تسجيل الدخولMendengar ucapan Emma, Kai menatapnya beberapa saat. Dia terpana pada cara berpikir gadis itu. “Kamu luar biasa, Emma. Tapi bagaimana mereka bisa bekerja sama tanpa saling mengenal?” “Jadi gini, Kak. Paman Hendra kan hanya tahu kepada siapa dia menyerahkan informasi.""Lalu?""Nah, orang kedua hanya tahu siapa yang memberinya informasi dan mungkin siapa yang harus dia hubungi. Dan si pelaksana hanya menerima instruksi.” Kai langsung bertepuk tangan dengan kagum. “Sekarang aku mengerti kenapa Papa memberikan berkas ini kepada kita berdua.” Emma menatapnya, “Karena kita harus mencari mata rantainya?” “Bukan. Karena dia tahu satu orang akan melihat uang, sementara yang satunya akan melihat motif," jawab Kai. Emma terdiam. “Kakak yang melihat uang?” tanyanya ragu. “Yep! Benar sekali.” “Dan aku yang melihat motif?” “Lebih tepatnya, kamu melihat perilaku manusia di balik angka yang tersembunyi.” Emma tersenyum tipis. Lalu mengangguk setuju. “Berarti kita nggak boleh
Setelah selesai makan siang, Kai membawa Emma ke ruangan kerja pribadinya di lantai dua. Ruangan itu terletak di samping kamar tidur Kai, bernuansa gelap dengan deretan monitor besar yang menampilkan lalu lintas data, kode pemrograman, dan jaringan peladen atau server rahasia.Emma melangkah mendekati meja kendali, lalu meletakkan lembaran berkas investigasi yang tadi dibawanya dari ruang makan. Semua itu diserahkan Pak Ridwan pada mereka berdua."Kak, coba lihat alur transaksi di lembar ketiga ini," panggil Emma seraya menunjuk satu baris angka.Kai mendekat, menyipitkan mata membaca dokumen tersebut. "Ini aliran dana rahasia Paman Hendra belasan tahun lalu.""Iya. Berkas ini jelas membuktikan kalau Paman Hendra yang membocorkan lokasi dan posisi di mana pesta peresmian kantor berada dan jam kedatanganku ke pesta."Kai membaca bagian penting yang ditunjuk Emma."Kak, kita harus mencari tahu pihak mana yang telah menerima semua informasi dari Paman Hendra" ujar Emma pelan. "Dan di sin
Mobil mewah yang dikendarai Emma dan keluarganya, akhirnya tiba di pelataran kediaman utama klan Gunawan. Rumah megah dan bernuansa klasik modern itu menyambut Emma dengan kehangatan yang sudah belasan tahun asing baginya. Rosalinda langsung menuntun putri tunggalnya menuju ruang makan luas, tempat hidangan makan siang hangat sudah tertata rapi."Duduk di sampingku," pinta Kai sambil menarik sebuah kursi untuk Emma. Kai memperlakukan Emma dengan sangat lembut.Rasa sayangnya pada gadis itu membuat dia ingin memaki-maki dirinya karena terlambat melindunginya dari bully-an yang terjadi di kampus. Bahkan Kai juga ikut membullynya. Itu adalah penyesalan yang tak akan pernah bisa Kai lupakan seumur hidup. Dia hanya bisa berdoa semoga Emma memaafkannya."Makasih, Kak."Emma duduk di kursi kayu jati berukir. Matanya kembali berkaca-kaca menatap piring di hadapannya."Kenapa, Sayang? Makanan ini kurang cocok?" tanya Rosalinda cemas, mengelus jemari Emma.Emma menggeleng cepat, menyapu air ma
Prosesi pemakaman Ayah Bagas berlangsung khidmat di bawah langit pagi yang cukup cerah.Deretan kendaraan hitam milik klan Gunawan berbaris rapi di area pemakaman pribadi. Emma berdiri paling depan, mengenakan gaun hitam polos dengan kalung bintang melingkar indah di lehernya. Ibu Rosalinda memeluk bahu Emma, sambil sesekali melap air mata gadis itu dengan dengan penuh kasih sayang. Tanah dingin dan lembab perlahan menutupi peti kayu jati tempat Ayah Bagas beristirahat selamanya. Air mata Emma menetes tanpa suara, membasahi buket bunga mawar putih di genggamannya. "Selamat jalan, Ayah," bisik Emma pelan, menaruh mawar putih itu tepat di atas gundukan tanah yang masih basah. "Terima kasih sudah menjagaku selama belasan tahun ini. Aku janji akan jaga diri baik-baik, Ayah." "Beliau orang yang sangat mulia dan baik hati, Nak," ucap Rosalinda lembut seraya mengusap bahu Emma. "Papa dan Mama sudah menyiapkan panti asuhan atas nama Pak Bagas untuk meneruskan kebaikannya." "Terima kasih
Kai terlihat salah tingkah, memyadari kebodohannya sendiri seraya mengusap tengkuknya. "Semua karena Mama. Beberapa hari lalu, Mama marah besar sama aku." "Iyalah! Bagaimana Mama nggak marah-marah coba?!" potong Rosalinda sambil menatap Kai tajam. "Mama udah capek-capek undang Emma masak-masak di rumah, tapi kamu malah bikin dia sakit hati sampai dia lari dan menangis seperti itu! Mama tahu ada yang nggak beres dari caramu menatap Emma." "Aku kan kebingungan waktu itu, Ma," sela Kai membela diri. "Aku jujur ke Mama kalau selama ini aku sengaja mengawasi dan mematai-matai kamu. Awalnya cuma penasaran dan iseng karena ngerasa ada kemiripan, tapi makin lama dipelajari, semua petunjuk malah mengarah kalau Emma ini adikku yang hilang." Rosalinda menghela napas panjang, lalu menggenggam kedua tangan Emma erat-erat. "Saat Kai mengaku, Mama nggak bisa menahannya lagi, Nak," ucap Rosalinda lembut. "Sebenarnya Mama sudah tahu lebih dulu. Mama sengaja mengambil sampel rambutmu di rumah sak
Rumah duka mendadak kembali lengang begitu para pengawal menggiring paksa Ibu Renata, Raka, dan Arsen keluar. Pintu kayu jati ditutup rapat, mengunci seluruh riuh keributan dunia luar dan menyisakan sunyi yang menyayat di dalam ruangan beraroma kayu cendana itu. Emma melangkah perlahan menuju peti jenazah. Dengan jari gemetar, dia mengusap ukiran kayu tempat Ayahnya berbaring. Tidak ada lagi sisa kemarahan di matanya akibat kata-kata hinaan dari Ibu Renata. Kini, yang tersisa hanyalah duka seorang anak yang baru saja kehilangan separuh jiwanya. "Kak ..." panggil Emma pelan tanpa menoleh. "Mama ... terima kasih. Tapi bolehkah aku sendirian sebentar dengan Ayah? Aku cuma mau bicara sama beliau sebelum beliau dimakamkan." Rosalinda merengkuh bahu Emma, lalu mengangguk lembut. "Mama dan Kai di dekat pintu ya, Sayang. Ambil waktumu. Kalau ada apa-apa, panggil Mama atau Kakakmu." "Iya, Ma. Makasih." Emma duduk di samping peti sang ayah sambil membelai lembut tangannya pria yang telah m
“Kak Raka, kami tunggu jawabannya. Kakak masih suka sama mantan Kakak?”Wajah-wajah tegang menghiasi ruang kelas. Cewek-cewek berharap mendapat jawaban yang masih memberi mereka setitik harapan untuk mendekati ketua The Crown.Raka menatap seisi kelas dengan ekspresi yang tak bisa dijelaskan“Kadan
“Terima kasih, Emma. Puisi kamu benar-benar buat kelas jadi heboh dan hidup."“Sama-sama, Pak. Mata kuliah Bapak keren banget. Bahkan orang yang nggak peka aja bisa pura-pura ngerti perasaan orang lain.”Kelas kembali dibuat terpingkil-pingkil oleh perkataan Emma."Tenang, tenang. Sekarang giliran
Kai menatap layar laptop Emma dengan wajah serius, lalu keningnya langsung berkerut pelan karena ada sesuatu yang menarik perhatiannya.“Kalau logic flow lo dibikin kayak gini, looping-nya bakal muter terus kayak gasing.”Emma mendecakkan lidah. “Nggak mungkin. Aku udah kasih kondisi stop.”“Stop
Emma menyeka sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan, lalu menarik napas panjang sekali lagi—lebih dalam, lebih teratur. Seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia masih bisa berdiri, masih bisa berjalan, masih bisa menghadapi semuanya.Perlahan, kakinya melangkah menuruni undukan t







