Share

Bab 28

Author: Any Anthika
last update publish date: 2026-05-09 21:27:07

Lilis menyilangkan tangan di depan dada. “Pokoknya kalau bukan Kak Emma, aku nggak mau belajar!”

“Kamu tuh—” Raka menarik napas panjang, urat di lehernya nyaris kelihatan.

“Lilis, jangan bikin drama.”

“Drama apaan! Justru kalau Kak Emma nggak jadi tutorku, maka akan terjadi drama.”

Emma yang masih duduk di kursi cuma bisa melirik keduanya bergantian. Sumpah, ini pertama kalinya dia lihat Raka benar-benar kewalahan menghadapi seseorang. Dan orang itu adalah adiknya sendiri.

Cukup menarik, batin
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 33

    Kai menghampiri Raka walaupun dia sempat melihat sekilas tatapannya yang tajam dan rahang Raka yang mengeras.“Ngapain pake pengumuman segala?” ujarnya pelan.Raka memasukkan tangan ke saku celana. Di sana tangannya mengepal menahan sesuatu yang aneh. Dia tidak suka melihat Emma tertawa lepas saat bersama Kai. Arsen yang menyadari perubahan Raka, segera menghampiri mereka. Minimal, kalau dua cowok beruang kutub ini baku hantam, dia siap jadi tameng."Raka, kenap ..." “Karena ada seseorang yang susah dicari," potong Raka datar.“Sindir aja langsung napa.”"Mana presentasi untuk acara festival nanti?" Raka langsung pada poinnya. Dia tidak suka berbasi-basi. Apalagi saat moodnya sedang terbolak-balik seperti ini.Maniknya perlahan menatap Emma yang sedang berdiri agak menjauh dari Kai. Tatapannya menggelap, seakan ingin menarik Emma keluar dari pikirannya. Namun, gadis itu berdiri di sana. Tepat di depannya. Wajahnya yang menarik membuat dada Raka kembali bergetar."Presentasinya akan

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 32

    Raka menggigit pelan ayam goreng kesukaannya. Siang itu dia makan untuk melampiaskan suasana hatinya yang terganggu karena ketidakhadiran Emma di kelas Hermeneutika. Pikirannya hanya dipenuhi dengan wajah Emma yang memukau dengan beberapa helai rambut yang menjutai sehingga terlihat seperti membingkai wajahnya yang ayu. Tenggelam dalam lamunannya, tanpa sadar, dia mengiris potongan ayam dengan keras sehingga menimbulkan bunyi gesekan pisau pada dasar piring yang cukup keras."Lo kenapa?" kaget Arsen yang sedang sibuk menyeruput es jeruk manis kesukaannya."Nggak kenapa-kenapa!" jawab Raka datar."Bohong. Wajah lo aja kayak suami bucin yang lagi takut istrinya selingkuh.""Ssshhh!"Raka hanya menyuruh Arsen diam. Dia tidak ada keinginan sama sekali untuk menanggapi celoteh atau candaan Arsen."Tensi amat sih jadi orang," ledek Arsen nggak mau stop. Namun, akhirnya dia menyerah karena Raka tetap datar.Arsen pun melayangkan pandangan dan menyadari bahwa kantin kampus siang itu penuh s

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 31

    “Nggak perlu, aku bisa makan sendiri,” tolak Emma.“Ya iyalah lo makan sendiri, siapa juga mau suapin.”“Ledek terus!” “Udah, nggak usah banyak alasan. Temani gue makan siang. Ok?”“Gimana dengan teman-temanmu?” tanya Emma ragu.“Mereka nggak punya hak untuk ngatur gue makan di mana dan sama siapa.”Emma akhirnya mengalah, lagian Kai bukan monster yang mengerikan. “Ok, kita makan siang bareng.”Kai tersenyum puas. Awalnya dia ingin mengajak ke kantin. Namun, bayangan sudut ruangan tempat The Crown nongkrong langsung muncul di kepalanya.Arsen pasti bakal nyeletuk macam-macam, tapi dia kenal Arsen. Cowok itu memang paling banyak cakap, tapi tidak sekejam yang orang kira selama ini.Raka? Jangan ditanya.Belum lagi tatapan orang-orang. Emma bakal jadi pusat perhatian satu kantin. Dia tidak mau kejadian yang lalu terulang kembali.Kai mengacak rambut frustrasi.“Yaudah, ke ruangan gue aja.”Emma berkedip. “Ruangan?”“Hm.”“Ruangan apa? Ruang pribadi?”Kai mengangguk santai seakan itu h

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 30

    Kai menatap layar laptop Emma dengan wajah serius, lalu keningnya langsung berkerut pelan karena ada sesuatu yang menarik perhatiannya.“Kalau logic flow lo dibikin kayak gini, looping-nya bakal muter terus kayak gasing.”Emma mendecakkan lidah. “Nggak mungkin. Aku udah kasih kondisi stop.”“Stop condition lo ketimpa sama variabel baru, Emma. Coba aja kalau nggak percaya.”“Mana?”Kai menarik laptop Emma sedikit mendekat. Jemarinya bergerak cepat di touchpad dan mengarahkan kursor ke rumus-rumus yang memusingkan kepala.“Nih. Lo deklarasi ulang di bawah.”Emma menyipit. Beberapa detik kemudian matanya membesar.“Loh, kok bisa kecele gini ya?” Emma mencebik kesal pada keteledorannya sendiri.Kai terkekeh pelan. “Nah, kan. Ngeyel kalau dikasih tahu.”Emma langsung merebut kembali laptopnya."Ya udah sini, aku kelewat. Nggak udah diledek terus.”“Kelewatnya cantik sih.”Emma menoleh cepat. “Hah?”“Eh, coding lo. Maksud gue coding lo cantik.”“Alus banget ngelesnya," sindir Emma setenga

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 29

    Setelah menjalani sore yang panjang dan melelahkan karena drama tutor, Raka harus menyiapkan diri untuk kelas Hermeneutika esok hari.Ia tak mau kecele lagi kali ini. Selama ini belum pernah ada satu pun mahasiswa yang mampu mematahkan argumennya. Makanya, Raka bertekad untuk membalas kekalahannya waktu itu.Apalagi ditambah kekesalan akibat perkara tutor. Ia tak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menggasak Emma habis-habisan.Sehabis menekuni literatur pendukung selama dua jam, kini ia termenung.Sebenarnya Raka sempat menyesal karena sudah menerima Emma, tapi ia tak mungkin menarik kembali perkataannya. Selain bisa mencoreng reputasinya, Raka juga enggan menghadapi Lilis yang tantrum.Akhirnya ia memutuskan untuk segera tidur agar lebih bugar untuk battle besok.***Sayangnya, kelas Hermeneutika kali ini dimulai dengan suasana yang terasa kosong.Bukan karena jumlah mahasiswa berkurang, bahkan dosen sudah berdiri di depan kelas. Tapi bagi Raka, ada satu hal yang jelas hilang.Emma

  • Dalam Cengkeraman Empat Sultan    Bab 28

    Lilis menyilangkan tangan di depan dada. “Pokoknya kalau bukan Kak Emma, aku nggak mau belajar!”“Kamu tuh—” Raka menarik napas panjang, urat di lehernya nyaris kelihatan. “Lilis, jangan bikin drama.”“Drama apaan! Justru kalau Kak Emma nggak jadi tutorku, maka akan terjadi drama.”Emma yang masih duduk di kursi cuma bisa melirik keduanya bergantian. Sumpah, ini pertama kalinya dia lihat Raka benar-benar kewalahan menghadapi seseorang. Dan orang itu adalah adiknya sendiri.Cukup menarik, batin Emma. “Lilis, banyak tutor lain yang lebih kompeten darinya.”“Terus kenapa?” sahut Lilis cepat. “Belum tentu mereka lebih bisa mengajarku dari pada Kak Emma!”“Kamu baru kenal dia lima menit.”“Jangankan lima menit, lima detik aja udah lebih dari cukup.”Emma menunduk. Menggigit bibirnya menahan tawa yang hampir keluar.Astaga. Ternyata lucu juga melihat Raka di posisi seperti ini. Raka memijat pelipisnya. lalu menatap adiknya dengan tatapan mengancam. “Kakak akan carikan ...”“Kalau Kak E

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status