Home / Romansa / DIPTA / BAB 54 Yang Takut dan yang Kembali Mendekat

Share

BAB 54 Yang Takut dan yang Kembali Mendekat

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-04-16 19:29:34

Pintu kamar tertutup. Begitu kunci terpasang, Aira langsung bersandar di baliknya. Tubuhnya perlahan merosot ke bawah, tangannya menutup mulutnya sendiri, menahan suara yang sejak tadi ia paksa untuk tidak keluar dan saat itu juga semuanya pecah. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi, diam tanpa suara keras. Tubuhnya bergetar hebat seolah seluruh beban yang selama ini ia tahan akhirnya menemukan celah untuk keluar.

Aira menunduk, dahinya hampir menyentuh lututnya. Tangannya masih menutup
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DIPTA   BAB 150 Habbit

    Baru beberapa menit Dipta duduk di sofa, mencoba mengalihkan pikirannya ke ponsel. “DIPTAAAA!” Suara Aira menggema dari dalam kamar mandi. Dipta langsung menoleh, alisnya berkerut. “Kenapa lagi...?” Belum sempat ia bangkit, suara Aira kembali terdengar. “Handukku mana?!” Nada suaranya jelas panik. Dipta langsung menghela napas panjang, kepalanya sedikit menengadah. “Ya Allah…” Dia sudah bisa menebak, istrinya ini pasti lupa lagi. Akhirnya Dipta berdiri dari sofa, berjalan ke arah lemari, mengambil satu handuk bersih. Langkahnya menuju kamar mandi tapi berhenti tepat di depan pintu. “Kenapa nggak dari tadi dibawa?” tanyanya, sedikit menahan nada kesal. Dari dalam kembali suara Aira terdengar. “LUPA!” Jawaban cepat, tanpa rasa bersalah. Dipta menutup mata sebentar. “Biasa.” Dia mengangkat tangan yang memegang handuk, mengetuk pintu pelan. “Nih.” Pintu tidak langsung terbuka. “Buka dikit aja.” kata Aira dari dalam. Dipta mengernyit. “Dikit aja?” “Ya iya! Masa lebar-lebar?!”

  • DIPTA   BAB 149 Depan Minimarket

    Dipta baru saja keluar dari minimarket dengan wajah yang sudah kembali datar seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa di dalam tadi. Begitu sampai di dekat Aira, aroma tahu gejrot langsung menyambut. Aira masih berdiri di depan gerobak, mangkuk kecil di tangannya, sesekali meniup pelan sebelum memakannya. Wajahnya terlihat jauh lebih santai… bahkan cenderung menikmati. Berbeda sekali dengan tadi siang. “Lama amat sih.” protes Aira tanpa benar-benar marah. Dipta menyerahkan botol air dan yogurt ke tangannya. “Antri.” Jawaban singkat. Aira menerima begitu saja, tidak curiga sedikitpun. Beberapa detik mereka diam, Aira sibuk dengan makanannya. Dipta hanya berdiri di sampingnya. Sampai akhirnya, Aira melirik sekilas. “Mau?” Sendok kecil itu terangkat, berisi potongan tahu dengan kuah khasnya. Dipta sempat diam, sedikit terkejut. Sangat jarang Aira seperti ini, apalagi setelah tadi siang yang jelas-jelas dia masih kesal. Tapi sekarang malah menyuapinya. Tanpa banyak koment

  • DIPTA   BAB 148 Minta Maaf

    Suasana yang tadi sempat canggung perlahan mencair. Angger mengajak mereka duduk di salah satu meja dekat jendela. “Duduk dulu lah, sekalian gue jelasin.” ucapnya sambil menarik kursi. Dipta duduk santai. Aira ikut duduk di sampingnya. Seorang barista datang membawakan minuman. Sepertinya sudah jadi kebiasaan tanpa perlu dipesan. “Masih sama ya ” komentar Dipta singkat sambil melihat gelas di depannya. Angger nyengir. “Ya masa berubah, lu aja yang jarang mampir.” Percakapan mulai mengalir. “Gimana di sini?” tanya Dipta, kembali ke mode serius tapi tetap santai. Angger menyandarkan punggungnya. “Lumayan. Tapi gue sekarang nggak full di sini.” Dipta mengangkat alis sedikit. “Masih intershif?” Angger mengangguk. “Iya. Rumah sakit di Bandung sini.” Aira sedikit terkejut. “Serius kamu jadi dokter?” Nada suaranya spontan. Angger tertawa kecil. “Gue juga dulu nggak nyangka.” Dia menghela napas ringan. “Dulu kan nggak ada niat sama sekali ya. Cuma ya… sejak nyokap sempat s

  • DIPTA   BAB 147 Teman Lama

    Begitu mobil mulai menjauh dari area proyek, suasana di dalam langsung berubah. Dipta fokus menyetir, tapi jelas dia sadar ada yang “nggak beres” di sebelahnya. Aira duduk dengan tangan terlipat, menatap ke luar jendela dalm diam. Tapi auranya sangat tidak santai. Beberapa menit berlalu. Akhirnya Dipta buka suara. “Capek?” Aira menjawab tanpa menoleh. “Capek.” Nada suaranya datar. "...dan kesel.” Dipta menarik napas pelan. “Kenapa lagi?” Aira langsung menoleh. Tatapannya tajam. “Kamu nanya kenapa?” Dipta melirik sekilas. “Ya aku nanya.” Aira tertawa siinis. “Tadi yang kamu bilang ke Pak Rendra.” Dipta sempat berpikir sepersekian detik. “Yang mana?” masih pura-pura. Aira langsung mendengus. “Jangan pura-pura nggak tau. 'Menang tender besar semalam’ katanya.” Nada suaranya meniru. Dipta menahan senyum, salah besar kalau ketahuan. “Itu kan cuma—” Belum selesai, Aira langsung potong. “Cuma apa?” Dipta diam. “Candaan.” Aira langsung menyandar lagi ke kursi. “Candaan apaan coba

  • DIPTA   BAB 146 Lokasi Proyek

    Mereka sampai tepat pukul 10.00. benar-benar pas. Area proyek sudah cukup ramai. Beberapa tim dari PT Arkananta Konstruksi Nusantara sudah lebih dulu berada di lokasi, lengkap dengan helm proyek dan rompi keselamatan. Begitu mobil Dipta berhenti, beberapa pasang mata langsung menoleh. Dipta turun lebih dulu,angkahnya tegas seperti biasa. Aura dingin, profesional, tetap ada, namun hari ini ada yang beda. Wajahnya lebih “hidup”, matanya lebih terang. Bahkan garis tegas di wajahnya terlihat lebih ringan. Kalau orang tidak tahu mungkin dikira benar-benar habis dapat proyek besar. Sementara di sisi lain, Aira turun dari mobil. Secara tampilan tetap rapi, cantik dan profesional. Make-up tipisnya berhasil menutupi lingkar hitam di bawah mata. Namun raut wajahnya, masih ada sisa kelelahan meski samar tapi terasa dan cara jalannya yang sedikit lebih hati-hati cukup menjelaskan segalanya bagi orang yang peka. Dipta melirik sekilas. 'Kayaknya masih capek ya…' Belum sempat mereka melangkah le

  • DIPTA   BAB 145 Setelah Bangun

    Saat semuanya benar-benar berhenti, jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Aira bahkan tidak sempat berkata apa-apa. Begitu tubuhnya menyentuh ranjang, matanya langsung terpejam. Tenaganya benar-benar habis. Napasnya pelan, teratur. Wajahnya masih menyisakan lelah dan juga damai. Dipta yang masih terjaga hanya bisa menatapnya beberapa detik. Lalu perlahan dia menarik tubuh Aira ke dalam dekapannya. Aira tidak bereaksi. Sudah terlalu lelah bahkan untuk sekadar menggerakkan tubuh. Senyum kecil muncul di wajah Dipta. Tangannya mengusap punggung Aira pelan. Sesekali dia menunduk, memberi kecupan singkat di dahi, di pelipis bahkan di bibirnya dengan lembut. “Istri kecil…” gumamnya pelan. Kalimat itu terdengar hampir seperti kebiasaan lama. Namun maknanya sekarang sudah berbeda. Dulu, Aira adalah gadis yang lugu, polos dan penurut. Apa pun yang dia katakan, Aira ikuti. Sekarang Dipta menatap wajah Aira lagi. “Udah nggak kecil lagi ternyata…” bisiknya sambil terkekeh pelan. Aira se

  • DIPTA   BAB 12 Pertemuan dan Lebih dari Sekedar Pedas

    Jam di dinding kamar Aira menunjukkan pukul 15.12. Ia sudah membuka lemari sejak lima menit lalu, tapi belum juga mengambil keputusan.“Kenapa sih susah banget cuma mau makan?” gumamnya pelan.Tangannya menyentuh beberapa gantungan baju. Blus putih? Terlalu formal. Kaos oversized? Terlalu santai. A

  • DIPTA   BAB 8 Persaingan & Flirty Close Call

    Hari-hari berlanjut, Aira tiba di sekolah lebih awal dari biasanya. Hari ini ada latihan OSIS untuk kegiatan lingkungan sekolah, yang ia ikuti bersama teman dekatnya Nadhira dan Lestari. Meski pagi masih terasa sejuk, hati Aira sedikit berdebar karena ia tahu kemungkinan akan bertemu Dipta di area s

  • DIPTA   BAB 7 Perhatian

    Pagi itu, udara di SMA terasa hangat, tapi tidak menusuk. Cahaya matahari menembus jendela kelas XI IPA 2, menyorot buku catatan Aira yang rapi. Ia duduk di bangku dekat jendela, mencoba fokus pada pelajaran Biologi. Tapi pikirannya sering melayang ke seseorang yang ia lihat beberapa kali dalam beb

  • DIPTA   BAB 6 Chemistry dan Konflik kecil

    Hari itu, Dipta duduk di kelas XII IPS 1 sambil membaca catatan ekonomi. Tapi matanya tidak sepenuhnya fokus pada buku, tatapannya sesekali tertuju ke kelas XI IPA 2, tepatnya ke Aira yang sedang menulis catatan di meja dekat jendela.“Hmm… berbeda dari yang lain", pikirnya dalam hati.Bukan karena

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status