LOGIN"Kamu jangan bicara yang aneh-aneh, Alin! Tak ada yang mau bernasib seperti Clara, begitu juga Clara sendiri!"
Aku hanya memutar bola mata mendengar tanggapan Ayah. Memilih meninggalkan mereka dan masuk kembali ke kamar adalah jalan terbaik. Dunia mereka selalu diisi dengan Clara, karena aku di keluarga ini hanyalah berupa figuran semata. Dulu aku sempat berpikir jika aku ini adalah anak pungut. Tapi saat mendengar nenek pernah bercerita tentang kelahiranku, juga menunjukkan foto-fotoku saat baru lahir, prasangka buruk itu pun hilang. Aku terus mengurung diri di kamar hingga perut terasa keroncongan karena memang belum makan malam. Tapi dari luar sama sekali tak terdengar aktivitas mereka makan. Sepertinya mereka memang sudah makan di luar tadi dan tentunya tanpa mengingat aku. Walau enggan, terpaksa aku keluar kamar. Syukurnya keadaan rumah sudah sepi. Sepertinya mereka semua sudah masuk dan beristirahat masing-masing di kamarnya. Aku meringis saat membuka tudung saji di meja makan, karena tak ada apapun di sana. Sepertinya Mama memang sama sekali tak memasak, dan terpaksa aku harus memasak malam-malam begini. Namun sialnya saat akan memasak mie instan, kompor sama sekali tak mau menyala. Aku hanya bisa menghela napas dalam setelah mengecek, ternyata tabung gas telah kosong. Pantas saja Mama tak memasak. Melirik jam dinding, akhirnya kuputuskan untuk keluar rumah mencari penjual makanan. Syukurnya masih pukul 10 malam, jadi belum terlalu sepi di area kompleks kami. Kusambar cardigan juga jilbab yang ada di balik pintu kamar, lalu keluar secepatnya. Ternyata di luar cuaca sedang mendung, angin pun bertiup kencang. Tentu hal itu membuat aku tak ingin membuang waktu lebih lama. Gegas aku menyusuri jalan kompleks yang nyatanya sudah sepi malam ini. Mungkin karena mendung, jadi orang-orang lebih memilih mendekam di dalam rumah. Sraakk! Langkah langsung terhenti kala mendengar suara sesuatu di belakangku. Jantung mulai berpacu kencang seolah memberi alarm tanda bahaya. Syukurnya pos satpam tak jauh lagi di depan sana, membuat aku jadi memiliki keberanian untuk meneruskan langkah walau kini dengan setengah berlari. "Lho, non Alin? Mau kemana malam-malam kok lari-larian?" Sapa satpam kompleks sembari menatapku dengan raut keheranan. "Eh, gak apa-apa kok, Pak Agus. Cuma mau cari makan sambil olahraga malam," sahutku sambil cengengesan. Tak mungkin aku jujur mengatakan lari-lari karena takut. "Saya pamit dulu, Pak," lanjutku dengan langkah yang kembali normal, karena kini sudah dekat area keramaian. Menyusuri deretan pedagang kaki lima di pinggir jalan, akhirnya aku memutuskan berhenti di sebuah warung yang menjual nasi goreng. "Mas, nasi gorengnya satu, dibungkus ya?" Pesanku yang langsung dijawab antusias oleh sang penjual. "Tumben malam-malam keliaran." Aku tersentak saat mendengar teguran dari belakang. Saat menoleh, ternyata sudah ada Bang Iza di sana. Sepertinya ia akan membeli sesuatu juga. "Iya, Bang. Cari makan," jawabku sekenanya karena segan. "Ooh ... Tumben," gumamnya lalu berjalan menuju meja kasir membuat aku langsung mengerutkan dahi. Ia tak membeli apapun, tapi kenapa langsung ke kasir? Usai berbincang dengan wanita penjaga kasir tersebut, lelaki dengan tampilan khas gelandangan itu melenggang begitu saja keluar dari warung. Terlihat beberapa orang langsung memasang wajah lega, usai kepergian lelaki itu. Wajar sih, mungkin mereka tak nyaman dengan tampilan Bang Iza yang sedikit menyeramkan itu. "Bayarnya ke kasir aja ya, Mbak," ujar mas-mas penjual nasi goreng sembari mengulurkan pesananku yang baru saja selesai. Aku hanya mengangguk sembari mengucapkan terima kasih. Namun, begitu akan membayar di kasir, wanita yang menjaga malah menolak uangku. "Tadi sudah dibayar sama Bang Iza, Mbak." Dahiku langsung mengernyit, pasalnya biasanya 'kan malah lelaki itu yang selalu minta makanan setiap bertemuku, dan lagi kenapa ia malah membayariku sedangkan ia saja tak membeli apapun. Ah, mungkin lelaki itu sedang dapat rezeki lebih. Syukur deh, yang penting uang halal saja. Dengan tergesa aku langsung keluar dari warung tersebut, niat hati ingin mengejar Bang Iza dan mengucapkan terima kasih, namun ternyata lelaki itu sudah menghilang entah kemana. Karena rintik hujan mulai turun satu persatu, aku memutuskan untuk cepat-cepat kembali ke rumah saja. Nanti jika bertemu dengan Bang Iza lagi aku akan mengucapkan terima kasih. "Duh, makin lebat lagi hujannya. Kalau dari jalan depan bakal makin lama sampai di rumah," gumamku saat merasakan rintik hujan semakin lebat. Akhirnya aku memutuskan melalui jalan kecil di sekeliling ruko yang berderet di pinggir jalan, yang memang biasanya digunakan sebagai alternatif untuk mempercepat perjalanan oleh orang-orang. Hatiku sedikit ragu saat melihat gang-gang kecil tersebut terlihat begitu temaram di malam hari. Mana suasana mulai sepi karena hujan lagi. Mengalahkan rasa takut, aku tetap melalui gang sempit itu walau dengan langkah setengah berlari. Namun, begitu sampai di ujung lorong dan hendak berbelok di jalanan belakang ruko, aku terkejut melihat sekumpulan preman tengah berkumpul di sana. Sepertinya mereka tengah menunggu seseorang, bahkan mereka tak menghiraukan hujan yang mulai turun. Tadinya aku ingin melangkah mundur dan berbalik kembali. Namun terlambat, mereka sudah melihat kehadiranku dan menatapku dengan pandangan ingin memangsa. "Wah, ada cewek mengantarkan diri dengan sukarela nih, Bro," ujar salah satu dari mereka, membuat aku langsung berbalik arah tanpa berpikir lagi. Tapi belum jauh lagi aku melangkah, dari belakang tanganku sudah ditarik hingga aku hampir terjengkang. "Sudah datang, kenapa malah balik lagi, Cantik?" Ujar seorang pemuda dengan telinga ditindik yang tadi juga menarik tanganku. Tubuhku langsung bergetar hebat, antara menahan dingin juga ketakutan. Apalagi saat melihat keadaan di sekitar yang sudah begitu senyap. "Kalian mau apa? Jangan macam-macam, atau saya akan teriak!" Ancamku dengan suara yang jelas bergetar membuat mereka langsung terkekeh. "Coba saja teriak, kalau memang mau mulutmu itu tak bisa lagi dibuat bicara!""Kenapa terkejut sekali melihat saya, Tuan Wisnu?" Cibirku sembari duduk santai di kursi yang ada di hadapannya."Mau apa kau kemari? Bukannya kau bilang tak akan mau muncul lagi di hadapanku?" Balas lelaki itu dengan nada datar, lalu kembali berkutat dengan pekerjaanya."Aku kemari untuk mengambil hak-ku," jawabku santai.Mendengar jawabanku lelaki itu kembali menghentikan fokusnya dan langsung menatapku. Lalu selanjutnya ia terkekeh seolah mengejek."Bukannya kau bilang kau tak mau harta papamu ini, kecuali jika papamu memohon ampunan mamamu. Lalu kenapa sekarang malah menginginkannya?" Ujarnya kembali mengejek."Ya, itu benar. Dan persyaratan dariku itu masih berlaku," sahutku dengan sedikit geram lalu melemparkan ponsel yang berisi video Tante Vina dan Pak Wibowo ke hadapannya."Apa ini?" Gumamnya lalu menyalakan video tersebut.Terlihat raut wajahnya berubah demi mendengar percakapan dua manusia tak tahu diri itu. Tangannya pun mengepal menahan geram."Wibowo si*alan! Dasar manus
"Kamu?" Aku terkejut melihat pria muda berkacamata sedang berdiri tak jauh dari ranjangku."Bagaimana kamu bisa ada di sini?" Tanyaku tak suka dengan kehadirannya."Saya tadi ada keperluan di sini, dan tiba-tiba melihat Tuan jatuh pingsan."Aku langsung menghela napas kasar mendengar jawabannya. Dari sekian banyaknya orang, kenapa harus dia yang melihat aku jatuh pingsan."Jangan adukan ini ke Papa! Anggap saja kau tak pernah melihatku."Syukurnya lelaki itu langsung mengangguk patuh, namun tetap saja, dia kaki tangan Papa, mana bisa aku percaya."Tapi Tuan ... Sepertinya anda harus segera kembali ke rumah. Keadaan perusahaan sedang tak baik-baik saja sejak Tuan Leo menjabat."Aku mendengkus kesal mendengar nama orang yang kubenci itu disebut."Untuk apa? Itu pilihan Papa sendiri 'kan, menjadikan anak itu pewaris nomor satunya?" Cibirku.Namun lelaki berkacamata bernama Alex itu tiba-tiba menyerahkan sebuah map coklat berlogo rumah sakit tempat aku dirawat kini."Apa ini?" Tanyaku bin
POV Bang Iza "Kemana dia?" Gumamku sembari langsung menerobos masuk kamar Alin.Dahiku mengernyit saat melihat tak ada satu pun barang Alin di atas nakas juga belakang pintu.Dengan perasaan yang mulai tak enak, aku menuju lemari kecil di sudut ruangan dan membukanya. Mataku nanar saat melihat lemari milik Alin sudah kosong, hanya tersisa album foto dan kotak cincin yang kuberikan padanya sebagai mahar.Kuambil dua benda tersebut, dan saat kubuka kotak beludru merah itu di dalamnya sudah bertengger dengan cantik cincin pernikahan Alin. Hatiku semakin tak tenang, karena sadar Alin kabur dari rumah.Dengan kasar kubuka album foto yang baru kali ini kulihat. Lagi-lagi aku tercengang saat tahu ternyata itu album foto pernikahan kami. Kubuka kasar lembar demi lembarnya, berharap menemukan petunjuk kemana Alin pergi. Namun nihil, aku hanya menemukan selembar foto yang hilang dari album tersebut. Sepertinya Alin membawa selembar foto itu.Seperti orang gila aku menyusuri sudut demi sudut ka
Kubuka mata saat mendengar kumandang adzan subuh dari mesjid terdekat. Sepertinya baru sekejap aku tidur, karena lelaki breng*sek itu baru menghentikan aksinya setelah aku tak sadarkan diri.Seluruh tubuhku ngilu sekali, karena berulangkali lelaki itu meruda*paksaku disertai pukulan dan tamparan. Benar kata lelaki itu, malam tadi menjadi malam pertama terburuk di hidupku. Bahkan jika tak ingat bunuh diri itu adalah dosa besar, rasanya aku ingin bunuh diri saat ini juga. Hidupku sudah hancur kini. Raga juga batinku sudah remuk berkeping-keping dibuat lelaki itu.Dengan menahan ngilu, aku turun dari ranjang. Berniat menuju kamar mandi, membersihkan diri, dan mengadukan semua permasalahanku pada yang Maha Kuasa.Saat sudah berhasil berdiri, aku tercengang menatap seprei juga selimut sudah banyak dipenuhi bercak dar4h. Darah dari luka Bang Iza, lukaku, juga mungkin bercampur dengan dar4h keper4wananku.Sembari menarik selimut dan seprei, aku kembali menangis frustasi, karena merasa hidupk
Mas Bima yang tadi sedang duduk di ruang keluarga bersama Clara juga ikut mendekat untuk melihat lukaku. Sedangkan Bang Iza juga terlihat melirik sekilas ke arah lukaku, walau sekejap tapi dapat terlihat raut terkejut di wajah datarnya. Mungkin ia pun tak menyangka jika lukaku separah itu."Ayo ke rumah sakit, Lin!" Tanpa aba-aba Mama langsung menarik tanganku untuk bangkit, namun aku segera menahannya."Ngapain, Ma?""Luka kamu itu harus dijahit Alin!" Tegas Mama."Iya, Lin. Lukamu itu parah lho. Suami kamu ini gimana sih, udah tau istrinya luka parah begini bukannya dibawa ke Dokter, malah dibiarkan saja." Mas Bima ikut menimpali dengan menggerutu, namun langsung dibalas teriakan oleh Clara dari ruang keluarga, hingga lelaki itu tergopoh-gopoh mendatanginya. Sepertinya adikku itu tak terima jika suaminya memberi perhatian padaku."Benar kata Bima, kamu itu gimana sih, jadi suami? Bukannya Alin dibawa ke rumah sakit, malah dibiarkan saja!" Rutuk Mama pada Bang Iza yang tetap bersikap
Aku sontak berdiri karena terkejut. Bahkan tangan yang masih berbusa pun kuabaikan."Eh, aku cuma mau nyuci baju Abang, karena udah beberapa hari dibiarkan--."Tanpa memberi kesempatan aku melanjutkan perkataan, lelaki itu dengan cepat menarik hijabku ke belakang dengan keras. Tubuhku makin gemetaran tak menentu melihat kilatan amarah di bola matanya."Maafin aku--."Bluggh ... Bluggh ....Belum selesai aku minta maaf, Bang Iza tanpa ampun memasukkan kepalaku dalam bak air, hingga aku tak bisa bernapas. Aku meronta ingin melepaskan diri, namun tenaga lelaki itu begitu kuat.Syukurnya tak berapa lama ia kembali menarik kepalaku ke atas, hingga aku bisa meraup oksigen sebanyak-banyaknya."Sudah kubilang, jangan sentuh barangku, atau aku akan mengha*bisimu!" Bentak lelaki itu lagi, lalu kembali ia mendorong kepalaku masuk ke air."Tapi sepertinya telingamu ini tak bisa mendengar dengan jelas ya! Biar kucuci sekalian telingamu ini, biar jelas mendengar." Bang Iza semakin dalam menekan ke







