Kael menarik Elara lebih dekat lagi, bibirnya nyaris nyentuh telinga Elara."Aku nggak mau kamu pergi sekarang. Mau kamu di sini, temani aku."Kael menatap Elara dengan wajah memelas, mata hitamnya yang biasanya tajam sekarang seperti anak kecil yang takut ditinggal. Bibirnya yang masih berdarah sedikit mengkerut, alisnya turun, suaranya pelan sekali, hampir bergetar."El, please! Aku nggak minta lama. Cuma malam ini aja. Aku terluka karena kamu."Jempolnya mengusap pinggang Elara lagi, lebih lembut dari sebelumnya, seperti takut kalau gerakan terlalu keras, Elara bakal kabur.Elara merasa dadanya sesak. Wajah Kael yang biasanya angkuh itu sekarang kelihatan rapuh, dan entah kenapa itu bikin hatinya luluh.“Baiklah, aku kirim pesan ke Mama dulu,” bisik Elara akhirnya, suaranya kecil. Beberapa saat kemudian, Elara telah mengirimkan pesan. Ia masukkan ponsel ke tas.Kael tersenyum tipis, langsung menarik Elara kembali ke pangkuannya. Ciumannya kali ini lebih dalam, lebih liar. Tangannya
Last Updated : 2026-04-24 Read more