Home / Romansa / DIPTA / BAB 108 Kerja Sama

Share

BAB 108 Kerja Sama

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-06-20 22:23:11

Pagi di Rajendra Engineering berjalan seperti biasa. Aira datang dengan langkah yang lebih tenang dibanding beberapa hari sebelumnya. Efek perjalanan luar kota masih terasa di tubuhnya, tapi pikirannya justru yang lebih sibuk.

Semalam, pagi tadi dan sekarang, semuanya seperti nyambung tapi juga bikin dia bingung sendiri. Ia duduk di kursinya, membuka laptop, mencoba fokus pada pekerjaan. Tapi sesekali pandangannya tanpa sadar melirik ke arah ruang kerja Dipta.

“Kenapa sih aku jadi mikir ane
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DIPTA   BAB 109 Andalas Energi

    Ruang direktur di Aurelis Global Holdings kembali hening setelah semua duduk di posisi masing-masing. Dokumen kerja sama kini terbuka di meja, berbeda dengan sebelumnya. Kali ini bukan sekadar pembahasan umum, ini masuk ke inti. Arjito Rajendra duduk tenang, jemarinya menyentuh ujung dokumen. Tatapannya turun, membaca perlahan. Tidak terburu-buru. Di seberangnya, ayah Andine menunggu dengan ekspresi yakin. Sementara Andine duduk sedikit di samping, sesekali melirik ke arah Aira. Dan Aira duduk di samping Dipta mencatat sekaligus juga memperhatikan. Dia tahu, kalau ayahnya sudah diam seperti itu artinya sedang “mencari sesuatu”. Beberapa menit berlalu, tidak ada yang bicara. Hanya suara halaman dokumen yang dibalik. “Bagian ini." Suara Arjito akhirnya keluar dengan tenang dan datar namun langsung membuat suasana berubah. Semua fokus ke arahnya. Ia menunjuk satu halaman. “Permintaan suntikan dana tahap awal.” Ayah Andine langsung menjawab, “Itu untuk percepatan distribusi awal,

  • DIPTA   BAB 108 Kerja Sama

    Pagi di Rajendra Engineering berjalan seperti biasa. Aira datang dengan langkah yang lebih tenang dibanding beberapa hari sebelumnya. Efek perjalanan luar kota masih terasa di tubuhnya, tapi pikirannya justru yang lebih sibuk. Semalam, pagi tadi dan sekarang, semuanya seperti nyambung tapi juga bikin dia bingung sendiri. Ia duduk di kursinya, membuka laptop, mencoba fokus pada pekerjaan. Tapi sesekali pandangannya tanpa sadar melirik ke arah ruang kerja Dipta. “Kenapa sih aku jadi mikir aneh-aneh gini…” gumamnya pelan. Ia menggeleng kecil, lalu mulai membuka dokumen hari ini, belum sampai lima menit. “Selamat pagi, Aira." suara itu. Aira langsung berhenti mengetik. Pelan-pelan ia menoleh dan benar saja. Andine berdiri di sana, dengan senyum yang rapi dan ekspresi yang seolah tidak punya masalah apa pun. Aira menarik napas kecil, lalu membalas dengan sopan. “Pagi, Bu.” Andine melangkah mendekat, melirik layar laptop Aira sekilas. “Kamu cepat juga ya masuknya” ucapnya santai.

  • DIPTA   BAB 107 Rutinitas Seperti Biasa

    Pagi hari datang lebih cepat dari biasanya. Cahaya matahari masuk dari celah tirai kamar Aira. Ia sudah bangun lebih dulu, duduk di tepi kasur dan menatap kosong ke depan. Pikirannya masih belum benar-benar tenang tentang parfum, pesan dan kalimat Dipta semalam. “Dari dulu…” Aira menghela napas panjang. “Udahah … fokus kerja.” Ia berdiri lalu masuk ke kamar mandi dan merapikan diri. Hari ini bukan hari untuk overthinking, hari ini hari kerja. Di sisi lain, Dipta sudah siap lebih dulu seperti biasa selalu rapi, kemeja tersusun sempurna dan jam tangan itu masih melingkar di pergelangan tangannya, tidak berubah. Ketika mereka bertemu di luar kamar, hening sebentar. “Pagi, Pak.” sapa Aira. “Pagi.” Nada suara tetap normal dan profesional, seolah tidak ada yang terjadi semalam dan mungkin itu yang mereka butuhkan sekarang adalah jarak sementara. Mereka berangkat menuju lokasi proyek. Hari ini bukan meeting meja lagi, tapi langsung ke lapangan. Area distribusi yang menjadi inti k

  • DIPTA   BAB 106 Peringatan dari Andine

    Mobil tetap melaju dengan tenang, tidak ada yang mengejar dan tidak ada yang mencurigakan lagi di kaca spion. Seolah semuanya biasa saja tapi justru itu yang bikin Aira tidak bisa benar-benar santai. Ia menyandarkan kepalanya ke kursi. Matanya melihat ke luar jendela. Lampu-lampu kota mulai menyala. “Cuma diawasin…” gumamnya pelan dalam hati. “…tapi kenapa rasanya nggak enak.” Di sampingnya, Dipta tetap fokus menyetir dengan tenang seperti tidak ada apa-apa dan itu sedikit banyak bikin Aira kesal. “Bapak kok bisa setenang itu sih…” Aira akhirnya bicara. Dipta melirik sekilas. “Harusnya bagaimana?” “Ya… minimal kesel kek…” protes Aira. Dipta kembali ke jalan. “Untuk apa?” Aira langsung menoleh. “Ya karena… kita diikutin?” “Tidak diikutin.” jawab Dipta cepat Aira ingin menjelaskan lagi. “Tadi—” “Dipantau.” Dipta memotong, nada suaranya tetap datar. “Jadi itu dua hal berbeda.” Aira mengernyit. “Beda gimana?” Dipta menjawab santai. “Kalau diikutin, itu ancaman. Kalau dipanta

  • DIPTA   BAB 105 Di Buntuti

    Aira mencoba melanjutkan makannya, sendok kembali bergerak. Roti diambil, jus diminum, tidak ada yang benar-benar masuk. Fokusnya sudah hilang, matanya memang ke piring tapi pikirannya ke satu titik yang sama memandang jam tangan itu. “Masih dipakai…” Kalimatnya sendiri terulang. Dan jawaban Dipta terlalu sederhana. “Iya... kenapa cuma ‘iya’ sih…” gumamnya dalam hati. Aira menarik napas pelan. Berusaha mengalihkan pikirannya. “Ya mungkin… ya biasa aja…” dia mencoba rasional. “…mungkin emang dia suka modelnya…natau ya… kebetulan aja masih kepakai…” Masuk akal, harusnya masuk akal, kenapa rasanya tidak sesederhana itu? Aira tanpa sadar kembali melirik. Pergelangan tangan itu masih di sana, tenang dan tidak berubah. Dan justru itu, yang membuatnya semakin tidak tenang. “Kalau cuma kebetulan…” “…harusnya udah ganti…” Dia mengerutkan kening sedikit. “…orang kayak dim, jam tangan pasti banyak…” Fakta, Dipta bukan tipe orang yang kekurangan pilihan. Jadi kenapa itu? Kenapa yang itu?

  • DIPTA   BAB 104 Canggung

    Pintu kamar tertutup pelan. ‘Klik.’ Aira bersandar beberapa detik di balik pintu. Tangannya masih menggenggam handle pintu, seolah belum benar-benar siap melepas momen barusan. “Kenapa sih aku ngomong sejauh itu…" gumamnya pelan. Ia menghela napas panjang, lalu akhirnya melepas tangannya dan melangkah masuk lebih dalam ke kamar. Ruangan itu rapi. Lampu hangat menyala lembut. Semua terlihat biasa saja, tapi kepalanya tidak. Aira berjalan ke arah tempat tidur, duduk di tepi ranjang, lalu menatap kosong ke depan. Pikirannya masih di luar di percakapan tad, di pertanyaan Dipta. “Kenapa kamu nggak bilang waktu itu?” Aira menunduk pelan. Tangannya saling menggenggam. “Aku udah bilang…” gumamnya sangat pelan. Bahkan hampir tidak terdengar dia bilang dan dia tidak benar-benar diam. Dia tidak benar-benar pergi tanpa jejak dan dia tetap memberikan. Kado itu, surat itu, foto itu. Hanya saja yang tidak pernah dia siapkan adalah keberanian untuk melihat reaksinya. Aira menarik napas d

  • DIPTA   BAB 32 Rutinitas Sekolah dan Masa Lalu

    Bel istirahat baru saja berbunyi. Kantin sekolah sudah mulai ramai oleh suara siswa yang saling bercakap. Aira duduk di salah satu meja bersama Nadhira dan Lestari. Nadhira sedang bercerita tentang guru matematika mereka yang tiba-tiba memberi kuis dadakan pagi tadi.“…terus dia bilang ini cuma lat

  • DIPTA   BAB 29 Rania dan Meyakinkan Posisi

    Pagi itu terasa berbeda bagi Aira, bukan karena cuaca dan bukan karena jadwal pelajaran, tapi karena sejak membuka mata, ada satu wajah yang langsung muncul di kepalanya, Dipta. Aira berdiri di depan cermin kamar, merapikan rambutnya. Tangannya sempat berhenti beberapa detik ketika bayangan semalam

  • DIPTA   BAB 28 Sesi Belajar dan Kedekatan Yang Meningkat

    Hening menyelimuti apartemen. Lampu kuning lembut dari plafon menyorot ke meja belajar mereka. Aira duduk di kursi, buku catatan dan pulpen di tangan, tapi matanya tak lepas dari Dipta. Dipta berdiri di dekat papan tulis, menunjukkan diagram anatomi tubuh manusia. Tapi jaraknya kini lebih dekat dar

  • DIPTA   BAB 23 Keputusan dan Status

    Pintu apartemen terbuka bahkan sebelum Aira sempat mengetuk dua kali. Dipta sudah berdiri di sana, kaus hitam polos dan celana training abu-abu, rambutnya sedikit basah seperti baru selesai mandi. “Cepat banget bukanya”, Aira mengangkat alis. “Kebetulan lagi di dekat pintu”, jawabnya ringan. Pada

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status