Share

3. Anak Kesayangan

last update publish date: 2024-10-25 07:16:23

Rencana pernikahan tetap berjalan sesuai rencana, namun bedanya nama mempelai wanita di undangan yang baru saja selesai dicetak sudah berganti bukan lagi namaku. Ah, rasanya ingin saja aku menjauh dari semua ini. Walau aku berusaha kelihatan tegar, tapi di dalam aku benar-benar rapuh kini.

Merelakan hari bahagia dan calon pendamping untuk adik sendiri? Tak pernah terbayangkan sama sekali di pikiranku. Sedari kecil sepertinya aku selalu merelakan apa saja untuk Clara.

Dengan badan lelah setelah seharian bekerja aku masuk rumah. Namun terlihat suasana rumah sedang sepi, tak ada satupun orang. Oh, iya mungkin mereka sedang repot mengurus pernikahan anak kesayangan mereka.

Usai berganti pakaian dan membersihkan badan, aku memilih mengurung diri di kamar. Hal favoritku sejak Clara merampas Mas Bima.

Baru beberapa menit berlalu, terdengar suara pintu depan dibuka, diiringi dengan suara antusias Mama juga Papa. Mereka sepertinya tak tahu jika aku sudah pulang. Itu sebabnya mereka tanpa sungkan menunjukkan kegembiraan menyambut pernikahan Clara.

"Kamu kok murung terus sih, Ra? Calon pengantin itu harusnya bahagia." Terdengar suara Mama di ruang makan yang tak jauh dari kamarku.

"Gimana aku bisa berbahagia dan bersuka cita kalau Mbak Alin belum mengikhlaskan Mas Bima sepenuhnya, Ma? Aku kepikiran Mbak Alin terus.  Kasihan dia, Ma." Terdengar lirih Clara berucap.

"Ya ampun, Clara ... Kamu memang anak Mama yang berhati lembut. Entah apalah yang terjadi hingga kamu bisa dapat masalah seberat ini."

Aku memutar bola mata karena merasa muak dengan percakapan dua wanita di keluargaku ini. Dibilang iri, ya jelas aku iri. Mama lebih sering membanggakan Clara ketimbang aku. Tapi aku sadar diri sih, aku ini memang gak membanggakan. Hanya seorang pekerja di tempat fotocopy mana bisa menyaingi seorang Clara yang pekerja kantoran.

"Kamu dengarkan Mama ya, Sayang ... Kamu jangan terlalu pikirkan soal Mbak Alin. Untuk sementara mungkin ia masih marah pada kita. Tapi lambat laun, Mama yakin ia akan bisa menerima. Lagipula kamu tak perlu khawatir, karena keluarga Bima jelas lebih memilih kamu ketimbang Mbak Alin," lanjut Mama lagi berusaha menenangkan anak kesayangannya itu.

"Ya itu 'kan keluarganya, Ma. Itu pun karena mereka dibayar mahal oleh Papa untuk menerimaku. Kalau Mas Bima sepertinya masih mencintai Mbak Alin."

Aku tertegun sejenak mendengar fakta baru terungkap. Jadi mereka memberi imbalan uang untuk keluarga Mas Bima. Pantas saja mereka dengan senang hati mau menerima Clara yang sudah hamil duluan itu.

Ceklek!

Kubuka pintu kamar hingga membuat dua wanita yang tengah saling berkasih sayang itu terkejut.

"Lho, Lin ... Kamu udah pulang?" Wajah Mama terlihat pias. Ia pasti makin merasa tak enak padaku karena yakin aku mendengar semua pembicaraan mereka.

"Kenapa, Ma? Gak suka liat aku pulang?" Balasku santai sembari berjalan menuju kulkas lalu mengambil botol air dingin dari sana.

"Eh, bu--bukan gitu maksud Mama--."

"Uang Mama sama Papa ternyata banyak ya? Sampai bisa ngasih uang banyak ke keluarga Mas Bima." Aku memotong perkataan Mama. Entahlah rasanya hatiku semakin sakit mengetahui fakta tersebut.

Mama selalu mengeluhkan masalah keuangan jika denganku, membuat aku tak tega dan rela menyerahkan seluruh hasil jerih payahku. Ya memang selama ini Mama-lah yang lebih banyak menikmati uang gajiku ketimbang diriku sendiri. Tapi selama ini aku tak keberatan, sebab ingin meringankan beban wanita yang telah melahirkanku itu.

Tapi setelah tahu ternyata mereka punya uang banyak, bahkan sampai bisa membeli restu dari keluarga Mas Bima, tentu aku tak terima.

"Mbak Alin, tolong jangan salahin, Mama. Semua yang terjadi ini karena kesalahanku. Mbak Alin gak papa kalo mau marah dan pukul aku, tapi tolong jangan marah ke Mama." Clara memulai dramanya dengan berlutut di hadapanku sembari memasang wajah memelasnya.

"Sadar kamu kalau salah?" Clara langsung menunduk dalam mendapat balasan sinis dariku.

"Ada apa ini?" Suara Papa yang baru muncul dari kamar menambah ketegangan di antara kami.

"Alin kamu apain, Clara?" Tanya Papa dengan nada tinggi.

"Emangnya diapain? Disentuh juga enggak," jawabku santai sembari melipat tangan di depan dada.

Sikapku yang cuek dan tak peduli ini membuat kedua orang tuaku itu sesaat terperangah. Ya jelas mereka sedikit terkejut. Aku biasanya selalu jadi anak yang patuh, sopan juga hormat pada mereka. Tapi untuk saat ini aku berat untuk bersikap seperti itu lagi.

"Kalau memang kamu gak ngelakuin apapun kenapa Clara sampai nangis sesenggukan begitu?"

Aku langsung melirik ke bawah menatap Clara yang ternyata benar sudah menangis sesenggukan.

"Terserah Papa deh, mau mikir apa tentang aku. Toh, aku mau jelasin juga percuma. Papa bakalan lebih bela Clara, anak kesayangan Papa yang udah buat malu keluarga ini," ujarku santai sembari melenggang menuju kamar.

"Jaga mulutmu, Alin!" Bentak Papa membuat langkahku langsung terhenti.

"Lho, bukannya Papa juga marah sama Clara karena dia gak bisa jaga diri?" Tanyaku sembari berbalik badan.

"Papa khilaf kemarin, Lin. Kamu 'kan tahu kemarin itu semuanya pada syok berat," timpal Mama yang sudah membantu Clara berdiri.

"Oh gitu ... Kira-kira kalau Alin yang ngelakuin kesalahan kayak Clara begitu, Papa bakal cepat maafin enggak ya?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   51. Ending

    Lima tahun kemudian ...."Mamaaa!" Alin tersenyum lebar sembari merentangkan tangan menyambut putranya yang baru keluar dari gerbang sekolah.Wajah bocah berusia lima tahun lebih itu terlihat sumringah. Ia langsung masuk ke dalam pelukan Alin seolah begitu merindukan mamanya."Belajar apa tadi?" Tanya Alin sembari berjongkok mensejajarkan diri dengan Abim."Belajar nulis huruf M, sama gambar juga tadi. Abim gambar Papa, Mama, sama Abim," sahut Abim antusias."Oh ya? Senang gak tadi di sekolah?" Pancing Alin yang memang selalu mempertanyakan perasaan anaknya. Karena baginya kondisi hati itu yang terpenting. "Senang! Tapi 'kan, Ma ... Abim sedih juga," ujar Abim dengan bibir cemberut."Kenapa?" Alin mulai khawatir."Teman-teman Abim pada punya adik, tapi Abim gak punya, Ma."Alin tersenyum simpul mendengar hal yang membuat anaknya itu bersedih. "Sabar ya, Sayang. Kita do'a sama-sama supaya Abim cepat dapat adek," ujar Alin sembari mengusap lembut kepala putranya.Bukan Alin tak ingin

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   50. Balasan

    "Bang ponsel Abang bunyi." Alin berusaha melepaskan bibirnya, namun Afriza kembali menahan."Biarin!" Afriza melanjutkan aktivitasnya membuat Alin kembali pasrah, hingga akhirnya dering tersebut mati sendiri.Namun begitu ci*uman Afriza sudah mulai turun ke leher jenjang Alin, kembali ponsel tersebut berbunyi nyaring, membuat Afriza berdecak kesal karena merasa terganggu."Angkat dulu, Bang. Siapa tahu penting," ujar Alin mengingatkan, hingga mau tak mau Afriza meraih ponselnya dan mengangkat panggilan yang ternyata dari papanya."Kenapa, Pa?" Tanya Afriza dengan menahan kesal karena aktivitasnya terganggu."Cepat ke rumah sakit, Tha! Nenek jatuh di kamar mandi, darah tingginya kumat."Bukannya iba mendengar berita tersebut, Afriza malah berdecak kesal. "Yang anaknya 'kan Papa, bukan aku!" Ketus Afriza."Artha, Papa tahu kamu masih marah sama Nenek. Tapi jangan begitu. Jangan simpan dendam. Biar bagaimanapun beliau Nenek kamu sendiri. Masa kamu gak ada rasa empati saat beliau sakit?"

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   49. Awal Jatuh Cinta

    "Bang!" Alin mulai membuka percakapan sembari melepas lelah. Mereka baru saja usai meluahkan rasa rindu di atas ranjang setelah makan siang tadi."Hmm?""Sejak kapan Abang cinta sama Alin?" Tanya Alin tiba-tiba."Kenapa memangnya?" Afriza balik bertanya sembari memandang wajah cantik istrinya yang sejak tadi ada di dalam dekapannya."Gak apa-apa, pengen nanya aja. Jangan bilang Abang cinta ke Alin gara-gara merasa bersalah karena salah balas dendam," tebak Alin balas menatap suaminya.Walau papa Afriza pernah mengatakan padanya bahwa Afriza menyukainya sejak pertama bertemu, tapi Alin tak ingat pasti kapan pertama kali mereka bertemu."Enggaklah! Jauh sebelum itu Abang sudah cinta ke kamu.""Oh ya? Sejak kapan? Kayaknya dulu kita gak saling dekat deh." Alin makin penasaran."Sejak pandangan pertama," sahut Afriza sambil mengulas senyum manis lalu mengecup kening istrinya."Emang kapan kita pertama kali ketemu ya? Alin lupa."Afriza berdecak kesal sambil menatap Alin. "Ternyata cuma Ab

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   48. Dasar Cacing!

    Afriza menelan saliva susah payah. Sudahlah volume panggilan ia buat full ditambah suara ayahnya yang keras, sudah dapat dipastikan Alin yang berada sangat dekat dengannya mendengar apa yang dikatakan Tuan Wisnu. Dan benar saja, saat Afriza menatap wanita itu, raut wajahnya sudah berubah."Enggak! Artha lagi jagain menantu Papa.""Hah? Siapa?""Alin-lah, Pa. Siapa lagi?! Sampai kapanpun menantu Papa ya cuma Alin seorang." Sengaja Afriza berucap demikian demi mengalihkan pikiran Alin supaya tak berpikir buruk dengan ucapan papanya yang menuduhnya mabuk tadi."Udah ketemu Alin?" "Udah. Emangnya Papa belum liat artikel tentang keluarga Atmadja?" "Sudah. Makanya itu Papa ngubungi kamu."Usai berbincang-bincang sejenak, panggilan pun terputus. Begitu melihat Alin yang masih menatapnya, jantung Afriza langsung ketar-ketir."Abang sering mabuk-mabukan?" Tanya Alin langsung, ada raut kecewa di wajah wanita itu saat bertanya demikian.Afriza menghela nafas panjang sebelum menjawab. "Maaf, Sa

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   47. Kembali Bersama

    Afriza menghela nafas panjang, berulang kali melirik arloji. Sudah berjam-jam ia menunggu di depan kampus Alin. Matanya tak lepas mengawasi ke arah gerbang, namun sosok yang ia tunggu tak juga nampak batang hidungnya."Kamu di mana, Lin?" Afriza mengusap wajahnya kasar. Makin frustasi rasanya saat ingat cerita Anita tadi. Ia baru tahu alasannya kenapa istrinya itu memilih menerima uang dari neneknya dan meninggalkannya. Pasti Alin tertekan sekali saat itu. Dan ia malah dengan teganya tak memberi kesempatan wanita itu untuk memberi penjelasan padanya.Karena hari sudah semakin senja, Iza memutuskan turun untuk bertanya pada Satpam yang ada di depan gerbang. Walau ia tak berharap banyak, karena tak mungkin juga Satpam tersebut hafal wajah semua mahasiswa yang ada di sana."Permisi, Pak, saya mau tanya.""Mau tanya apa ya, Mas?" "Ada lihat wanita ini keluar dari kampus gak ya, Pak?" Afriza menunjukkan foto Alin yang ada di ponselnya."Oh, Nak Alin anak Pak Rasyid Atmadja?"Afriza menga

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   46. Bertemu Anita

    Alin bergerak turun dari ranjang. Wajahnya masih pucat, kepalanya pun masih terasa pusing. Tapi ia tetap memaksakan bangkit, berniat masuk kuliah hari ini. Selain karena sudah dua hari dia absen, Alin juga tak tahan lama-lama di dalam kamar. Yang ada ia malah menangis terus karena terpikirkan Afriza. Pikirnya dengan mencari kegiatan ia akan bisa melupakan kesedihannya walau sejenak."Kamu mau kemana, Lin?" Tanya Bu Nurin saat melihat Alin sudah turun dengan pakaian rapi."Ke kampus, Ma," sahut Alin lalu ikut bergabung dengan keluarga Atmadja sedang bersiap untuk sarapan."Kamu yakin mau ngampus? Wajah kamu masih pucat itu." Arfan ikut menanggapi dengan khawatir."Yakin, Mas. Udah gak demam lagi kok. Aku bosan di rumah terus."Terdengar lelaki itu menghela nafas, ia sebenarnya keberatan saat melihat kondisi adiknya itu. Tapi mungkin Alin memang sedang bosan di rumah. "Yang penting hati-hati ya, Lin. Kalau ada apa-apa hubungi Masmu atau Papa aja," timpal Pak Rasyid yang disambut angguk

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   2. Tak Masalah Aku Terluka

    Aku mendengus kesal, lalu langsung bangkit hendak meninggalkan taman. Sepertinya harus mencari tempat lain untuk merenungi nasib."Jangan terlalu menghayati kesedihan. Kesedihan itu harusnya dilawan. Nangis boleh, tapi jangan sampai kesedihan itu merusak jiwa raga."Aku tak jadi melangkah mendengar

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   1. Permintaan Gila

    Aku berjalan tergesa masuk ke dalam rumah. Tadi sewaktu aku masih di tempat kerja Mama menelpon, menyuruhku agar cepat pulang karena ada hal penting yang ingin disampaikan.Saat sampai di ruang tamu, ternyata Mama, Papa, dan juga Clara--adikku sudah berkumpul. Namun anehnya atmosfer di antara merek

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   7. Nasi Basi

    Seolah sedang bermimpi, semua hal yang tak pernah kusangka terjadi begitu saja. Seharusnya hari ini jadi hari pernikahanku dengan Mas Bima, tapi yang ada malah kami berdua akan menikah dengan pasangan yang berbeda. Ya, hari ini adalah hari pernikahanku. Papa yang takut terjadi hal yang tak diingin

  • DIKIRA TUNAWISMA, TERNYATA KAYA RAYA   6. Fitnah Clara

    "Clara ... Ini gak seperti yang kamu kira, Ra," jelasku buru-buru mendekat ke gadis itu.Namun, belum sempat lagi aku memberikan penjelasan yang sesungguhnya, ia sudah berteriak duluan dengan heboh."Ma, Pa, banguuun! Ada lelaki aneh yang mau macem-macem sama Mbak Alin!" Teriak Clara dengan volume

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status