LOGINSore itu, suasana di kantor Rajendra Engineering mulai lebih tenang. Jam kerja hampir selesai, sebagian karyawan sudah mulai merapikan meja. Di meja Aira, laptopnya masih terbuka. Dokumen dari Andalas Energi masih terpampang di layar. Aira membaca ulang dengan pelan dari awal. Tidak ada yang terlihat salah secara langsung, angkanya masuk, penjelasannya ada, strukturnya rapi terlalu rapi. “Ini aneh.” Ia bergumam pelan. Tangannya men-scroll ke atas lalu ke bawah lagi membandingkan dan mencari sesuatu yang “hilang”. Kalimat Arjito kemarin terlintas lagi di kepalanya. “Ini bukan fluktuasi.” “Ini indikasi masalah internal.” Aira menarik napas pelan. “Tapi yang ini…” Ia menatap layar. “…bersih.” Terlalu bersih dan justru itu yang membuatnya tidak nyaman. Tangannya sempat berhenti di tombol forward email, mau langsung kirim ke Dipta seperti biasa. Namun ia tidak jadi. “Kalau aku salah gimana…” Aira menggigit bibir bawahnya pelan. Ia menutup laptop sebentar, lalu membukanya lagi beber
Ruang direktur di Aurelis Global Holdings kembali hening setelah semua duduk di posisi masing-masing. Dokumen kerja sama kini terbuka di meja, berbeda dengan sebelumnya. Kali ini bukan sekadar pembahasan umum, ini masuk ke inti. Arjito Rajendra duduk tenang, jemarinya menyentuh ujung dokumen. Tatapannya turun, membaca perlahan. Tidak terburu-buru. Di seberangnya, ayah Andine menunggu dengan ekspresi yakin. Sementara Andine duduk sedikit di samping, sesekali melirik ke arah Aira. Dan Aira duduk di samping Dipta mencatat sekaligus juga memperhatikan. Dia tahu, kalau ayahnya sudah diam seperti itu artinya sedang “mencari sesuatu”. Beberapa menit berlalu, tidak ada yang bicara. Hanya suara halaman dokumen yang dibalik. “Bagian ini." Suara Arjito akhirnya keluar dengan tenang dan datar namun langsung membuat suasana berubah. Semua fokus ke arahnya. Ia menunjuk satu halaman. “Permintaan suntikan dana tahap awal.” Ayah Andine langsung menjawab, “Itu untuk percepatan distribusi awal,
Pagi di Rajendra Engineering berjalan seperti biasa. Aira datang dengan langkah yang lebih tenang dibanding beberapa hari sebelumnya. Efek perjalanan luar kota masih terasa di tubuhnya, tapi pikirannya justru yang lebih sibuk. Semalam, pagi tadi dan sekarang, semuanya seperti nyambung tapi juga bikin dia bingung sendiri. Ia duduk di kursinya, membuka laptop, mencoba fokus pada pekerjaan. Tapi sesekali pandangannya tanpa sadar melirik ke arah ruang kerja Dipta. “Kenapa sih aku jadi mikir aneh-aneh gini…” gumamnya pelan. Ia menggeleng kecil, lalu mulai membuka dokumen hari ini, belum sampai lima menit. “Selamat pagi, Aira." suara itu. Aira langsung berhenti mengetik. Pelan-pelan ia menoleh dan benar saja. Andine berdiri di sana, dengan senyum yang rapi dan ekspresi yang seolah tidak punya masalah apa pun. Aira menarik napas kecil, lalu membalas dengan sopan. “Pagi, Bu.” Andine melangkah mendekat, melirik layar laptop Aira sekilas. “Kamu cepat juga ya masuknya” ucapnya santai.
Pagi hari datang lebih cepat dari biasanya. Cahaya matahari masuk dari celah tirai kamar Aira. Ia sudah bangun lebih dulu, duduk di tepi kasur dan menatap kosong ke depan. Pikirannya masih belum benar-benar tenang tentang parfum, pesan dan kalimat Dipta semalam. “Dari dulu…” Aira menghela napas panjang. “Udahah … fokus kerja.” Ia berdiri lalu masuk ke kamar mandi dan merapikan diri. Hari ini bukan hari untuk overthinking, hari ini hari kerja. Di sisi lain, Dipta sudah siap lebih dulu seperti biasa selalu rapi, kemeja tersusun sempurna dan jam tangan itu masih melingkar di pergelangan tangannya, tidak berubah. Ketika mereka bertemu di luar kamar, hening sebentar. “Pagi, Pak.” sapa Aira. “Pagi.” Nada suara tetap normal dan profesional, seolah tidak ada yang terjadi semalam dan mungkin itu yang mereka butuhkan sekarang adalah jarak sementara. Mereka berangkat menuju lokasi proyek. Hari ini bukan meeting meja lagi, tapi langsung ke lapangan. Area distribusi yang menjadi inti k
Mobil tetap melaju dengan tenang, tidak ada yang mengejar dan tidak ada yang mencurigakan lagi di kaca spion. Seolah semuanya biasa saja tapi justru itu yang bikin Aira tidak bisa benar-benar santai. Ia menyandarkan kepalanya ke kursi. Matanya melihat ke luar jendela. Lampu-lampu kota mulai menyala. “Cuma diawasin…” gumamnya pelan dalam hati. “…tapi kenapa rasanya nggak enak.” Di sampingnya, Dipta tetap fokus menyetir dengan tenang seperti tidak ada apa-apa dan itu sedikit banyak bikin Aira kesal. “Bapak kok bisa setenang itu sih…” Aira akhirnya bicara. Dipta melirik sekilas. “Harusnya bagaimana?” “Ya… minimal kesel kek…” protes Aira. Dipta kembali ke jalan. “Untuk apa?” Aira langsung menoleh. “Ya karena… kita diikutin?” “Tidak diikutin.” jawab Dipta cepat Aira ingin menjelaskan lagi. “Tadi—” “Dipantau.” Dipta memotong, nada suaranya tetap datar. “Jadi itu dua hal berbeda.” Aira mengernyit. “Beda gimana?” Dipta menjawab santai. “Kalau diikutin, itu ancaman. Kalau dipanta
Aira mencoba melanjutkan makannya, sendok kembali bergerak. Roti diambil, jus diminum, tidak ada yang benar-benar masuk. Fokusnya sudah hilang, matanya memang ke piring tapi pikirannya ke satu titik yang sama memandang jam tangan itu. “Masih dipakai…” Kalimatnya sendiri terulang. Dan jawaban Dipta terlalu sederhana. “Iya... kenapa cuma ‘iya’ sih…” gumamnya dalam hati. Aira menarik napas pelan. Berusaha mengalihkan pikirannya. “Ya mungkin… ya biasa aja…” dia mencoba rasional. “…mungkin emang dia suka modelnya…natau ya… kebetulan aja masih kepakai…” Masuk akal, harusnya masuk akal, kenapa rasanya tidak sesederhana itu? Aira tanpa sadar kembali melirik. Pergelangan tangan itu masih di sana, tenang dan tidak berubah. Dan justru itu, yang membuatnya semakin tidak tenang. “Kalau cuma kebetulan…” “…harusnya udah ganti…” Dia mengerutkan kening sedikit. “…orang kayak dim, jam tangan pasti banyak…” Fakta, Dipta bukan tipe orang yang kekurangan pilihan. Jadi kenapa itu? Kenapa yang itu?
Hari keberangkatan employee gathering di Rajendra Engineering akhirnya tiba. Halaman kantor sudah ramai, karyawan berkumpul di depan beberapa bus besar yang akan membawa mereka ke Puncak, Bogor. Suasana heboh, bercampur tawa dan suara koper digeret. Aira berdiri agak di pinggir. Koper sudah di ta
Pagi di Dipta Niskala Mahesa dimulai seperti biasa rapi, cepat, tanpa banyak jeda. Agenda hari itu jelas, meeting luar dengan klien besar. Dan sesuai ucapannya kemarin, dia tidak membawa Aira ikut serta. “Biar di kantor saja.” Kalimat itu masih teringat, tegas dan profesional. Mobil sudah siap d
Meeting di ruang VIP hotel akhirnya selesai. Klien dari Surabaya itu sudah berpamitan dengan sopan, diikuti stafnya yang keluar lebih dulu. Suasana ruangan yang tadi penuh diskusi kini mendadak sunyi. Aira sedang merapikan dokumen di meja seperti biasa, tenang, rapi dan tidak ada yang aneh. Meski i
Dipta baru sampai di rumahnya sendiri malam itu. Bukan rumah orang tuanya, hanya rumah pribadi yang biasanya sunyi dan memang sengaja ia biarkan sunyi.Ia masuk, menutup pintu, lalu melepas jasnya pelan. Tidak langsung mandi, ia hanya berdiri sebentar di tengah ruang tamu. Lalu satu per satu ingatan







