LOGINElara berusaha kembali fokus pada pekerjaannya. Studio kecilnya semakin sibuk dengan order. Kain-kain baru berdatangan, sketsa menumpuk di meja. Clara mendampinginya hampir setiap hari, memastikan Elara tidak tenggelam dalam pemberitaan.Namun Brigitte tidak pernah benar-benar hilang. Dari jauh, fitnah terus mengalir—komentar samar di media sosial, bisikan di lingkaran tertentu, hingga artikel anonim yang menyinggung “desainer yang menghancurkan rumah tangga orang”. Elara memilih tidak membalas. Ia hanya fokus bekerja.Sampai suatu siang, rasa nyeri tiba-tiba menusuk di bekas jahitan perutnya. Sakitnya cukup hebat hingga Clara memaksa membawanya ke rumah sakit.“Hanya pemeriksaan,” kata Clara khawatir. “Jangan ditahan terus! Aktivitas kamu sudah over."Elara akhirnya menurut. Ia duduk di ruang tunggu poliklinik bedah dengan wajah pucat, tangan menekan pelan perutnya.Di koridor yang sama, tanpa ia ketahui, Brigitte baru saja selesai kontrol kandungan. Perutnya sudah semakin menonjol.
Malam itu menjadi salah satu malam paling penting dalam karier Elara sejak kembali ke Milan. Show tunggalnya digelar di sebuah galeri yang diubah menjadi runway intim.Cahaya hangat, musik pelan, dan koleksi yang ia rancang sendiri selama berminggu-minggu akhirnya dipamerkan di depan pembeli, editor, dan beberapa kolektor.Tepuk tangan menggema saat Elara keluar di akhir acara. Senyumnya tipis, elegan, sorot matanya tetap menjaga jarak dengan kerumunan. Ia membungkuk singkat, lalu berjalan turun dari panggung.Di dekat sisi panggung, Alessandro berdiri membawa setangkai buket mawar putih. Ia tidak langsung maju saat kerumunan masih padat. Baru ketika Elara mulai berjalan menuju area belakang, ia mendekat.“Elara!" panggilnya pelan. “Selamat. Koleksimu… sangat indah.”Elara berhenti. Tatapannya dingin, tetapi tidak langsung menolak. Ia menatap bunga di tangan Alessandro, lalu ke wajah pria itu.Belum sempat ia menjawab, keributan tiba-tiba pecah di dekat pintu masuk.Kilatan kamera ber
[Ale, tolong perut aku kram. Cepat kemari!]Alessandro langsung membalasnya. [Telepon Theo! Urusan kita sudah selesai.]Ia langsung memblokir nomor Brigitte. Sekarang ini, ia hanya ingin mengajak Elara kembali bersama.Alessandro menyandarkan tubuhnya di dinding koridor apartemen Elara. Napasnya berat. Blokir itu terasa seperti memotong tali yang selama ini menariknya ke belakang. Ia tidak ingin lagi memberi ruang pada masa lalu yang salah.Maria yang menunggu di ujung koridor mendekat. “Sudah?”“Sudah,” jawab Alessandro singkat. “Aku gak akan menjawabnya lagi. Mulai sekarang, aku akan fokus pada Elara.”Maria mengangguk pelan, meski matanya masih penuh khawatir. “Kalau Elara tetap menolak bertemu?”“Aku tunggu,” kata Alessandro tanpa ragu. “Kalau perlu, aku akan sewa unit di gedung ini. Aku berhenti berusaha, sebelum dia mendengar penjelasan aku. Bukan pembelaan. Aku ingin menjelaskan sampai tuntas."Ia menatap pintu apartemen yang masih tertutup. Di baliknya, Elara mungkin sedang be
Elara menandatangani surat cerai di atas meja kecil di kamar rumah sakit. Tangannya masih sedikit gemetar, tetapi goresan penanya tegas. Mr. Bauer berdiri di sampingnya. Wajah pria itu tegang dan tetap profesional.“Silakan urus sisanya,” kata Elara pelan. “Semua aset atas nama saya tetap terpisah. Saya tidak meminta apa pun dari Alessandro. Saya hanya ingin selesai.”Mr. Bauer mengangguk. “Saya akan proses secepat mungkin. Anda akan kembali ke Milan?”“Ya. Saya sudah menghubungi Tante Clara. Bisnis saya di sana masih menunggu. Saya butuh sesuatu yang bisa saya kendalikan. Lebih utama, saya ingin sehat fisik dan jiwa."Dua hari kemudian, Elara meninggalkan Geneva. Maria sempat memohon agar ia menunggu dan Elara hanya memeluknya singkat di bandara.“Ma, tolong jangan bela dia di depan saya,” bisiknya. “Saya sudah cukup hancur. Saya tidak mau gila gara-gara ini. Saya berhak bahagia, kan?""Sudah pasti, Elara. Maafkan Mama tidak mampu mencegah Alessandro berbuat jahat padamu."Akhirnya m
Malam itu Elara tiba-tiba menginginkan masakan Korea. Bau kimchi dan sup tofu yang ia pesan lewat layanan pesan antar sempat membuatnya tertawa sendiri karena rasa ngidam yang datang tiba-tiba. Alessandro yang baru pulang dari rumah sakit sempat duduk di seberangnya, masih mengenakan kemeja dinas yang kusut.“Kamu benar-benar mau makan itu sekarang?” tanyanya sambil tersenyum lelah.Elara mengangguk. “Mau? Kita nikmati berdua.”Belum sempat Alessandro menjawab, ponselnya bergetar. Ia melihat layar, lalu berdiri. “Aku harus ambil telepon ini.”Ia keluar ke balkon. Beberapa menit kemudian, ia kembali dengan wajah tegang. “El, aku harus ke rumah sakit. Darurat. Kamu makan dulu, ya. Sopir di bawah kalau kamu butuh sesuatu.”Elara hanya mengangguk. Pintu kamar tertutup. Makanan Korea di atas meja perlahan dingin.---Kesibukan Alessandro semakin menjadi, bahkan untuk mendampingi Elara dalam menghadapi Graf von Steinberg, ia telah ingkar jadi. Kini Elara yang sedang hamil muda harus hadapi
Brigitte menggigit bibirnya, menunduk. Di kepalanya, nama Elara terus berputar. Kekasih lama Kael. Wanita yang sekarang mengandung anak Alessandro. Dan Alessandro—pria yang nyawanya pernah ia pertahankan—berdiri di sisi wanita itu tanpa ragu.Sebuah senyum penuh trik terlukis pada sudut bibir Brigitte. "Masih banyak jalan ke Roma."Di dalam kamar, Elara menyandarkan kepala ke bantal, masih mencoba menerima kenyataan baru itu. Alessandro tetap di sisinya, ibu jari mengusap punggung tangannya berulang kali. Ia belum bercerita tentang Brigitte. Malam ini, satu-satunya yang penting adalah Elara dan anak yang baru mereka ketahui bersama.Hari-hari berikutnya di Geneva berlangsung pelan. Elara tetap dirawat di kamar pribadi untuk observasi. Infus dilepas pada hari kedua, tetapi dokter—Theo—tetap mengharuskan istirahat total dan pantang stres.Alessandro hampir tidak pernah meninggalkan sisi tempat tidurnya. Ia mengatur semua komunikasi dengan Mr. Bauer dari dalam kamar, memastikan Elara tid







