LOGIN"Jangan pernah menampar Nabila!" kata Maura dengan suara yang tegas dan penuh dengan keyakinan, tangan kanannya dengan cepat menghalangi tangan Alyssa yang hampir mengenai wajah Nabila. Matanya yang biasanya lembut kini menunjukkan ketegasan yang jarang terlihat. "Eeeh!" Alyssa kesal, ia dengan kasar menepis tangan Maura. Wajahnya merah membara karena kemarahan yang meluap. "Kalau saja dia bukan adikmu, aku sudah membunuhnya!" serunya dengan suara yang mengguntur, membuat seluruh ruangan terasa semakin tegang. "Silakan saja kalau kamu bisa," tantang Maura yang tidak ada rasa takutnya sama sekali. Ia berdiri tepat di depan Nabila, seperti ingin melindungi gadis muda itu. "Tapi kamu harus tahu bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi, Alyssa. Jangan sampai kamu menyesal karena melakukan sesuatu yang tidak bisa kamu ubah lagi." Alyssa terpana dengan jawaban Maura, matanya melotot tidak percaya. "Kamu ...?" ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar. "Kamu membela adik sialanmu ini
Nabila keluar dari kamar dengan langkah yang goyah, tubuhnya masih terasa lemah setelah pingsan tadi. Ia melihat semua orang telah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan — ada kekhawatiran, namun juga rasa penasaran yang jelas terpampang di wajah mereka. Pandangan matanya perlahan jatuh pada Cornelia yang duduk di sofa, tangan terlipat rapi di pangkuannya sambil memperhatikannya dengan seksama. Air mata Nabila tak bisa dibendung lagi, luruh begitu saja membasahi wajahnya yang masih pucat. Ia merasa seluruh tubuhnya menjadi lemas, gadis itu tidak punya kekuatan untuk berdiri lagi. "Dokter Reza bilang kamu hamil," ucap Cornelia dengan suara yang tenang namun penuh dengan kekerasan. Matanya yang biasanya lembut kini tampak tajam seperti pisau. "Kenapa begitu? Siapa ayah dari anakmu itu? Jangan kau sembunyikan dari kami, Nabila." Lutut Nabila terasa lemas seketika, tubuhnya pun bergetar hebat sebelum akhirnya luruh ke lantai yang dingin. "Maafkan aku, Tante ..." ujarnya dengan
"Tidak apa-apa, aku hanya sedang mengucapkan selamat kepada Maura," kata Revan dengan nada yang tenang, mencoba menutupi kekagetannya saat melihat Nabila tiba-tiba muncul. Matanya tetap terpaku pada gadis muda itu, seolah mencoba membaca apa yang ada di dalam pikirannya. "Oh begitu ya," jawab Nabila dengan suara yang sedikit serak. Ia menghela napas perlahan, mencoba menenangkan diri yang masih bergetar. "Tante Cornelia menyuruh kita untuk makan malam. Sudah ada banyak hidangan yang sudah disiapkan." "Baiklah, kami akan turun sebentar lagi," jawab Maura dengan cepat, merasa bahwa suasana sudah menjadi tidak nyaman. Ia tidak bisa menghindari rasa cemas yang muncul setiap kali melihat wajah Nabila yang penuh dengan emosi tersembunyi. Mereka beranjak dari lorong dan menuju ruang makan yang luas. Meja makan kayu besar sudah dihiasi dengan indah, lengkap dengan lilin kecil yang menyala dan hidangan lezat yang menggugah selera — dari sup krim jagung hingga ikan bakar yang masih mengelua
Maura, Cornelia, Alyssa, dan Revan sedang berada di ruang keluarga yang hangat dan penuh dengan dekorasi bunga segar. Cahaya lampu kristal yang menggantung di langit-langit menerangi ruangan dengan cahaya yang hangat. Cornelia duduk di sofa tengah dengan wajah yang bersinar bahagia, sementara Alyssa duduk di sisinya, tangan terlipat rapi di pangkuannya. Maura duduk di sofa berlawanan dengan Alyssa, sementara Revan masih berdiri di dekat jendela, memandang jauh ke luar tanpa fokus pada sesuatu tertentu. "Mama sangat bahagia mendengar kehamilanmu, Maura," ucap Cornelia dengan suara yang penuh kegembiraan, menepuk tangan Maura dengan lembut. "Bukan hanya itu, Mama juga sangat bahagia akhirnya sebentar lagi Alyssa dan Revan akan segera menikah." Cornelia menoleh ke arah Alyssa, wajahnya terpampang senyum hangat. "Alyssa sudah seperti anak perempuan bagiku, selalu sopan dan perhatian. Tante yakin kamu akan menjadi istri yang baik untuk Revan." "Iya, Tante. Aku juga sangat bahagia dengan
"Aku hamil anakmu, Kak Dimas! Kamu harus tanggung jawab padaku dan anak ini!" ucap Nabila dengan suara yang mulai terisak, air mata sudah mulai mengalir di pipinya yang pucat. Dia melihat Dimas dengan tatapan penuh harapan, berharap pria itu akan menerima kebenaran dan mengambil tanggung jawabnya. Dimas mundur satu langkah, wajahnya penuh dengan kemarahan yang muncul begitu saja. Matanya menjadi merah dan bibirnya bergetar. "Jangan bodoh, Nabila!" serunya dengan suara yang menggelegar di teras sepi itu. "Aku selalu bilang padamu untuk minum obat setelah kita melakukannya! Aku sudah memperingatkanmu berkali-kali agar tidak sampai seperti ini. Apa kamu tidak meminumnya?" Nabila menggoyangkan kepalanya dengan kuat, tangannya mulai menggigil. "Aku sudah minum obat seperti yang kamu katakan, Kak Dimas! Tapi ... tapi obat itu tidak bekerja. Aku tidak tahu kenapa bisa terjadi seperti ini!" Dimas menghela napas dengan sangat dalam, tangannya menyambar rambutnya dengan frustasi. Dia berjala
Dimas menarik napas dalam-dalam, lalu mengucapkan kalimat yang membuat seluruh ruangan menjadi sunyi mendadak, "Aku dan Maura ... kami … akan memiliki anak." Deg! Semua orang kaget. Cornelia membuka mulut lebar tapi tidak bisa mengeluarkan suara. Alyssa terkejut hingga tubuhnya sedikit melompat dari tempat duduknya. Bahkan Revan — pria yang biasanya menjaga ekspresi wajahnya dengan baik — kini wajahnya memucat dan mata melotot tidak percaya pada apa yang baru saja dia dengar. Bisa-bisanya Dimas mengklaim bahwa itu adalah anaknya! Nabila pun tidak luput dari kejutan. Tubuhnya menjadi kaku seketika, tangan yang sedang menggenggam ujung bajunya terhenti. Dia sudah mengetahui bahwa dirinya tengah hamil anak Dimas, tapi belum siap memberitahukan pada pria itu — bahkan dalam setiap kesempatan mereka berhubungan, Dimas selalu berkata bahwa ia adalah satu-satunya yang dicintainya. Tapi kini kenapa semuanya seperti ini? Bagaimana mungkin Maura juga tengah hamil anak Dimas padahal mereka sud







