공유

Poligami

작가: ARY
last update 게시일: 2023-08-19 12:28:40

Pagi ini Aisyah mengepel lantai ruang tamu dan ia tak sengaja melihat suaminya dengan mertuanya di kamar tampak membicarakan hal yang serius.

Bima menghampirinya, “Ya, selesai bersih-bersih kamu ke kamar ya. Ada hal penting yang Mas mau omongin ke kamu.”

“Iya, Mas.”

Aisyah bergegas menyelesaikan pekerjaan rumahnya.

“Mas mau ngomong hal penting apa?” tanya Aisyah penasaran.

“Pagi ini sebentar lagi Mas mau ke kantor, tapi ada hal penting yang Mas nggak bisa lakuin jadi kamu tolong bantu ya.”

            Aisyah tampak sumringah karena akhirnya suaminya mengeluarkan kalimat minta tolong lagi padanya setelah sekian lama, “Minta tolong apa, Mas?”

Bima menyodorkan secarik kertas pada Aisyah yang berisikan beberapa catatan di dalamnya, “Tolong kamu siapin barang-barang yang ada di catatan itu, kalau bisa barangnya harus ada sore ini juga,” jelas Bima.

“Mas, kamu nggak salah ngasi aku catatan?” tanya Aisyah kebingungan.

“Kamu pikir saya ini bodoh apa, itu catatan saya yang tulis semuanya mana mungkin saya salah.”

“Tapi, Mas. Catatannya isi listnya pernak-pernik seserahan semua,” sahut Aisyah makin kebingungan.

“Ya, emang itu!”

“Emang pakai apa sih, Mas. Kamu beli yang ginian tumben banget.”

“Banyak tanya kamu ya.”

“Emang siapa yang mau nikah?”

            Bima sejenak terdiam dan menatap Aisyah tajam, “Kamu bisa nggak mulutnya tu diem! Aku nggak punya waktu lagi buat layanin pertanyaan-pertanyaan kamu itu, ya. Mas berangkat kerja dulu, pokoknya Mas nggak mau tau semua barang yang ada di list itu, sore ini harus udah ada semuanya,” ucap Bima bernada kesal.

“Iya, Mas. Maaf.” Aisyah hanya bisa pasrah memenuhi kemauan suaminya itu

            Aisyah segera bersiap-siap untuk membeli semua barang yang ada di catatan yang diberikan Bima.

“Aisyah, ke sini,” seru wanita tua itu.

“Iya, Ma.”

“Kamu udah dikasi catatan barang apa aja yang mau dibeli sama Bima?”

“Udah, Ma.”

“Bagus, pokoknya jangan sampai ada yang ketinggalan di beli, ya,” tegasnya.

“Maaf, Ma. Kalau boleh tau ini kan catatannya setahu Yaya pernak-pernik yang biasa dipakai seserahan, emang siapa yang mau nikah, Ma?” tanya Aisyah yang berusaha memenuhi rasa penasarannya.

“Kamu kalau lagi dikasi tugas sama suami manut aja lah, nggak usah banyak tanya. Pantes aja Bima nggak betah di rumah,” sahutnya ketus.

“Iya, Ma. Yaya minta maaf,” ucap Aisyah pasrah.

“Aisyah pergi belanja dulu.”

“Ya udah sana cepat pergi!”

            Wanita malang itu pergi berbelanja dengan pikiran yang masih bertanya-tanya. Suami dan mertuanya tampak menyembunyikan sesuatu dari dirinya, namun Aisyah tetap berpikir positif bahwa itu untuk hadiah teman kerja suaminya. Aisyah yang hampir tak pernah diberikan waktu untuk ke luar dan hanya sibuk dengan pekerjaan rumahnya pun terlihat menikmati waktunya dengan berbelanja semua barang yang ada di catatan itu, senyum kecil terukir dari sudut bibirnya.

“Assalamualaikum, Ma. Yaya pulang.”

“Gimana dapat semua?”

“Alhamdulilah dapat semua, Ma.”

“Baguslah, sebentar lagi Bima pulang biar dia yang ngecek kembali barangnya.”

“Ma, maaf banget. Mama sama Mas Bima lagi nggak nyembunyiin sesuatu dari Yaya, kan?”

“Kamu masih mau tau jawaban pertanyaan kamu itu?” ucap wanita tua itu membuat Aisyah semakin penasaran.

“Ma,” seru Bima yang sudah ada di hadapan mereka.

“Bima, baguslah kamu sudah datang jadi Mama nggak repot lagi buat jelasin semua ke istri kamu yang bawel ini.”

“Mas, lebih baik jujur deh sama aku. Ada apa sih sebenarnya, Mas?”

“Oke, kalau itu memang mau kamu buat tahu semuanya, aku juga pasti bakalan ngasi tau kamu tentang hal ini tanpa kamu minta, kok.”

“Iya, apa?”

“Sebenarnya semua barang-barang yang kamu beli tadi, itu semua untuk pernikahanku,” jelas Bima tanpa rasa bersalah sedikit pun.

“APA? MENIKAH!” Aisyah terkulai lemas mendengar ucapan suaminya

“Iya, aku mau menikah. Aku pengen bahagiain Mama dengan memberikannya cucu, aku nggak mau jadi anak durhaka karena selama ini nggak mau nurutin apa kata orang tua,” tambahnya.

“Mas, aku ini masih istri kamu! Terus bagaimana dengan perasaan aku, tega ya kamu, Mas. Jadi semua barang yang aku beli dengan tanganku sendiri ini untuk persiapan pernikahan suamiku, ya Allah,” ucap Aisyah gemetar.

Aisyah sudah tak mampu lagi membendung air matanya, ia menangis sejadi-jadinya hingga sesenggukan.

“Keputusanku sudah bulat, lagian di agama kita tidak pernah ada larangan untuk menikah lagi. Jadi kamu nggak usah ikut campur dalam keputusanku ini!”

“Andai saja kamu bisa segera memberikan Mama cucu pasti Mama nggak bakalan menyetujui keputusan Bima ini, selama ini Mama sudah sabar sama kamu sampai bertahun-tahun! Sekarang jangan halang-halangi anakku ini mau membahagianku!"

Wanita malang itu mengelus dada, "Astagfirullahaladzim, ya Allah."

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
Retno w
perempuan kok lemah bgt
댓글 더 보기

최신 챕터

  • DIMADU KARENA DIFITNAH MANDUL   Keteguhan Hati Aisyah [TAMAT]

    ***“Nak, semoga kamu nggak dendam sama Ibu ya. Ibu ngelakuin ini demi kebaikan kamu, Ibu nggak mau kamu sampai tahu kelakuan Ayah kandung kamu seperti apa, Ibu takut kamu kecewa berat Nak.” Aisyah berpikir keras. Aisyah masih meratapi nasibnya serta anaknya, ia takut tentang ke depannya akan ada masalah yang datang hingga menyangkutpautkan masa lalunya kembali dengan Bima dan Aisyah tidak akan pernah rela bila Arkanza terlibat di dalamnya. Wanita itu takut jika anaknya akan memiliki ingatan kelam tentang kedua orang tuanya terutama sesosok ayahnya yang begitu keji terhadap ibunya dan dirinya.“Ayo Nak, kita pergi sebelum ayah kamu dateng.” Aisyah tampak berkemas, ia pergi membawa Arkanza.* Jantung Aisyah berdegup kencang, tangannya gemetar, keringat pun membasahi keningnya. Langkahnya tampak berat.“Hahhh, bismilah ya Nak semoga ini sudah memang keputusan yang baik buat kita semua.” Aisyah berusaha meyakinkan dirinya.“Ada yang bisa dibantu ibu?”“

  • DIMADU KARENA DIFITNAH MANDUL   Pelengkap Kebahagiaan

    ***“Arka sayang, Ibu udah lama sekali nggak lihat wajah kamu ini! Ibu kangen Nak, Ibu khawatir sama kamu sayang. Kamu pasti selama ini haus banget ya Nak,” ucapnya penuh kasih. Setelah sekian lama, akhirnya Aisyah kembali merasakan kehangatan tubuh bayi mungilnya. Ia terpaksa tak menjalankan peran seorang ibu untuk beberapa waktu yang lumayan menyiksanya, wanita itu tampak sudah sangat lelah dengan kejadian yang telah terjadi. Sangat menguras emosi dan perasaan seorang ibu.“Nanti tunggu Ayah pulang ya Nak, kita jalan-jalan ke rumah Nenek semuanya sudah nungguin kamu di sana, mereka kangen sekali dengan kesayangan mereka. Kamu anak yang kuat sayang, terima kasih ya sudah bertahan sejauh ini, anak Ibu pintar sekali.”“Assalamualaikum,” ucap seseorang dibalik pintu.“Waalaikumsalam, eh Mas. Kamu udah pulang rupanya.”“Iya, Ya. Halo anak Ayah, Ayah kangen Nak!” ucapnya lembut.“Ganti pakaian dulu Mas, makanan udah aku siapin di meja.”“Iya sayang, makasi ya.” Akh

  • DIMADU KARENA DIFITNAH MANDUL   Tewas Mengenaskan

    ***“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, kasian sekali. Di mana keluarganya Ya Allah?”“Sudah berumur, seharusnya dijaga dengan baik! Anak-anaknya ke mana?”“Sepertinya ibu ini sudah bingung karena faktor umur, kasian sekali!” Di ujung jalan besar tampak terjadi insiden yang menggegerkan orang sekitar hingga menimbulkan kerumunan. Bercak darah berlumuran di jalan, sepertinya terjadi kecelakaan. Mobil ambulance dan polisi segera datang, kondisi korban sudah sangat memprihatinkan dilihat dari kondisi badannya sepertinya sudah tak bernyawa. Kepalanya terus mengeluarkan darah dan terdapat beberapa luka dibagian kaki serta tangannya, ia sudah tak sadarkan diri. Petugas segera melarikannya ke rumah sakit.“Ih, serem banget!” tukas orang yang lalu lalang.*“Apakah korban telah berhasil di identifikasi?”“Belum berhasil pak, kami cukup kesulitan karena tanda pengenal korban tidak ditemukan saat di lokasi kejadian. Namun, karena korban saat ditemukan mengenakan pakaian pasien kemu

  • DIMADU KARENA DIFITNAH MANDUL   Pasal 328 KUHP [Hukuman 12 Tahun Penjara]

    “Bima!” Lelaki itu lekas memalingkan pandangannya, Aisyah menghampiri Bima-mantan suaminya.“Tega kamu Bima! Kamu pikir apa yang kamu lakukan ini sudah akan menguntungkan kamu? Sampai segitunya kamu terobsesi ingin memiliki dia, Arka itu darah daging kamu bisa-bisanya kamu nyakitin dia,” tukasnya kesal.“Gua nggak pernah nyakitin dia, lu yang rebut Arka dari gua Aisyah! Mungkin kalau lu nggak misahin gua dengan dia gua nggak bakalan berbuat nekat kayak gini!” bantahnya.“Apa? Aku nggak salah denger Bima? Bukan aku yang jauhin kamu tapi kamu yang nggak pernah mau nganggep dia sebagai anak kamu, kamu lupa ya gimana biadabnya kamu ngusir aku sama almarhum ayah aku saat itu … saat itu aku ngemis dihadapan kamu Bima! Tapi apa kata kamu dan keluarga kamu justru malah nuduh aku dan menghina aku, dan kamu malah memilih menikah dengan perempuan lain yang kamu anggap bakalan bisa ngasi kamu keturunan karena kamu nuduh aku mandul kan!” ucapnya geram.“Ya itu kan dulu! Karena aku mema

  • DIMADU KARENA DIFITNAH MANDUL   Kehancuran Di Depan Mata!

    *“Jadi di sini kamu sembunyikan anak saya!” ucap Aisyah geram.“Sabar ya.” Hendra berusaha menenangkan. Polisi mengerahkan seluruh pasukannya untuk mengepung tempat persembunyian Bima, tentunya ini menjadi bagian yang sangat menegangkan mengingat lelaki bejat itu bisa saja nekat melakukan sesuatu yang bisa membahayakan nyawa Arkanza.TOK! TOK! TOK! Polisi berusaha mengetuk pintu rumah, mereka berharap Bima bisa ditangkap dengan mudah.“Permisi! Bapak Bima, kami ada urusan penting dengan anda!” Tampak seperti tak ada siapa pun di dalam rumah. Tidak ada suara sahutan seorang pun.“Permisi!” Polisi masih terus mencoba. Sementara itu di dalam rumah, Bima, Jihan dan Kiara tengah makan bersama di meja makan. Mereka rupanya mendengar suara sayup-sayup dari luar.“Siapa Mas? Perasaan seperti manggil nama kamu!” ucapnya penasaran.“Mana aku tau!”“Kamu buat masalah lagi ya? Atau kamu ada ngutang lagi? Jangan-jangan itu debt collector yang waktu

  • DIMADU KARENA DIFITNAH MANDUL   Titik Terang

    ***“Gimana Mas?” tanya Aisyah penuh harap. Hendra terkulai, ia tampak lemas. Napasnya terengah-engah dengan keringat mengucur dari dahinya. Dokter itu kelelahan.“Nggak ketemu Ya, maafin Mas ya. Mas juga udah usaha keras buat nemuin anak kita,” jelasnya lesu.Aisyah menarik napas dalam, “Hah, gimana ya Mas? Aku juga bingung harus gimana lagi, aku tau kok Mas, Papa sama Mama juga udah usaha keras buat nemuin anak kita tapi aku juga nggak bisa bohong tentang perasaan aku.”Hendra meraih tubuh istrinya, ia memeluk tubuh Aisyah erat. Mereka berdua berakhir menangis bersama.Drrttt! Drrrttt! Drrrrt! [gawai Hendra berdering]Hendra gegas mengusap air matanya dan segera meraih gawainya.“Ha-halo,” jawabnya terbata.“Halo, selamat siang. Dengan bapak Hendra?”“Siang, iya dengan saya sendiri. Ada apa ya Pak?”“Baik, bapak Hendra kami dari kepolisian maksud menelpon bapak izin memberitahukan informasi terkait pencarian putra bapak!” jelasnya.DEG!!! Dada Hendra terasa b

  • DIMADU KARENA DIFITNAH MANDUL   Haru Dan Bahagia [Pernikahan Hendra & Aisyah]

    *** “Aisyah, semua sudah siap kan?” “Sudah Mas, tinggal tunggu Ibu dan Hilda menuju ke sini saja.” Pandangan Hendra terus saja terpaku pada Aisyah, wanita itu tampak cantik dan anggun mengenakan pakaian pengantin berwarna putih dibalut dengan make up natural menambah aura kecantikannya s

  • DIMADU KARENA DIFITNAH MANDUL   Meminta Pertanggung Jawaban

    “Alhamdulilah ya, akhirnya perjuanganmu selama hampir 4 tahun dijawab juga sama Allah. Bapak doakan semoga kamu sama bayimu sehat-sehat terus ya.” “Amin. Ow iya Nak, kamu mau ngomongin apa?” “Sebelumnya, Aisyah harap Bapak sama Ibu setelah obrolan ini tidak kecewa sama Aisyah,” ucap Aisyah yang

  • DIMADU KARENA DIFITNAH MANDUL   Kehamilanku

    Satu minggu telah berlalu, setelah ia memutuskan untuk menyewa kontrakan sementara, akhirnya Aisyah menyudahi pikiran keras kepalanya untuk memberanikan diri pulang ke rumah orang tuanya, Aisyah bergegas mengemasi barang dan membulatkan tekad untuk segera beranjak dari Jakarta ke Surabaya. A

  • DIMADU KARENA DIFITNAH MANDUL   Meminta Cerai

    Hari ini tibalah hari pernikahan Bima dan Jihan, sampai detik ini pun Aisyah si wanita malang itu masih terus menyembunyikan masalah rumah tangganya dengan kedua orang tuanya, tak sedikit pun ia bercerita tentang semua hal yang sudah terjadi. “Kasian ya Aisyah, padahal dia masih hidup tapi suaminya

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status