Home / Romansa / DIPTA / BAB 47 Pembela dan Pengusik

Share

BAB 47 Pembela dan Pengusik

Author: Adw_Canss781
last update publish date: 2026-04-08 15:09:07

Malam itu Aira benar-benar mencoba belajar. Buku biologi sudah terbuka di atas meja. Pulpen, stabilo, dan beberapa catatan kecil berserakan di sampingnya. Tapi sejak lima belas menit lalu, ia masih berhenti di halaman yang sama, pikirannya ke mana-mana. Aira melirik ponselnya lagi.

"Besok aku jemput lagi."

Pesan itu masih ada di layar. Jarinya sempat bergerak mengetik sesuatu. 'Nggak usah.'

Aira menatap kalimat itu beberapa detik, lalu menghapusnya. Ia mengetik lagi, 'Terserah.'

Dihapus
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DIPTA   BAB 49 Sahabat Lama dan Pengumuman

    Detik demi detik berlalu, baik Arjito dan Hadiyasa masih berada diruang rapat. Arjito menatapnya beberapa detik, lalu tertawa pelan, bukan tawa karena lucu justru tawanya terdengar pahit. “Sekarang kamu marah sama Adi?”, tanya Arjito. Hadiyasa hanya diam. “Harusnya dari dulu.” Nada suara Arjito tetap tenang, tapi justru itu yang membuatnya terdengar lebih tajam. “Kalau dulu kamu mau dengar penjelasanku, mungkin Rajendra Engineering nggak akan jatuh secepat itu.” Rahang Hadiyasa mengeras. “Aku sudah bilang waktu itu kalau semuanya masih bisa diselamatkan”, lanjut Arjito. “Aku bilang ada yang salah di dalam perusahaan, aku bilang aku butuh waktu.” “Tapi Mahesa Group juga sedang di ambang jatuh”, potong Hadiyasa pelan. “Dan kamu pilih perusahaanmu sendiri”, lanjut Arjito memotong. Kali ini Hadiyasa tidak membantah karena memang itu kenyataannya. Beberapa detik mereka hanya saling diam. “Kalau aku nggak lepas Rajendra Engineering waktu itu, Mahesa Group juga ikut habis

  • DIPTA   BAB 48 Jaga Jarak dan Teman Lama

    Sejak kejadian di koridor itu, Aira mulai sengaja menjaga jarak. Pagi ini, ia keluar rumah lebih cepat bahkan saat sampai di ujung gang dan melihat motor Dipta belum ada, Aira langsung berjalan ke arah jalan besar untuk naik angkot. Tapi belum sempat jauh, suara motor berhenti tepat di sampingnya.“Kenapa jalan sendiri?”, tanya Dipta. Aira langsung menoleh dan mendapati Dipta sedang menatapnya dari atas motor. “Aku... pengen berangkat sendiri aja hari ini.”Dipta tidak langsung menjawab. Tatapannya justru semakin lama tertuju pada wajah Aira. “Naik.”Aira menolak. “Aku bisa sendiri.”“Naik, Aira”, nada suara Dipta tetap datar, tapi justru itu yang membuat Aira tidak bisa membantah.Akhirnya ia naik juga, meski sepanjang jalan suasana di antara mereka lebih sunyi dari biasanya. Dan sejak itu, Aira mulai melakukannya lagi dan lagi. Kalau Dipta datang ke kelas, Aira pura-pura sibuk, kalau Dipta menunggunya di kantin, Aira sengaja pergi lebih dulu dan kalau Dipta mengirim pesan, Aira mem

  • DIPTA   BAB 47 Pembela dan Pengusik

    Malam itu Aira benar-benar mencoba belajar. Buku biologi sudah terbuka di atas meja. Pulpen, stabilo, dan beberapa catatan kecil berserakan di sampingnya. Tapi sejak lima belas menit lalu, ia masih berhenti di halaman yang sama, pikirannya ke mana-mana. Aira melirik ponselnya lagi. "Besok aku jemput lagi." Pesan itu masih ada di layar. Jarinya sempat bergerak mengetik sesuatu. 'Nggak usah.' Aira menatap kalimat itu beberapa detik, lalu menghapusnya. Ia mengetik lagi, 'Terserah.' Dihapus lagi, lalu pada akhirnya, Aira hanya menggigit bibir bawahnya pelan sebelum membalas singkat. Aira: "Iya." Tidak lama kemudian pesan itu langsung dibaca, tapi tidak ada balasan lagi. Dan anehnya, justru itu yang membuat Aira makin tidak tenang. Ia menjatuhkan kepalanya ke atas meja pelan. “Kenapa sih...”, gumamnya lirih pada diri sendiri. Padahal Dipta tidak melakukan apa-apa, tidak mengatakan hal aneh, tidak memaksa. Tapi semakin Dipta bersikap seperti biasa, Aira justru semakin salah

  • DIPTA   BAB 46 Setelah Ujian

    Bel tanda ujian berakhir baru saja berbunyi. Suara kursi yang digeser dan lembar soal yang dikumpulkan langsung memenuhi kelas. Aira menghela napas pelan dan memijat jari-jarinya sebentar sebelum mulai memasukkan pensil, penghapus, dan buku ke dalam tas. "Gimana?", tanya Nadhira sambil menghampiri mejanya. "Soal nomor tujuh tadi jawabannya apa? Aku bingung banget sumpah." "Yang tentang persilangan itu?" Aira menoleh pelan. "Aku jawab yang C... tapi nggak tau juga benar atau nggak." "Nah kan! Aku juga C!", seru Lestari dari samping, lalu langsung tertawa lega. Aira ikut tersenyum kecil, tapi kepalanya terasa berat. Sedari tadi tubuhnya lemas, entah karena terlalu keras belajar dan kurang tidur, atau karena akhir pekan kemarin yang terlalu melelahkan. "Ra, kamu nggak apa-apa?", tanya Nadhira lagi begitu melihat wajah Aira. Aira tersenyum tipis, lalu menggeleng. "Nggak kok... cuma capek aja." Mereka bertiga berjalan keluar kelas bersama. Koridor sudah mulai ramai. Beberapa

  • DIPTA   BAB 45 Ujian Semester

    Hari itu udara terasa panas di sekolah, tapi koridor tetap ramai oleh siswa yang bersiap menghadapi ujian akhir semester. Aira berjalan bersama Nadhira dan Lestari, tasnya digenggam erat. “Eh, Aira… kamu yakin siap untuk ujian hari ini?” tanya Nadhira, suara bergetar sedikit karena takut soal biologi sulit. Aira tersenyum tipis, menepuk tasnya. “Iya, aku siap. Bukannya kita semua sudah belajar cukup, kan?” Lestari menggigit bibir, matanya tetap gelisah. “Aku… aku takut soal biologi sulit banget.” Aira menepuk bahu Lestari. “Tenang saja, kita bisa saling bantu jika ada yang lupa. Fokus aja, kita pasti bisa atasi semuanya.” Lestari ikut menambahkan, masih gelisah. “Aku… takut nggak bisa jawab semua soal. Aira, kalau kamu… kamukan memang pintar, jadi jawab soal tu pasti mudah bagimu.” Aira menatap mereka. “Kalian juga bisa kok, cuma jangan panik.” Sepanjang jalan menuju kelas, mereka tetap melihat-lihat siswa lain, beberapa kali terdengar bisik-bisik tentang Aira. Gosip yan

  • DIPTA   BAB 44 Minggu Pagi yang Tenang

    Cahaya pagi merayap pelan melalui tirai, menerpa ranjang di mana Dipta masih tertidur dengan tenang. Aira membuka mata perlahan, tubuhnya sudah lebih segar dibanding kemarin. Nafasnya masih lembut, tapi matanya tertuju pada sosok di sampingnya Dipta, yang benar-benar tampak damai. Ia tersenyum kecil, menahan rasa geli di hati. Tanpa sadar, tangannya bergerak pelan, mencoba menyentuh hidung Dipta dengan ujung jarinya. Bergumam pelan ia berkata, “Hmm.. apa kamu memang selalu seperti ini saat tidur nyenyak…?” Dipta membuka satu matanya sedikit tanpa disadari oleh Aira, ia menatap Aira sebentar, tapi tetap pura-pura tidur. Aira tersenyum lebih lebar, merasa sedikit gemas dan juga terpesona memandangi wajah Dipta yang tenang dan damai. Ia terus menyentuh hidung Dipta, kali ini lebih lembut. “Sudah… belum?”, suara Dipta tiba-tiba terdengar, halus tapi mengandung nada menggoda. Aira terkejut, wajahnya langsung memerah. Tangan yang tadi menyentuh hidung Dipta langsung menarik diri. “A

  • DIPTA   BAB 43 Apartemen Dipta

    Sinar matahari siang menyusup lebih tajam ke jendela apartemen. Suasana hangat dan nyaman, tapi ada ketegangan halus di udara. Dipta duduk di sofa, Aira di dekatnya sambil menyeruput cokelat panas yang baru saja dibuat Dipta. Tapi, ada sesuatu berbeda di dalam minumannya sedikit racikan yang membua

  • DIPTA   BAB 42 Belajar dan Menginap

    Malam itu, Aira di kamar sendirian. Suara hujan pelan di luar jendela menambah suasana hening. Ponsel bergetar, notifikasi masuk dari Dipta. Dipta: “Udah makan belum? Jangan sampe kelaparan, kamu lagi banyak pikiran kan?” Aira menatap layar, jari-jari gemetar sedikit. Ia tersenyum tipis, tapi h

  • DIPTA   BAB 41 Belajar dan Gosip Yang Makin Panas

    Satu minggu sebelum ujian akhir semester, sekolah terasa lebih tegang dari biasanya. Hampir semua siswa membawa buku ke mana-mana, termasuk Aira. Sore itu, setelah pulang sekolah, ia langsung masuk ke mobil Dipta dengan tas yang terlihat lebih penuh dari biasanya. Dipta melirik sekilas. “Kamu pin

  • DIPTA   BAB 40 Menjelang Ujian dan Gosip Tentang Aira

    Ujian akhir semester semakin dekat, suasana sekolah berubah. Koridor yang biasanya ramai sekarang lebih sering dipenuhi siswa yang membawa buku dan catatan, termasuk Aira. Namun berbeda dengan sebagian besar teman-temannya, Aira jarang belajar di rumah lagi, karena waktunya lebih banyak justru diha

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status