke dalam gang sempit.

"Kubilang diam! Atau aku akan benar-benar merobek mulutmu itu!" Bentak salah satu pria yang sepertinya ketua di kumpulan itu.

"Ckckck! Sekumpulan ban*ci sedang beraksi ternyata."

Langkah para preman yang tengah menyeretku terhenti, kala mendengar celotehan dari arah belakang.

Aku yang sangat familiar dengan suara tersebut pun refleks menoleh, membuat pria yang tak lain adalah Bang Iza itu juga kaget. Sepertinya ia baru sadar jika akulah yang jadi sandera kini.

"Ck! Mengganggu saja cecunguk satu ini. Bereskan dia!" Titah ketua preman itu lagi seraya memberi isyarat pada anak buahnya.

Mereka pun langsung melepaskanku dan beralih pada Bang Iza kini. Aku ingin berlari, namun ternyata ketua preman itu kembali menangkapku.

"Mau coba kabur ke mana? Urusan kita belum selesai. Selagi mereka mengurusi cecunguk satu itu, lebih baik kita senang-senang saja."

Dengan kasar, ketua preman itu kembali menyeretku menjauh dari tempat perkelahian antar Bang Iza dan anggota preman tersebut.

"Baang ... Tolooong!" Lirihku tertahan namun ternyata didengar juga oleh Bang Iza.

Dalam hati berharap, semoga saja kebaikanku selama ini menggerakkan pintu hatinya untuk menolongku. Bukan maksud mengharap pamrih, tapi memang saat ini aku benar-benar berharap pertolongan darinya.

"Kau minta tolong pada orang yang salah! Karena mungkin sebentar lagi ce*cunguk itu akan jadi tak berbentuk  setelah dihajar oleh anak buahku." Ucapan preman tersebut berhasil membuat harapku meredup.

"Si Iza itu memang kuat. Tapi mana sanggup dia kalau dikeroyok--."

Buuuggh!

Belum selesai lagi preman tersebut mengoceh, dari belakang sesuatu yang keras menghantamnya hingga badan kekar itu seketika terhuyung ke depan, bersamaan dengan jatuhnya balok kayu yang tadi mengenainya.

'Siapa yang melempar?'

Saat melihat ke belakang, aku terpana melihat Bang Iza sudah berdiri dengan tangguh di antara anak buah preman yang sedang terkapar itu.

Mulutku sampai terbuka seolah sedang melihat adegan dari sebuah film aksi. Apalagi saat Bang Iza datang mendekati, lalu menarik lenganku dan dibawa menjauh dari tempat itu.

Wah-wah, aku benar-benar seperti sedang berada dalam adegan sebuah film kini. Hanya saja, jika dalam film pasti pemeran seperti Bang Iza ini sudah pasti tampan.

"Kenapa? Kok diam saja?" Bang Iza menatapku heran karena aku pasrah saja dia menarikku dan membawaku ke mana saja. Bahkan mulutku yang tadi ternganga takjub melihatnya belum juga tertutup.

"E-eh, emm ... Aku lapar, Bang." Hatiku langsung menjerit saat bibirku berucap asal seperti itu. Ya aku memang lapar, tapi kenapa malah itu yang dilontarkan? Bikin malu saja! Memang kalau sudah gugup, apapun tak sadar lagi.

Bang Iza langsung tersenyum sembari menghela napas panjang. Ya walaupun senyumnya tersamarkan oleh kumis dan brewoknya itu. Tapi aku masih bisa dapat melihatnya.

Lelaki itu kini menarikku menuju emperan sebuah toko yang tutup. Lalu tangan kokohnya merogoh saku jaket yang ia kenakan.

"Ambillah! Abang cuma ada ini." Aku tertegun untuk sesaat ketika lelaki itu mengulurkan sebungkus roti ke arahku.

Aku merasa Dejavu dengan keadaan saat ini. Jika biasanya aku yang selalu memberikan roti atau makanan pada lelaki itu, kini malah sebaliknya. Hari ini Bang Iza-lah yang berulang kali membantuku.

"Kenapa gak diambil? Tangan Abang pegel nih!"

Aku yang tersadar dari lamunan langsung mengambil roti tersebut. Takut juga pria berwajah sangar itu murka, apalagi nada suaranya terdengar meninggi tadi.

Karena memang lapar, aku langsung membuka plastik pembungkus roti tersebut dan langsung melahapnya.

Pluuk!

Kunyahanku terhenti saat Bang Iza memakaikan jaket miliknya di bahuku. Duh, jadi merasa seperti female lead di drakor-drakor aku. Hanya saja kini yang ada di hadapanku bukan oppa-oppa berkulit putih nan glowing.

"Biar kamu gak kedinginan. Tuh, badanmu gemetaran semua," ujar Bang Iza karena melihat aku menatapnya penuh tanya.

Iya sih, aku jadi merasa lebih hangat. Karena jaket Bang Iza ini, jaket kulit yang anti air, jadi tak terlalu basah karena kehujanan tadi.

Aneh ya, padahal ia tunawisma. Tapi kenapa punya jaket mahal seperti ini? Ya walaupun tampilannya sudah lusuh, tetap saja terlihat seperti jaket mahal.

"Terima kasih, Bang, sudah banyak membantuku hari ini."

Lelaki itu hanya mengangguk samar, sembari memasukkan kedua telapak tangannya ke saku celana.

"Hujannya sudah agak reda. Ayo, sekalian jalan saja. Biar Abang antar," ajak lelaki itu lalu berjalan mendahuluiku. Aku yang masih mengunyah buru-buru mengekorinya.

Dasar! Tadi saja sikapnya manis hingga membuat aku hampir terpesona, eh! Sekarang malah kembali ke setelan pabrik dengan gaya acuhnya itu.

Kami berjalan hanya dengan saling diam. Bahkan saat sampai di area komplek perumahan pun kami masih sama-sama diam. Terlihat di pos satpam tak ada siapapun, hingga Bang Iza pun leluasa masuk ke dalam komplek.

"Rumah kamu yang mana?" Tanya Bang Iza setelah lama berdiam diri.

"Itu, Bang. Yang cat warna biru sana," tunjukku karena memang rumahku sudah kelihatan.

Mendengar jawabanku, Bang Iza refleks menghentikan langkah lebarnya.

"Itu rumahmu?" Ia kembali bertanya, kali ini dengan mimik wajah lebih serius.

"I--iya, Bang. Kenapa?" Tanyaku balik dengan gugup karena melihat aura yang tak enak dari lelaki itu.

Tanpa menyahut ucapanku, lelaki itu kembali berjalan. Kali ini langkahnya lebih cepat, hingga membuatku mau tak mau mengejarnya dengan setengah berlari.

"Tunggu, Bang!" Panggilku namun sama sekali tak digubris lelaki itu.

Hingga sampai di teras rumah barulah lelaki itu berhenti dan menoleh padaku. Aku yang ngos-ngosan karena mengejar lelaki itu, menatapnya dengan kesal.

Ada apa dengan lelaki ini? Begitu tahu ini adalah rumahku, auranya jadi begitu suram.

"Masuklah!" Titahnya dengan nada dingin.

Aku yang merasa ada yang tak beres dengan lelaki itu, memilih mengangguk cepat dan buru-buru hendak melepas jaket miliknya karena takut.

"Aduuuh!" Belum sempat lagi jaket milik Bang Iza terlepas, tiba-tiba seekor binatang yang datang dari arah lampu teras mendekat dan menubruk tepat ke mataku.

"Kenapa?" Tanya Bang Iza begitu melihat aku kesakitan dan mengucek mata.

"Kelilipan binatang sepertinya, Bang."

Terdengar Bang Iza berdecak kesal membuatku jadi tak enak hati.

"Jangan dikucek! Sini, biar dilihat," ujar lelaki itu lalu mendekatkan wajahnya lalu meniup mataku.

Jantungku langsung bertalu-talu kencang dengan apa yang dilakukan Bang Iza, karena kini posisi wajah kami jadi begitu dekat.

"Astagaa, Mbak Alin, ngapain?" Suara Clara yang muncul tiba-tiba sukses mengejutkan aku dan Bang Iza, hingga lelaki itu refleks mundur menjauh.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   51. Ending

    Lima tahun kemudian ...."Mamaaa!" Alin tersenyum lebar sembari merentangkan tangan menyambut putranya yang baru keluar dari gerbang sekolah.Wajah bocah berusia lima tahun lebih itu terlihat sumringah. Ia langsung masuk ke dalam pelukan Alin seolah begitu merindukan mamanya."Belajar apa tadi?" Tanya Alin sembari berjongkok mensejajarkan diri dengan Abim."Belajar nulis huruf M, sama gambar juga tadi. Abim gambar Papa, Mama, sama Abim," sahut Abim antusias."Oh ya? Senang gak tadi di sekolah?" Pancing Alin yang memang selalu mempertanyakan perasaan anaknya. Karena baginya kondisi hati itu yang terpenting. "Senang! Tapi 'kan, Ma ... Abim sedih juga," ujar Abim dengan bibir cemberut."Kenapa?" Alin mulai khawatir."Teman-teman Abim pada punya adik, tapi Abim gak punya, Ma."Alin tersenyum simpul mendengar hal yang membuat anaknya itu bersedih. "Sabar ya, Sayang. Kita do'a sama-sama supaya Abim cepat dapat adek," ujar Alin sembari mengusap lembut kepala putranya.Bukan Alin tak ingin

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   50. Balasan

    "Bang ponsel Abang bunyi." Alin berusaha melepaskan bibirnya, namun Afriza kembali menahan."Biarin!" Afriza melanjutkan aktivitasnya membuat Alin kembali pasrah, hingga akhirnya dering tersebut mati sendiri.Namun begitu ci*uman Afriza sudah mulai turun ke leher jenjang Alin, kembali ponsel tersebut berbunyi nyaring, membuat Afriza berdecak kesal karena merasa terganggu."Angkat dulu, Bang. Siapa tahu penting," ujar Alin mengingatkan, hingga mau tak mau Afriza meraih ponselnya dan mengangkat panggilan yang ternyata dari papanya."Kenapa, Pa?" Tanya Afriza dengan menahan kesal karena aktivitasnya terganggu."Cepat ke rumah sakit, Tha! Nenek jatuh di kamar mandi, darah tingginya kumat."Bukannya iba mendengar berita tersebut, Afriza malah berdecak kesal. "Yang anaknya 'kan Papa, bukan aku!" Ketus Afriza."Artha, Papa tahu kamu masih marah sama Nenek. Tapi jangan begitu. Jangan simpan dendam. Biar bagaimanapun beliau Nenek kamu sendiri. Masa kamu gak ada rasa empati saat beliau sakit?"

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   49. Awal Jatuh Cinta

    "Bang!" Alin mulai membuka percakapan sembari melepas lelah. Mereka baru saja usai meluahkan rasa rindu di atas ranjang setelah makan siang tadi."Hmm?""Sejak kapan Abang cinta sama Alin?" Tanya Alin tiba-tiba."Kenapa memangnya?" Afriza balik bertanya sembari memandang wajah cantik istrinya yang sejak tadi ada di dalam dekapannya."Gak apa-apa, pengen nanya aja. Jangan bilang Abang cinta ke Alin gara-gara merasa bersalah karena salah balas dendam," tebak Alin balas menatap suaminya.Walau papa Afriza pernah mengatakan padanya bahwa Afriza menyukainya sejak pertama bertemu, tapi Alin tak ingat pasti kapan pertama kali mereka bertemu."Enggaklah! Jauh sebelum itu Abang sudah cinta ke kamu.""Oh ya? Sejak kapan? Kayaknya dulu kita gak saling dekat deh." Alin makin penasaran."Sejak pandangan pertama," sahut Afriza sambil mengulas senyum manis lalu mengecup kening istrinya."Emang kapan kita pertama kali ketemu ya? Alin lupa."Afriza berdecak kesal sambil menatap Alin. "Ternyata cuma Ab

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   48. Dasar Cacing!

    Afriza menelan saliva susah payah. Sudahlah volume panggilan ia buat full ditambah suara ayahnya yang keras, sudah dapat dipastikan Alin yang berada sangat dekat dengannya mendengar apa yang dikatakan Tuan Wisnu. Dan benar saja, saat Afriza menatap wanita itu, raut wajahnya sudah berubah."Enggak! Artha lagi jagain menantu Papa.""Hah? Siapa?""Alin-lah, Pa. Siapa lagi?! Sampai kapanpun menantu Papa ya cuma Alin seorang." Sengaja Afriza berucap demikian demi mengalihkan pikiran Alin supaya tak berpikir buruk dengan ucapan papanya yang menuduhnya mabuk tadi."Udah ketemu Alin?" "Udah. Emangnya Papa belum liat artikel tentang keluarga Atmadja?" "Sudah. Makanya itu Papa ngubungi kamu."Usai berbincang-bincang sejenak, panggilan pun terputus. Begitu melihat Alin yang masih menatapnya, jantung Afriza langsung ketar-ketir."Abang sering mabuk-mabukan?" Tanya Alin langsung, ada raut kecewa di wajah wanita itu saat bertanya demikian.Afriza menghela nafas panjang sebelum menjawab. "Maaf, Sa

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   47. Kembali Bersama

    Afriza menghela nafas panjang, berulang kali melirik arloji. Sudah berjam-jam ia menunggu di depan kampus Alin. Matanya tak lepas mengawasi ke arah gerbang, namun sosok yang ia tunggu tak juga nampak batang hidungnya."Kamu di mana, Lin?" Afriza mengusap wajahnya kasar. Makin frustasi rasanya saat ingat cerita Anita tadi. Ia baru tahu alasannya kenapa istrinya itu memilih menerima uang dari neneknya dan meninggalkannya. Pasti Alin tertekan sekali saat itu. Dan ia malah dengan teganya tak memberi kesempatan wanita itu untuk memberi penjelasan padanya.Karena hari sudah semakin senja, Iza memutuskan turun untuk bertanya pada Satpam yang ada di depan gerbang. Walau ia tak berharap banyak, karena tak mungkin juga Satpam tersebut hafal wajah semua mahasiswa yang ada di sana."Permisi, Pak, saya mau tanya.""Mau tanya apa ya, Mas?" "Ada lihat wanita ini keluar dari kampus gak ya, Pak?" Afriza menunjukkan foto Alin yang ada di ponselnya."Oh, Nak Alin anak Pak Rasyid Atmadja?"Afriza menga

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   46. Bertemu Anita

    Alin bergerak turun dari ranjang. Wajahnya masih pucat, kepalanya pun masih terasa pusing. Tapi ia tetap memaksakan bangkit, berniat masuk kuliah hari ini. Selain karena sudah dua hari dia absen, Alin juga tak tahan lama-lama di dalam kamar. Yang ada ia malah menangis terus karena terpikirkan Afriza. Pikirnya dengan mencari kegiatan ia akan bisa melupakan kesedihannya walau sejenak."Kamu mau kemana, Lin?" Tanya Bu Nurin saat melihat Alin sudah turun dengan pakaian rapi."Ke kampus, Ma," sahut Alin lalu ikut bergabung dengan keluarga Atmadja sedang bersiap untuk sarapan."Kamu yakin mau ngampus? Wajah kamu masih pucat itu." Arfan ikut menanggapi dengan khawatir."Yakin, Mas. Udah gak demam lagi kok. Aku bosan di rumah terus."Terdengar lelaki itu menghela nafas, ia sebenarnya keberatan saat melihat kondisi adiknya itu. Tapi mungkin Alin memang sedang bosan di rumah. "Yang penting hati-hati ya, Lin. Kalau ada apa-apa hubungi Masmu atau Papa aja," timpal Pak Rasyid yang disambut angguk

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   7. Nasi Basi

    Seolah sedang bermimpi, semua hal yang tak pernah kusangka terjadi begitu saja. Seharusnya hari ini jadi hari pernikahanku dengan Mas Bima, tapi yang ada malah kami berdua akan menikah dengan pasangan yang berbeda. Ya, hari ini adalah hari pernikahanku. Papa yang takut terjadi hal yang tak diingin

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   6. Fitnah Clara

    "Clara ... Ini gak seperti yang kamu kira, Ra," jelasku buru-buru mendekat ke gadis itu.Namun, belum sempat lagi aku memberikan penjelasan yang sesungguhnya, ia sudah berteriak duluan dengan heboh."Ma, Pa, banguuun! Ada lelaki aneh yang mau macem-macem sama Mbak Alin!" Teriak Clara dengan volume

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   4. Terjebak

    "Kamu jangan bicara yang aneh-aneh, Alin! Tak ada yang mau bernasib seperti Clara, begitu juga Clara sendiri!"Aku hanya memutar bola mata mendengar tanggapan Ayah. Memilih meninggalkan mereka dan masuk kembali ke kamar adalah jalan terbaik. Dunia mereka selalu diisi dengan Clara, karena aku di kel

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   3. Anak Kesayangan

    Rencana pernikahan tetap berjalan sesuai rencana, namun bedanya nama mempelai wanita di undangan yang baru saja selesai dicetak sudah berganti bukan lagi namaku. Ah, rasanya ingin saja aku menjauh dari semua ini. Walau aku berusaha kelihatan tegar, tapi di dalam aku benar-benar rapuh kini.Merelaka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status