Share

Bab 6.

Author: Ellailaist
last update Last Updated: 2025-11-20 09:13:31

“Aku baik-baik saja, Cindy.” Jessie menggeleng dengan senyum yang sedikit dipaksakan. “Pernikahanku juga berjalan lancar.” balas Jessie berbohong. 

Cindy memicingkan mata, seolah tidak percaya dengan perkataan sahabatnya itu. Ketika Jessie tersenyum, Cindy dengan cepat merubah raut mukanya lagi. “Baiklah, kalau kau berkata begitu, Jes.” Cindy tersenyum sambil menepuk punggung Jessie pelan.

Keduanya kemudian berjalan menuju ke dalam gedung. Cindy memutuskan untuk membeli segelas kopi di kedai kecil dalam gedung. Jessie juga menginginkan segelas kopi, maka ia berjalan mengekori Cindy. Setelah membayar dan disuguhi dua gelas kopi yang harum, Cindy mengambilnya dari meja pick up di sebelah kasir.

Cindy memberikan salah satu gelas yang dipegangnya kepada Jessie. Ketika itu, ada raut bingung dari wajah Cindy setelah nampaknya ia tak sengaja melihat jari-jari Jessie yang kosong. Sahabatnya itu meliriknya sejenak. 

“Apa benar, Jes, pernikahanmu berjalan lancar?” nadanya terdengar sedikit khawatir.

Jessie mencoba tetap menjaga raut wajahnya. “Benar, Cindy. Memang kenapa?”

“Kalau begitu, di mana cincin pernikahanmu, Jessie?” Cindy menatapnya lekat dengan sebelah alis yang terangkat.

Jessie sedikit kaget. Namun ia cepat-cepat mencari alasan.

“Ah, aku lupa mengenakannya, Cindy. Tadi kulepas ketika mandi. Aku belum terbiasa memakainya.”

Tepat saat itu, seorang resepsionis kantor menghampiri Jessie dan Cindy di tempatnya duduk. Resepsionis itu sepertinya melihat lanyard tanda pengenal yang mereka kalungkan di leher. "Selamat siang, Nona Jessie dan Nona Cindy. CEO kami sudah menunggu Anda di ruangannya di lantai 27." Resepsionis itu tersenyum ramah, gesturnya profesional dan anggun.

Jessie merasa lega. Kedatangan resepsionis ini menyelamatkannya, sehingga ia tidak harus menjelaskan lebih lanjut kepada Cindy. "Terima kasih," jawab Jessie sambil tersenyum.

Keduanya berjalan menuju lift yang sudah disediakan, kemudian masuk ke dalamnya dan menekan tombol 27.

Ketika pintu lift berdenting dan terbuka di lantai 27, Jessie dan Cindy terkesima. Mereka memasuki dunia yang mencerminkan kemewahan dan kekuasaan. Lantai marmer putih di bawah kaki, sedangkan di atas kepala menggantung lampu kristal yang megah. Di dinding, lukisan abstrak berukuran besar dengan warna-warna berani dan bingkai emas memancarkan kesan seni kelas tinggi.

Di kejauhan, pemandangan langit yang membentang luas tampak dari jendela-jendela kaca besar. Meja sekretaris terbuat dari kayu mahoni mengkilap berdiri angkuh di depan ruangan CEO, dengan logo "Seven Heaven Corp." berwarna perak yang elegan terpampang di bagian depan. 

Jessie menelan ludah melihat sekelilingnya. Sosok hebat seperti apa orang ini?

Jessie dan Cindy berjalan menyusuri lorong yang tenang, di mana dinding-dindingnya dihiasi dengan panel kayu dan pencahayaan tersembunyi. Mereka melewati ruang-ruang kerja terbuka yang luas, di mana karyawan tampak fokus pada pekerjaan mereka.

Akhirnya, mereka tiba di depan pintu ruangan CEO. 

Pintu itu terbuat dari kayu solid, dan sebuah plat nama perak kecil bertuliskan "CEO" terpasang di sampingnya. Jantung Jessie berdebar kencang. Bosnya sudah memperingatkan keduanya agar tidak membuat kesalahan sedikit pun. Karena CEO perusahaan ini merupakan orang terpandang, meski belum pernah muncul ke publik.

Cindy berbisik pada Jessie sebelum masuk, "Kudengar, CEO ini masih muda dan belum menikah?” 

Jessie mengangkat sebelah alisnya, "Oh ya?" Ia mencoba menyembunyikan rasa gugupnya dengan sedikit rasa ingin tahu. "Semoga saja dia tidak terpesona padamu, Cindy. Aku tidak mau kehilangan partner terbaikku." Jessie tersenyum menggoda, mencoba mencairkan suasana tegang.

Setelah mengetuk pintu, terdengar suara bariton yang dalam memerintahkan untuk masuk. Dengan jantung berdebar, Jessie dan Cindy memasuki ruangan CEO. Ruangan itu lebih luas dari yang mereka bayangkan, dengan jendela-jendela kaca besar membuat ruangan dengan hangat. 

Di kursi besar berlapis kulit di belakang meja, seorang pria duduk membelakangi mereka. Posturnya tampak santai namun berwibawa. Ia mengenakan setelan jas mahal yang pas di tubuhnya, dan rambutnya yang gelap tertata rapi.

Dari siluet belakangnya, Jessie merasa familiar dengan pria itu. Tapi Jessie tidak yakin pernah mengenal seorang CEO hebat. Jessie menggeleng pelan, menjauhkan pikiran-pikiran yang tidak berhubungan dengan pekerjaannya. Ia hanya ingin fokus dalam pekerjaannya saat ini. Karena ini adalah proyek penting untuk perusahaan. Atasannya sudah berharap banyak padanya dan Cindy untuk wawancara ini.

"Silakan duduk," katanya, suaranya dalam dan menenangkan. Tunggu, Jessie merasa suara yang barusan ia dengar tidak asing di telinganya. Jessie mencoba berpikir keras, dimana ia pernah mendengar suara familiar itu sementara perlahan, kursi yang diduduki CEO itu berputar, dan kini pria itu menghadap Jessie dan Cindy.

Saat CEO itu berbalik dan keduanya bisa melihat dengan jelas wajahnya, Jessie terlonjak kaget. Sementara Cindy yang  sedari tadi berdiri di sampingnya lebih ke terkesima dengan ketampanan dan kharisma laki-laki di depannya itu.

Kedua mata Jessie membulat, bibirnya sedikit terbuka karena terkejut. Matanya mengerjap beberapa kali seolah sedang menyadarkan diri bahwa apa yang dilihatnya adalah nyata bukan ilusi. 

Rasanya Jessie pernah mengalami ini. Ia merasa dejavu. Pria dengan setelan jas hitam mewah yang membalut tubuhnya dengan sangat sempurna. Tubuhnya yang tegap, tinggi dengan wajah tampan kharismatik, tapi tatapannya dingin dan raut wajahnya datar menambah aura dingin yang sulit didekati. 

Itu adalah pria yang ia temui sebelum hari pernikahannya di hotel malam itu, yang berakhir menjadi pengantin pengganti di atas altar. 

Pria itu Jacob Sanjaya!

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Ellailaist
bayangin punya suami kayak Jacob ya? yang tiba2 banyak duid. hayoo ngaku...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • DINIKAHI CUCU TERBUANG: SUAMIKU TERNYATA PENGUASA DUNIA   Bab 152.

    Malam itu, setelah Jessie terlelap lebih dulu karena kelelahan pindah kamar, Jacob duduk di ruang kerjanya yang hanya diterangi lampu meja temaram. Ponselnya bergetar di atas meja kayu jati yang kokoh. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Andi, tangan kanannya yang paling tepercaya.Andi: "Tuan, saya baru saja mengirimkan file video dari lokasi proyek Lakeside."Jacob mengklik file video tersebut. Layar ponselnya menampilkan rekaman berkualitas tinggi yang diambil secara sembunyi-sembunyi dari jarak aman. Di sana, ia melihat Daniel dengan pakaian mahalnya berdiri di depan kerumunan warga yang tampak lusuh dan putus asa.Suara Daniel terdengar sangat jernih dalam rekaman itu: "Setiap menit kalian berdiri di sini, kalian menghambat pembangunan aset Sanjaya yang nilainya ribuan kali lipat dari harga diri kalian!"Melihat Daniel yang memerintahkan pengawalnya untuk bertindak kasar pada warga, sudut bibir Jacob terangkat. Matanya yang gelap berkilat puas. Daniel baru saja melakukan kesalah

  • DINIKAHI CUCU TERBUANG: SUAMIKU TERNYATA PENGUASA DUNIA   Bab 151.

    Pagi itu, matahari bersinar terik di lokasi proyek Lakeside, tempat yang menjadi penentuan nasib posisi Daniel di Grup Sanjaya. Daniel turun dari mobilnya dengan kacamata hitam bertengger di hidung, didampingi oleh beberapa pengawal dan asisten pribadinya. Ia berjalan dengan langkah angkuh, seolah setiap jengkal tanah yang ia injak sudah sepenuhnya tunduk di bawah kekuasaannya.Namun, pemandangan di depan gerbang utama proyek tidak seperti yang ia bayangkan. Alih-alih para pekerja yang sibuk, ia justru disambut oleh kerumunan warga yang membawa spanduk-spanduk lusuh namun penuh amarah."Bayar hak kami! Jangan rampas tanah warisan kami!" teriak salah seorang warga yang berdiri paling depan.Daniel menghentikan langkahnya, raut wajahnya berubah seketika menjadi dingin dan merendahkan. Ia melepas kacamata hitamnya dengan gerakan dramatis."Apa-apaan ini?" tanya Daniel pada mandor proyek yang menghampirinya dengan wajah pucat. "Kenapa orang-orang kumuh ini ada di lokasi proyekku? Usir m

  • DINIKAHI CUCU TERBUANG: SUAMIKU TERNYATA PENGUASA DUNIA   Bab 150.

    Sementara itu, beberapa saat setelah Daniel meninggalkannya kembali sendirian, Jessie melangkah keluar dari lobi kantor dengan bahu yang tampak tegang. Kata-kata Daniel masih terngiang di telinganya seperti kaset rusak yang memuakkan. Ia merasa udara di dalam gedung itu tiba-tiba menjadi sangat sesak. Namun, begitu matanya menatap ke arah gerbang depan, napasnya perlahan mulai teratur.Di sana, bersandar pada pintu mobil sedan hitam mewah yang mengkilap di bawah lampu jalan, Jacob berdiri menunggunya. Sosoknya yang jangkung dan tenang memberikan kontras tajam dengan hiruk pikuk kota. Mata Jacob langsung tertuju pada pintu keluar, seolah ia memang sudah menghitung detik kepulangan istrinya.Jacob segera menegakkan tubuh saat melihat Jessie mendekat. Ia tidak perlu menjadi ahli ekspresi untuk menyadari ada yang salah. Sudut bibir Jessie yang kaku dan binar matanya yang redup sudah cukup menjadi jawaban bagi Jacob.Tanpa bertanya sepatah kata pun di depan umum, Jacob membukakan pintu

  • DINIKAHI CUCU TERBUANG: SUAMIKU TERNYATA PENGUASA DUNIA   Bab 149.

    Daniel tiba-tiba mengulurkan tangan, mencoba menyentuh ujung rambut Jessie, namun Jessie segera menghindar. Mata Daniel berkilat penuh obsesi yang membuat Jessie merinding."Jess, kita sudah bersama bertahun-tahun, bahkan kita adalah teman masa kecil, bukan?” ucap Daniel dengan nada halus yang sangat dibuat-buat. “Aku tahu tatapan matamu. Jacob mungkin punya uang, entah dari mana dia mendapatkannya, tapi dia tidak punya kenangan bersamamu sepertiku. Kamu masih menyukaiku, kan? Kamu belum bisa melupakanku, itulah sebabnya kamu selalu menyerangku dan Cindy."Daniel merendahkan suaranya, mencoba terdengar menggoda namun justru terasa licik bagi Jessie. "Jacob hanyalah pelarian karena kamu merasa aku menyakitimu. Tapi kamu tahu, aku bisa saja kembali padamu jika kamu berhenti bersikap keras kepala.” “Katakan pada Jacob untuk berhenti mencampuri urusanku di Sanjaya, dan aku mungkin akan mempertimbangkan untuk membawamu kembali ke sisiku." imbuhnya mengakhiri ucapannya.Jessie menatap Dani

  • DINIKAHI CUCU TERBUANG: SUAMIKU TERNYATA PENGUASA DUNIA   Bab 148.

    Pagi itu, suasana di depan kantor redaksi mendadak riuh. Sebuah mobil sedan hitam mewah dengan kaca film yang sangat gelap berhenti tepat di depan lobi utama. Kehadiran mobil itu menarik perhatian semua orang karena harganya yang fantastis dan plat nomornya yang menunjukkan status kelas atas.Cindy, yang baru saja turun dari mobil Daniel yang tampak "biasa" dibandingkan mobil itu, menyipitkan mata. Ia berdiri di lobi dengan tangan bersedekap, menatap sinis."Siapa lagi itu? Sombong sekali parkir tepat di depan pintu," gumam Cindy dengan nada iri yang kental.Pintu penumpang terbuka, dan Jessie melangkah keluar. Ia tampak sangat segar dan penuh percaya diri. Jessie sempat berbalik ke arah jendela mobil yang masih tertutup rapat, melambaikan tangan kecil sambil tersenyum manis, sebelum mobil itu perlahan melaju pergi.Cindy mendengus keras dan langsung mencegat Jessie begitu langkah kakinya menyentuh lantai lobi."Wah, wah... hebat sekali ya seleramu, Jessie," cetus Cindy dengan nada

  • DINIKAHI CUCU TERBUANG: SUAMIKU TERNYATA PENGUASA DUNIA   Bab 147.

    BAB 147Setelah ketegangan yang menguras emosi di ruang rapat Gedung Pusat Grup Sanjaya tadi siang, Jacob menjemput Jessie saat jam pulang kantor. Jacob tidak langsung membawa istrinya pulang. Ia membawa Jessie ke sebuah restoran rooftop yang sudah ia pesan secara privat untuk makan malam. Dan kini, mereka tengah duduk di sebuah restoran mewah yang hanya mereka berdua pelanggan yang datang malam ini.Restoran itu terletak di puncak salah satu gedung tertinggi, menyuguhkan pemandangan lampu kota yang berkilauan seperti hamparan berlian di bawah langit malam yang cerah.Pelayan mengantar mereka ke meja yang terletak di sudut paling ikonik, dihiasi dengan lilin-lilin kecil yang menciptakan suasana hangat dan intim."Aku tidak menyangka kita akan makan malam di tempat seperti ini setelah 'perang' tadi pagi," ucap Jessie sambil meletakkan tasnya, matanya berbinar menatap keindahan kota dari ketinggian.Jacob duduk di hadapan Jessie, melonggarkan sedikit dasinya, tindakan yang membuatnya t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status