Masuk"Kamu tidak sedang merencanakan sesuatu di belakangku dengan Nadia, kan?" tanya Jacob tiba-tiba. Mata elangnya menatap lurus ke dalam mata Jessie.Jessie menelan jeruknya perlahan. "Rencana apa? Nadia hanya datang menjenguk. Aku bosan di dalam rumah terus menerus, Jacob."Jacob menghela napas, ia mengusap pipi Jessie dengan punggung tangannya. “Aku tidak bermaksud mengurungmu. Aku hanya tidak ingin Adrian memanfaatkan informasi apa pun untuk menyerangmu.”"Aku tahu. Dan aku menghargainya," jawab Jessie. Ia menyandarkan kepalanya di bahu Jacob, mencoba menyembunyikan ketegangannya. "Sekarang aku hanya ingin mandi dan menunggu dokter datang.""Pergilah. Aku akan menunggumu di sini," kata Jacob.Jessie berjalan menuju kamar utama dengan langkah teratur. Begitu sampai di dalam kamar dan mengunci pintu kamar mandi, ia mengeluarkan kartu memori itu. Tangannya gemetar saat ia menyembunyikannya di dalam kotak perhiasan yang memiliki saku rahasia.Di luar sana, Jacob berdiri di ruang tamu, m
"Aku bawa buah dan camilan sehat buat ibu hamil," seru Nadia begitu melangkah masuk ke ruang tamu kediaman Jacob dan Jessie yang kini sudah dijaga ketat.Dua orang petugas keamanan tadi sempat menggeledah isi tasnya dengan teliti di gerbang depan. Nadia menatap sekeliling ruangan yang kini lebih mirip laboratorium daripada sebuah rumah. Lantai yang mengkilap dan kesat, juga aroma karbol menyeruak memenuhi udara ruangan. Nadia bahkan bisa merasakan udara yang jauh lebih dingin dan bersih, hasil dari sistem penyaringan udara yang sepertinya baru dipasang.Jessie duduk di sofa panjang, ia langsung tersenyum lebar melihat sahabatnya datang. Di belakangnya, Jacob berdiri dengan tangan di saku celana, mengawasi setiap gerak-gerik Nadia dengan pandangan tajam yang tidak pernah berubah."Jacob, biarkan Nadia di sini bersamaku. Aku merasa kesepian hanya duduk di rumah." ucap Jessie sambil melirik suaminya.Jacob terdiam sejenak. Ia menatap Nadia, lalu kembali menatap Jessie. Kehamilan Jess
Jacob berbalik, pandangannya beralih dari Jessie di luar sana kembali ke dokumen di depan Andi. Wajahnya sangat tenang, tipe ketenangan yang biasanya menandakan bahwa ia sedang menyiapkan strategi yang jauh lebih kejam di balik layar."Biarkan publik berpikir begitu. Biarkan Adrian merasa menang karena berhasil membungkam kita," sahut Jacob datar. “Adrian selalu bergerak berdasarkan reaksi lawannya. Kalau aku terus menyerang lewat media, dia akan memiliki celah untuk melawan. Tapi kalau aku diam, dia akan mulai gelisah dan mencari tahu strategiku.”Jacob menarik sebuah map hitam yang berisi daftar mitra logistik terbesar milik AS Capital Group. Perusahaan milik Adrian itu bergantung pada tiga distributor utama yang memasok komponen perangkat keras untuk bisnis mereka di Asia Tenggara.“Hadi mengira Adrian adalah pelindungnya. Padahal Adrian hanya pebisnis yang haus kekuasaan. Sekarang tunjukkan padaku daftar pemegang saham perusahaan kargo Trans-Oceanic,” perintah Jacob.Andi seger
"Selamat datang di rumah, Nyonya," ucap Andi yang sudah menunggu di depan pintu utama kediaman mereka.Langkah pertama Jessie masuk ke dalam rumah disambut oleh aroma udara yang sangat segar, hampir tanpa aroma debu sedikit pun. Ia segera menyadari bahwa sistem ventilasi mereka telah diganti. Jacob menuntunnya melewati ruang tamu, dan Jessie berhenti sejenak untuk menatap lantai marmernya yang biasanya licin."Lantainya kenapa jadi terasa kesat?" tanya Jessie, mencoba menggosokkan telapak kakinya ke permukaan marmer."Aku sudah meminta Andi untuk melapisinya dengan cairan khusus anti-slip. Aku tidak mau kamu terpeleset," jawab Jacob datar.Mereka naik ke lantai dua. Begitu pintu kamar utama dibuka, Jessie tercengang. Ruangan itu tidak lagi sekadar kamar tidur mewah. Di sudut ruangan, sebuah dispenser air dengan teknologi penyaringan tingkat tinggi sudah terpasang. Ada rak kecil berisi vitamin, buah-buahan organik, dan buku-buku tentang kehamilan yang tertata rapi. Bahkan, sudut-
Jacob melepaskan pelukannya sebentar hanya untuk menatap wajah Jessie. Ia mengusap air mata yang jatuh di pipi istrinya dengan ibu jarinya. "Dengarkan aku.” ucap Jacob mantap. “Masalah Hadi dan Adrian tetap akan kuhadapi. Tapi sekarang yang terpenting adalah kamu dan bayi ini. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh kalian.”Jacob kembali mengelus perut Jessie, kali ini dengan gerakan melingkar yang menenangkan. "Aku akan menyiapkan tim keamanan terbaik untuk menjaga kalian. Soal rencana penangkapan itu, kita pikirkan nanti. Aku hanya ingin kita menikmati momen ini sekarang."Jessie tersenyum tipis, ia meletakkan tangannya di atas tangan Jacob yang berada di perutnya. Ia bisa merasakan kehangatan dan kekuatan dari suaminya. Kepanikan yang tadi ia rasakan perlahan berganti menjadi rasa syukur yang mendalam."Terima kasih, Jacob," ucap Jessie tulus."Untuk apa?" tanya Jacob sambil mengecup puncak kepala Jessie."Karena kamu selalu ada di sampingku. Juga karena kamu sudah menja
Aroma antiseptik yang menyengat menusuk indra penciuman Jessie saat kesadarannya perlahan kembali. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, menatap langit-langit ruangan yang putih bersih dengan lampu neon yang berpendar lembut. Suasana di dalam ruangan itu sangat tenang, hanya terdengar suara deru halus mesin pendingin ruangan.Jessie mencoba menggerakkan tangannya, namun ia merasakan genggaman hangat. Ia menoleh ke samping dan mendapati Jacob duduk di kursi, menatapnya dengan raut wajah yang penuh rasa cemas yang tidak bisa disembunyikan. Jessie tertegun sejenak. Ada guratan kelelahan di bawah mata pria itu, namun sorot matanya tampak lebih lunak ketika menyadari Jessie mulai menggerakkan tangannya.Tanpa berpikir panjang, Jacob menekan tombol panggil perawat di dinding atas ranjang pasien beberapa kali.“Kamu sudah bangun?” suara Jacob rendah dan serak ada nada khawatir yang terselip di nada suaranya. Ia kembali menjatuhkan tubuhnya ke kursi. Tangannya kembali menggenggam tangan J







