LOGINWaktu terasa berjalan lambat. Napas yang tadinya tidak teratur, perlahan mulai kembali normal. Keheningan memenuhi kamar itu, tapi bukan keheningan yang canggung justru terasa hangat dan penuh sisa-sisa emosi yang belum sepenuhnya hilang. Lebih dari satu jam berlalu, Dipta akhirnya bergerak lebih dulu. Dia menatap Aira yang masih berbaring membelakanginya, tubuhnya terlihat lemas, napasnya pelan, jelas kelelahan. Senyum tipis muncul di wajah Dipta. Dia mendekat sedikit, lalu memberi kecupan singkat di dahi Aira. “Terima kasih…” ucapnya pelan. Aira tidak menjawab hanya menarik napas pelan, masih terlalu lelah untuk bicara. Dipta terkekeh kecil. 'Dia yang mulai… dia juga yang tumbang duluan.' batinnya. Tangannya terangkat, mengusap lembut kepala Aira, menyelipkan beberapa helai rambut yang berantakan ke belakang telinga. “Ini cobaan… atau keberuntungan ya…” gumamnya pelan, setengah bicara pada dirinya sendiri. Cobaan karena semua ini berawal dari emosi Aira yang dipantik ol
Pintu kamar terbuka pelan. Dipta masuk sambil membawa beberapa kantong makanan di tangannya. Suasana kamar langsung terasa sunyi dan sepi. “Aira?” panggilnya. Tidak ada jawaban. Dia melangkah lebih masuk, menaruh makanan di meja kecil. Matanya menyapu ruangan, tapi memang tidak ada siapa-siapa. Alisnya sedikit berkerut. “Kemana dia…” Lalu terdengar suara air dari kamar mandi. “Oh…” gumamnya pelan, mengangguk kecil. Mungkin lagi di kamar mandi. Tanpa pikir panjang, Dipta mulai membuka satu per satu bungkus makanan, menatanya di atas meja. Gerakannya rapi, teratur, seperti biasa. Sementara itu, di balik pintu kamar mandi Aira berdiri di depan cermin. Dia baru saja selesai mencuci tangan. Perlahan, dia menyemprotkan parfum tipis di pergelangan tangan dan lehernya. Aroma lembut langsung menyebar, tidak menyengat, tapi cukup untuk meninggalkan kesan. Tangannya lalu mengambil lip balm dioleskan tipis di bibirnya. Matanya menatap bayangannya sendiri. Ingatan itu kembali pada ucapan S
Setelah sampai di hotel, keduanya tidak langsung banyak bergerak. Seharian di luar, berpindah dari meeting ke lokasi proyek, lalu ke mall, cukup menguras tenaga. Begitu pintu kamar tertutup, suasana langsung terasa lebih tenang. Aira meletakkan kantong-kantong belanjaannya di dekat sofa, lalu menjatuhkan tubuhnya perlahan ke atas tempat tidur. Dia menarik napas panjang, meregangkan tubuhnya sedikit. “Capek juga” gumamnya pelan. Dipta tidak langsung menjawab. Dia hanya meletakkan barang-barang yang dibawanya dengan rapi, lalu duduk di kursi dekat meja, menyandarkan tubuh sejenak. Capek jelas tapi yang lebih terasa justru pikirannya. Masih tertinggal di butik, di percakapan dengan Rendra. Baru saja suasana mulai hening, ponsel Aira berdering. Nama yang muncul di layar langsung membuatnya sedikit tersenyum. “Bunda” ucapnya pelan. Dia langsung mengangkat panggilan itu. Belum sempat bicara banyak, suara kecil yang sangat dikenalnya langsung terdengar dari seberang. “Mamaaa!”
Di sisi lain lokasi proyek, Dipta sedang berbicara dengan Rendra Wijaya cukup serius, membahas teknis lanjutan. Sementara itu, agak menjauh dari mereka, Aira berdiri dengan notenya sedang fokus mencatat seolah tidak peduli dengan sekitar. Langkah kaki seseorang mendekat, Sania. “Sibuk ya.” Aira tidak langsung menoleh dan masih menulis. “Namanya juga kerja.” jawabnya singkat. Sania tersenyum tipis, nada bicaranya masih ringan. “Kamu memang kelihatan profesional.” Aira berhenti menulis, baru menoleh. “Terima kasih.” Beberapa detik awal masih normal. Sampai arah pembicaraan mulai berubah. Sania melirik ke arah Dipta yang sedang berbicara di kejauhan. “Dipta memang seperti itu kalau kerja.” Aira diam menunggu. “Tapi kamu jangan salah paham ya…” lanjut Sania pelan. Aira menatapnya lurus sekarang. “Maksudnya?” Sania tersenyum lebih tipis dan lebih tajam. “Perhatian yang kamu lihat sekarang…" dia berhenti sejenak. “…itu belum seberapa.” Hening. Aira tidak langsung jawab. Sania l
Ruang meeting pagi itu terasa formal, tenang dan dingin. Dipta duduk di kursi utama, berhadapan dengan tim dari PT. Arkananta Konstruksi Nusantara. Di sampingnya, Aira sudah siap dengan laptop dan beberapa dokumen. Begitu meeting dimulai, Dipta langsung berubah. Nada suaranya tegas, tatapannya fokus dan setiap kata yang keluar terstruktur. “Untuk proyek cabang Bandung, kita tidak hanya fokus ke efisiensi biaya, tapi juga ketahanan struktur dalam jangka panjang.” Semua orang di ruangan itu diam memperhatikan. Aura Dipta memang beda dan itu juga yang membuat satu orang tidak bisa berhenti melihatnya. Sania duduk di sisi kanan meja. Posisinya jelas sebagai salah satu perwakilan divisi tapi fokusnya bukan ke presentasi. Matanya terus ke arah Dipta, bukan sekadar melihat tapi menatap seperti ada sesuatu di sana, entah itu kagum, tertarik atau sisa rasa yang belum benar-benar hilang. Aira yang duduk di samping Dipta, bukan orang yang tidak peka. Sesekali dia mengangkat kepala dari
Aira kembali ke meja, langkahnya santai seperti biasa. “Lama ya?” Dipta langsung berdiri. “Ayo.” Tanpa banyak penjelasan. Aira sempat mengernyit kecil. Biasanya memang Dipta tidak banyak bicara tapi yang ini beda, sikap dan suaranya lebih dingin dan lebih tertutup. Mereka keluar dari restoran setelah Dipta menyelesaikan pembayaran. Udara malam Bandung menyambut, sedikit dingin. Beberapa langkah di trotoar, Aira akhirnya bicara. “Kita mampir minimarket dulu ya.” Dipta mengangguk singkat. “Iya.” Tidak ada komentar lain. Di dalam minimarket, Aira mulai ambil beberapa minuman, snack, dan hal-hal kecil yang biasanya dia suka. Tapi matanya beberapa kali melirik ke arah Dipta yang berdiri diam di dekat rak minuman. Tangannya masuk ke saku, tatapannya kosong ke depan. Aira mendekat. “Kamu kenapa?” Dipta langsung menoleh. “Nggak apa-apa.” Aira mengangkat alis. “Itu ‘nggak apa-apa’ versi kamu yang mana dulu?” Dipta diam sebentar, lalu mengambil satu botol air mineral. “Capek a
Malam di apartemen Singapura terasa lebih tenang dari biasanya. Humaira Navya Aruna duduk di ruang tamu, berhadapan dengan dua orang paling penting dalam hidupnya sekarang, Arjito Rajendra dan Linda. Di meja kecil itu hanya ada teh yang sudah mulai dingin. Namun percakapan yang akan terjadi tidak
Malam itu terasa panjang. Dipta bahkan tidak ingat sejak kapan ia benar-benar mencoba tidur. Ia hanya berbaring, menatap langit-langit kamar dengan pikiran yang terus berputar tanpa henti. Foto itu masih ada di sampingnya, surat itu belum ia lipat kembali dan setiap kali ia memejamkan mata yang mun
Dipta berdiri di depan nakas, tangannya sudah hampir menyentuh kotak kecil itu kado dari Aira. Jaraknya tinggal beberapa senti, tapi seperti ada sesuatu yang menahan. Ia hanya menatapnya, diam dan ragu. "Tok.Tok." Pintu diketuk pelan, sebelum sempat menjawab, pintu itu sudah terbuka. Hadiyasa M
Rumah itu berdiri jauh lebih megah dari yang terakhir kali ia ingat. Arjito Rajendra berdiri di depan gerbang besar, matanya menatap lurus ke arah bangunan luas dengan arsitektur modern yang menjulang elegan. Dulu, tempat ini tidak seperti ini. Masih besar, iya. Tapi belum semewah dan sedingin seka







