LOGINDiamond High School adalah sekolah elit yang dikuasai oleh Kael Draven, ketua geng The Sovereigns yang disegani, berandal, dan arrogan. Hidup Kael hanya diisi dengan solidaritas geng, balapan motor, dan mengabaikan aturan sekolah. Baginya, perempuan hanyalah makhluk manja yang merepotkan. Namun, ketenangan dunia berandalan Kael terusik dengan kedatangan Elara Quinn, siswi pindahan yang cerdas, pemberani, dan berbeda dari siswi kebanyakan. Elara tidak takut pada reputasi Kael, bahkan berani menegurnya saat berbuat kekacauan. Elara yang cantik dan selalu tulus mengobati saat Kael terluka, menarik perhatian cowok tampan berhati dingin itu, mengubah rasa penasaran menjadi obsesi posesif. Kael yang kejam berubah menjadi pelindung yang posesif dan protektif, memastikan tidak ada yang berani menyentuh gadis-nya. Konflik muncul ketika Elara yang tinggal di asrama pulang ke rumah
View MoreElara Quinn menarik napas dalam-dalam di depan gerbang besi tinggi Diamond High School. Tas ransel hitam polosnya terasa berat. Ini hari pertamanya sebagai murid pindahan dari kota kecil Oakhaven
Mamanya baru menikah dengan Thomas Draven—salah satu orang terkaya di Silverport City. Elara memilih tinggal di asrama sekolah daripada ikut tinggal di penthouse mewah itu. Ia hanya ingin hidup tenang, belajar, dan sesekali kerja paruh waktu. Tidak lebih. "Blend in, Elara. Kamu bisa,” gumamnya sambil menunduk, membiarkan rambut blonde bergelombang menutupi separuh wajahnya. Ruang kelas 11-4 sudah ramai saat ia masuk. Guru BK tersenyum ramah dan memperkenalkannya di depan kelas. “Ini Elara Quinn, murid pindahan dari luar kota. Tolong bantu dia beradaptasi, ya.” Beberapa siswa berbisik. Elara hanya mengangguk kecil lalu langsung menuju kursi paling belakang, dekat jendela. Tempat yang aman. Tak lama setelah bel masuk, pintu kelas terbuka. Kael Draven melangkah masuk dengan langkah santai yang langsung membuat suasana kelas berubah. Tubuh tinggi, bahu lebar, rambut hitam acak-acakan, dan aura dingin yang membuat orang-orang secara otomatis menunduk. Dia pemimpin The Sovereigns—geng paling berpengaruh di Diamond High School. Anak tunggal keluarga Draven. Siapa pun yang mengganggu ketenangannya biasanya berakhir menyesal. Kael melewati deretan meja tanpa melihat siapa pun. Hingga langkahnya terhenti sebentar di dekat meja Elara. Ia menatap cewek baru yang sedang meletakkan tasnya dengan ekspresi datar. Elara mendongak. Ia tidak tahu siapa cowok di depannya. “Maaf,” katanya pelan, suara datar. “Kursi ini kosong. Kalau mau duduk, silakan.” Seluruh kelas langsung membeku. Kael menatapnya lama, alisnya terangkat sedikit. Bukan senyum manis, melainkan ekspresi setengah geli, setengah meremehkan. Tanpa berkata apa-apa, ia menarik kursi di sebelah Elara dan duduk dengan santai, seolah itu hal paling biasa di dunia. Bisik-bisik di antara penghuni kelas langsung meledak. "Dia duduk di sebelah new girl?” "Gila, biasanya kursi itu kosong.” "Kael nggak pernah duduk sembarangan.” Elara mengerutkan kening, tetapi memilih tak peduli. Ia mengeluarkan buku catatan dan berusaha fokus pada pelajaran. Namun ia bisa merasakan tatapan aneh Kael. Tatapan yang sesekali menyelinap ke arahnya—bukan tatapan lembut, melainkan tatapan seperti sedang menilai barang baru yang aneh. Saat jam istirahat, masalah datang lebih cepat dari yang ia duga. Tiga gadis mendekat ke meja Elara. Yang paling depan adalah Sienna, ketua klub penggemar Kael sekaligus ratu gosip Diamond High. Ia bersedekap, tersenyum smirk. Ia mengamati Elara dari atas sampai ke bawah, tak ada jejak orang kaya. "New girl,” kata Sienna dengan suara manja yang dibuat-buat. “Kursi itu biasanya kami simpan untuk orang tertentu. Kamu mungkin belum tahu aturan di sini.” Elara menghela napas. “Aku cuma duduk di tempat kosong. Kalau kalian mau, aku pindah—” "Oh, sayang sekali,” potong Sienna sambil tertawa kecil. Suaranya cukup keras agar beberapa siswa di sekitar ikut mendengar. “Kamu pikir semudah itu? Duduk di sebelah Kael Draven di hari pertama? Berani sekali!" Dua teman di belakang Sienna ikut menyeringai. Yang satu mengibaskan rambutnya dengan sombong. "Kamu tahu nggak sih, berapa banyak cewek yang sudah berusaha duduk di situ tapi langsung ditolak?” kata gadis kedua. “Dan kamu? Langsung nyaman di sana seolah tempat itu milikmu.” Sienna mencondongkan tubuhnya ke depan, meletakkan kedua tangan di meja Elara. Senyumnya semakin lebar, tetapi tatapannya dingin dan penuh ancaman. "Dengar ya, new girl. Kael itu milik kami. Mi-lik a-ku. Kamu cuma anak pindahan dari entah kampung mana yang kebetulan dapat kursi kosong. Jangan sok deket-deket! Besok pagi mending kamu pindah sendiri ke belakang, atau—" Sienna sengaja menggantung kalimatnya sambil melirik ke arah teman-temannya. Salah satunya langsung menyambung dengan nada sinis. "Atau kami yang bantu ‘pindahin’ barang-barangmu. Tas ransel murahan itu pasti gampang hilang di asrama.” Elara tetap diam dengan tangannya mengepal pelan di bawah meja. Ia tidak mau ribut di hari pertama, tetapi juga tidak mau ditindas. "Aku nggak cari masalah,” jawab Elara datar. “Aku cuma mau belajar.” Sienna tertawa nyaring, suaranya penuh ejekan. "Belajar? Di Diamond High? Dengan muka polos dan rambut blonde murahan begitu? Kamu pikir kami percaya?” Ia menegakkan tubuh dan menyilangkan tangan. “Cewek seperti kamu biasanya cuma datang buat cari perhatian Kael atau cari duit dari cowok kaya. Mana mungkin kamu beda.” Ia mencondongkan wajahnya lebih dekat, suaranya berubah menjadi bisikan yang penuh racun. "Jadi mending kamu sadar diri sekarang? Jauhi Kael! Kalau nggak, aku pastiin hidupmu di sekolah ini jadi neraka. Camkan itu baik-baik!" Suasana di sekitar meja mulai tegang. Beberapa siswa pura-pura tidak melihat, tetapi jelas mereka sedang menyimak. Elara bisa merasakan tatapan penasaran dan iba dari siswa lain. Tepat saat Sienna hendak melanjutkan ancamannya, suara dingin yang familiar terdengar dari belakang Elara. "Ada apa ini?” Kael berdiri di sana, tangannya bertumpu di meja Elara dengan santai. Akan tetapi aura tubuhnya langsung membuat ketiga gadis itu mundur selangkah. Sienna langsung memucat. “Kael, kami cuma mau—” “Kalau kalian bosan, cari mainan lain,” potong Kael datar. “Jangan ganggu kursiku!" Ketiga gadis itu langsung mundur tanpa berani membantah lagi. Kael kembali duduk, tetapi kali ini ia menyandarkan punggungnya dengan santai sambil memiringkan kepala. Ia menatap Elara dengan ekspresi sulit dibaca. “Kamu nggak minta tolong,” katanya pelan, hampir seperti bicara pada diri sendiri. Elara menoleh, tatapannya tegas. “Aku nggak butuh. Aku bisa handle sendiri.” Kael tertawa kecil—suara pendek yang tak sampai ke mata. “Menarik.” Sepanjang sisa jam pelajaran, ia tidak banyak bicara. Hanya sesekali melirik Elara dengan tatapan yang semakin lama semakin intens, seolah cewek di sebelahnya ini adalah teka-teki yang mengganggu. Sepulang sekolah, berita sudah menyebar seperti kebakaran. Elara berjalan menuju gerbang dengan kepala tertunduk. Ia berusaha menghindari tatapan semua orang. Ponselnya sudah banjir pesan dari grup kelas yang entah siapa yang menambahkan nomornya. Saat tiba di tempat parkir, Kael sudah bersandar di mobil sport hitamnya yang mewah, dikelilingi The Sovereigns: Theo, Rian, dan Lyra. "Elara Quinn!" panggil Kael lantang, cukup agar semua orang di sekitar mendengar.Elara baru saja melangkah keluar dari ruang pemulihan ketika sebuah tangan tiba-tiba menarik lengannya. Ia kaget dan berbalik.Marco berdiri di hadapannya, wajah tegang. Jelas sekali pria itu baru saja mengawasi dari celah pintu.“Marco? Kamu—”“Ikut aku,” potong Marco pelan tetapi tegas. Ia menarik Elara ke sudut koridor yang lebih sepi, jauh dari telinga perawat yang lalu-lalang. “Aku dengar semuanya.”Elara menghela napas, melepaskan lengannya. “Kalau begitu kamu sudah tahu. Aku akan pergi setelah Alessandro stabil.”Marco menatapnya dalam. “Kamu serius? Setelah semua yang baru saja terjadi di dalam sana?”“Justru karena itu,” jawab Elara dingin. “Aku sudah bilang ke dia. Aku gak mau lagi jadi penengah. Aku capek, Marco.”Marco mengusap wajahnya, terlihat frustasi. “Tuan Thomas sudah bilang dia gak akan lagi memaksa. Kael juga sudah dilarang menghubungimu. Alessandro baru saja mendonorkan sumsum tulangnya. Dan sekarang kamu mau hilang begitu saja?”Elara menatapnya tajam. “Aku buka
Di ruang pemulihan, perawat membantu Alessandro berbaring di tempat tidur. Infus terpasang di lengannya. Wajahnya masih pucat, tetapi napasnya stabil. Elara duduk di kursi di samping tempat tidur.Beberapa menit berlalu, akhirnya Alessandro membuka suara. “Kamu datang.”“Aku bilang akan menemani sampai selesai,” jawab Elara pelan dengan tatapan penuh perhatian.Alessandro menatap langit-langit. “Marco bilang kamu mengancam Tuan Thomas semalam.”Elara tidak menyangkal. “Aku sudah bilang ke kamu soal itu. Aku marah karena nggak ingin kamu dibatasi oleh urusan mereka.”Alessandro terdiam sejenak. “Aku tetap donor. Bukan karena ancamanmu. Karena aku sudah berjanji.”Elara mengangguk. “Aku tahu.”Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Hanya bunyi monitor yang terdengar. Alessandro akhirnya menoleh ke arah Elara.“Kamu mau pergi, kan?”Elara terkejut. Ia tidak menyangka Alessandro langsung bisa menebak. “Dari mana kamu tahu?”“Dari caramu duduk. Dari caramu menatapku. Seolah ini pertemuan
Elara mendorong pintu tangga darurat dan turun dua tingkat dengan langkah cepat. Napasnya masih belum stabil. Di lantai dasar, ia langsung menuju area parkir karyawan. Dari kejauhan, ia melihat mobil Alessandro masih terparkir di tempatnya.Alessandro berdiri di samping mobil, punggung bersandar pada pintu pengemudi, tangan disilangkan di dada. Wajahnya masih tegang di bawah cahaya lampu parkir yang kuning.Elara mendekat pelan. “Ale!”Alessandro tidak langsung menoleh. Ia hanya menghela napas panjang. “Kamu turun juga.”“Aku sudah menyuruh Kael masuk ke ruangan,” kata Elara cepat. “Aku juga sudah menelepon Marco. Aku bilang ke dia supaya Om Thomas kendalikan Kael. Kalau tidak, aku ancam mereka soal donor.”Alessandro akhirnya menoleh. Matanya masih dingin, tetapi ada sedikit kelelahan di baliknya. “Kamu ancam mereka dengan sumsum tulangku?”Elara mengangguk, menunduk. “Aku tidak tahu cara lain. Aku takut kamu benar-benar pergi.”Alessandro terdiam beberapa detik. Lalu ia membuka pint
Di koridor yang sepi, langkah Elara terdengar tergesa. Di dalam hatinya, ia tahu keputusan ini akan membawa konsekuensi. Namun malam ini, ia hanya ingin pergi.“Elara!”Tiba-tiba terdengar suara Kael.Elara membeku di tempat. Napasnya tertahan. Ia pelan-pelan berbalik. Di ambang pintu ruang isolasi, Kael berdiri tegak. Satu tangan menenteng botol infus yang masih tersambung ke lengannya.Sementara tangan lainnya memegang tiang infus agar tidak goyah. Wajahnya yang semula pucat kini tampak segar. Matanya jernih. Napasnya stabil. Tidak ada tanda-tanda orang yang baru saja koma dan kritis beberapa jam lalu.Elara membelalak dengan tubuh terpaku. Ia tidak bisa mempercayai penglihatannya. “Kael…?”Kael tersenyum tipis, meski masih sedikit pucat di bibir. “Kamu mau ke mana?”Elara mundur satu langkah, jantungnya berdegup kencang. “Kamu sadar? Bagaimana bisa? Dokter bilang kamu koma—”“Aku gak tahu,” potong Kael pelan. Ia melangkah keluar koridor dengan hati-hati, botol infus bergoyang di ge


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.