Home / Romansa / DIPTA / BAB 68 Rencana Menuju Satu Titik

Share

BAB 68 Rencana Menuju Satu Titik

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-05-02 23:47:22

Malam di apartemen Singapura terasa lebih tenang dari biasanya. Humaira Navya Aruna duduk di ruang tamu, berhadapan dengan dua orang paling penting dalam hidupnya sekarang, Arjito Rajendra dan Linda.

Di meja kecil itu hanya ada teh yang sudah mulai dingin. Namun percakapan yang akan terjadi tidak akan sesederhana minuman itu.

Aira menunduk sebentar. Jarinya saling bertaut, lalu ia menarik napas panjang. “Ayah… Ibu…”

Arjito langsung menatapnya. “Kenapa?”

Aira diam sebentar, lalu mengangk
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DIPTA   BAB 188 Sebelum Jamuan

    Setelah memastikan seluruh persiapan utama berjalan sesuai rencana, Dipta akhirnya meminta koordinator acara melanjutkan pemeriksaan tanpa perlu menunggu dirinya. Beberapa hal memang masih harus diselesaikan, tetapi ia sudah menerima laporan bahwa semuanya berada dalam kendali tim penyelenggara. Pihak hotel juga telah menempatkan seorang penanggung jawab khusus yang akan menghubunginya apabila ada perubahan atau kendala menjelang acara malam nanti.Sementara itu, Aira masih berdiri tidak jauh dari meja penerima tamu. Ia sedang berbincang singkat dengan salah seorang staf perempuan yang bertanggung jawab atas susunan tempat duduk. Sesekali ia menunjuk daftar yang dipegang staf tersebut, memastikan beberapa nama tamu ditempatkan sesuai dengan posisi dan hubungan mereka dengan perusahaan. Setelah selesai, Aira mengembalikan daftar itu dan mengucapkan terima kasih sebelum menghampiri Dipta.Laki-laki itu sedang memeriksa pesan di ponselnya. Begitu melihat Aira datang, ia memasukkan ponsel

  • DIPTA   BAB 187 Sebelum Jamuan

    Sejak pagi, Hotel Arunika Grand Jakarta sudah disibukkan dengan berbagai persiapan untuk perjamuan yang akan diselenggarakan oleh Rajendra Engineering malam nanti. Hotel berbintang lima itu memiliki ballroom luas dengan langit-langit tinggi, lampu kristal yang menggantung megah, serta area lobi yang didominasi perpaduan marmer dan ornamen kayu berwarna hangat. Sejumlah staf hotel, tim penyelenggara dari Rajendra Engineering, dekorator, hingga kru dokumentasi terlihat bergerak ke berbagai sudut ruangan. Mereka memastikan setiap detail telah sesuai dengan rancangan yang disepakati, mulai dari penataan meja bundar, dekorasi bunga, pencahayaan panggung, layar LED, hingga perangkat audio yang akan digunakan selama acara berlangsung.Sebenarnya, persiapan utama sudah dilakukan sejak kemarin. Ballroom telah ditata, panggung utama berdiri di bagian depan, sementara meja-meja tamu disusun dengan jarak yang cukup agar para undangan dapat bergerak dengan leluasa. Hari ini hanya tinggal tahap pen

  • DIPTA   BAB 186 Keinginan Dipta

    Persiapan untuk acara perjamuan terus berjalan seiring dengan penanganan masalah Priska dan Rania yang belum sepenuhnya selesai. Tim penyelenggara mulai memastikan seluruh kebutuhan acara, mulai dari penataan ruangan, susunan meja tamu, pencahayaan, perangkat audio, hingga urutan acara yang akan berlangsung pada malam perjamuan. Undangan telah disebarkan kepada para pemegang saham, mitra bisnis, jajaran direksi, serta sejumlah tokoh yang memiliki hubungan penting dengan Rajendra Engineering. Dipta sendiri turut memastikan beberapa nama masuk dalam daftar undangan, termasuk Rendra Wijaya, suami Sania, perempuan yang pernah memiliki hubungan dengannya di masa lalu. Kehadiran Rendra dan Sania memang bukan sesuatu yang perlu dihindari. Bagi Dipta, masa lalu sudah selesai dan tidak ada alasan untuk mengecualikan seseorang hanya karena pernah ada cerita yang tidak menyenangkan di antara mereka.Hari demi hari berlalu, hingga akhirnya tiba malam sebelum acara perjamuan diselenggarakan. Segal

  • DIPTA   BAB 185 Kenapa harus Aira?

    Sore harinya, Rania akhirnya tiba di apartemennya setelah melewati perjalanan pulang yang terasa lebih panjang daripada biasanya. Begitu memasuki unit tempat tinggalnya, ia meletakkan tas di atas sofa ruang tengah, kemudian melepas sepatu hak tingginya dengan gerakan yang sedikit kasar. Kakinya terasa pegal setelah seharian berada di kantor, tetapi bukan itu yang membuat suasana hatinya begitu buruk. Sejak pertemuannya dengan Aira tadi, pikirannya terus dipenuhi berbagai hal yang sulit ia singkirkan.Ia berjalan menuju dapur, mengambil segelas air putih, lalu meneguknya beberapa kali sebelum kembali ke ruang tengah. Setelah itu, ia menjatuhkan tubuh ke sofa dan menyandarkan kepala. Matanya tertuju pada langit-langit apartemen yang diterangi cahaya matahari sore dari balik jendela kaca. Ruangan itu terasa begitu sunyi, hanya terdengar samar suara kendaraan dari jalan raya di bawah gedung.Rania mengembuskan napas panjang. Jujur saja, ia benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang ter

  • DIPTA   BAB 184 Teringat Masa Lalu

    Setelah meninggalkan pantry, Aira kembali menyusuri lorong menuju ruang kerjanya. Langkahnya cukup cepat, meskipun sesekali ia harus menepi untuk memberi jalan kepada karyawan lain yang melintas. Pertemuan singkat dengan Rania tadi ternyata meninggalkan rasa kesal yang belum sepenuhnya reda. Bukan karena perkataan perempuan itu berhasil melukai harga dirinya, melainkan karena Aira merasa urusannya sendiri sudah cukup banyak tanpa harus kembali berhadapan dengan seseorang yang terus-menerus menjadikannya sasaran kemarahan.Sesampainya di ruang kerja, Aira mendorong pintu hingga terbuka, kemudian masuk dan menutupnya kembali. Ia meletakkan cangkir teh yang dibawanya dari pantry di atas meja, menarik kursi, lalu menjatuhkan tubuhnya ke sana dengan embusan napas panjang.Beberapa detik ia hanya bersandar, menatap langit-langit ruangan sambil mencoba mengendurkan ketegangan di bahunya. Namun, semakin ia berusaha mengabaikan pertemuan tadi, semakin jelas pula wajah Rania terbayang dalam pik

  • DIPTA   BAB 183 Dua Wanita, Satu Masa Lalu

    Rania, perempuan itu berdiri beberapa langkah darinya dengan wajah yang sulit diartikan. Penampilannya masih rapi, tetapi ada sesuatu pada sorot matanya yang berbeda dari biasanya. Ketegangan terlihat jelas di sekitar rahangnya, sementara kedua tangannya mengepal sesaat sebelum kembali terurai. Sepertinya ia baru saja menyelesaikan urusan yang berkaitan dengan pemeriksaan internal perusahaan. Aira sempat mengangguk kecil sebagai bentuk sapaan seperlunya. Ia berniat melanjutkan langkah, sebab tidak ada alasan baginya untuk menghentikan pekerjaan hanya demi berbasa-basi dengan seseorang yang sedang berurusan dengan tim pemeriksa. Namun, suara Rania lebih dahulu menahannya. "Gimana? Puas kamu sekarang? Namaku sudah jelek, dan sebentar lagi hidupku hancur." Aira menoleh. Ia sempat mengerutkan kening, memastikan perempuan itu memang sedang berbicara kepadanya. Setelah beberapa detik, ia mengangkat alis dengan ekspresi yang justru membuat Rania semakin kesal. "Kamu bicara sama aku?" Ran

  • DIPTA   BAB 7 Perhatian

    Pagi itu, udara di SMA terasa hangat, tapi tidak menusuk. Cahaya matahari menembus jendela kelas XI IPA 2, menyorot buku catatan Aira yang rapi. Ia duduk di bangku dekat jendela, mencoba fokus pada pelajaran Biologi. Tapi pikirannya sering melayang ke seseorang yang ia lihat beberapa kali dalam beb

  • DIPTA   BAB 6 Chemistry dan Konflik kecil

    Hari itu, Dipta duduk di kelas XII IPS 1 sambil membaca catatan ekonomi. Tapi matanya tidak sepenuhnya fokus pada buku, tatapannya sesekali tertuju ke kelas XI IPA 2, tepatnya ke Aira yang sedang menulis catatan di meja dekat jendela.“Hmm… berbeda dari yang lain", pikirnya dalam hati.Bukan karena

  • DIPTA   BAB 2 Mata Yang Mengamati

    Di kelas dekat sisi lapangan, suasana pagi begitu hidup. Beberapa murid masih asyik mengobrol, ada yang menatap papan tulis dengan serius didalam kelas, ada yang memainkan pulpen sambil setengah mengantuk saat berjalan. Di salah satu sisinya, empat murid Angger, Bayu, Raka, dan David duduk berdampi

  • DIPTA   BAB 1 Hari Pertama Humaira

    Humaira Navya Aruna atau biasa akrab dipanggil Aira menatap halaman depan sekolah baru itu dengan mata berbinar campur gugup. Gedung tinggi, cat krem yang rapi, kaca-kaca besar memantulkan cahaya pagi yang lembut. Semua terlihat begitu megah, berbeda dari sekolah lamanya yang sederhana. Jalan setap

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status