Share

TITIK TERANG

last update publish date: 2026-09-25 20:26:01

Elara terdiam lama setelah mendengar penjelasan Alessandro. Matanya menatap langit-langit kamar yang putih, tetapi fokusnya kosong. Semua beban yang selama ini ia tahan seolah menumpuk sekaligus dalam dadanya.

Bibirnya bergetar. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah. Ia menangis dalam diam, bahu-bahunya bergetar pelan. Bukan tangisan histeris, tetapi tangisan orang yang sudah terlalu lelah menahan segalanya sendirian.

Alessandro langsung berdiri dari kursi, mendekat, lalu duduk di t
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   PERTEMUAN PARA BANGSAWAN

    Malam itu berlalu dengan tenang, meski tidur Elara masih terputus-putus. Setiap kali ia membuka mata, Alessandro masih duduk di sisi tempat tidur, memegang tangannya atau sekadar menatapnya dalam diam. Ia tidak memaksa Elara berbicara. Ia hanya berada di sampingnya.Pagi berikutnya, cahaya lembut menyelinap masuk melalui gorden. Elara terbangun lebih dulu. Alessandro tertidur di kursi dengan posisi yang tidak nyaman, jasnya masih terpasang. Elara tersenyum tipis, lalu menyelimuti bahunya dengan selimut.Beberapa jam kemudian, Mr. Bauer datang membawa kabar.“Perintah pembatasan sudah diproses sementara,” katanya. “Kael tidak boleh mendekati Anda dalam jarak lima ratus meter, baik di Jerman maupun di negara lain yang mengakui perintah ini. Jika ia melanggar, polisi bisa langsung menahannya. Tuan Thomas sudah dihubungi. Ia meminta maaf atas nama keluarganya dan menyatakan tidak akan mendukung tindakan Kael lagi.”Elara mengangguk pelan. “Terima kasih.”Setelah Mr. Bauer pergi, rumah kem

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   MISI PENYELAMATAN

    Di dalam mobil yang melaju kencang, Elara menarik napas tersengal. Ia menatap Kael yang memegang setir dengan tangan gemetar dan mata merah.“Kael, hentikan mobil ini!” teriaknya, meski sedikit bergetar. “Kamu tidak bisa melakukan ini!”Kael tidak menjawab. Rahangnya mengeras. Ia hanya terus menginjak gas, membawa Elara menjauh dari rumah von Hohenzollern. Jalan berliku di antara hutan mulai mereka masuki. Pohon-pohon tinggi menutupi langit.Elara menarik sabuk pengamannya lebih kencang, lalu mencoba membuka kunci pintu. Namun pintu terkunci.“Kael!” suaranya naik. “Dengar aku! Ini penculikan. Kamu sedang menghancurkan dirimu sendiri!”Kael akhirnya berbicara, suaranya serak dan rendah. “Aku tidak menculikmu. Aku hanya tidak mau kehilangan kamu lagi.”“Kehilangan?” Elara tertawa pahit. Air matanya mulai mengalir. “Kamu sudah kehilangan aku sejak lama. Dan sekarang kamu semakin menjauhkanku.”Kael mengertakkan gigi. Kecepatan mobil semakin tinggi. “Aku akan bawa kamu ke tempat yang ama

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   KAEL CULIK ELARA

    Elara menyandarkan kepala di bahu Alessandro. Mereka diam cukup lama, hanya mendengarkan angin dan suara daun yang bergesekan. Tiba-tiba Maria menghampiri mereka dengan wajah panik.“Ale… Elara…” suaranya sedikit tersengal. “Ada masalah.”Alessandro langsung berdiri. “Ada apa, Ma?”Maria menggenggam erat ponselnya. “Tuan Thomas menelepon. Kael sudah tahu. Dia tahu kalian menikah. Dia tahu soal pernyataan keuskupan. Dia sedang dalam perjalanan ke sini.”Elara membeku. “Ke sini? Ke rumah ini?”Maria mengangguk dengan wajah pucat. “Tuan Thomas bilang Kael pergi tanpa bilang-bilang semalam. Tiketnya ke Frankfurt. Dia akan tiba dalam hitungan jam.”Alessandro mengerat rahangnya. “Bagaimana dia bisa tahu begitu cepat?”“Mungkin seseorang di keuskupan Milan membocorkan info,” jawab Maria. “Bisa juga dari notaris. Tuan Thomas sendiri yang menghubungi Mama. Dia minta kita berhati-hati. Kael dalam kondisi tidak stabil.”Elara bangkit dari bangku, tangan masih digenggam Alessandro. “Dia tidak bi

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   PERNIKAHAN SEDERHANA

    Elara membuka mata. Senyum kecil terukir di bibirnya. Alessandro masih memegang tangannya, ibu jarinya mengusap punggung tangan Elara pelan.Maria yang berdiri di barisan belakang mengusap air matanya diam-diam. Mr. Bauer membungkuk hormat, lalu menyerahkan dua salinan akta pernikahan yang sudah ditandatangani dan distempel.“Selamat, Tuan dan Nyonya Bianchi,” katanya formal dengan suara hangat.Elara menatap nama di akta itu lama. Elara Bianchi. Bukan nama yang dipaksakan dan datang dari rasa takut. Nama yang ia pilih dengan hatinya.Mereka keluar dari kapel. Udara pagi Jerman terasa segar. Kabut sudah mulai tipis, menyisakan sinar matahari yang lembut di antara pohon-pohon tua. Alessandro melepas jas dan menyampirkannya di bahu Elara karena angin masih dingin.“Gimana rasanya?” tanyanya pelan.Elara menghela napas panjang, lalu tersenyum. “Begitu ringan dan lega. Seperti aku akhirnya bisa bernapas dengan benar.”Alessandro mengangguk. Ia meraih pinggang Elara dan menariknya ke dalam

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   PROSESI NIKAH

    Pagi tiba dengan cahaya lembut yang menyelinap lewat celah gorden. Elara membuka mata pelan. Alessandro masih duduk di lantai di samping sofa, kepala tersandar di tepi bantal.Tangan mereka masih saling menggenggam. Alessandro terlihat kelelahan, tetapi wajahnya tenang.Elara mengusap punggung tangan pria itu pelan. Alessandro langsung terbuka matanya.“Pagi,” bisiknya serak.“Pagi,” jawab Elara. “Kamu tidak tidur di kasur?”Alessandro tersenyum tipis. “Takut kamu butuh sesuatu di tengah malam.”Elara menggeleng pelan, lalu menariknya naik ke sofa. “Istirahatlah sebentar. Aku sudah jauh lebih baik.”Alessandro menurut, berbaring di sisi Elara dengan hati-hati. Mereka diam beberapa saat, hanya mendengarkan napas satu sama lain.Beberapa jam kemudian, ponsel Alessandro bergetar. Ada pesan dari Maria.[Tiket ke Frankfurt sudah siap. Keberangkatan lusa malam. Mr. Bauer akan menjemput di bandara. Rumah utama sudah dibersihkan.]Alessandro menunjukkan pesan itu ke Elara. Wanita itu membaca,

  • DOSA TERMANIS - MENCINTAI MILIK IBU   KEMBALI KE MILAN

    "Aku semakin yakin setelah lihat kamu tersiksa seperti ini. Biarlah tidak jadi anak dari Tuan Thomas. Aku juga tidak peduli jika sikapku ini membuat aku tidak mendapat hak waris. Bagiku kau segalanya," ucap Alessandro dengan tegas.Elara terdiam lama. Air matanya kembali mengalir dan kali ini hatinya semakin mantap menapaki masa depan bersama Alessandro.“Baik,” bisiknya. “Aku mau.”---Dua hari kemudian, setelah kondisi Elara stabil, mereka terbang ke Milan. Maria sudah menunggu di bandara dengan wajah tegang tapi. Saat pasangan itu tiba, Maria segera memeluk Elara singkat, lalu menatap Alessandro.“Semua sudah diatur,” kata Maria pelan. “Pastor yang dulu membantu Mama sudah siap memberikan keterangan resmi. Kita harus ke keuskupan pagi ini.”Perjalanan menuju keuskupan berlangsung dalam keheningan. Elara duduk di kursi belakang, tangan masih digenggam Alessandro. Di dalam hatinya, rasa takut dan lega bercampur aduk.Begitu tiba, mereka disambut oleh seorang pastor senior dan notaris

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status