LOGINHari itu ruang rapat pemegang saham di gedung Rajendra Engineering terasa lebih tegang dari biasanya. Para direksi sudah duduk rapi. Layar presentasi menampilkan grafik kenaikan yang terus naik tajam, bulan pertama 15%, lalu bulan kedua dan ketiga digabung, total lebih dari 35%. Angka yang terlalu bagus untuk dianggap “kebetulan”. Di kursi utama, Dipta Niskala Mahesa duduk tenang seperti biasa. Wajahnya tidak menunjukkan ekspresi berlebihan. Tapi tangannya yang sesekali menyentuh meja, menunjukkan dia tahu hari ini bukan hari biasa. Lalu pintu ruang rapat terbuka, suara kecil gesekan pintu saja sudah cukup membuat beberapa kepala menoleh dan suasana langsung berubah. Arjito Rajendra masuk, sendirian tanpa perwakilan dan tanpa kabar sebelumnya. Beberapa orang langsung saling pandang, ada yang refleks berdiri setengah, ada yang langsung menegakkan duduk. Sudah lama sekali, belasan tahun yang mungkin hampir dua dekade sejak sosok itu benar-benar hadir di ruang ini. Arjito melangkah pe
Perjalanan pulang dari hotel menuju kantor Rajendra Engineering berlangsung seperti biasa—tenang, tapi heningnya terasa “berisi”. Dipta memilih menyetir sendiri sejak awal keberangkatan. Tidak ada supir, tidak ada pihak ketiga. Hanya dia dan Humaira Navya Aruna di kursi sebelah. Di dalam mobil, Aira awalnya sibuk melihat jalanan dari jendela. Tapi lama-lama, dia mulai merasa suasananya agak berbeda. “Pak.” panggilnya pelan. Dipta tidak langsung menoleh. “Hm? jawabnya singkat. “Tadi meetingnya lancar ya?” Aira mencoba membuka percakapan ringan. "Lancar.” jawab Dipta tetap datar. Hening lagi. Aira kembali menatap ke luar jendela. “Aneh banget suasana sekarang…” gumamnya pelan dalam hati. Di sisi lain, Dipta fokus mengemudi. Tangannya stabil di setir. Sementara pikirannya tidak sepenuhnya “kosong”. Masih ada satu adegan yang terus muncul ulang di kepalanya, nomor yang diberikan Aira tanpa ragu dan tanpa curiga. Dipta menghela napas pelan, bukan marah dan bukan juga kag
Perjalanan dari Puncak menuju Jakarta akhirnya selesai saat mobil memasuki area rumah Aira. Di dalam mobil, Aira bahkan sudah tertidur sejak beberapa puluh menit terakhir. Kepalanya miring ke kaca, napasnya pelan, benar-benar kelelahan setelah rangkaian acara di penginapan Rajendra Engineering. Dipta melirik sekilas ke samping. “Udah sampai.” gumamnya pelan, lebih ke dirinya sendiri. Mobil berhenti tepat di depan rumah. Aira langsung terbangun karena guncangan kecil. “Eh?” Ia langsung menegakkan badan. “…sudah sampai?” Dipta mengangguk. “Iya.” jawabnya singkat. Aira buru-buru merapikan diri. “Maaf saya ketiduran, Pak…” ucapnya sambil membuka pintu. Ia turun dari mobil, masih agak mengantuk. “…terima kasih banyak ya, Pak.” katanya sopan. Dipta juga turun sebentar, membantu mengeluarkan koper Aira dari bagasi. Gerakannya cepat, rapi, tanpa banyak bicara. Saat Aira sudah siap mengambil kopernya. “Aira.” Dipta memanggil. Aira menoleh. “Iya, Pak?” Dipta menyerahkan sebuah paper ba
Sore itu di penginapan Rajendra Engineering, kondisi sudah jauh lebih tenang setelah rangkaian kegiatan. Aira akhirnya sudah bisa kembali ke kamarnya sendiri setelah sebelumnya beristirahat cukup lama di kamar Dipta. Langkahnya ringan, bahkan sedikit lega "Akhirnya balik kamar sendiri…” gumamnya pelan sambil menutup pintu. Di sisi lain, Dipta baru saja kembali ke kamarnya juga. Setelah seharian mengawasi kegiatan, tubuhnya mulai ingin istirahat dan mandi. “Akhirnya selesai juga.”gumamnya sambil membuka kancing lengan kemeja. Ia melangkah ke kamar mandi tanpa banyak pikir dan tepat saat dia masuk. “….” Dipta berhenti, di dalam kamar mandi, masih tergantung pakaian Aira yang tadi dipakai saat terpeleser dan hanyut di sungai dan belum dibawa kembali. Ia menatapnya cukup lama satu detik, dua detik. Lalu menghela napas panjang. “Kamu ini..." gumamnya pelan, entah ke siapa. Matanya turun sedikit dan langsung berhenti di bagian paling atas tumpukan pakaian itu, pakaian dalam milik
Di kamar penginapan Rajendra Engineering, suasana mulai lebih tenang setelah tim medis pergi. Aira sudah terlihat lebih stabil. Teh hangat di meja masih mengepul pelan. Ia duduk di tepi kursi, lalu melirik ke arah pintu. “Pak, saya mau balik kamar saya…” ucapnya pelan, masih agak sungkan. Dipta yang sedang berdiri dekat jendela langsung menoleh meski tdak langsung menjawab. Ia melangkah ke arah pintu, lalu sedikit menutup celahnya. “Tunggu dulu.” suaranya tenang, tapi tegas. Aira langsung berhenti. “Kenapa, Pak?” Dipta melirik sebentar ke luar, seperti mengecek situasi di koridor. “Belum aman.” Aira mengernyit kecil. “Maksudnya?” Dipta kembali menatapnya. “Kamu lupa semalam?” Aira langsung diam. “Yang staf wanita itu?” Dipta mengangguk kecil. “Dan hari ini.” diam sebentar. “…sungai.” Aira langsung paham. “Oh…” gumamnya pelan. Dipta melanjutkan, lebih rendah suaranya: “Kalau kamu keluar sekarang, kamu yang akan jadi bahan omongan.” Aira langsung menunduk sedikit. “Saya kan
Sesi outbound terakhir di area sungai Rajendra Engineering menjadi bagian yang paling menegangkan sejak pagi. Langit Puncak sudah agak redup, cahaya matahari tertutup pepohonan tinggi di sekitar jalur trekking. Suara air sungai terdengar semakin jelas bahkan sebelum rombongan sampai di titik penyeberangan. Aira berhenti di ujung jalur tanah. Di depannya, sungai kecil terbentang, kelihatannya tidak dalam, namun arusnya cukup deras untuk ukuran langkah yang harus menyeberang di atas batu-batu licin. “Ini yang terakhir ya…” gumamnya pelan, tapi bukan terdengar seperti lega lebih ke “tolong cepat selesai". Salah satu anggota timnya menepuk bahu ringan. "Tenang aja, Aira, ini cuma lewat batu doang. Pegang aja yang kuat.” Aira mengangguk kecil. “Iya…” meski matanya jelas tidak sepenuhnya yakin. Di sisi lain jalur, Rania Pradipta sudah berdiri lebih dulu bersama kelompoknya. Ia melirik sekilas ke arah Aira lalu ke sungai, kemudian kembali ke Aira. Ekspresinya terlihat sangat tenang.
Bel istirahat baru saja berbunyi. Kantin sekolah sudah mulai ramai oleh suara siswa yang saling bercakap. Aira duduk di salah satu meja bersama Nadhira dan Lestari. Nadhira sedang bercerita tentang guru matematika mereka yang tiba-tiba memberi kuis dadakan pagi tadi.“…terus dia bilang ini cuma lat
Pagi itu terasa berbeda bagi Aira, bukan karena cuaca dan bukan karena jadwal pelajaran, tapi karena sejak membuka mata, ada satu wajah yang langsung muncul di kepalanya, Dipta. Aira berdiri di depan cermin kamar, merapikan rambutnya. Tangannya sempat berhenti beberapa detik ketika bayangan semalam
Hening menyelimuti apartemen. Lampu kuning lembut dari plafon menyorot ke meja belajar mereka. Aira duduk di kursi, buku catatan dan pulpen di tangan, tapi matanya tak lepas dari Dipta. Dipta berdiri di dekat papan tulis, menunjukkan diagram anatomi tubuh manusia. Tapi jaraknya kini lebih dekat dar
Pintu apartemen terbuka bahkan sebelum Aira sempat mengetuk dua kali. Dipta sudah berdiri di sana, kaus hitam polos dan celana training abu-abu, rambutnya sedikit basah seperti baru selesai mandi. “Cepat banget bukanya”, Aira mengangkat alis. “Kebetulan lagi di dekat pintu”, jawabnya ringan. Pada







