تسجيل الدخول“Mr. Bauer, blokir semua akses keuangan Mrs. Nancy Alexandra,” ucapnya tegas meski suaranya masih serak. “Dia sudah mengintimidasi saya terkait kasus penyekapan. Tolong usut semua transaksi dan kepentingannya yang berhubungan dengan aset Kakek. Saya gak ingin dia punya celah lagi.”Di seberang, Mr. Bauer terdiam sejenak sebelum menjawab dengan nada profesional. “Saya mengerti, Miss Elara. Sesuai wasiat kakek Anda, saya masih memiliki wewenang penuh sampai Anda genap 19 tahun. Saya akan segera proses pemblokiran sementara dan mulai audit. Hasil awal akan saya laporkan dalam 48 jam.”“Terima kasih.” Elara menutup telepon.Mobil berhenti di depan sebuah penthouse modern yang dikelilingi tembok tinggi dan sistem keamanan berlapis. Sopir membuka pintu. Elara turun pelan sambil memegang pergelangan tangan yang masih perih. Ia masuk ke dalam hunian yang sunyi itu.***Keesokan harinyaMatahari sudah tinggi ketika Elara bangun di kamar penthouse. Tubuhnya masih lelah, tetapi pikirannya lebih
Theo dan Rian saling berpandangan, wajah mereka pucat.“Jangan-jangan Elara lihat…,” gumam Theo pelan.Rian langsung mengangguk cepat. “Wah, gawat! Kita harus cek sekarang juga.”Keduanya buru-buru menuju markas. Pintu didorong, lalu terbuka lebar.BRAKK!Di dalam, Kael sedang memunggungi mereka, masih bertelanjang dada. Sementara Lyra duduk di tepi sofa sambil memeluk lutut. Wajahnya basah air mata. Ia berselimut dengan bahu terbuka.Kael menoleh, kaget. “Theo? Rian? Kenapa kalian balik?”Theo tidak menjawab. Matanya langsung menatap keadaan ruangan yang berantakan, baju yang berserakan di lantai, dan ekspresi bersalah di wajah Kael.“Kael,” suara Theo datar, “Elara barusan di luar. Ngapain kalian?"Kael membeku. “Apa?”“Dia datang. Kita lihat dia pergi naik taksi dengan menangis,” tambah Rian. “Dia pasti dengar dan lihat sesuatu.”Kael langsung meraih kaosnya yang tergeletak di lantai, memakainya tergesa-gesa. Wajahnya berubah panik. “Sial… sial! Kenapa dia ke sini?!”Lyra menunduk
Elara menghela napas panjang, tubuhnya terasa sangat berat. Luka di pergelangan tangan masih perih, dan pikirannya penuh dengan suara bentakan serta ancaman yang baru saja ia dengar. Ia menatap Kael lelah.“Kael, aku capek banget,” bisiknya pelan. “Badan aku masih sakit, kepala pusing. Aku mau istirahat sebentar.”Kael langsung mengangguk. Wajahnya penuh perhatian. “Oke. Ayo, aku anter ke kamar tamu di lantai dua. Kamu tidur dulu. Nanti kalau polisi sudah siap, aku bangunin.”Elara membiarkan Kael menggandeng tangannya menuju tangga. Langkahnya pelan, hampir terseok. Setiap gerakan membuat pergelangan tangannya yang masih dibalut perban terasa nyeri. Begitu sampai di kamar tamu yang luas dan tenang, Kael membuka pintu dan mempersilakan Elara masuk.“Tidur yang nyenyak,” kata Kael sambil menarik selimut. “Aku tunggu di luar. Kalau butuh apa-apa, langsung panggil.”Elara mengangguk lemah, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Rambut blonde-nya tergerai di bantal. Matanya su
Kael menatap wajah Elara yang damai dalam tidur. Jari-jarinya terus menyisir rambut blonde yang lembut itu. Ia ingin memastikan gadis itu benar-benar aman di sampingnya.“Aku punya rahasia mereka, terutama Sienna,” bisiknya pelan. “Bisa dipastikan akan viral.”Ia mengambil ponsel dari nakas, membuka folder tersembunyi. Di dalamnya tersimpan beberapa file yang Theo kirim semalam. Ada cuplikan live streaming yang sempat tersimpan di cache, chat Sienna dengan Jonathan sebelum jebakan, bahkan rekaman suara singkat saat Sienna tertawa dan bilang “Ini semua karena dia deket Kael”.Ia lalu membuka file khusus yang berisi rekaman dan foto mesum Sienna dengan beberapa pria. "Lo pengen jadi pacar gue? Najis banget!"Kael menatap layar lama. Kalau file-file ini tersebar, nama Sienna dan The Black Vipers akan hancur total. Namun ia belum ingin buru-buru. Ia ingin menunggu momen yang tepat. Setelah laporan polisi resmi, pengacara ayahnya bergerak, dan Nancy serta Daniel Abraham merasa aman.Elara
Daniel Abraham menekan tubuh Nancy ke kasur. Lututnya menyela di antara paha wanita itu. “Anakmu bikin masalah besar hari ini,” gumamnya di sela ciuman di leher Nancy.“Anakmu juga,” jawab Nancy tersengal. Jari-jarinya mencengkeram punggung Daniel. “Sienna yang jebak Elara. Kalau sampai kasus ini masuk pengadilan, namamu ikut kotor.”Daniel menggigit pelan puting Nancy hingga wanita itu mendesah. “Makanya kita harus atur. Elara harus diam. Sienna juga harus dilindungi.”Nancy mendorong dada Daniel hingga pria itu terlentang, lalu menungganginya. Ia menggerakkan pinggulnya pelan dan membiarkan Daniel masuk dalam-dalam. Desah keduanya memenuhi kamar.“Aku sudah bilang ke Elara supaya tidak memperpanjang,” kata Nancy sambil bergerak naik-turun. Deru napasnya memburu. “Tapi Kael? Aku nggak bisa jamin. Dia terlalu protektif terhadap Elara. Kalau perlu, kita buat dia sibuk dengan masalah keluarga Draven.”Daniel memegang pinggang Nancy erat, menghentak ke atas. “Dan Sienna? Dia harus minta
Kael berhenti di tengah jalan setapak di belakang kampus. Elara masih dalam gendongannya. Tubuhnya gemetar dengan wajah basah air mata. Rambut blonde-nya berantakan menempel di pipi.Nancy berlari mendekat dengan wajah panik bercampur marah. Di belakangnya ada dua satpam asrama yang ikut menyusul.“Kael! Elara! Apa-apaan ini?!” teriak Nancy. Deru napasnya tersengal. Matanya langsung tertuju pada kondisi putrinya yang kusut dan memeluk Kael erat. “Kenapa Elara? Kau mau bawa dia ke mana?!”Kael semakin erat menggendong Elara. Ia berdiri tegak dengan tatapannya dingin ke arah ibu tiri.“Mama Nancy, tenang! Elara baru saja disekap di gudang kosong oleh Sienna dan tiga orang laki-laki. Mereka live streaming. Aku dan teman-teman yang menyelamatkan.”Nancy membelalak. “Apa?! Disekap? Live streaming?!”Elara mengangkat wajahnya sedikit dari dada Kael. Suaranya serak dan terbata-bata. “Benar, Ma. Sienna jebak aku. Dia kirim pesan palsu seolah-olah dari Kael. Aku diikat mereka mau—"Elara tidak







