MasukMalam itu, setelah Jessie terlelap lebih dulu karena kelelahan pindah kamar, Jacob duduk di ruang kerjanya yang hanya diterangi lampu meja temaram. Ponselnya bergetar di atas meja kayu jati yang kokoh. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Andi, tangan kanannya yang paling tepercaya.Andi: "Tuan, saya baru saja mengirimkan file video dari lokasi proyek Lakeside."Jacob mengklik file video tersebut. Layar ponselnya menampilkan rekaman berkualitas tinggi yang diambil secara sembunyi-sembunyi dari jarak aman. Di sana, ia melihat Daniel dengan pakaian mahalnya berdiri di depan kerumunan warga yang tampak lusuh dan putus asa.Suara Daniel terdengar sangat jernih dalam rekaman itu: "Setiap menit kalian berdiri di sini, kalian menghambat pembangunan aset Sanjaya yang nilainya ribuan kali lipat dari harga diri kalian!"Melihat Daniel yang memerintahkan pengawalnya untuk bertindak kasar pada warga, sudut bibir Jacob terangkat. Matanya yang gelap berkilat puas. Daniel baru saja melakukan kesalah
Pagi itu, matahari bersinar terik di lokasi proyek Lakeside, tempat yang menjadi penentuan nasib posisi Daniel di Grup Sanjaya. Daniel turun dari mobilnya dengan kacamata hitam bertengger di hidung, didampingi oleh beberapa pengawal dan asisten pribadinya. Ia berjalan dengan langkah angkuh, seolah setiap jengkal tanah yang ia injak sudah sepenuhnya tunduk di bawah kekuasaannya.Namun, pemandangan di depan gerbang utama proyek tidak seperti yang ia bayangkan. Alih-alih para pekerja yang sibuk, ia justru disambut oleh kerumunan warga yang membawa spanduk-spanduk lusuh namun penuh amarah."Bayar hak kami! Jangan rampas tanah warisan kami!" teriak salah seorang warga yang berdiri paling depan.Daniel menghentikan langkahnya, raut wajahnya berubah seketika menjadi dingin dan merendahkan. Ia melepas kacamata hitamnya dengan gerakan dramatis."Apa-apaan ini?" tanya Daniel pada mandor proyek yang menghampirinya dengan wajah pucat. "Kenapa orang-orang kumuh ini ada di lokasi proyekku? Usir m
Sementara itu, beberapa saat setelah Daniel meninggalkannya kembali sendirian, Jessie melangkah keluar dari lobi kantor dengan bahu yang tampak tegang. Kata-kata Daniel masih terngiang di telinganya seperti kaset rusak yang memuakkan. Ia merasa udara di dalam gedung itu tiba-tiba menjadi sangat sesak. Namun, begitu matanya menatap ke arah gerbang depan, napasnya perlahan mulai teratur.Di sana, bersandar pada pintu mobil sedan hitam mewah yang mengkilap di bawah lampu jalan, Jacob berdiri menunggunya. Sosoknya yang jangkung dan tenang memberikan kontras tajam dengan hiruk pikuk kota. Mata Jacob langsung tertuju pada pintu keluar, seolah ia memang sudah menghitung detik kepulangan istrinya.Jacob segera menegakkan tubuh saat melihat Jessie mendekat. Ia tidak perlu menjadi ahli ekspresi untuk menyadari ada yang salah. Sudut bibir Jessie yang kaku dan binar matanya yang redup sudah cukup menjadi jawaban bagi Jacob.Tanpa bertanya sepatah kata pun di depan umum, Jacob membukakan pintu
Daniel tiba-tiba mengulurkan tangan, mencoba menyentuh ujung rambut Jessie, namun Jessie segera menghindar. Mata Daniel berkilat penuh obsesi yang membuat Jessie merinding."Jess, kita sudah bersama bertahun-tahun, bahkan kita adalah teman masa kecil, bukan?” ucap Daniel dengan nada halus yang sangat dibuat-buat. “Aku tahu tatapan matamu. Jacob mungkin punya uang, entah dari mana dia mendapatkannya, tapi dia tidak punya kenangan bersamamu sepertiku. Kamu masih menyukaiku, kan? Kamu belum bisa melupakanku, itulah sebabnya kamu selalu menyerangku dan Cindy."Daniel merendahkan suaranya, mencoba terdengar menggoda namun justru terasa licik bagi Jessie. "Jacob hanyalah pelarian karena kamu merasa aku menyakitimu. Tapi kamu tahu, aku bisa saja kembali padamu jika kamu berhenti bersikap keras kepala.” “Katakan pada Jacob untuk berhenti mencampuri urusanku di Sanjaya, dan aku mungkin akan mempertimbangkan untuk membawamu kembali ke sisiku." imbuhnya mengakhiri ucapannya.Jessie menatap Dani
Pagi itu, suasana di depan kantor redaksi mendadak riuh. Sebuah mobil sedan hitam mewah dengan kaca film yang sangat gelap berhenti tepat di depan lobi utama. Kehadiran mobil itu menarik perhatian semua orang karena harganya yang fantastis dan plat nomornya yang menunjukkan status kelas atas.Cindy, yang baru saja turun dari mobil Daniel yang tampak "biasa" dibandingkan mobil itu, menyipitkan mata. Ia berdiri di lobi dengan tangan bersedekap, menatap sinis."Siapa lagi itu? Sombong sekali parkir tepat di depan pintu," gumam Cindy dengan nada iri yang kental.Pintu penumpang terbuka, dan Jessie melangkah keluar. Ia tampak sangat segar dan penuh percaya diri. Jessie sempat berbalik ke arah jendela mobil yang masih tertutup rapat, melambaikan tangan kecil sambil tersenyum manis, sebelum mobil itu perlahan melaju pergi.Cindy mendengus keras dan langsung mencegat Jessie begitu langkah kakinya menyentuh lantai lobi."Wah, wah... hebat sekali ya seleramu, Jessie," cetus Cindy dengan nada
BAB 147Setelah ketegangan yang menguras emosi di ruang rapat Gedung Pusat Grup Sanjaya tadi siang, Jacob menjemput Jessie saat jam pulang kantor. Jacob tidak langsung membawa istrinya pulang. Ia membawa Jessie ke sebuah restoran rooftop yang sudah ia pesan secara privat untuk makan malam. Dan kini, mereka tengah duduk di sebuah restoran mewah yang hanya mereka berdua pelanggan yang datang malam ini.Restoran itu terletak di puncak salah satu gedung tertinggi, menyuguhkan pemandangan lampu kota yang berkilauan seperti hamparan berlian di bawah langit malam yang cerah.Pelayan mengantar mereka ke meja yang terletak di sudut paling ikonik, dihiasi dengan lilin-lilin kecil yang menciptakan suasana hangat dan intim."Aku tidak menyangka kita akan makan malam di tempat seperti ini setelah 'perang' tadi pagi," ucap Jessie sambil meletakkan tasnya, matanya berbinar menatap keindahan kota dari ketinggian.Jacob duduk di hadapan Jessie, melonggarkan sedikit dasinya, tindakan yang membuatnya t







