Home / Mafia / Dalam Cengkeraman Teman Malamku / 13. Terikat di Ranjang Medis

Share

13. Terikat di Ranjang Medis

Author: Velmoria
last update Last Updated: 2025-12-22 07:36:01

Belum sempat Vera membalas, dengan kasar, Dante merenggut kemeja putih yang dikenakan Vera hingga kancing-kancingnya terlepas. Memantul di lantai marmer dengan suara denting bersahutan.

“Dante! Hei, mau apa kau?” Vera menahan, tapi tentu tidak ada gunanya. “Dante!”

Dante mendorong Vera hingga telentang di ranjang medis, tidak memedulikan protes wanita itu. Dengan kecepatan yang tidak terduga oleh Vera, pria itu meraih tali penahan dari sisi ranjang—fasilitas yang seharusnya digunakan untuk pasien darurat, namun kini beralih fungsi menjadi instrumen obsesi Dante.

​Dante mengikat kedua tangan Vera di atas kepala, menarik cukup kencang hingga Vera terpaksa membusungkan dada dan terekspos sepenuhnya. Tidak berhenti di sana, ia menarik kedua kaki Vera dan menguncinya dengan ikat pergelangan kaki ranjang, memaksa inti kewanitaan Vera terbuka lebar dan tak berdaya di bawah lampu medis yang terang.

​“Dante, apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!” Vera meronta, namun tenaga Dante yang sedang dira
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Cengkeraman Teman Malamku   25. Aku Pintar Berakting

    “Ganti lingkungannya secara total,” saran Dokter Hans. “Pindah ke rumah lain, atau setidaknya renovasi total lantai itu agar tidak ada lagi kemiripan dengan tempat kejadian. Dia butuh tempat yang netral untuk mulai membangun memori baru.”Dante terdiam. Pindah dari The Apex, berarti meninggalkan Obsidian Tower. Jelas bukan hal mudah baginya, tapi melihat Vera menjerit ketakutan tadi membuatnya merasa teriris.“Kita pindah ke Villa del Velo di pinggir kota besok pagi,” putus Dante final. “Siapkan semuanya. Dan pastikan di sana tidak ada satu pun benda yang bisa mengingatkannya pada masa lalu.”Di dalam mobil menuju Villa, Vera duduk bersandar di kursi belakang, menatap keluar jendela. Ia tampak tenang, namun di dalam kepalanya, ia sedang menyusun kepingan-kepingan.Ia sengaja menjerit tadi malam. Ia tahu kamar itu adalah pusat penderitaannya, dan ia butuh alasan untuk menjauh dari jangkauan Dante yang terlalu intim.Vera melirik Dante melalui pantulan kaca jendela. Pria itu rupanya men

  • Dalam Cengkeraman Teman Malamku   24. Kau ... siapa?

    Dua puluh jam berlalu dalam keheningan yang menyesakkan. Dante tidak beranjak sedikit pun dari sisi ranjang Vera.Ia tidak makan, tidak berganti pakaian, bahkan tidak peduli pada puluhan panggilan telepon yang masuk ke ponselnya. Matanya yang merah terus terpaku pada pergerakan dada Vera yang naik-turun dibantu mesin ventilator.​Hingga akhirnya, jemari dingin dalam genggaman Dante bergerak sedikit.​Dante tersentak. Ia langsung berdiri, mencondongkan tubuhnya. “Vera? Vera, kau mendengarku?”​Kelopak mata Vera bergetar hebat sebelum perlahan-lahan terbuka. Matanya tampak kuyu, pupilnya mengecil saat mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya lampu ruangan. Ia mengerjap beberapa kali, menatap langit-langit dengan tatapan kosong yang membingungkan.​“Dokter Hans!” teriak Dante tanpa mengalihkan pandangan dari Vera.​Vera menoleh perlahan ke arah suara itu. Ia menatap wajah Dante. Wajah yang biasanya memicu ketakutan atau gairah dalam dirinya. Namun kali ini, tidak ada reaksi apa pun. Tatap

  • Dalam Cengkeraman Teman Malamku   23. Aku Lelah

    Dante berbisik tepat di telinga Vera, suaranya terdengar sangat terhibur.​“Aku tidak sedang mencoba. Aku sedang melakukannya,” jawab Vera berani, meski hatinya masih berdenyut karena trauma. Ia mencium rahang Dante di depan umum, sebuah tindakan yang sangat berisiko namun efektif.​Dante mempererat cengkeramannya di pinggang Vera hingga Vera sedikit mendesah. “Ingat ini, Vera ... aku menyukai keberanianmu. Tapi jangan pernah buat aku memilih antara bisnis dan kau, karena kau mungkin tidak akan suka jawabannya.”Mendengar penuturan Dante yang lebih mirip peringatan, membuat ekspresi Vera menjadi kaku. Ia tetap melanjutkan dansa walau kakinya sudah sulit digerakkan.Sampai dansa selesai, tidak sekalipun Vera berucap sepatah kata pun. Bahkan Dante tidak mengajaknya bicara. Hanya menatap, seolah puas telah mengancamnya seperti tadi.***Perjalanan pulang dari galeri berlangsung dalam kesunyian yang mencekam. Dante sibuk dengan ponselnya, sesekali membalas pesan yang Vera yakini berasal d

  • Dalam Cengkeraman Teman Malamku   22. Menandai Wilayah

    Dante tidak segera menjawab. Ia memperbaiki letak kalung berlian di leher Vera dengan tenang. “Bianca adalah putri dari keluarga Sterling. Malam ini, peresmian proyek besar hasil kerja sama kami. Bersikaplah dewasa, Vera. Aku butuh dia untuk kelancaran bisnis ini.”​Kalimat itu seperti tamparan dingin. Dante tidak membantah, ia justru menegaskan posisi Bianca yang penting bagi perusahaannya.​“Jadi, aku harus membiarkannya menyentuhmu lagi?” tanya Vera dengan suara yang mulai bergetar.​Dante melepaskan tangannya dari leher Vera, lalu berjalan menuju pintu. “Dia tidak menyentuhku, Vera. Dia sedang berinvestasi padaku. Ada perbedaan besar di sana. Sekarang, ayo pergi. Kita sudah terlambat.”***​Galeri seni itu dipenuhi oleh kaum elit Arcadia City. Cahaya lampu kristal memantul di gelas-gelas sampanye dan perhiasan mahal.Begitu Dante dan Vera masuk, seluruh perhatian tertuju pada mereka.​Namun, kedamaian itu hanya bertahan beberapa menit.“Dante! Akhirnya kau datang juga!” seru Bianc

  • Dalam Cengkeraman Teman Malamku   21. Seakan Bercinta Sendirian

    Dante melepaskan kemejanya yang beraroma parfum Bianca, melemparkannya begitu saja ke lantai, lalu berbaring di atas ranjang dengan santai.Bukannya menarik Vera ke dalam pelukannya, ia justru meraih tablet dari meja samping, mulai menggulir laporan bisnis seolah kehadiran Vera di sana tidak lebih dari sekadar pajangan saja.​Vera berdiri di tepi ranjang, merasa kedinginan meski pemanas ruangan menyala. Tatapan acuh tak acuh Dante jauh lebih menyakitkan daripada amarah pria itu padanya.Dengan tangan yang sedikit gemetar, Vera melepas satin tidurnya, membiarkan pakaian itu jatuh ke lantai. ​Ia merangkak naik ke atas ranjang, mendekati Dante yang masih fokus pada layar digitalnya.Vera mulai menciumi rahang pria itu, turun ke leher, hingga ke dada yang bidang. Namun, Dante tetap tidak bergerak. Napasnya belum berubah, matanya pun tidak beralih dari layar.​Keputusasaan Vera memuncak. Ia meraba celana pendek yang dikenakan Dante, menurunkannya perlahan hingga kejantanan pria itu terliha

  • Dalam Cengkeraman Teman Malamku   20. Mainan Baru

    Pertanyaan yang menggantung di udara, dingin dan tajam.​Dante terdiam sejenak. Bukannya marah, ia justru mempererat pelukannya, memastikan Vera merasakan setiap inci keberadaannya yang masih terbenam di dalam sana. “Selama kau tidak mencoba meninggalkanku, kau tidak perlu memikirkan jawaban dari pertanyaanmu, Vera.”​Dante memejamkan mata, jatuh tertidur dengan posisi yang paling posesif yang bisa dilakukan olehnya sebagai seorang pria yang sangat terobsesi akan kepemilikan utuh selamanya.Namun bagi Vera, tidur dalam keadaan seperti ini tidak lagi terasa seperti bercinta yang menyenangkan, tapi lebih terasa seperti dirantai dan dibebani rasa bersalah entah sampai kapan.***​Dua Minggu Kemudian.​Dante menepati janjinya untuk memberikan atau mengembalikan kehidupan normal pada Vera.Vera diizinkan kembali bekerja penuh di Lantai 10 dengan pengawalan yang jauh lebih longgar, namun tetap ada untuk memantau dari jarak tertentu yang telah ditetapkan Dante.​Namun, Vera bukan lagi Vera y

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status