LOGIN7
Aku melotot memandangi layar ponsel pagi ini. Terlihat chat di aplikasi hijau masuk dari nomor Dimas. Akhirnya, setelah beberapa hari menunggu, ia menghubungiku juga. Niat hati ingin langsung menghubunginya. Namun, urung saat kubaca isi pesannya.
[Al, mulai sekarang kita putus. Tidak perlu mencariku lagi!]
[Jangan tanya kenapa dan jangan salahkan aku! Kalau mau menyalahkan, salahkan laki-laki tua yang bersama Prisa kemarin.]
[Dia menghajarku, Al. Dia menyuruhku menjauhimu.]
[Kita putus, mulai sekarang tidak ada hubungan apa-apa di antara kita.]
Dimas? Mengirim pesan ini? Setelah beberapa hari aku menunggunya untuk sekadar mengaktifkan nomor? Lalu, begitu aktif dia langsung bilang putus?
Aku menatap nanar layar ponsel. Apakah hubungan yang terjalin setahun ini tidak ada artinya sama sekali baginya? Sehingga ia memutuskan hubungan sepihak tanpa bicara dulu denganku? Apakah aku tidak berharga di matanya? Hingga ia dengan mudahnya bilang putus, bahkan hanya lewat pesan WA?
Apa salahku?
Aku mengusap kasar air mata yang tak bisa dicegah meleleh begitu saja. Sakit? Tentu saja. Ia yang kuharapkan datang memintaku pada Ayah, tetapi nyatanya ....
Tunggu! Dia bilang salahkan laki-laki tua yang bersama Prisa? Apakah itu Om Pandu? Apa hubungannya dengan Om Pandu?
Ok, aku harus mencari tahu. Apa hubungan Om Pandu dengan pemutusan hubungan Dimas ini. Awas saja kalau ini gara-gara dia. Aku juga akan memutuskan pertunangan ini. Pertunangan yang akhirnya kuterima dengan terpaksa. Karena tekanan Ayah, Ibu, juga Prisa.
Enak saja main hajar-hajar cowok orang. Memang dia siapa? Belum apa-apa sudah sok merasa memilikiku. Ini tidak bisa dibiarkan!
Tanpa berpikir panjang, aku langsung menyambangi rumahnya. Padahal ini masih pagi. Ibu bahkan terbengong-bengong saat melihatku naik ojek yang sudah kupesan sebelumnya.
Di sini aku sekarang. Di depan pintu rumahnya, menekan bel dengan tidak sabar. Tak lama pintu terbuka. Tampak wajah Prisa yang masih bau bantal. Sepertinya dia baru bangun.
"Al? Ada apa pagi-pagi ke sini?" tanyanya dengan mata menyipit.
"Gue mau bicara sama papa lu," jawabku langsung sambil celingak-celinguk mencari sosoknya.
"Papa kayaknya di ruang olahraga ...."
Prisa belum selesai dengan kalimatnya, tetapi aku sudah menerobos masuk dan langsung menuju ruang olahraga yang dimaksud Prisa. Aku sudah tahu pasti di mana letaknya.
"Ciee ... calon manten sudah kangen aja. Baru kemarin ketemu." Prisa menggodaku sambil mengekor. Tak kuhiraukan. Aku terus melangkah menuju ruang itu. Rasanya sudah tidak sabar ingin mendamprat lelaki itu.
Dari luar ruangan tak berpintu itu terdengar suara embusan napas kasar khas orang berolahraga berat. Sepertinya Om Pandu tengah melatih otot-ototnya.
Huh, sepagi ini sudah olahraga. Untuk apa? Capek-capek badan saja. Mendingan juga bergelung di bawah selimut. Aku juga kalau tidak urgent, malas keluar rumah pagi-pagi begini.
Aku langsung masuk ke ruangan itu tanpa permisi. Susana hati yang buruk selalu membuatku seperti ini, tak mengindahkan sopan santun. Kekesalan yang sudah di ubun-ubun yang mendorongku langsung merangsek masuk.
Aku langsung menuju ke arahnya yang sedang sibuk dengan salah satu alat kebugaran. Sepertinya dia sedang fokus membentuk otot tubuh bagian atasnya. Terlihat gerakkan tangannya yang naik turun menarik alat itu. Otot-otot tangan dan punggungnya yang basah oleh keringat terlihat mengkilap. Posisinya membelakangiku hingga ia tidak menyadari kedatanganku.
Dengan langkah-langkah kasar, aku langsung maju dan berdiri di hadapannya. Repetan pertanyaan dan cacian yang sudah kupersiapkan dari rumah, sudah siap meledak.
Akan tetapi, OMG! Seketika aku membuang muka dengan kulit wajah terasa panas saat tubuh ini sudah berdiri di depannya. Kenapa, sih, Om Pandu ini hobi sekali tidak memaki baju? Mentang-mentang tubuhnya bagus. Aku, kan, jadi ... aku jadi lupa tadi mau apa ke sini.
Semua kekesalan yang tadi sudah di ubun-ubun menguap entah ke mana. Berbagai pertanyaan tajam yang sudah di ujung lidah pun mendadak hilang. Aku melengos saat Om Pandu menghentikan aktivitasnya. Dia berdiri. Sekarang kami saling berhadapan dengan jarak hanya sekitar satu meter.
Tuh, kan, aku gemetaran lagi. Kalau sudah begini serasa runtuh lagi harga diriku. Aarrgghhh! Ibu ... aku menyesal bangun pagi-pagi. Mendingan tadi selimutan lagi setelah salat subuh.
"Ada apa, Al? Jangan bilang kamu sudah kangen lagi sama calon suamimu?" tanyanya seraya mengangkat sebelah alis. Keringat terlihat membanjiri seluruh tubuhnya. Beberapa menetes melalui ujung rambutnya yang sedikit menjuntai di kening.
Aku mendelik ke arahnya. Namun, buru-buru membuang muka lagi. Tak kuat rasanya melihat pemandangan yang, ah ... entahlah.
"Om, bisa enggak kalau pakai baju dulu?" Akhirnya hanya kalimat itu yang keluar dari mulutku dengan ketus.
"Kenapa?" tanyanya seraya maju mendekat. Refleks aku mundur karena kaget.
"Dasar mesum. Hobi banget telanjang dada, sih!” umpatku kesal.
"Lho, kamu datang tiba-tiba, mana Om tahu kamu mau ke sini.” Dia kian maju, dan aku semakin mundur.
Akan tetapi, sial, langkahku tertahan salah satu alat fitnesnya. Kini aku tersudut. Bahkan tidak tahu bagaimana nasib diri ini. Aku laksana mangsa yang masuk kandang macan dan menyerahkan diri.
Om Pandu sudah berdiri sangat dekat. Aku mulai gemetar, tangan terasa sedingin es, mataku melotot, tubuh panas dingin. Tangannya mulai terulur ke arah ... ke arah samping wajahku, dia meraih handuk kecil yang tergantung di belakang kepala ini.
"Tegang amat," tukasnya santai sambil mengelap keringat di wajahnya dengan handuk itu.
Ya Tuhan ... kukira dia mau ... ah, kenapa jadi aku yang mesum?
Aku menarik napas dalam beberapa kali sambil mengumpulkan lagi kata-kata yang sempat ambyar. Om Pandu berjalan ke arah pintu sambil terus mengelap keringatnya.
"Om!" panggilku nyaring. Dia menoleh.
"Ya, Sayang ... kenapa teriak?" tanyanya menyipitkan mata.
Aku mendengkus kasar mendengar kata 'sayang' dari mulutnya.
"Kenapa, Om, menghajar Dimas?" tanyaku seraya menatapnya tajam.
Om Pandu terlihat kaget. Namun, sebentar kemudian dia bisa menguasai diri. Wajahnya kembali datar.
"Kalau mau bersaing, yang sehat, dong! Om, kan, lebih tua, harusnya lebih tahu mana yang baik mana yang tidak. Bukan begitu caranya menarik perhatian wanita," ucapku berapi-api.
Om Pandu hanya menatapku datar, kemudian mengembus napas kasar. Lalu, melanjutkan langkahnya tanpa bicara.
"Om ...." panggilku lagi kesal merasa tak digubris.
"Om sudah bilang, tidak usah teriak. Sini coba kita bicara sambil duduk," jawabnya lagi menepuk sofa sebelahnya.
Ya, sekarang dia duduk manis di ruang TV setelah sebelumnya meneguk habis air putih dalam gelas besar.
"Atau ... mau duduk di sini?" lanjutnya menepuk pahanya yang hanya terbalut celana pendek.
Aku melengos.
"Aku tidak terima Om menghajar Dimas dan meminta dia meninggalkanku. Aku tidak terima, Om mendapatkanku dengan cara seperti itu. Itu curang namanya. Om tahu aku juga bisa berbuat curang. Aku bisa membatalkan pertunangan ini," cerocosku lagi penuh emosi.
Aku pikir dia akan terpancing dengan kata-kataku dan balik marah. Namun, ajaibnya dia sama sekali tidak bereaksi. Wajahnya tetap datar.
"Om tidak merasa bersaing dengan siapa pun, apalagi dengan seorang pecundang." Santai. Begitulah cara bicaranya.
"Maksud, Om, Dimas pecundang? Om, jangan menganggap diri Om lebih hebat hanya karena lebih mapan sekarang. Di usia dia sekarang, aku jamin Om juga belum semapan ini," tudingku geram.
"Al, jaga bicara lu! Gue nggak suka lu bicara begitu sama papa!" Prisa yang tiba-tiba datang, menghardikku.
"Gue juga nggak suka papa lu semena-mena sama cowok gue!" balasku tak terima. Terdengar dengkusan dari mulut Prisa.
"Lu yakin dia cuma cowok lu? Lu yakin jadi satu-satunya pacar dia?" tanya Prisa lagi sinis.
"Maksud lu apa?" balasku tak kalah sengit.
Prisa sudah membuka mulutnya lagi hendak membalasku. Namun, Om Pandu mencegah dengan mengangkat tangannya. Dia menggeleng ke arah anaknya.
Prisa diam, tetapi menatapku kesal, dan aku balas dengan tatapan nyalang.
"Pris, sudah siap-siap sana! Kita ke rumah calon mertua Papa. Hormati calon istri Papa yang sudah jauh-jauh datang untuk mengundang kita sarapan di rumahnya," ucap Om Pandu yang membuatku tercengang.
Prisa mengangguk, lalu berjalan ke arah tangga. Sepertinya dia mau bersiap ke kamarnya.
"Tunggu sebentar, ya, Om mandi dulu," lanjut lelaki yang kini berdiri. Keringat masih membasahi tubuhnya.
"Atau ... mau nemenin mandi?" lanjutnya dengan senyum menggoda.
Aku yang sudah sangat kesal pun melengos. Kenapa, sih, dia tidak meladeni kemarahanku? Om Pandu hendak berlalu, tetapi sebentar kemudian kembali menghampiriku.
"Dengar, Al, karena kamu sudah menyinggung perasaan Om. Maka, tanggal pernikahan kita, Om majukan, dan begitu seterusnya setiap kali kamu berbuat salah!"
Apa?
Acara syukuran pun berjalan sangat rinci sesuai rencana. Lancar, tanpa kendala berarti. Setiap hidangan tersaji tepat waktu, setiap tamu datang dengan senyum dan doa baik. Pembacaan doa menjadi penutupnya. Alvina menunduk, kedua tangannya terkatup rapi di pangkuan. Setiap kalimat doa menembus dadanya, menggetarkan sesuatu yang rapuh sekaligus kuat—sesuatu yang selama ini ia rawat dalam diam.Terima kasih, Ya Allah, batinnya. Terima kasih karena Engkau masih mengizinkan kami merasakan bahagia.Ia memejamkan mata lebih lama dari yang lain, membiarkan kata-kata itu mengendap. Dalam hidupnya yang panjang, Alvina tahu betul bahwa bahagia bukanlah sesuatu yang datang terus-menerus. Bahagia adalah jeda. Hadiah kecil yang kadang datang setelah air mata panjang. Dan hari ini, ia merasa diberi jeda yang begitu indah.Saat doa selesai, suasana mencair. Obrolan kecil bermunculan, tawa pecah tanpa beban. Beberapa tetangga bercanda ringan, sebagian lain menyalami Nakula dan Dinda sambil meng
Rumah itu tidak pernah terasa sehidup ini sejak lama.Alvina berdiri di tengah ruang tamu yang kini disulap menjadi ruang syukuran sederhana. Taplak putih terhampar rapi di meja panjang, di atasnya berjejer piring-piring kecil berisi jajanan pasar—kue lapis, lemper, risoles, dan onde-onde yang masih hangat. Di sudut ruangan, rangkaian bunga segar kiriman tetangga menebarkan wangi yang lembut, bercampur dengan aroma masakan dari dapur.Empat bulan.Empat bulan kehidupan kecil yang tumbuh di rahim menantu perempuannya.Alvina menekan dadanya pelan. Ada rasa penuh yang sulit ia jelaskan—campuran syukur, bahagia, dan haru yang terus mengendap sejak pagi tadi. Berkali-kali ia menarik napas dalam, takut air mata jatuh sebelum waktunya. Ia tidak ingin menangis sekarang, bukan karena sedih, melainkan karena terlalu bahagia. Kebahagiaan yang membuat dadanya terasa sesak, seperti hendak meluap keluar.Ia masih ingat jelas bagaimana perjalanan Nakula dan Dinda tidak selalu mudah. Ada masa-masa c
Pagi itu bandara terasa lebih sunyi dari biasanya bagi Sadewa. Bukan karena jumlah penumpang yang sedikit, melainkan karena hatinya penuh oleh hal-hal yang tak terucap. Deru pendingin udara, suara pengumuman keberangkatan, dan langkah-langkah orang yang berlalu-lalang seolah menjadi latar samar dari perpisahan yang sedang ia jalani.Ia berdiri di dekat jendela besar ruang tunggu internasional, menatap landasan pacu yang masih basah oleh sisa embun pagi. Sebuah koper hitam berdiri tegak di samping kakinya—ringkas, rapi, seperti hidup baru yang hendak ia mulai: tidak banyak, tidak berlebihan, hanya yang perlu.Alvina duduk di kursi deret belakangnya. Kedua tangannya saling menggenggam, jemarinya dingin meski ruangan itu hangat. Sesekali ia mengusap sudut matanya dengan punggung tangan, berusaha menahan sesuatu yang terus mendesak keluar. Pandu berdiri di sampingnya, tubuhnya tegap seperti biasa mesku usia tidak lagi muda, namun sorot matanya menyimpan kelelahan dan kebanggaan yang berke
Dua Tahun KemudianSore itu begitu tenang. Angin berhembus pelan, menggoyangkan pucuk-pucuk kamboja yang tumbuh rapi di tepi pemakaman. Matahari sedang turun, menyisakan cahaya jingga yang jatuh lembut di atas barisan nisan putih. Burung-burung kecil pulang ke sarang, sesekali suaranya memecah keheningan yang terasa menenangkan sekaligus mengiris di dada.Di tengah barisan makam, seorang pria berjongkok lama. Kepalanya tertunduk, kedua siku bertumpu pada lututnya. Nafasnya naik turun pelan, seperti menahan sesuatu yang sudah lama mengendap.Ketika angin kembali bergerak, pria itu akhirnya mengangkat wajahnya. Perlahan ia bangkit, telapak tangannya menepuk-nepuk celana yang sedikit kotor oleh tanah. Dia memunggungi angin, membiarkannya menyapu rambut yang kini lebih pendek dari dua tahun lalu.Di hadapannya, sebuah nisan berdiri sunyi. Namanya terukir jelas—nama yang pernah menjadi pusat hidupnya, tapi juga pusat kehancuran dan penyesalannya.Pria itu menunduk lagi, kali ini dengan lem
Lorong rumah sakit itu dingin. Lampu-lampu putih memantulkan cahaya yang terasa getir di mata, seolah ikut menegaskan kecemasan yang menggantung di setiap helaan napas. Nakula berjalan cepat, hampir berlari. Tangannya menggenggam tangan Dinda yang hampir terseok-seok mengejar di belakangnya, memanggil namanya agar sedikit memperlambat langkah. Tapi Nakula seolah tidak mendengar apa pun selain degup jantungnya sendiri.Begitu tiba di depan ruang tunggu ICU, Pandu bangkit dari kursi. Wajahnya kusut, rambutnya berantakan, dan lingkar hitam membekas di bawah matanya. Alvina duduk di pojok ruangan, menangis dalam diam, bahunya bergetar pelan. Di sampingnya, Prisa memeluk wanita itu erat-erat, berusaha menenangkannya meski air matanya sendiri terus mengalir.“Naku….” Pandu mencoba menyapa.Tapi Nakula langsung menghampirinya, wajahnya pucat dan matanya merah. “Bagaimana Dewa sekarang? Kenapa kalian tidak bilang sejak awal?” Suaranya pecah. “Kenapa aku tidak diberi tahu sejak dia celaka? Buk
Lorong rumah sakit malam itu berubah menjadi ruang tanpa waktu. Lampu-lampu putih terasa terlalu terang, tetapi tetap saja tidak mampu mengusir pekatnya ketegangan yang menggerogoti semua orang. Suara langkah kaki dokter dan perawat yang berlalu-lalang terdengar seperti gema tak berujung, menambah kegelisahan yang sejak tadi menghimpit dada Alvina, Pandu, dan keluarga lainnya.Alvina duduk di kursi tunggu dengan lemas, tubuhnya gemetar tak berhenti. Ia baru saja sadar dari pingsan. Kedua tangannya mencengkeram ujung rok rumah sakit yang tadi dipinjamkan perawat saat ia kehilangan kesadaran. Napasnya masih tersengal, seolah paru-parunya menolak bekerja sejak melihat kondisi Sadewa.Prisa duduk di sebelahnya, menggenggam bahunya erat-erat, berusaha membuatnya tetap bertahan. Namun mata Alvina terus kosong, sesekali terpejam kuat-kuat seakan ingin menghapus bayangan mengerikan yang tadi ia lihat di ruang perawatan Sadewa. Bayangan itu terus menempel di belakang kelopak matanya, seakan-ak







