LOGIN“Ale, aku hanya ingin bersama kamu,” ucap Elara.Alessandro terdiam. Kalimat itu sederhana, tetapi cukup untuk membuat dadanya terasa sesak.Ia menatap Elara beberapa detik sebelum akhirnya berkata pelan, “Kalau itu yang kamu inginkan, aku akan menghargainya.”Elara mengusap air matanya.“Aku capek, Ale.”“Aku tahu.”“Aku capek harus menjelaskan kenapa aku mencintaimu. Aku capek harus merasa bersalah setiap kali memilih perasaanku sendiri.”Alessandro menarik napas panjang.“Kamu gak perlu merasa bersalah karena mencintai seseorang.”Elara menatapnya dengan raut wajah semakin tertekan.“Tapi aku sudah menikah dengan Kael.”Alessandro tidak langsung menjawab. “Aku tahu.”“Secara hukum dan di hadapan keluarga, aku adalah istrinya,"ucap Elara penuh sesal. “Aku tahu," sahut Alessandro sambil menyeka air mata Elara ujung jari.“Lalu bagaimana mungkin aku bisa bersamamu?”Alessandro menatap mata Elara.“Itu sebabnya aku gak akan memintamu melakukan apa pun malam ini.”Elara terdiam dengan
Sementara itu, Kael sudah tiba di Kyoto pada malam harinya. Ia check-in di hotel dekat area tempat jejak terakhir Elara terdeteksi. Dari kamar hotel, ia terus menghubungi orang-orangnya.“Cek semua apartemen sewaan di area itu. Fokus pada perempuan berambut pirang, sendirian, baru datang dalam seminggu terakhir.”Di waktu yang hampir bersamaan, Marco menerima telepon dari Thomas.“Marco, datang ke sini! Kita perlu bicara soal Alessandro dan Elara.”Marco yang sedang di rumah sakit langsung menuju ruang Thomas. Begitu masuk, ia melihat wajah Tuan Thomas yang jauh lebih muram dari biasanya.“Ada apa, Pak?”Thomas menatapnya berat. “Alessandro mengajukan syarat. Dia hanya mau mengakui saya sebagai ayah kandung jika saya membantu membatalkan pernikahan Kael dan Elara.”Marco terkejut. “Pembatalan? Itu sangat sulit. Kemudian besar Kael gak akan setuju. Dia sangat mencintai Elara."“Saya tahu,” jawab Thomas. “Tapi itu satu-satunya yang dia minta. Maka dari itu saya ajak kamu diskusi."Marc
Tiba-tiba ponsel milik Alessandro berdering. Tampak nomor asing dari negara Jepang.“Siapa, ya?” tanya Alessandro sambil menoleh ke arah Maria.“Angkat saja, Ale!”Alessandro mengangkat telepon itu dengan ragu. “Halo?”Keheningan sejenak di seberang. Lalu suara yang sangat familiar terdengar, pelan dan sedikit serak.“Ale… ini aku.”Alessandro membeku. Maria yang melihat ekspresinya langsung menegakkan tubuh.“Elara?” suara Alessandro turun menjadi bisikan, seolah tidak percaya. Kedua matanya tampak berbinar-binar, penuh harapan.Di seberang, Elara menarik napas. “Aku di Kyoto. Aku… hanya ingin bilang," terdengar isakan beberapa saat. "Aku sudah sampai dengan selamat. Dan… maaf karena pergi tanpa bilang langsung.”Alessandro menutup mata, menekan ponsel lebih erat ke telinganya. “Kamu telepon dari nomor Jepang.”“Aku beli nomor lokal. Aku gak ingin mudah dilacak.” Elara terdiam sebentar. “Aku dengar kamu drop setelah donor. Sekarang … gimana keadaan kamu?”Alessandro tertawa kecil, te
Di kota yang jauh, Elara mulai membangun rutinitas baru. Ia tidak menyalakan ponsel kecuali untuk membalas Clara. Ia menolak semua permintaan lokasi. Bahkan Clara hanya tahu bahwa ia aman, tanpa detail alamat lengkap.Sementara itu di rumah sakit, Alessandro akhirnya sadar penuh pada pagi ketiga. Yang pertama ia tanyakan bukan kondisi tubuhnya.“Elara?”Maria yang duduk di samping tempat tidur terdiam. Marco yang kebetulan ada di ruangan juga tidak langsung menjawab.Alessandro mengulang, suaranya serak. “Di mana Elara?”Maria menunduk. “Dia pergi, Ale. Setelah kamu donor. Dia bilang ingin hidupnya sendiri.”Alessandro menatap langit-langit lama. Tak ada ekspresi marah maupun kaget. Namun seolah dalam dirinya ada sesuatu yang mengunci.“Aku tahu,” bisiknya. “Aku sudah duga.”Di sisi lain rumah sakit, hasil tes DNA akhirnya keluar. Dokter pribadi Thomas menyerahkan amplop itu langsung ke tangan pria tua itu. Thomas membuka dengan tangan gemetar. Hasilnya jelas bahwa Alessandro Bianchi
Marco buru-buru membungkam mulut Kael dan menyeretnya menjauh dari Maria yang masih menempel di kaca ICU.Begitu mereka mencapai ujung koridor, Kael menepis tangan Marco dengan kasar.“Lepas!” teriak Kael dengan wajah memerah.“Berani benar, kamu membungkam aku?”Marco menatapnya tegang. “Kamu mau bilang apa barusan di depan Nyonya Maria? Mau bilang Elara sudah jadi istrimu? Sekarang? Saat anaknya drop di dalam sana?”Kael menegakkan tubuhnya. “Itu fakta. Elara sudah menikah denganku. Sah. Aku gak akan diam saja, sementara semua orang pura-pura gak tahu.”“Fakta yang akan membuat Nyonya Maria meledak,” potong Marco. “Anaknya baru saja kolaps. Elara menghilang. Kalau kamu sekarang berdiri di situ dan mengklaim Elara sebagai istrimu, kamu hanya akan menambah kekacauan.”Kael tertawa pahit. “Jadi aku harus tutup mulut? Sementara Alessandro yang hampir menjadi calon suaminya terbaring di ICU, dan aku yang sah harus pura-pura gak ada?”Marco menghela napas berat. “Bukan pura-pura gak ada. T
Elara baru saja melangkah keluar dari ruang pemulihan ketika sebuah tangan tiba-tiba menarik lengannya. Ia kaget dan berbalik.Marco berdiri di hadapannya, wajah tegang. Jelas sekali pria itu baru saja mengawasi dari celah pintu.“Marco? Kamu—”“Ikut aku,” potong Marco pelan tetapi tegas. Ia menarik Elara ke sudut koridor yang lebih sepi, jauh dari telinga perawat yang lalu-lalang. “Aku dengar semuanya.”Elara menghela napas, melepaskan lengannya. “Kalau begitu kamu sudah tahu. Aku akan pergi setelah Alessandro stabil.”Marco menatapnya dalam. “Kamu serius? Setelah semua yang baru saja terjadi di dalam sana?”“Justru karena itu,” jawab Elara dingin. “Aku sudah bilang ke dia. Aku gak mau lagi jadi penengah. Aku capek, Marco.”Marco mengusap wajahnya, terlihat frustasi. “Tuan Thomas sudah bilang dia gak akan lagi memaksa. Kael juga sudah dilarang menghubungimu. Alessandro baru saja mendonorkan sumsum tulangnya. Dan sekarang kamu mau hilang begitu saja?”Elara menatapnya tajam. “Aku buka







