FAZER LOGINHalaman SMA Garuda sudah ramai sejak bel istirahat berbunyi. Suara siswa bercampur dengan derit kursi yang digeser dan langkah-langkah terburu menuju kantin. Di salah satu meja dekat jendela kantin, Humaira Navya Aruna atau Aira duduk bersama dua sahabatnya, Nadhira dan Lestari. Nadhira baru saja menaruh nampan makanannya di meja dengan ekspresi kesal. “Serius deh, aku nggak ngerti sama Bu Ratna”, gerutunya sambil menyodok nasi di piring. “Dibilang cuma latihan, tapi nilainya masuk penilaian harian.” Lestari tertawa kecil sambil membuka botol minumnya. “Namanya juga guru, latihan sama ujian itu kadang cuma beda nama.” Biasanya Aira akan ikut mengomentari panjang lebar. Ia termasuk orang yang cukup vokal kalau membahas hal-hal seperti ini, namun kali ini ia hanya tersenyum tipis. “Ya… mungkin biar kita lebih siap ujian.” Nadhira mengangkat alis. “Lho? Kamu biasanya paling semangat protes.” Aira hanya mengangkat bahu ringan. Tangannya sibuk membuka ponsel di bawah meja, seolah menc
Bel istirahat baru saja berbunyi. Kantin sekolah sudah mulai ramai oleh suara siswa yang saling bercakap. Aira duduk di salah satu meja bersama Nadhira dan Lestari. Nadhira sedang bercerita tentang guru matematika mereka yang tiba-tiba memberi kuis dadakan pagi tadi.“…terus dia bilang ini cuma latihan,” keluh Nadhira. “Latihan apanya kalau nilainya masuk?”Lestari tertawa kecil mendengar celotehan Nadhira, Aira ikut tersenyum, tapi pikirannya tidak sepenuhnya berada di percakapan itu. Ia tanpa sadar membuka ponselnya, tidak ada pesan baru dari Dipta.Nadhira memperhatikan itu. “Aira.”“Hm?”, sahut Aira.Nadhira mengubah posisi duduknya. “Kamu dari tadi lihat HP terus.”Aira langsung mengunci layar ponselnya. “Enggak kok.”Lestari menyipitkan mata sedikit. “Kamu lagi nunggu chat seseorang ya?”Aira cepat menggeleng. “Enggak lah.”Namun reaksi itu justru membuat Nadhira dan Lestari saling melirik.Nadhira mencondongkan tubuh sedikit ke depan. “Aira…”Aira menatap Nadhira. “Iya?”“Jujur
Sore itu hujan turun tipis di luar apartemen Dipta. Cahaya kota memantul samar dari jendela kaca besar ruang nonton yang terhubung dengan ruang rahasia. Humaira duduk bersila di karpet tebal, buku anatomi terbuka di depannya. Diagram tubuh manusia terpampang jelas sistem reproduksi, jaringan, kelenjar, struktur detail yang membuatnya sedikit kikuk. “Aku nggak ngerti bagian ini…”, gumamnya pelan. Dipta berdiri di belakangnya, membaca dari atas bahunya. Terlalu dekat, terlalu hangat. “Anatomi itu bukan cuma dihafal,” katanya tenang. “Harus dipahami secara struktur dan fungsi.” Humaira menoleh. “Maksudnya?” Dipta berjalan memutar, lalu duduk di hadapannya. Tatapannya berbeda hari itu, lebih dalam dan lebih lama. “Belajar pakai visual, pakai pendekatan nyata.” Aira mengerutkan dahi. “Nyata gimana?” Dipta tersenyum tipis, lalu menunjuk diagram wajah di buku. “Kalau kita bahas fungsi indera… misalnya mata.” Ia mendekat sedikit. Tangannya terangkat, berhenti sebentar di udara memberi
Aira membuka pintu rumah perlahan. Aroma masakan yang hangat menyambutnya. Matahari sore baru saja condong ke barat, menembus jendela ruang tamu dan menciptakan garis-garis cahaya yang menari di lantai. “Ibu… aku pulang!”, Aira memanggil sambil melepaskan tasnya, menaruhnya di kursi dekat pintu. Linda, ibunya, yang sedang menata beberapa kotak oleh-oleh, menoleh dan tersenyum. “Pulang lebih awal hari ini, ya?” Aira mengangguk sambil duduk sebentar di sofa. Tangannya masih memegang tas, kakinya menekuk di kursi. “Iya, Bu. Hari ini ada jadwal belajar… sama teman.” Linda menatapnya dengan mata yang tajam tapi lembut, ada senyum tipis di bibirnya. “Kamu kelihatan lebih ceria akhir-akhir ini, semuanya lancar di sekolah?” Aira tersenyum, sedikit ragu tapi mencoba terlihat santai. “Iya… lumayan, Bu. Cuma, aku ingin belajar lebih fokus aja. Teman itu ngajak ke apartemennya, biar tempatnya tenang.” Mata Linda menyipit sedikit, menandakan perhatian lebih. Ia mendekat dan duduk di sofa ber
Pagi itu terasa berbeda bagi Aira, bukan karena cuaca dan bukan karena jadwal pelajaran, tapi karena sejak membuka mata, ada satu wajah yang langsung muncul di kepalanya, Dipta. Aira berdiri di depan cermin kamar, merapikan rambutnya. Tangannya sempat berhenti beberapa detik ketika bayangan semalam melintas sentuhan lembut, jarak yang terlalu dekat, napas yang hampir bertabrakan. Pipinya menghangat. “Kenapa sih senyum sendiri…”, gumamnya pelan. Di ruang makan, ibunya memperhatikan tanpa banyak komentar, hanya senyum kecil yang penuh arti. Setelah selesai sarapan dan juga bersiap, akhirnya Aira pamit pergi ke sekolah. Bel pertama hampir berbunyi ketika Aira berjalan menyusuri lorong XI IPA 2. Tasnya tersampir rapi, langkahnya ringan. Beberapa siswa menoleh, bukan karena ia berbeda tapi karena ia terlihat lebih hidup, lebih berwarna. Di ujung lorong, Rania sudah berdiri. Seragamnya rapi sempurna, rambutnya tergerai halus, tangannya menyilang di dada dan tatapannya tajam, terarah lan
Hening menyelimuti apartemen. Lampu kuning lembut dari plafon menyorot ke meja belajar mereka. Aira duduk di kursi, buku catatan dan pulpen di tangan, tapi matanya tak lepas dari Dipta. Dipta berdiri di dekat papan tulis, menunjukkan diagram anatomi tubuh manusia. Tapi jaraknya kini lebih dekat dari biasanya. “Sekarang bagian jantung”, kata Dipta sambil menunjuk diagram, jaraknya hanya sepasang langkah dari Aira. Aira menunduk, menulis catatan, tapi napasnya terasa lebih cepat. Dipta mencondongkan tubuh ke arahnya. Sekali lagi, tangannya menyapu lembut helaian rambut yang jatuh ke pipi Aira. Aira menahan napas. Sudah beberapa kali ciuman terjadi sebelumnya, tapi tiap sentuhan tetap membuatnya berdebar. “Kalau aku cuma main-main, aku nggak bakal sebegini dekat” bisik Dipta, matanya mengunci mata Aira. Aira menatap balik, bibir sedikit mengulum, dagunya gemetar. Dipta menunduk, jarak bibir mereka hanya beberapa sentimeter. Aira bisa merasakan hangatnya napas Dipta. Tangan Dipta seca







