MasukPagi itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Bima kembali menginjakkan kaki di kampus. Menghilang selama beberapa waktu, ternyata tidak senikmat yang dia bayangkan. Suasana kampus tidak banyak yang berubah, tapi Bima kangen semua itu. Beberapa mahasiswa yang mengenalnya tampak terkejut melihat kehadirannya. Tidak sedikit yang menoleh dua kali untuk memastikan mereka tidak salah lihat. Namun, Bima sedang berada dalam suasana hati yang sangat baik, jadi semua hal dianggap sempurna olehnya. "Hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan." Bima yakin itu. Bahkan dia sengaja keluar tiga puluh menit lebih cepat di mata kuliah kedua karena jam itu berdekatan dengan waktu istirahat makan siang. Ada misi penting yang akan dia lakukan untuk anggota The Crown. Dan dia yakin kalau misinya ini bakal sukses besar. Bima berdiri di depan meja kantin sambil menunjuk satu per satu menu yang ingin dipesannya. "Mas, nasi goreng seafood empat." "Eh, Tuan Bima," ucap penjaga kantin terkejut
Rosalinda melangkah gontai menyusuri lorong rumah sakit. Hatinya diliputi kebimbangan. Kabar yang baru saja ia terima tidak membuatnya benar-benar tenang. Justru sebaliknya, pikirannya semakin dipenuhi pertanyaan. Dia masih bingung harus memulai dari mana untuk menyampaikan semuanya kepada Kai dan Pak Ridwan. 'Kenapa jadi begini? Bukannya aku yang sengaja melakukan semua ini?' Jantungnya berdetak lebih cepat saat ia tiba di depan ruang rawat inap suaminya. Berkali-kali Rosalinda mengembuskan napas panjang, berusaha menenangkan diri sebelum masuk. Tangannya sempat gemetar saat memegang gagang pintu. Begitu pintu terbuka, seorang dokter bersama dua perawat langsung menoleh ke arahnya. "Sore, Dok," sapa Rosalinda canggung. Untung amplop coklat itu sudah dia masukkan dengan rapi ke dalam tasnya. "Selamat sore juga, Bu," jawab dokter itu dengan senyum ramah. "Kebetulan Ibu sudah datang. Saya ingin menyampaikan kabar baik. Kondisi Pak Ridwan sudah jauh lebih stabil." "Syukurlah, Dokt
Rosalinda memeras handuk kecil di baskom berisi air hangat. Uap tipis naik ke udara. Dengan gerakan hati-hati, dia mengusap lengan suaminya yang tampak lebih segar dibanding beberapa hari lalu. Sebenarnya perawat bisa melakukan hal itu, tetapi dia memilih untuk melayani suaminya.Pak Ridwan membuka mata perlahan."Airnya hangat?" suaranya serak.Rosalinda tersenyum kecil."Hangat. Nyaman, kan?"Pak Ridwan mengangguk lemah. Meski beberapa selang infus masih menempel di punggung tangan dan pergelangannya, kondisinya jelas membaik. Masker oksigen yang beberapa hari terakhir menutupi wajahnya kini sudah tidak ada lagi. Napasnya masih berat, tetapi tidak lagi tersengal.Di sudut ruangan, Kai sedang fokus menatap layar laptop. Jemarinya bergerak cepat di atas keyboard. Terdengar bunyi jemarinya yang beradu dengan tombol keyboard.Suasana kamar inap terasa tenang. Sampai suara dering ponsel memecah keheningan.Kriiing …Kai melirik ke arah meja kecil di samping tempat tidur."Ma, telepon."R
Tak sampai satu menit kemudian, seorang wanita elegan berlari keluar rumah dengan wajah panik. Rambutnya bahkan sedikit berantakan, sesuatu yang sangat jarang terjadi. Bima sampai mengerutkan dahi. "Apa Bunda sakit gara-gara mikirin gue ya?" Perasaan tak enak mulai merambat di dadanya. "Bima!" Mata Larissa Handoyo langsung berkaca-kaca saat melihat putranya berdiri di depan gerbang yang belum terbuka sepenuhnya. "Nak ..." Beliau nyaris berlari saking senangnya. Lalu mendadak berhenti seperti adegan slow motion di film-film.Tatapannya beralih ke para satpam yang masih bergerombol di dekat pos keamanan. Ekspresi hangat itu langsung berubah. "Bapak-bapak ini bagaimana sih?" Para satpam spontan berdiri tegak. "Maaf, Bu. Kami tadi terlalu senang." "Senang sampai lupa buka gerbang?" “Kami minta maaf, Bu." "Anak saya sudah berdiri di depan gerbang dari tadi." "Maaf, Bu." "Kalau dia berubah pikiran lalu pergi lagi bagaimana?" Mendengar itu, wajah para satpam langsung pucat.
Sudah hampir satu bulan lamanya Bima menghabiskan hari-harinya di vila milik keluarganya yang terletak jauh dari keramaian kota. Tempat itu nyaman, tenang, dan memiliki segala fasilitas yang dibutuhkan untuk proses pemulihannya. Apa pun yang ia perlukan selalu tersedia. Makanan datang tepat waktu, obat-obatan tidak pernah terlambat diberikan, dan dokter rutin memantau perkembangannya.Namun, semua kemudahan itu tidak serta-merta membuatnya merasa bahagia.Justru sebaliknya. Semakin lama berada di sana, semakin besar perasaan terasing yang menggerogoti dirinya. Setiap hari rasa bersalah terus menghantuinya. Rasa bersalah karena menghilang begitu saja dari kehidupan orang-orang yang peduli padanya dan membiarkan keluarga, teman-teman, dan orang-orang terdekat bertanya-tanya mengenai keadaannya.Awalnya Bima menganggap menyendiri adalah keputusan terbaik. Ia ingin fokus sembuh tanpa gangguan apa pun. Namun, setelah berminggu-minggu berlalu, kesunyian yang dulu terasa menenangkan kini b
"Emma." "Hm?" "Kita perlu bicara." "Aku tahu." "Bagus." "Aku tahu." "Bagus." Emma menoleh ke luar jendela. Pohon-pohon melintas seperti bayangan. Cepat. Kabur. Sama seperti masa depannya sekarang ini. "Aku pikir …" Emma menarik napas. Lalu memberanikan diri menatap Raka. "Kita harus benar-benar jaga jarak." Mobil langsung hening. Arsen bahkan otomatis mengecilkan volume musik. "Lo serius?" Suara Raka terdengar pelan dan berbahaya. "Iya, Raka. Kita nggak punya pilihan lain." "Of course kita punya banyak pilihan." "Ya, benar, untukmu selalu ada banyak pilihan, tapi tidak untukku." "Karena Mama gue?" "Bukan cuma itu." "Lalu?" Emma menunduk. "Karena aku lelah dengan semua ini." Raka tertawa pendek, dan terdengar pahit. "Bilang saja lo lelah karena hadapin gue?" "Bukan, tapi aku lelah dan capek lihat semua orang bermasalah gara-gara aku." "Itu bukan salah lo." "Tapi tetap terjadi." "Emma ..." "Kamu dengar Mama kamu tadi kan?" "Terserah apa mau Mama, gue nggak
Emma refleks menutup wajah. "Malu-maluin banget." "Peduli amat." Lalu sebelum Emma sempat bereaksi— Arsen tiba-tiba menariknya ke dalam pelukan. Hangat. Cepat. Refleks. Emma membeku. Seluruh tubuhnya langsung kaku. Dia bahkan tidak tahu harus merespon seperti apa. "Arsen!" Namun,
Begitu tiba di sana, Raka berdiri bersandar pada pagar koridor. Tangannya berada di saku celana.Wajahnya datar. Namun, siapa pun yang mengenalnya pasti tahu. Ia sedang menahan sesuatu. Tatapannya tidak pernah lepas dari taman di bawah sana. Hanya tertuju hanya pada dua sosok. Dari Emma. Ke Ars
Malam itu Emma tidak bisa tidur. Setiap kali memejamkan mata, isi surat itu kembali muncul. Kata demi kata. Kalimat demi kalimat. Seperti pisau yang menggores pelan. Akhirnya ia mengambil keputusan yang bahkan membuat dadanya terasa nyeri. "Aku harus menjaga jarak." Namun, apakah dia sanggup
Sore itu juga, Raka benar-benar menyeret Emma menemui pemilik kontrakan. Mereka mampir ke ATM sebentar untuk mengambil uang cash. "Gue bakal kasih pelajaran pemilik rumah kontrakan," geram Raka sambil terus menyetir. "Jangan aneh-aneh. Ntar malah aku benaran diusir," ucap Emma mengingatkan. "Oh,







