Home / Romansa / DIPTA / BAB 68 Rencana Menuju Satu Titik

Share

BAB 68 Rencana Menuju Satu Titik

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-05-02 23:47:22

Malam di apartemen Singapura terasa lebih tenang dari biasanya. Humaira Navya Aruna duduk di ruang tamu, berhadapan dengan dua orang paling penting dalam hidupnya sekarang, Arjito Rajendra dan Linda.

Di meja kecil itu hanya ada teh yang sudah mulai dingin. Namun percakapan yang akan terjadi tidak akan sesederhana minuman itu.

Aira menunduk sebentar. Jarinya saling bertaut, lalu ia menarik napas panjang. “Ayah… Ibu…”

Arjito langsung menatapnya. “Kenapa?”

Aira diam sebentar, lalu mengangk
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DIPTA   BAB 70 Bertemu Lagi

    Pagi tiba, di Rajendra Engineering, suasana lobby sudah mulai ramai. Aira datang lebih awal dari jam kerja, bajunya rapi, rambut diikat sederhana. Tangannya memegang ID card sementara yang baru diberikan security. “Bu Aira, nanti akan diantar ke lantai CEO ya” kata resepsionis. Aira mengangguk. “CEO…” Ia masih berpikir biasa saja. Di kepalanya, yang ia bayangkan tetap sosok lama, Iskandar Hadikusuma bukan siapa pun selain itu. Lift naik, angka lantai terus berubah. Aira berdiri diam di samping seorang staf HR yang mengantarnya. “Bu Aira akan langsung bertemu Pak CEO ya” kata staf itu santai. Aira mengangguk. “Baik.” Tidak ada firasat apa pun, lift berhenti. Pintu terbuka, lorong kantor menuju ruangan CEO terlihat lebih tenang dari lantai lain, lebih sunyi dan lebih dingin. Mereka berhenti di depan satu pintu besar kaca buram. “Silakan masuk” kata staf HR. Aira mengangguk. “Terima kasih.” Lalu ia masuk sendiri. Ruangan itu luas, minimalis dan rapi. Di belakang meja besar, sese

  • DIPTA   BAB 69 Interview

    Di sisi lain, kehidupan Dipta berjalan dengan ritme yang terlihat rapi di luar, tapi tidak pernah benar-benar tenang di dalam. Setiap satu bulan sekali, selalu ada kiriman yang datang. Bukan pesan panjang dan percakapan, hanya satu hal yang selalu sama, sebuah foto. Di ruang kerjanya di Jakarta, Dipta duduk sendirian malam itu. Lampu meja menyala redup, laptop terbuka, tapi tidak benar-benar ia lihat. Di tangannya sudah ada amplop kecil yang baru saja diterima. Tanpa nama pengirim dan penjelasan, hanya rutinitas yang sudah ia kenal sejak lama. Ia membuka perlahan, satu foto, lalu satu lagi, foto Askara. Dipta menatap lama, tidak hanya sekadar melihat, seperti sedang mencari sesuatu di dalam wajah kecil itu. Dari bulan ke bulan, perubahan itu makin jelas. Dulu foto pertama bayi kecil yang rapuh, sekarang anak itu sudah bisa duduk tegak, lalu berdiri, lalu mulai berlari kecil. Dan yang paling membuat Dipta diam lebih lama setiap kali melihatnya adalah satu hal, wajah itu. Semakin be

  • DIPTA   BAB 68 Rencana Menuju Satu Titik

    Malam di apartemen Singapura terasa lebih tenang dari biasanya. Humaira Navya Aruna duduk di ruang tamu, berhadapan dengan dua orang paling penting dalam hidupnya sekarang, Arjito Rajendra dan Linda. Di meja kecil itu hanya ada teh yang sudah mulai dingin. Namun percakapan yang akan terjadi tidak akan sesederhana minuman itu. Aira menunduk sebentar. Jarinya saling bertaut, lalu ia menarik napas panjang. “Ayah… Ibu…” Arjito langsung menatapnya. “Kenapa?” Aira diam sebentar, lalu mengangkat wajahnya. “Aku mau balik ke Indonesia.” Linda langsung menoleh cepat. “Balik? Maksudnya kamu mau tinggal di sana?” Aira mengangguk pelan. “Iya.” Arjito tidak langsung bereaksi, meski matanya sudah berubah lebih waspada. “Kamu sudah pikirkan ini matang?” Aira mengangguk lagi. “Aku sudah lama mikir.” Linda menghela napas pelan. “Aira… kamu baru mulai stabil lagi. Kuliahmu juga belum lama selesai. Hidup kamu di sini sudah aman.” Aira menatap ibunya. “Aku nggak mau selamanya aman, Bu.

  • DIPTA   BAB 67 Rajendra Engineering

    Setelah percakapan itu, semuanya bergerak lebih cepat dari yang terlihat. Tidak ada lagi diskusi panjang yang berulang-ulang dan tidak ada penundaan. Dipta benar-benar masuk ke proses akuisisi Rajendra Engineering. Di atas kertas, ini adalah transaksi yang sangat besar. Angkanya tidak main-main, bahkan untuk ukuran seseorang yang sudah lama punya kekuatan finansial sendiri. Dipta tidak terlihat ragu, tidak di depan orang lain, tidak di ruang rapat, dan tidak di hadapan para direksi yang menyaksikan proses itu berjalan, yang berubah hanya satu hal kecil di dalam dirinya, setiap kali nama Rajendra Engineering disebut, ada jeda sepersekian detik di matanya. Namun ia selalu menutupnya dengan cepat, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Hadiyasa Mahesa sejak awal sudah tahu arah ini akan terjadi. Karena keputusan untuk membawa perusahaan itu ke keluarga Arjito Rajendra dulu pun bukan keputusan sembarangan, itu terjadi saat krisis. Saat tekanan dewan direksi tidak bisa lagi diditahan dan s

  • DIPTA   BAB 66 Dua Raga, Dua Keinginan yang Sama

    Di apartemen itu, sore berjalan seperti biasa. Aira sedang duduk di lantai ruang tamu, laptopnya terbuka setengah, tapi matanya lebih sering tertuju ke satu arah ke tempat kecil di mana Askara sedang bermain dengan mainannya. Awalnya biasa saja. Askara hanya merangkak, tertawa kecil, lalu menjatuhkan balok mainan. Lalu mengambilnya lagi, lalu tertawa lagi. Sampai tiba-tiba gerakannya berhenti. Ia menoleh, seperti melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain. Aira sempat tersenyum kecil. “Kenapa, Nak?” Askara mengangkat tangannya kecil, matanya fokus. Lalu suara kecil itu keluar pelan dan jelas. “Pa…” Aira langsung membeku. Senyumnya hilang dalam sekejap, matanya menatap Askara tanpa berkedip. “...Papa?” Aira mengulang pelan, seolah memastikan dirinya tidak salah dengar. Askara tidak mengulang lagi, namun ia tersenyum kecil. Lalu kembali bermain, seolah kata itu baru saja lewat begitu saja. Aira tidak bisa begitu saja teralihkan. Tangannya yang tadi di keyboard perlahan turun,

  • DIPTA   BAB 65 Ritme Baru

    Di ruangan putih itu suara mesin masih terdengar stabil, pelan dan ritmis, menandakan bahwa hidup masih bertahan. Kelopak mata Aira bergerak pelan, lalu perlahan terbuka sedikit. Cahaya lampu membuatnya langsung menyipit, wajahnya pucat. Tubuhnya masih lemah, seperti baru saja ditarik kembali dari tempat yang sangat jauh. “Aira…?” suara pelan terdengar. Linda langsung berdiri dari kursi di samping ranjang. Matanya langsung berkaca-kaca. “Aira, kamu sadar?” Aira tidak langsung menjawab. Matanya masih berusaha fokus, kepalanya berat dan napasnya pelan. Beberapa detik kemudian tatapannya mulai jelas dan yang pertama kali ia lakukan bukan bertanya kenapa ia di sana dan bukan menanyakan dirinya sendiri. Justru tangannya bergerak pelan ke perutnya, kosong. Wajahnya langsung berubah, bibirnya bergetar kecil dan matanya mencari sesuatu di ruangan itu panik yang tertahan. “Bu…” suaranya serak, hampir tidak terdengar. Linda langsung mendekat, memegang tangannya. “Aira… tenang ya…” Aira men

  • DIPTA   BAB 21 Langkah Lebih Dekat

    Mobil melaju kembali, lampu jalan mulai menari di kaca depan. Hening, tapi tidak canggung hanya ruang yang penuh konsentrasi. Aira masih merasakan sisa hangat di pergelangan tangannya, sedangkan Dipta memutar-mutar setir dengan tenang, matanya fokus ke depan, tapi pikirannya masih tertuju pada resp

  • DIPTA   BAB 20 Pertemuan Kedua

    Mesin mobil masih menyala pdalam Dipta duduk tegak di kursi pengemudi, satu tangan di setir dan satu tangan bertumpu ringan di paha. Ia tidak membunyikan klakson dan tidak mengirim pesan. Ia memang datang tepat waktu, tidak lebih cepat dan tidak terlambat. Rumah Aira cukup sederhana, cat pagarnya

  • DIPTA   BAB 19 Hari Pertemuan Kedua

    Sabtu pagi, jam menunjukkan pukul 06.12. Padahal biasanya Aira baru benar-benar bangun pukul tujuh saat tidak ada sekolah. Matanya sudah terbuka sejak lima belas menit lalu. Ia menatap langit-langit kamar, diam untuk beberapa waktu. Lalu memiringkan tubuh, mengambil ponsel di meja samping ranjang, t

  • DIPTA   BAB 18 Perubahan dan H-1 Pertemuan

    Jum'at, saat jam istirahat pertama selalu jadi waktu yang paling bising di sekolah. Tapi koridor lantai dua hari itu justru terasa lebih lengang. Mungkin karena sebagian besar siswa turun ke kantin. Cahaya matahari masuk dari jendela panjang, memantul di lantai keramik yang sedikit kusam. Aira ber

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status