หน้าหลัก / Romansa / DIPTA / BAB 28 Sesi Belajar dan Kedekatan Yang Meningkat

แชร์

BAB 28 Sesi Belajar dan Kedekatan Yang Meningkat

ผู้เขียน: Adw_Canss781
last update วันที่เผยแพร่: 2026-03-19 22:13:53

Hening menyelimuti apartemen. Lampu kuning lembut dari plafon menyorot ke meja belajar mereka. Aira duduk di kursi, buku catatan dan pulpen di tangan, tapi matanya tak lepas dari Dipta. Dipta berdiri di dekat papan tulis, menunjukkan diagram anatomi tubuh manusia. Tapi jaraknya kini lebih dekat dari biasanya.

“Sekarang bagian jantung”, kata Dipta sambil menunjuk diagram, jaraknya hanya sepasang langkah dari Aira.

Aira menunduk, menulis catatan, tapi napasnya terasa lebih cepat. Dipta mencondo
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • DIPTA   BAB 183 Dua Wanita, Satu Masa Lalu

    Rania, perempuan itu berdiri beberapa langkah darinya dengan wajah yang sulit diartikan. Penampilannya masih rapi, tetapi ada sesuatu pada sorot matanya yang berbeda dari biasanya. Ketegangan terlihat jelas di sekitar rahangnya, sementara kedua tangannya mengepal sesaat sebelum kembali terurai. Sepertinya ia baru saja menyelesaikan urusan yang berkaitan dengan pemeriksaan internal perusahaan. Aira sempat mengangguk kecil sebagai bentuk sapaan seperlunya. Ia berniat melanjutkan langkah, sebab tidak ada alasan baginya untuk menghentikan pekerjaan hanya demi berbasa-basi dengan seseorang yang sedang berurusan dengan tim pemeriksa. Namun, suara Rania lebih dahulu menahannya. "Gimana? Puas kamu sekarang? Namaku sudah jelek, dan sebentar lagi hidupku hancur." Aira menoleh. Ia sempat mengerutkan kening, memastikan perempuan itu memang sedang berbicara kepadanya. Setelah beberapa detik, ia mengangkat alis dengan ekspresi yang justru membuat Rania semakin kesal. "Kamu bicara sama aku?" Ran

  • DIPTA   BAB 182 Selalu di Pilih

    Persiapan perjamuan yang direncanakan Dipta akhirnya mulai berjalan. Sejumlah orang dari tim penyelenggara telah menerima arahan mengenai konsep acara, daftar tamu, susunan kegiatan, hingga berbagai keperluan teknis yang harus diselesaikan dalam waktu relatif singkat. Meski waktu yang tersedia tidak terlalu panjang, Dipta menginginkan semuanya dipersiapkan dengan matang. Acara itu memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar perjamuan perusahaan, sehingga ia tidak ingin ada detail penting yang terlewat hanya karena mereka harus bekerja dalam waktu terbatas. Di tengah kesibukan tersebut, urusan Rania dan Priska juga terus bergulir. Tim hukum perusahaan telah mengumpulkan bukti-bukti yang berkaitan dengan dugaan upaya menjebak Dipta, termasuk rekaman kamera pengawas, rekaman dari kamera tersembunyi di ruang kerja Dipta, catatan akses, serta keterangan sejumlah pihak yang telah dimintai penjelasan. Seluruh bukti asli diamankan agar dapat diperiksa lebih lanjut dan digunakan sesu

  • DIPTA   BAB 181 Tanpa Aira

    Pagi kembali menyambut kesibukan di Rajendra Engineering. Sejak jam kerja dimulai, para pegawai sudah bergerak menjalankan tugas masing-masing, sementara di lantai eksekutif, beberapa agenda yang sempat tertunda kembali menumpuk di meja Dipta. Laporan perkembangan pembangunan cabang Bandung, dokumen yang membutuhkan persetujuannya, serta sejumlah keputusan terkait operasional perusahaan harus diselesaikan di tengah tindak lanjut kasus Rania dan Priska yang masih berjalan. Meskipun laporan awal sudah diserahkan kepada tim legal untuk diproses lebih lanjut, dampak dari kejadian tersebut belum sepenuhnya mereda. Ada beberapa hal yang masih perlu diperiksa, sejumlah akses yang harus dievaluasi, dan koordinasi yang mesti dilakukan agar kegiatan perusahaan tetap berjalan sebagaimana mestinya. Namun, Dipta bukan orang yang mudah kehilangan kendali hanya karena pekerjaannya bertambah. Selama bertahun-tahun, ia telah terbiasa menghadapi berbagai persoalan yang datang bersamaan. Ia tahu mana

  • DIPTA   BAB 180 Rencana Perjamuan

    Malam itu, suasana rumah terasa lebih tenang setelah Askara selesai bermain dan akhirnya tertidur di kamarnya. Lampu-lampu di ruang keluarga menyala dengan cahaya hangat, berpadu dengan suara pendingin ruangan yang terdengar samar. Di atas meja kecil, dua cangkir minuman hangat sudah hampir kosong, sementara televisi yang sejak tadi menyala hanya menjadi latar tanpa benar-benar menarik perhatian siapa pun. Aira duduk bersandar di sofa dengan sebuah bantal kecil di pangkuannya. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai, sesekali ia selipkan ke belakang telinga ketika membaca pesan di ponselnya. Di sebelahnya, Dipta baru saja menyelesaikan beberapa surel pekerjaan yang memang tidak bisa ditinggalkan sampai pagi. Setelah meletakkan ponsel di atas meja, laki-laki itu mengembuskan napas panjang, kemudian meregangkan bahunya yang terasa kaku setelah seharian bekerja. Aira meliriknya sekilas. “Sudah selesai?” “Untuk malam ini, iya.” “Bagus. Berarti sekarang aku boleh tanya sesuatu?” Dipta m

  • DIPTA   BAB 179 Rumah

    Menjelang magrib, mobil yang dikendarai Dipta akhirnya memasuki halaman rumah. Cahaya matahari sore mulai meredup, menyisakan semburat jingga di antara pepohonan yang tumbuh di sepanjang jalan masuk. Setelah mematikan mesin, Dipta sempat duduk beberapa detik di balik kemudi. Hari itu cukup melelahkan, bukan semata-mata karena urusan perusahaan yang harus diselesaikannya, melainkan juga karena ia harus memastikan bahwa persoalan Priska dan Rania tidak berkembang menjadi sesuatu yang lebih rumit. Setidaknya, untuk saat ini, langkah yang perlu diambil sudah jelas. Sisanya akan berjalan melalui prosedur yang semestinya.Ia mengembuskan napas panjang, lalu meraih tas kerja di kursi sebelah sebelum keluar dari mobil. Begitu melangkah masuk, suasana rumah yang tenang langsung menyambutnya. Terdengar suara anak kecil dari arah ruang bermain, sesekali diselingi bunyi mainan yang beradu, sementara dari ruang keluarga terdengar suara televisi dengan volume rendah.Dipta meletakkan tasnya di meja

  • DIPTA   BAB 178 Prosedur

    Pagi itu, ruang rapat kecil di lantai eksekutif Rajendra Engineering kembali digunakan untuk membahas perkembangan kasus yang melibatkan Priska dan Rania. Tidak banyak orang yang diizinkan masuk.Dipta hanya meminta kehadiran kepala divisi legal, perwakilan sumber daya manusia, serta tim internal yang sejak awal memeriksa bukti-bukti kejadian di ruangannya. Baginya, perkara tersebut sudah cukup jelas untuk memasuki tahap berikutnya. Ia tidak berniat menghabiskan waktu perusahaan hanya untuk mendengarkan penyangkalan yang sama berulang kali, terlebih setelah rekaman kamera pengawas dan sejumlah catatan akses memperlihatkan rangkaian kejadian yang sulit dibantah.Kepala divisi legal meletakkan sebuah map di atas meja. “Kami sudah menyusun kronologi berdasarkan rekaman kamera, catatan akses ruangan, keterangan pegawai yang bertugas, serta hasil pemeriksaan internal sementara. Ada cukup banyak bukti yang perlu kami serahkan kepada pihak berwenang untuk dinilai lebih lanjut, terutama menge

  • DIPTA   BAB 1 Hari Pertama Humaira

    Humaira Navya Aruna atau biasa akrab dipanggil Aira menatap halaman depan sekolah baru itu dengan mata berbinar campur gugup. Gedung tinggi, cat krem yang rapi, kaca-kaca besar memantulkan cahaya pagi yang lembut. Semua terlihat begitu megah, berbeda dari sekolah lamanya yang sederhana. Jalan setap

  • DIPTA   BAB 7 Perhatian

    Pagi itu, udara di SMA terasa hangat, tapi tidak menusuk. Cahaya matahari menembus jendela kelas XI IPA 2, menyorot buku catatan Aira yang rapi. Ia duduk di bangku dekat jendela, mencoba fokus pada pelajaran Biologi. Tapi pikirannya sering melayang ke seseorang yang ia lihat beberapa kali dalam beb

  • DIPTA   BAB 6 Chemistry dan Konflik kecil

    Hari itu, Dipta duduk di kelas XII IPS 1 sambil membaca catatan ekonomi. Tapi matanya tidak sepenuhnya fokus pada buku, tatapannya sesekali tertuju ke kelas XI IPA 2, tepatnya ke Aira yang sedang menulis catatan di meja dekat jendela.“Hmm… berbeda dari yang lain", pikirnya dalam hati.Bukan karena

  • DIPTA   BAB 5 Persaingan dan Strategi

    Pagi menjelang siang, lapangan sekolah lebih sepi dari biasanya. Angin tipis membuat dedaunan bergetar, dan cahaya matahari yang mulai miring menembus sela-sela pepohonan. Aira duduk di bawah pohon besar, buku biologi di pangkuan, mencoba memahami diagram sel yang rumit. Tiba-tiba, suara ringan

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status