Share

4. Terjebak

last update Last Updated: 2024-10-25 07:20:41

"Kamu jangan bicara yang aneh-aneh, Alin! Tak ada yang mau bernasib seperti Clara, begitu juga Clara sendiri!"

Aku hanya memutar bola mata mendengar tanggapan Ayah. Memilih meninggalkan mereka dan masuk kembali ke kamar adalah jalan terbaik. Dunia mereka selalu diisi dengan Clara, karena aku di keluarga ini hanyalah berupa figuran semata.

Dulu aku sempat berpikir jika aku ini adalah anak pungut. Tapi saat mendengar nenek pernah bercerita tentang kelahiranku, juga menunjukkan foto-fotoku saat baru lahir, prasangka buruk itu pun hilang.

Aku terus mengurung diri di kamar hingga perut terasa keroncongan karena memang belum makan malam. Tapi dari luar sama sekali tak terdengar aktivitas mereka makan. Sepertinya mereka memang sudah makan di luar tadi dan tentunya tanpa mengingat aku.

Walau enggan, terpaksa aku keluar kamar. Syukurnya keadaan rumah sudah sepi. Sepertinya mereka semua sudah masuk dan beristirahat masing-masing di kamarnya.

Aku meringis saat membuka tudung saji di meja makan, karena tak ada apapun di sana. Sepertinya Mama memang sama sekali tak memasak, dan terpaksa aku harus memasak malam-malam begini.

Namun sialnya saat akan memasak mie instan, kompor sama sekali tak mau menyala. Aku hanya bisa menghela napas dalam setelah mengecek, ternyata tabung gas telah kosong. Pantas saja Mama tak memasak.

Melirik jam dinding, akhirnya kuputuskan untuk keluar rumah mencari penjual makanan. Syukurnya masih pukul 10 malam, jadi belum terlalu sepi di area kompleks kami.

Kusambar cardigan juga jilbab yang ada di balik pintu kamar, lalu keluar secepatnya. Ternyata di luar cuaca sedang mendung, angin pun bertiup kencang. Tentu hal itu membuat aku tak ingin membuang waktu lebih lama.

Gegas aku menyusuri jalan kompleks yang nyatanya sudah sepi malam ini. Mungkin karena mendung, jadi orang-orang lebih memilih mendekam di dalam rumah.

Sraakk!

Langkah langsung terhenti kala mendengar suara sesuatu di belakangku. Jantung mulai berpacu kencang seolah memberi alarm tanda bahaya.

Syukurnya pos satpam tak jauh lagi di depan sana, membuat aku jadi memiliki keberanian untuk meneruskan langkah walau kini dengan setengah berlari.

"Lho, non Alin? Mau kemana malam-malam kok lari-larian?" Sapa satpam kompleks sembari menatapku dengan raut keheranan.

"Eh, gak apa-apa kok, Pak Agus. Cuma mau cari makan sambil olahraga malam," sahutku sambil cengengesan. Tak mungkin aku jujur mengatakan lari-lari karena takut.

"Saya pamit dulu, Pak," lanjutku dengan langkah yang kembali normal, karena kini sudah dekat area keramaian.

Menyusuri deretan pedagang kaki lima di pinggir jalan, akhirnya aku memutuskan berhenti di sebuah warung yang menjual nasi goreng.

"Mas, nasi gorengnya satu, dibungkus ya?" Pesanku yang langsung dijawab antusias oleh sang penjual.

"Tumben malam-malam keliaran." Aku tersentak saat mendengar teguran dari belakang.

Saat menoleh, ternyata sudah ada Bang Iza di sana. Sepertinya ia akan membeli sesuatu juga.

"Iya, Bang. Cari makan," jawabku sekenanya karena segan.

"Ooh ... Tumben," gumamnya lalu berjalan menuju meja kasir membuat aku langsung mengerutkan dahi. Ia tak membeli apapun, tapi kenapa langsung ke kasir?

Usai berbincang dengan wanita penjaga kasir tersebut, lelaki dengan tampilan khas gelandangan itu melenggang begitu saja keluar dari warung. Terlihat beberapa orang langsung memasang wajah lega, usai kepergian lelaki itu. Wajar sih, mungkin mereka tak nyaman dengan tampilan Bang Iza yang sedikit menyeramkan itu.

"Bayarnya ke kasir aja ya, Mbak," ujar mas-mas penjual nasi goreng sembari mengulurkan pesananku yang baru saja selesai.

Aku hanya mengangguk sembari mengucapkan terima kasih. Namun, begitu akan membayar di kasir, wanita yang menjaga malah menolak uangku.

"Tadi sudah dibayar sama Bang Iza, Mbak."

Dahiku langsung mengernyit, pasalnya biasanya 'kan malah lelaki itu yang selalu minta makanan setiap bertemuku, dan lagi kenapa ia malah membayariku sedangkan ia saja tak membeli apapun.

Ah, mungkin lelaki itu sedang dapat rezeki lebih. Syukur deh, yang penting uang halal saja.

Dengan tergesa aku langsung keluar dari warung tersebut, niat hati ingin mengejar Bang Iza dan mengucapkan terima kasih, namun ternyata lelaki itu sudah menghilang entah kemana.

Karena rintik hujan mulai turun satu persatu, aku memutuskan untuk cepat-cepat kembali ke rumah saja. Nanti jika bertemu dengan Bang Iza lagi aku akan mengucapkan terima kasih.

"Duh, makin lebat lagi hujannya. Kalau dari jalan depan bakal makin lama sampai di rumah," gumamku saat merasakan rintik hujan semakin lebat.

Akhirnya aku memutuskan melalui jalan kecil di sekeliling ruko yang berderet di pinggir jalan, yang memang biasanya digunakan sebagai alternatif untuk mempercepat perjalanan oleh orang-orang.

Hatiku sedikit ragu saat melihat gang-gang kecil tersebut terlihat begitu temaram di malam hari. Mana suasana mulai sepi karena hujan lagi. Mengalahkan rasa takut, aku tetap melalui gang sempit itu walau dengan langkah setengah berlari.

Namun, begitu sampai di ujung lorong dan hendak berbelok di jalanan belakang ruko, aku terkejut melihat sekumpulan preman tengah berkumpul di sana. Sepertinya mereka tengah menunggu seseorang, bahkan mereka tak menghiraukan hujan yang mulai turun.

Tadinya aku ingin melangkah mundur dan berbalik kembali. Namun terlambat, mereka sudah melihat kehadiranku dan menatapku dengan pandangan ingin memangsa.

"Wah, ada cewek mengantarkan diri dengan sukarela nih, Bro," ujar salah satu dari mereka, membuat aku langsung berbalik arah tanpa berpikir lagi.

Tapi belum jauh lagi aku melangkah, dari belakang tanganku sudah ditarik hingga aku hampir terjengkang.

"Sudah datang, kenapa malah balik lagi, Cantik?" Ujar seorang pemuda dengan telinga ditindik yang tadi juga menarik tanganku.

Tubuhku langsung bergetar hebat, antara menahan dingin juga ketakutan. Apalagi saat melihat keadaan di sekitar yang sudah begitu senyap.

"Kalian mau apa? Jangan macam-macam, atau saya akan teriak!" Ancamku dengan suara yang jelas bergetar membuat mereka langsung terkekeh.

"Coba saja teriak, kalau memang mau mulutmu itu tak bisa lagi dibuat bicara!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   11. Perhatian Terakhir

    Kubuka mata saat mendengar kumandang adzan subuh dari mesjid terdekat. Sepertinya baru sekejap aku tidur, karena lelaki breng*sek itu baru menghentikan aksinya setelah aku tak sadarkan diri.Seluruh tubuhku ngilu sekali, karena berulangkali lelaki itu meruda*paksaku disertai pukulan dan tamparan. Benar kata lelaki itu, malam tadi menjadi malam pertama terburuk di hidupku. Bahkan jika tak ingat bunuh diri itu adalah dosa besar, rasanya aku ingin bunuh diri saat ini juga. Hidupku sudah hancur kini. Raga juga batinku sudah remuk berkeping-keping dibuat lelaki itu.Dengan menahan ngilu, aku turun dari ranjang. Berniat menuju kamar mandi, membersihkan diri, dan mengadukan semua permasalahanku pada yang Maha Kuasa.Saat sudah berhasil berdiri, aku tercengang menatap seprei juga selimut sudah banyak dipenuhi bercak dar4h. Darah dari luka Bang Iza, lukaku, juga mungkin bercampur dengan dar4h keper4wananku.Sembari menarik selimut dan seprei, aku kembali menangis frustasi, karena merasa hidupk

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   10. Malam Pertama Terburuk

    Mas Bima yang tadi sedang duduk di ruang keluarga bersama Clara juga ikut mendekat untuk melihat lukaku. Sedangkan Bang Iza juga terlihat melirik sekilas ke arah lukaku, walau sekejap tapi dapat terlihat raut terkejut di wajah datarnya. Mungkin ia pun tak menyangka jika lukaku separah itu."Ayo ke rumah sakit, Lin!" Tanpa aba-aba Mama langsung menarik tanganku untuk bangkit, namun aku segera menahannya."Ngapain, Ma?""Luka kamu itu harus dijahit Alin!" Tegas Mama."Iya, Lin. Lukamu itu parah lho. Suami kamu ini gimana sih, udah tau istrinya luka parah begini bukannya dibawa ke Dokter, malah dibiarkan saja." Mas Bima ikut menimpali dengan menggerutu, namun langsung dibalas teriakan oleh Clara dari ruang keluarga, hingga lelaki itu tergopoh-gopoh mendatanginya. Sepertinya adikku itu tak terima jika suaminya memberi perhatian padaku."Benar kata Bima, kamu itu gimana sih, jadi suami? Bukannya Alin dibawa ke rumah sakit, malah dibiarkan saja!" Rutuk Mama pada Bang Iza yang tetap bersikap

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   9. Luka Pertama

    Aku sontak berdiri karena terkejut. Bahkan tangan yang masih berbusa pun kuabaikan."Eh, aku cuma mau nyuci baju Abang, karena udah beberapa hari dibiarkan--."Tanpa memberi kesempatan aku melanjutkan perkataan, lelaki itu dengan cepat menarik hijabku ke belakang dengan keras. Tubuhku makin gemetaran tak menentu melihat kilatan amarah di bola matanya."Maafin aku--."Bluggh ... Bluggh ....Belum selesai aku minta maaf, Bang Iza tanpa ampun memasukkan kepalaku dalam bak air, hingga aku tak bisa bernapas. Aku meronta ingin melepaskan diri, namun tenaga lelaki itu begitu kuat.Syukurnya tak berapa lama ia kembali menarik kepalaku ke atas, hingga aku bisa meraup oksigen sebanyak-banyaknya."Sudah kubilang, jangan sentuh barangku, atau aku akan mengha*bisimu!" Bentak lelaki itu lagi, lalu kembali ia mendorong kepalaku masuk ke air."Tapi sepertinya telingamu ini tak bisa mendengar dengan jelas ya! Biar kucuci sekalian telingamu ini, biar jelas mendengar." Bang Iza semakin dalam menekan ke

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   8. Pria Kejam

    Mataku membulat menatap Bang Iza, tak menyangka jika dia tega memberikan aku makanan basi ini. "Abang gak bercanda 'kan?" Tanyaku memastikan.Namun gebrakan tangan lelaki itu di meja langsung membungkam mulutku. Matanya menatapku dengan tajam, raut wajahnya yang sudah seram jadi bertambah semakin seram, membuat tubuhku tanpa sadar bergetar."Kalau aku bilang makan, ya makan!" Bentak lelaki itu, lalu bangkit mendekatiku.Tanpa aba-aba, lelaki itu langsung menarik hijab yang kupakai ke belakang dengan kasar, hingga kepalaku jadi mendongak."Apa perlu aku yang memasukkan makanan ini ke mulutmu, hah?" Ujar Bang Iza dengan mata melotot. Lalu ia meraih nasi tersebut dan memasukkan secara paksa ke mulutku hingga penuh.Nyaris aku muntah karena hampir tersedak nasi dengan sensasi bau basi tersebut."Makan!" Bentaknya lagi masih belum melepaskan hijabku.Aku mengangguk samar dengan air mata yang mulai menetes. Sungguh aku tak menyangka, ternyata begini sikap asli Bang Iza.Setelah melepaskank

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   7. Nasi Basi

    Seolah sedang bermimpi, semua hal yang tak pernah kusangka terjadi begitu saja. Seharusnya hari ini jadi hari pernikahanku dengan Mas Bima, tapi yang ada malah kami berdua akan menikah dengan pasangan yang berbeda.Ya, hari ini adalah hari pernikahanku. Papa yang takut terjadi hal yang tak diinginkan denganku, memilih melangsungkan pernikahan kami bersama-sama dengan Clara. Semua diurus mereka dengan serba cepat.Yang mirisnya, sejak pagi aku selalu mendengar pembicaraan orang-orang yang terus menjelekkanku."Kenapa pengantinnya jadi ada dua?" Celetuk salah satu ibu-ibu yang sedang rewang."Kamu belum dengar gosip memangnya?""Gosip apa, Bu?""Si Alin selingkuh, padahal sudah dekat dengan hari H pernikahannya. Mana selingkuhannya gembel pula.""Iya, kasihan si Clara. Ia jadi terpaksa menggantikan jadi pasangan Si Bima. Baik sekali Clara, merelakan dirinya demi menyelamatkan nama baik keluarga," timpal ibu-ibu yang lain.Ingin saja aku meraih mic dan berteriak menjelaskan apa yang sebe

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   6. Fitnah Clara

    "Clara ... Ini gak seperti yang kamu kira, Ra," jelasku buru-buru mendekat ke gadis itu.Namun, belum sempat lagi aku memberikan penjelasan yang sesungguhnya, ia sudah berteriak duluan dengan heboh."Ma, Pa, banguuun! Ada lelaki aneh yang mau macem-macem sama Mbak Alin!" Teriak Clara dengan volume yang begitu tinggi, hingga membuat kedua orang tua kami yang mungkin sudah di alam mimpi itu terbangun.Buktinya pintu kamar mereka langsung terbuka begitu mendengar teriakan Clara."Ada apa sih, Ra, malam-malam teriak-teriak," gerutu Mama yang sepertinya masih setengah sadar."Liat, Ma, Pa. Mbak Alin tadi pergi keluar malam-malam dengan lelaki aneh ini. Bahkan tadi aku liat mereka ciuman di teras," adu Clara dengan menambah-nambahi bumbu."Enggak, Pa. Itu enggak benar! Clara salah paham."Wajah Papa yang tadi masih sayu karena baru bangun, seketika berubah. Raut marah terpancar jelas di wajah Papa."Aku gak salah paham, Pa. Ini ada buktinya." Clara dengan begitu percaya dirinya menunjukkan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status