LOGIN"Clara ... Ini gak seperti yang kamu kira, Ra," jelasku buru-buru mendekat ke gadis itu.
Namun, belum sempat lagi aku memberikan penjelasan yang sesungguhnya, ia sudah berteriak duluan dengan heboh. "Ma, Pa, banguuun! Ada lelaki aneh yang mau macem-macem sama Mbak Alin!" Teriak Clara dengan volume yang begitu tinggi, hingga membuat kedua orang tua kami yang mungkin sudah di alam mimpi itu terbangun. Buktinya pintu kamar mereka langsung terbuka begitu mendengar teriakan Clara. "Ada apa sih, Ra, malam-malam teriak-teriak," gerutu Mama yang sepertinya masih setengah sadar. "Liat, Ma, Pa. Mbak Alin tadi pergi keluar malam-malam dengan lelaki aneh ini. Bahkan tadi aku liat mereka ciuman di teras," adu Clara dengan menambah-nambahi bumbu. "Enggak, Pa. Itu enggak benar! Clara salah paham." Wajah Papa yang tadi masih sayu karena baru bangun, seketika berubah. Raut marah terpancar jelas di wajah Papa. "Aku gak salah paham, Pa. Ini ada buktinya." Clara dengan begitu percaya dirinya menunjukkan sesuatu di ponsel yang sedari tadi terus digenggamnya. Jantung seolah merosot sampai kaki, saat tau bukti yang Clara maksud adalah sebuah foto. Ya, fotoku dengan Bang Iza tadi, saat ia sedang meniup mataku yang kelilipan. Hanya saja foto itu diambil dari belakang, hingga terlihat seperti orang yang sedang berciuman. Tapi yang membuatku tak menyangka, ternyata Clara sudah sejak tadi mengintai kami dan menunggu timing yang pas untuk mengambil foto. Terlihat foto tersebut memang diambil dari balik jendela. Oh, Tuhan ... Bagaimana ini? Plaaakk! Tanpa mendengar penjelasanku dulu tamparan Papa sudah melayang duluan. Pipi langsung terasa panas, namun hati lebih panas karena amarah pada Clara rasanya. "Kamu bilang ini salah paham, hah? Buktinya sudah ada! Dan lagi ... Apa ini? Kamu sampai pakai jaket lelaki ini? Sudah sejauh apa hubungan kalian, hah?" Suara Papa menggelegar membuat hatiku menciut, takut sekali jika didengar tetangga. Syukurnya Mama cepat tanggap dan berusaha menenangkan Papa. "Sudah, Pa. Jangan marah-marah begini. Kita selesaikan baik-baik dulu, Pa. Masuk saja dulu, gak enak kalau sampai didengar orang." Dengan titah Mama, akhirnya kami pun diajak masuk. Saat kulirik Bang Iza yang sejak tadi membisu, aku jadi makin ketakutan. Karena wajah lelaki itu kini terlihat begitu suram dan mengeras seolah menahan amarah. Bagaimana ini? Bagaimana jika lelaki ini mengamuk padaku? Karena gara-gara aku dia jadi terkena masalah. Aku jadi menyesal, kenapa tadi mengizinkannya mengantarku sampai rumah. Kenapa tak sampai gerbang komplek saja? "Sejauh mana hubungan kalian?" Tanya Papa tanpa basa-basi setelah kami duduk di ruang tamu. "Kami gak ada hubungan apa-apa, Pa. Cuma sekedar kenal aja," sahutku cepat, namun ternyata Clara langsung memotong. "Kalau sekedar kenal, kenapa sampai ciuman, Mbak? Aku gak nyangka, Mbak Alin yang kelihatan alim, yang tadi menghina aku karena udah buat malu keluarga, ternyata gak jauh beda sama aku." Jika tadi aku ketakutan, kini aku rasanya kesal sekali pada Clara, ingin saja rasanya kucakar-cakar wajah cantiknya yang begitu terlihat polos tapi mulutnya penuh muslihat itu. Papa terlihat mengusap kasar wajahnya. Mungkin ia sedang berpikir keras, keputusan apa yang akan ia ambil. "Pa, Mama gak percaya Alin begitu. Pasti ada salah paham." Aku sontak menoleh pada Mama, tak menyangka jika ia akan membelaku. "Salah paham gimana sih, Ma? Buktinya udah jelas lho. Clara juga liat sendiri. Bisa saja 'kan mereka memang sudah punya hubungan dari sejak lama." Mataku langsung melotot menatap Clara, ternyata anak ini memang ingin menjatuhkanku. "Jangan asal bicara kamu Clara!" Hanya itu yang bisa keluar dari mulutku karena aku bingung harus berkata apalagi. Sebab Papa saja tak mau mendengarkan penjelasanku sama sekali. "Maaf, Mbak Alin ... Aku sudah merasa aneh dengan reaksi Mbak Alin sewaktu Mas Bima memilih aku. Kenapa bisa Mbak Alin bersikap santai dan seperti tak sakit hati, padahal hubungan kalian sudah sangat lama. Tapi ternyata ini alasannya. Mbak Alin sudah diam-diam selingkuh di belakang Mas Bima? Kasihan sekali Mas Bima." "Clara! Kamu jangan makin menambah cerita ya! Kalau kalian gak percaya perkataanku, silahkan tanya langsung ke dia!" Aku menunjuk ke Bang Iza yang masih terus membisu. Anehnya ia terus memandang ke Papa dengan pandangan yang sulit diartikan. "Bang, tolong jelaskan ke mereka kalau kita gak ada hubungan apa-apa. Kita cuma sekedar kenal. Dan--." "Kami memang punya hubungan." Jantung seolah merosot, persendian pun terasa seperti dicopoti, lemas tak berdaya, saat mendengar jawaban singkat Bang Iza. Padahal dialah yang kuharap akan jadi penyelamatku, tapi nyatanya ia malah membuat aku jadi seperti pembohong di hadapan keluarga. Jawaban Bang Iza tersebut tentu membuat Papa jadi semakin murka. Mama yang tadi membela pun memandang dengan tak percaya. Sedangkan Clara, walau tak jelas tapi tergambar kepuasan di wajahnya. "Papa benar-benar gak nyangka kamu seperti ini Alin," ujar Papa dengan menatapku kecewa. "Pa, tolonglah percaya ... Ini semua gak benar." Aku berlutut di hadapan Papa, berharap lelaki itu iba dan percaya padaku. Tapi bukannya menggubris permohonanku, Papa malah beralih ke Bang Iza. "Namamu siapa?" Tanya Papa tanpa nada bersahabat sedikitpun. "Iza." "Kamu harus nikahi anak saya!" "Paaa!" Pekikku dan Mama secara bersamaan. "Kenapa sampai harus menikah sih?" Mama melayangkan protes. "Karena kita tak tahu apa saja yang sudah dilakukan mereka. Papa tak mau hal yang terjadi pada Clara terulang lagi." Tubuhku sontak melemas mendengar keputusan Papa tersebut.Aku sontak berdiri karena terkejut. Bahkan tangan yang masih berbusa pun kuabaikan."Eh, aku cuma mau nyuci baju Abang, karena udah beberapa hari dibiarkan--."Tanpa memberi kesempatan aku melanjutkan perkataan, lelaki itu dengan cepat menarik hijabku ke belakang dengan keras. Tubuhku makin gemetaran tak menentu melihat kilatan amarah di bola matanya."Maafin aku--."Bluggh ... Bluggh ....Belum selesai aku minta maaf, Bang Iza tanpa ampun memasukkan kepalaku dalam bak air, hingga aku tak bisa bernapas. Aku meronta ingin melepaskan diri, namun tenaga lelaki itu begitu kuat.Syukurnya tak berapa lama ia kembali menarik kepalaku ke atas, hingga aku bisa meraup oksigen sebanyak-banyaknya."Sudah kubilang, jangan sentuh barangku, atau aku akan mengha*bisimu!" Bentak lelaki itu lagi, lalu kembali ia mendorong kepalaku masuk ke air."Tapi sepertinya telingamu ini tak bisa mendengar dengan jelas ya! Biar kucuci sekalian telingamu ini, biar jelas mendengar." Bang Iza semakin dalam menekan ke
Mataku membulat menatap Bang Iza, tak menyangka jika dia tega memberikan aku makanan basi ini. "Abang gak bercanda 'kan?" Tanyaku memastikan.Namun gebrakan tangan lelaki itu di meja langsung membungkam mulutku. Matanya menatapku dengan tajam, raut wajahnya yang sudah seram jadi bertambah semakin seram, membuat tubuhku tanpa sadar bergetar."Kalau aku bilang makan, ya makan!" Bentak lelaki itu, lalu bangkit mendekatiku.Tanpa aba-aba, lelaki itu langsung menarik hijab yang kupakai ke belakang dengan kasar, hingga kepalaku jadi mendongak."Apa perlu aku yang memasukkan makanan ini ke mulutmu, hah?" Ujar Bang Iza dengan mata melotot. Lalu ia meraih nasi tersebut dan memasukkan secara paksa ke mulutku hingga penuh.Nyaris aku muntah karena hampir tersedak nasi dengan sensasi bau basi tersebut."Makan!" Bentaknya lagi masih belum melepaskan hijabku.Aku mengangguk samar dengan air mata yang mulai menetes. Sungguh aku tak menyangka, ternyata begini sikap asli Bang Iza.Setelah melepaskank
Seolah sedang bermimpi, semua hal yang tak pernah kusangka terjadi begitu saja. Seharusnya hari ini jadi hari pernikahanku dengan Mas Bima, tapi yang ada malah kami berdua akan menikah dengan pasangan yang berbeda.Ya, hari ini adalah hari pernikahanku. Papa yang takut terjadi hal yang tak diinginkan denganku, memilih melangsungkan pernikahan kami bersama-sama dengan Clara. Semua diurus mereka dengan serba cepat.Yang mirisnya, sejak pagi aku selalu mendengar pembicaraan orang-orang yang terus menjelekkanku."Kenapa pengantinnya jadi ada dua?" Celetuk salah satu ibu-ibu yang sedang rewang."Kamu belum dengar gosip memangnya?""Gosip apa, Bu?""Si Alin selingkuh, padahal sudah dekat dengan hari H pernikahannya. Mana selingkuhannya gembel pula.""Iya, kasihan si Clara. Ia jadi terpaksa menggantikan jadi pasangan Si Bima. Baik sekali Clara, merelakan dirinya demi menyelamatkan nama baik keluarga," timpal ibu-ibu yang lain.Ingin saja aku meraih mic dan berteriak menjelaskan apa yang sebe
"Clara ... Ini gak seperti yang kamu kira, Ra," jelasku buru-buru mendekat ke gadis itu.Namun, belum sempat lagi aku memberikan penjelasan yang sesungguhnya, ia sudah berteriak duluan dengan heboh."Ma, Pa, banguuun! Ada lelaki aneh yang mau macem-macem sama Mbak Alin!" Teriak Clara dengan volume yang begitu tinggi, hingga membuat kedua orang tua kami yang mungkin sudah di alam mimpi itu terbangun.Buktinya pintu kamar mereka langsung terbuka begitu mendengar teriakan Clara."Ada apa sih, Ra, malam-malam teriak-teriak," gerutu Mama yang sepertinya masih setengah sadar."Liat, Ma, Pa. Mbak Alin tadi pergi keluar malam-malam dengan lelaki aneh ini. Bahkan tadi aku liat mereka ciuman di teras," adu Clara dengan menambah-nambahi bumbu."Enggak, Pa. Itu enggak benar! Clara salah paham."Wajah Papa yang tadi masih sayu karena baru bangun, seketika berubah. Raut marah terpancar jelas di wajah Papa."Aku gak salah paham, Pa. Ini ada buktinya." Clara dengan begitu percaya dirinya menunjukkan
Tubuhku bergetar hebat karena perasaan takut benar-benar mendominasi. Apalagi hujan yang semakin lebat membuat suasana bertambah mencekam. Bahkan bungkusan nasi goreng yang tadi kubawa sudah tercecer entah kemana."Tolong lepasin saya ...." Berulang kali aku memohon saat para preman itu menyeretku semakin jauh ke dalam gang sempit."Kubilang diam! Atau aku akan benar-benar merobek mulutmu itu!" Bentak salah satu pria yang sepertinya ketua di kumpulan itu."Ckckck! Sekumpulan ban*ci sedang beraksi ternyata."Langkah para preman yang tengah menyeretku terhenti, kala mendengar celotehan dari arah belakang.Aku yang sangat familiar dengan suara tersebut pun refleks menoleh, membuat pria yang tak lain adalah Bang Iza itu juga kaget. Sepertinya ia baru sadar jika akulah yang jadi sandera kini."Ck! Mengganggu saja cecunguk satu ini. Bereskan dia!" Titah ketua preman itu lagi seraya memberi isyarat pada anak buahnya.Mereka pun langsung melepaskanku dan beralih pada Bang Iza kini. Aku ingin
"Kamu jangan bicara yang aneh-aneh, Alin! Tak ada yang mau bernasib seperti Clara, begitu juga Clara sendiri!"Aku hanya memutar bola mata mendengar tanggapan Ayah. Memilih meninggalkan mereka dan masuk kembali ke kamar adalah jalan terbaik. Dunia mereka selalu diisi dengan Clara, karena aku di keluarga ini hanyalah berupa figuran semata.Dulu aku sempat berpikir jika aku ini adalah anak pungut. Tapi saat mendengar nenek pernah bercerita tentang kelahiranku, juga menunjukkan foto-fotoku saat baru lahir, prasangka buruk itu pun hilang.Aku terus mengurung diri di kamar hingga perut terasa keroncongan karena memang belum makan malam. Tapi dari luar sama sekali tak terdengar aktivitas mereka makan. Sepertinya mereka memang sudah makan di luar tadi dan tentunya tanpa mengingat aku.Walau enggan, terpaksa aku keluar kamar. Syukurnya keadaan rumah sudah sepi. Sepertinya mereka semua sudah masuk dan beristirahat masing-masing di kamarnya.Aku meringis saat membuka tudung saji di meja makan,







