MasukSetelah pintu kamar ditutup, Jessie membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ia memaksakan diri untuk memejamkan mata. Ia tahu malam ini tidurnya tidak akan nyenyak, kepalanya akan penuh dengan belasan skenario. Tetapi Jessie tahu dirinya butuh istirahat setelah hari yang panjang.
Ketika pagi datang, Jessie membuka mata dengan berat. Ia membawa langkahnya keluar kamar. Anak tangga disusurinya dengan hati-hati, sembari masih mengamati seisi mansion. Tempat ini benar-benar luas.
Jessie kemudian terdiam di ujung tangga, menangkap sosok pria di dapur yang sedang mengenakan celemek hitam, kontras dengan kemeja putihnya yang digulung hingga siku. Itu Jacob.
Jessie merasa canggung. Maka, ia putuskan untuk menyapa saja.
“Jacob?”
Pria itu menoleh, wajahnya datar.
“Sudah bangun?”
Jessie hanya mengangguk pelan.
Ia melihat Jacob mengangkat dua piring yang sudah selesai dari dapur ke atas meja makan yang panjang, tanpa menatapnya. Aroma mentega dan kopi memenuhi ruangan. Cahaya matahari menerobos dari jendela besar, memantul di meja marmer putih.
Jessie menuruni tangga perlahan, masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya. “Kau menyiapkan sarapan sendiri?” tanyanya, mencoba terdengar santai.
Jacob hanya mengangkat bahu, tetap sibuk mengatur sendok dan serbet. “Kadang,” jawabnya singkat.
Jessie duduk di kursi seberang. “Aku tidak tahu kalau kau bisa masak juga.”
Jacob meliriknya sekilas, matanya datar. “Tujuh belas tahun hidup di Singapura membuatku terbiasa melakukan segalanya sendiri.”
Jessie menatap piring di depannya. Omelet lembut dengan potongan asparagus, salmon panggang dengan saus lemon, dan roti sourdough yang baru keluar dari oven. Sarapan khas hotel bintang lima.
Ia mencicipinya pelan. “Lumayan,” gumamnya, mencoba menahan senyum. “Aku tidak menyangka, ternyata rasanya boleh juga.”
Jacob tidak menjawab. Ia hanya duduk dengan punggung tegak, menyantap sarapannya perlahan dan rapi. Jessie menatapnya dalam diam, memperhatikan detail pria itu lagi: rahang tegas, jari-jari panjang yang menggenggam gelas kopi, dan ekspresi wajah yang seolah tidak akan pernah berubah.
Jessie mencuri pandang beberapa kali. Ia memperhatikan bagaimana Jacob menyesap kopinya, bagaimana cara ia bicara, dan bahkan bagaimana pandangan matanya yang terlihat kosong.
Dalam hati, Jessie masih berpikir. Apakah keputusan menikahi pria ini adalah keputusan yang tepat?
Hening menyelimuti mereka beberapa menit. Hanya terdengar denting sendok dan napas yang berirama. Jessie mulai merasa canggung, tapi sebelum ia sempat bicara, Jacob meletakkan sendoknya dan mengeluarkan sesuatu dari saku kemejanya.
Kartu kredit berwarna hitam pekat dengan ukiran nama ‘Jacob Sanjaya’.
Ia menggeser kartu itu ke arah Jessie tanpa ekspresi.
Jessie mengerutkan kening. “Apa ini?”
“Kau tidak pernah lihat kartu kredit?” tanya Jacob, nadanya setengah mengejek tapi tetap datar.
“Tahu,” Jessie memutar matanya kecil, “tapi untuk apa ini?”
“Untukmu,” jawabnya singkat.
Jessie menghela napas panjang, antara bingung dan jengkel. “Jacob, aku masih bisa mencukupi kebutuhanku sendiri. Kau tidak perlu repot-repot.” Ia menggeser kartu itu kembali ke arah Jacob, tapi pria itu tidak bergeming.
Jacob menatap Jessie, kali ini lebih lama. Tatapannya dingin.
“Pakai saja,” pintanya. “Beli apa pun yang kau butuhkan. Anggap ini… pemberian seorang suami pada istrinya.”
Kata suami terucap dengan nada ringan tanpa cela, tapi masih terasa asing di telinga Jessie.
Ia menatap kartu itu lagi, menimbang-nimbang.
Apa lagi yang akan direncanakan pria ini? Tindakannya pasti selalu memiliki maksud lain.
Saat Jessie membuka mulut hendak menolak lagi, Jacob sudah lebih dulu menimpali. “Ah, satu hal lagi. Tolong belikan sepasang cincin pernikahan baru.”
Jessie terdiam sesaat sebelum menjawab lagi. “Untuk apa?”
Mata Jacob tertuju pada cincin yang ada di jari manis Jessie, yang ia sematkan di atas altar kemarin. “Cincin itu nampaknya tidak cocok dengan seleramu.”
Ditunjukkan seperti itu membuat dahi Jessie mengerut heran. Ia lantas ikut memerhatikan cincin miliknya. Memang, kala itu Daniel mempersiapkannya bahkan tanpa persetujuannya. Jadi, Jessie tidak bisa memilih cincin cantik yang sesuai dengan seleranya.
Hatinya cukup tersentuh dengan perkataan Jacob tadi. Cincin yang dikenakannya memang terasa asing, ditambah kenangan buruk yang dilakukan mantan tunangannya dulu. Jessie juga ingin memiliki cincin yang baru.
“Lagipula,” Jacob melanjutkan disela-sela lamunan Jessie. “Ukuran cincin mempelai pria tidak pas denganku. Aku tidak bisa memakainya.”
Jessie mengangguk sebelum pada akhirnya mengambil kartu itu. “Baiklah, aku terima kartu ini,” katanya pelan. “Dan akan kubelikan sepasang cincin baru.” ujar Jessie sambil melepaskan cincin lama dari jari manisnya.
Jacob hanya mengangguk tipis.
“Oh, ya, Jacob,” panggil Jessie. “Apa ada gaya tertentu yang kamu mau untuk cincinnya?”
“Tidak ada,” jawab Jacob hampir tak terjeda. “Pilih sesuai seleramu, yang kamu sukai.”
Jessie tertegun mendengarnya. Ia menyukai kalimat yang baru saja didengarnya. Tidak ada tuntutan di dalam sana, Jessie seolah memiliki pilihan untuk pertama kali.
Tanpa disadari, sudut-sudut bibir Jessie terangkat. Ada hangat sesaat yang menyeruak dari perhatian kecil yang ia dapatkan.
Di hadapannya, pria itu hanya menatap Jessie.
Setelah beberapa saat, Jacob meletakkan gelas kopinya dan berkata tanpa menatapnya, “Hari ini kau mau ke kantor?”
Jessie mengangguk pelan. “Ya. Ada agenda pagi.”
Jacob berdiri, merapikan lengan kemejanya. “Ada sopir yang akan mengantarmu.”
Ia mendongak, menatap Jacob dengan sedikit terkejut. “Tidak perlu. Aku bisa menyetir sendiri. Sudah biasa.”
Jacob berhenti sejenak, lalu mengangguk. “Baiklah. Tapi kamu bisa beritahu aku jika butuh sesuatu.”
Tidak ada raut kecewa atau keberatan dari wajahnya. Ekspresinya tetap datar setelah itu. Jessie hanya mengangguk membalasnya.
Sebetulnya, Jessie cukup kebingungan dengan tingkah laku Jacob. Perlakuannya bisa saja ia sebut manis, namun kadang pria itu benar-benar tidak terbaca.
Jacob pun beranjak dari meja makan menuju ruang kerja. Jessie pun menatap punggung Jacob yang menjauh, tubuh tinggi itu bergerak tenang.
Saat Jessie menatap kartu kredit di tangannya, ia tersenyum samar. “Aneh,” gumamnya, “bahkan ketika mencoba bersikap baik, dia tetap dingin.”
Jessie pun membereskan sarapannya dan bersiap untuk berangkat ke kantor. Cepat-cepat ia berkemas, memastikan barang bawaan tidak ada yang tertinggal. Blouse putih dengan sepasang celana senada dipilihnya untuk ke kantor hari ini.
Jessie memandangi pantulan dirinya di dalam cermin sebelum berangkat pergi.
Ia ingat akan ada wawancara dengan seseorang yang penting hari ini. Ucapan atasannya minggu lalu tentang orang ini terngiang di telinga Jessie. “Orang ini belum pernah muncul ke publik, Jessie! Ini kali pertama! Artikel berita ini akan membawa keuntungan bagi media kita nantinya,” begitu kata bos Jessie.
Sebetulnya, Jessie sedikit penasaran. Ia beberapa kali mewawancarai orang penting, namun sebelumnya orang-orang itu sudah ia ketahui, entah dari berita lain, atau acara di televisi. Namun orang yang akan diwawancarainya hari ini katanya belum pernah muncul ke publik, ini membuat Jessie bertanya-tanya. Jessie hanya tahu bahwa orang tersebut adalah seorang CEO dari perusahaan besar di kota.
Jessie pun mengendarai mobil dengan hati-hati dan ia memilih untuk parkir di depan gedung. Alamat tempat ini diberikan oleh atasannya minggu lalu. Begitu keluar dari mobil, Jessie menatap gedung tinggi mewah yang menjulang di hadapannya. Orang itu pasti benar-benar orang yang hebat, batinnya.
Sesampainya di sana, Jessie melihat sahabatnya melambaikan tangan dan berjalan menghampirinya. “Pagi, Cindy!” sapa Jessie ramah.
“Pagi, Jessie. Sudah siapkan pertanyaan untuk wawancara nanti?”
“Aku sudah mempersiapkannya dari minggu lalu, Cindy. Pak Bos juga sudah setuju. Aku sedikit penasaran dengan orang ini.”
“Aku juga! Omong-omong, bagaimana pernikahanmu kemarin? Pasti keluargamu mengacaukannya, ya? Mereka ‘kan selalu begitu!” Cindy bersungut-sungut.
Malam itu, setelah Jessie terlelap lebih dulu karena kelelahan pindah kamar, Jacob duduk di ruang kerjanya yang hanya diterangi lampu meja temaram. Ponselnya bergetar di atas meja kayu jati yang kokoh. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Andi, tangan kanannya yang paling tepercaya.Andi: "Tuan, saya baru saja mengirimkan file video dari lokasi proyek Lakeside."Jacob mengklik file video tersebut. Layar ponselnya menampilkan rekaman berkualitas tinggi yang diambil secara sembunyi-sembunyi dari jarak aman. Di sana, ia melihat Daniel dengan pakaian mahalnya berdiri di depan kerumunan warga yang tampak lusuh dan putus asa.Suara Daniel terdengar sangat jernih dalam rekaman itu: "Setiap menit kalian berdiri di sini, kalian menghambat pembangunan aset Sanjaya yang nilainya ribuan kali lipat dari harga diri kalian!"Melihat Daniel yang memerintahkan pengawalnya untuk bertindak kasar pada warga, sudut bibir Jacob terangkat. Matanya yang gelap berkilat puas. Daniel baru saja melakukan kesalah
Pagi itu, matahari bersinar terik di lokasi proyek Lakeside, tempat yang menjadi penentuan nasib posisi Daniel di Grup Sanjaya. Daniel turun dari mobilnya dengan kacamata hitam bertengger di hidung, didampingi oleh beberapa pengawal dan asisten pribadinya. Ia berjalan dengan langkah angkuh, seolah setiap jengkal tanah yang ia injak sudah sepenuhnya tunduk di bawah kekuasaannya.Namun, pemandangan di depan gerbang utama proyek tidak seperti yang ia bayangkan. Alih-alih para pekerja yang sibuk, ia justru disambut oleh kerumunan warga yang membawa spanduk-spanduk lusuh namun penuh amarah."Bayar hak kami! Jangan rampas tanah warisan kami!" teriak salah seorang warga yang berdiri paling depan.Daniel menghentikan langkahnya, raut wajahnya berubah seketika menjadi dingin dan merendahkan. Ia melepas kacamata hitamnya dengan gerakan dramatis."Apa-apaan ini?" tanya Daniel pada mandor proyek yang menghampirinya dengan wajah pucat. "Kenapa orang-orang kumuh ini ada di lokasi proyekku? Usir m
Sementara itu, beberapa saat setelah Daniel meninggalkannya kembali sendirian, Jessie melangkah keluar dari lobi kantor dengan bahu yang tampak tegang. Kata-kata Daniel masih terngiang di telinganya seperti kaset rusak yang memuakkan. Ia merasa udara di dalam gedung itu tiba-tiba menjadi sangat sesak. Namun, begitu matanya menatap ke arah gerbang depan, napasnya perlahan mulai teratur.Di sana, bersandar pada pintu mobil sedan hitam mewah yang mengkilap di bawah lampu jalan, Jacob berdiri menunggunya. Sosoknya yang jangkung dan tenang memberikan kontras tajam dengan hiruk pikuk kota. Mata Jacob langsung tertuju pada pintu keluar, seolah ia memang sudah menghitung detik kepulangan istrinya.Jacob segera menegakkan tubuh saat melihat Jessie mendekat. Ia tidak perlu menjadi ahli ekspresi untuk menyadari ada yang salah. Sudut bibir Jessie yang kaku dan binar matanya yang redup sudah cukup menjadi jawaban bagi Jacob.Tanpa bertanya sepatah kata pun di depan umum, Jacob membukakan pintu
Daniel tiba-tiba mengulurkan tangan, mencoba menyentuh ujung rambut Jessie, namun Jessie segera menghindar. Mata Daniel berkilat penuh obsesi yang membuat Jessie merinding."Jess, kita sudah bersama bertahun-tahun, bahkan kita adalah teman masa kecil, bukan?” ucap Daniel dengan nada halus yang sangat dibuat-buat. “Aku tahu tatapan matamu. Jacob mungkin punya uang, entah dari mana dia mendapatkannya, tapi dia tidak punya kenangan bersamamu sepertiku. Kamu masih menyukaiku, kan? Kamu belum bisa melupakanku, itulah sebabnya kamu selalu menyerangku dan Cindy."Daniel merendahkan suaranya, mencoba terdengar menggoda namun justru terasa licik bagi Jessie. "Jacob hanyalah pelarian karena kamu merasa aku menyakitimu. Tapi kamu tahu, aku bisa saja kembali padamu jika kamu berhenti bersikap keras kepala.” “Katakan pada Jacob untuk berhenti mencampuri urusanku di Sanjaya, dan aku mungkin akan mempertimbangkan untuk membawamu kembali ke sisiku." imbuhnya mengakhiri ucapannya.Jessie menatap Dani
Pagi itu, suasana di depan kantor redaksi mendadak riuh. Sebuah mobil sedan hitam mewah dengan kaca film yang sangat gelap berhenti tepat di depan lobi utama. Kehadiran mobil itu menarik perhatian semua orang karena harganya yang fantastis dan plat nomornya yang menunjukkan status kelas atas.Cindy, yang baru saja turun dari mobil Daniel yang tampak "biasa" dibandingkan mobil itu, menyipitkan mata. Ia berdiri di lobi dengan tangan bersedekap, menatap sinis."Siapa lagi itu? Sombong sekali parkir tepat di depan pintu," gumam Cindy dengan nada iri yang kental.Pintu penumpang terbuka, dan Jessie melangkah keluar. Ia tampak sangat segar dan penuh percaya diri. Jessie sempat berbalik ke arah jendela mobil yang masih tertutup rapat, melambaikan tangan kecil sambil tersenyum manis, sebelum mobil itu perlahan melaju pergi.Cindy mendengus keras dan langsung mencegat Jessie begitu langkah kakinya menyentuh lantai lobi."Wah, wah... hebat sekali ya seleramu, Jessie," cetus Cindy dengan nada
BAB 147Setelah ketegangan yang menguras emosi di ruang rapat Gedung Pusat Grup Sanjaya tadi siang, Jacob menjemput Jessie saat jam pulang kantor. Jacob tidak langsung membawa istrinya pulang. Ia membawa Jessie ke sebuah restoran rooftop yang sudah ia pesan secara privat untuk makan malam. Dan kini, mereka tengah duduk di sebuah restoran mewah yang hanya mereka berdua pelanggan yang datang malam ini.Restoran itu terletak di puncak salah satu gedung tertinggi, menyuguhkan pemandangan lampu kota yang berkilauan seperti hamparan berlian di bawah langit malam yang cerah.Pelayan mengantar mereka ke meja yang terletak di sudut paling ikonik, dihiasi dengan lilin-lilin kecil yang menciptakan suasana hangat dan intim."Aku tidak menyangka kita akan makan malam di tempat seperti ini setelah 'perang' tadi pagi," ucap Jessie sambil meletakkan tasnya, matanya berbinar menatap keindahan kota dari ketinggian.Jacob duduk di hadapan Jessie, melonggarkan sedikit dasinya, tindakan yang membuatnya t







