INICIAR SESIÓNBegitu semua sudah masuk, suasana rumah Dipta langsung berubah dari “kunjungan mendadak” jadi “piknik keluarga yang tidak direncanakan”. Dari arah dapur, terdengar suara plastik kresek dan kotak makanan diturunkan satu per satu. Indri Mahesa datang dengan dua tas besar. “Ini Bunda masakin sup, sama lauk ringan.” Belum selesai bicara, dari belakang Linda sudah menyusul sambil meletakkan beberapa kotak. “Ibu bawa makanan favorit kamu juga.” Aira yang berdiri di ruang tengah langsung diam. “Ini rumah atau acara potluck…” gumamnya pelan. Di sisi lain, Askara sudah lebih dulu “sibuk”. Dia duduk di karpet ruang keluarga, membuka satu persatu cemilan yang dibawa Indri dan Linda. “Ini buat aku semua?” Indri langsung tersenyum. “Iya, tapi jangan makan banyak-banyak dulu ya.” Linda ikut menambahkan sambil mengelus kepala Askara. “Kalau ini habis, nanti nenek bikin lagi.” Askara langsung mengangguk serius. “Aku akan evaluasi kualitasnya.” Aira hampir tersedak tawa kecil dengar i
Perubahan kecil itu mulai kelihatan dari rutinitas harian Aira. Kalau dulu dia masih sering pulang ke rumah orang tuanya, sekarang arah pulangnya pelan-pelan bergeser. Lebih sering ke rumah Dipta . Bukan karena “sudah diumumkan ke dunia luar”, tapi karena di titik ini, itu terasa paling aman dan paling tenang untuk sementara. Awalnya Aira masih canggung. Namun lama-lama, ritme itu terbentuk sendiri. Pulang kerja, makan, istirahat, urus hal kecil rumah, tidur. Sederhana, namun tetap stabil, dan yang paling menarik justru bukan itu. Justru perubahan kecil dari Aira terhadap Askara. “Papa pinjaman.” begitu Askara menyebut Dipta dengan santai, tanpa beban, seperti nama panggilan yang sudah jadi kebiasaan. Dipta awalnya hanya diam mendengar itu. Lalu menatap Askara sebentar. “Pinjaman?” Askara mengangguk polos. “Soalnya papa asli aku belum bisa bareng aku terus.” Aira yang mendengar itu langsung terdiam sebentar. Tidak ada nada sedih yang berlebihan, hanya ada sesuatu yang pelan-pela
Iya, itu justru jadi garis penting yang mereka jaga ketat. Di dalam mobil itu, meskipun suasana mulai lebih tenang, ada satu hal yang tidak berubah: status mereka tetap “tidak diumumkan”. Aira masih memilih diam. Bukan karena tidak percaya, tapi karena situasi di luar belum stabil rumor, tekanan kantor, dan bayang-bayang Andine yang belum selesai benar-benar diputus. Dipta juga tidak memaksa. Dia paham, ini bukan soal ingin disembunyikan selamanya tapi soal waktu yang belum aman. Di perjalanan, Aira sempat bicara pelan tanpa menoleh. “Soal kita… tetap kayak kemarin ya.” Dipta langsung paham maksudnya. “Iya.” jawabnya singkat. Aira melanjutkan, lebih pelan lagi. “Di kantor… tetap biasa.” Dipta mengangguk. “Tetap profesional.” Hening sebentar. Dipta menambahkan, suaranya tenang. “Aku nggak akan maksa kamu ngakuin apa pun ke siapa pun. “…sampai kamu siap.” Aira diam lama. Lalu pelan menjawab. “Aku belum siap.” “Aku tahu.” jawab Dipta singkat, tanpa nada kecewa, tanpa tekanan. A
Pagi itu sekitar pukul 06.30. Aira akhirnya bangun dari tidur yang sedikit lebih panjang dari biasanya. Biasanya dia sudah aktif dari jam lima, tapi tubuhnya masih “recovery mode” setelah drama semalam. Dia duduk sebentar di ranjang, lalu keluar kamar tanpa banyak pikir. Di luar kamar, rumah terasa berbeda. Meski sunyi tapi kesunyian itu terasa lebih hangat dan ada satu hal yang langsung menarik perhatiannya aroma masakan. Aira berhenti. “Bau apa ini…” gumamnya pelan. Dia mengikuti arah aroma itu, langkahnya pelan, masih setengah sadar. Rumah ini besar, bahkan terasa seperti bisa “menelan arah” kalau tidak terbiasa. Sampai akhirnya langkahnya terhenti di satu area, sebuah ruangan namun tidak ada pintu. Hanya bukaan lebar yang menyatu dengan interior rumah. Aira melangkah lebih dekat dan dia langsung diam. Di dalamnya bukan ruang kerja, bukan juga ruang tamu, melainkan sebuah area bermain anak. Ada perosotan kecil, kolam bola, rumah-rumahan mini, mainan tertata rapi, dan ruang lua
Suasana di ruang tamu itu masih belum turun tensinya. Aira masih berdiri di tengah ruangan, tangan terlipat di dada, wajahnya jelas belum selesai “membaca” ayahnya sendiri. Arjito Rajendra berdiri di depannya. Biasanya orang-orang bisnis besar akan langsung diam di hadapannya tapi di rumah ini beda. Arjito membuka mulut. “Aira, Ayah cuma.." "Salah.” potong Aira cepat. Arjito langsung diam. Bukan karena takut namun karena sadar, lanjut satu kalimat lagi, bisa makin panjang urusannya. Dipta yang duduk di sisi sofa langsung menunduk sedikit, pura-pura sibuk dengan sesuatu yang tidak ada. Hadiyasa melirik pelan, lalu bergumam kecil: “Ini bukan sidang perusahaan, tapi Ayah lagi kalah voting di rumah.” Arjito langsung melirik tajam ke Hadiyasa. Tapi Hadiyasa cuma angkat bahu kecil. Aira melanjutkan lagi. “Aku ini anak Ayah, tapi aku ngerasa kayak orang luar dari hidup aku sendiri.” Suara itu tidak tinggi tapi cukup bikin ruangan “diam total”. Arjito menghela napas. “Ayah nggak mau k
Di rumah itu, suasana masih belum benar-benar stabil. Aira duduk di tepi ranjang, masih dengan napas yang pelan-pelan mulai normal, tapi pikirannya belum sepenuhnya kembali rapi. Di luar kamar, langkah Dipta terdengar sebentar sebelum kembali masuk. Tangannya membawa sesuatu. Aira menoleh pelan. “Apa itu?” Dipta tidak langsung menjawab. Dia hanya berjalan ke arah lemari tersembunyi di kamar itu, membuka bagian dalamnya, lalu mengeluarkan satu set pakaian yang sudah tertata rapi. Aira mengernyit. “Itu… punya siapa?” Dipta menutup lemari itu lagi, lalu berbalik. “Punya kamu.” Aira langsung diam. Dipta melanjutkan, lebih tenang. “Kamu nggak bisa pakai yang tadi terus menerus... udah sobek di bahu. Lagian juga gak nyaman istirahat pakai gaun” Aira langsung refleks melihat dirinya sendiri, lalu sedikit menarik kain di bahunya. Baru sadar seberapa berantakan kondisinya tadi. “Oh…” Dipta menghela napas kecil. “Ganti dulu.” Dia meletakkan pakaian itu di kursi dekat ranjang, lalu meno
Dipta berdiri di depan nakas, tangannya sudah hampir menyentuh kotak kecil itu kado dari Aira. Jaraknya tinggal beberapa senti, tapi seperti ada sesuatu yang menahan. Ia hanya menatapnya, diam dan ragu. "Tok.Tok." Pintu diketuk pelan, sebelum sempat menjawab, pintu itu sudah terbuka. Hadiyasa M
Rumah itu berdiri jauh lebih megah dari yang terakhir kali ia ingat. Arjito Rajendra berdiri di depan gerbang besar, matanya menatap lurus ke arah bangunan luas dengan arsitektur modern yang menjulang elegan. Dulu, tempat ini tidak seperti ini. Masih besar, iya. Tapi belum semewah dan sedingin seka
Perjalanan pulang terasa seperti mimpi yang terlalu panjang. Aira tidak benar-benar ingat bagaimana ia keluar dari klinik, tidak ingat bagaimana ia naik kendaraan dan tidak ingat jalan yang ia lewati. Semuanya seperti lewat begitu saja, seolah tubuhnya berjalan sendiri, sementara pikirannya terting
Pintu kamar tertutup. Begitu kunci terpasang, Aira langsung bersandar di baliknya. Tubuhnya perlahan merosot ke bawah, tangannya menutup mulutnya sendiri, menahan suara yang sejak tadi ia paksa untuk tidak keluar dan saat itu juga semuanya pecah. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi, diam tanp







