INICIAR SESIÓNAskara memang bukan anak yang “baru mulai belajar” seperti kebanyakan anak seusianya. Sejak usia sekitar 1,5 tahun, dia sudah terbiasa melihat huruf, angka, dan pola bahasa setiap hari. Bukan dengan cara dipaksa belajar, tapi lewat kebiasaan kecil di rumah yang tanpa sadar membentuknya. Aira sering menulis kadang di notes, kadang di buku kecil untuk urusan pekerjaannya sebagai penulis novel online. Huruf-huruf itu sering dibuat besar, sengaja, karena ada satu “pembaca kecil” yang selalu penasaran di dekatnya dan pembaca itu adalah Askara. Awalnya hanya menunjuk “Ini apa?” Lalu berubah jadi mengeja pelan. “…A… I… R… A…” Lama-lama anak itu jadi terbiasa. Sampai akhirnya bukan hanya huruf, tapi juga angka, pola, dan logika sederhana ikut masuk tanpa terasa. Sekarang, saat masuk usia playgroup, Askara sudah jauh lebih maju dibanding anak seusianya. Dia sudah bisa membaca kata-kata sederhana dengan cukup lancar, mengenali angka tanpa ragu, bahkan mulai memahami konsep dasar penjumlahan
Sore itu, sekitar jam empat lewat sedikit, suasana rumah mulai berubah lagi. Bukan jadi sepi total tapi jelas lebih ringan. Indri Mahesa dan Hadiyasa Mahesa sudah lebih dulu pamit, disusul Arjito Rajendra dan Linda yang juga akhirnya pulang setelah obrolan panjang yang terasa seperti reuni masa lalu yang terlalu jujur untuk ukuran satu hari. Begitu mobil terakhir keluar dari halaman, rumah itu langsung terasa lebih “longgar”. Aira berdiri di dekat pintu, masih sedikit melamun, seperti otaknya belum selesai memproses semua cerita tadi. Di belakangnya, Dipta baru saja menutup pintu. “Capek?” tanya Dipta pelan. Aira menoleh, lalu menghela napas panjang. “Capek sih. Tapi lebih ke… penuh.” Dipta mengangguk kecil. “Hari ini memang terlalu banyak sejarah yang keluar sekaligus.” Dari ruang tengah, suara kecil terdengar. Askara masih sibuk sendiri, main tanpa peduli dunia orang dewasa yang barusan “rapat besar keluarga”. Aira melirik ke arah suara itu, lalu sedikit tersenyum. “Tapi aneh
Begitu semua sudah masuk, suasana rumah Dipta langsung berubah dari “kunjungan mendadak” jadi “piknik keluarga yang tidak direncanakan”. Dari arah dapur, terdengar suara plastik kresek dan kotak makanan diturunkan satu per satu. Indri Mahesa datang dengan dua tas besar. “Ini Bunda masakin sup, sama lauk ringan.” Belum selesai bicara, dari belakang Linda sudah menyusul sambil meletakkan beberapa kotak. “Ibu bawa makanan favorit kamu juga.” Aira yang berdiri di ruang tengah langsung diam. “Ini rumah atau acara potluck…” gumamnya pelan. Di sisi lain, Askara sudah lebih dulu “sibuk”. Dia duduk di karpet ruang keluarga, membuka satu persatu cemilan yang dibawa Indri dan Linda. “Ini buat aku semua?” Indri langsung tersenyum. “Iya, tapi jangan makan banyak-banyak dulu ya.” Linda ikut menambahkan sambil mengelus kepala Askara. “Kalau ini habis, nanti nenek bikin lagi.” Askara langsung mengangguk serius. “Aku akan evaluasi kualitasnya.” Aira hampir tersedak tawa kecil dengar i
Perubahan kecil itu mulai kelihatan dari rutinitas harian Aira. Kalau dulu dia masih sering pulang ke rumah orang tuanya, sekarang arah pulangnya pelan-pelan bergeser. Lebih sering ke rumah Dipta . Bukan karena “sudah diumumkan ke dunia luar”, tapi karena di titik ini, itu terasa paling aman dan paling tenang untuk sementara. Awalnya Aira masih canggung. Namun lama-lama, ritme itu terbentuk sendiri. Pulang kerja, makan, istirahat, urus hal kecil rumah, tidur. Sederhana, namun tetap stabil, dan yang paling menarik justru bukan itu. Justru perubahan kecil dari Aira terhadap Askara. “Papa pinjaman.” begitu Askara menyebut Dipta dengan santai, tanpa beban, seperti nama panggilan yang sudah jadi kebiasaan. Dipta awalnya hanya diam mendengar itu. Lalu menatap Askara sebentar. “Pinjaman?” Askara mengangguk polos. “Soalnya papa asli aku belum bisa bareng aku terus.” Aira yang mendengar itu langsung terdiam sebentar. Tidak ada nada sedih yang berlebihan, hanya ada sesuatu yang pelan-pela
Iya, itu justru jadi garis penting yang mereka jaga ketat. Di dalam mobil itu, meskipun suasana mulai lebih tenang, ada satu hal yang tidak berubah: status mereka tetap “tidak diumumkan”. Aira masih memilih diam. Bukan karena tidak percaya, tapi karena situasi di luar belum stabil rumor, tekanan kantor, dan bayang-bayang Andine yang belum selesai benar-benar diputus. Dipta juga tidak memaksa. Dia paham, ini bukan soal ingin disembunyikan selamanya tapi soal waktu yang belum aman. Di perjalanan, Aira sempat bicara pelan tanpa menoleh. “Soal kita… tetap kayak kemarin ya.” Dipta langsung paham maksudnya. “Iya.” jawabnya singkat. Aira melanjutkan, lebih pelan lagi. “Di kantor… tetap biasa.” Dipta mengangguk. “Tetap profesional.” Hening sebentar. Dipta menambahkan, suaranya tenang. “Aku nggak akan maksa kamu ngakuin apa pun ke siapa pun. “…sampai kamu siap.” Aira diam lama. Lalu pelan menjawab. “Aku belum siap.” “Aku tahu.” jawab Dipta singkat, tanpa nada kecewa, tanpa tekanan. A
Pagi itu sekitar pukul 06.30. Aira akhirnya bangun dari tidur yang sedikit lebih panjang dari biasanya. Biasanya dia sudah aktif dari jam lima, tapi tubuhnya masih “recovery mode” setelah drama semalam. Dia duduk sebentar di ranjang, lalu keluar kamar tanpa banyak pikir. Di luar kamar, rumah terasa berbeda. Meski sunyi tapi kesunyian itu terasa lebih hangat dan ada satu hal yang langsung menarik perhatiannya aroma masakan. Aira berhenti. “Bau apa ini…” gumamnya pelan. Dia mengikuti arah aroma itu, langkahnya pelan, masih setengah sadar. Rumah ini besar, bahkan terasa seperti bisa “menelan arah” kalau tidak terbiasa. Sampai akhirnya langkahnya terhenti di satu area, sebuah ruangan namun tidak ada pintu. Hanya bukaan lebar yang menyatu dengan interior rumah. Aira melangkah lebih dekat dan dia langsung diam. Di dalamnya bukan ruang kerja, bukan juga ruang tamu, melainkan sebuah area bermain anak. Ada perosotan kecil, kolam bola, rumah-rumahan mini, mainan tertata rapi, dan ruang lua
Aira terbangun bahkan sebelum alarmnya berbunyi. Langit di luar jendela kamarnya masih berwarna abu-abu pucat. Cahaya pagi belum sepenuhnya masuk, tapi cukup untuk membuat bayangan lemari dan meja belajarnya terlihat jelas. Ia menatap langit-langit beberapa detik, lalu semalam kembali. Cahaya layar
Jam di dinding kamar Aira menunjukkan pukul 15.12. Ia sudah membuka lemari sejak lima menit lalu, tapi belum juga mengambil keputusan.“Kenapa sih susah banget cuma mau makan?” gumamnya pelan.Tangannya menyentuh beberapa gantungan baju. Blus putih? Terlalu formal. Kaos oversized? Terlalu santai. A
Beberapa hari setelah mereka bertukar nomor HP, Aira duduk di kelas kosong XI IPA 2. Di depannya, buku Biologi terbuka lebar, catatan rapi tertata di setiap halaman. Tapi matanya sesekali menatap layar ponsel, jari-jarinya memainkan ujung pena tanpa sadar. Napasnya pendek ketika ia menarik napas da
Hari-hari berlanjut, Aira tiba di sekolah lebih awal dari biasanya. Hari ini ada latihan OSIS untuk kegiatan lingkungan sekolah, yang ia ikuti bersama teman dekatnya Nadhira dan Lestari. Meski pagi masih terasa sejuk, hati Aira sedikit berdebar karena ia tahu kemungkinan akan bertemu Dipta di area s







