Share

222

Author: Azzura Rei
last update publish date: 2026-05-14 23:13:28

Bu Lastri mengangguk pelan, menatap William dengan rasa sayang yang dalam, meski ada sedikit ketakutan di sana.

"Nak William sebenarnya senang melihat ibu ada bersamamu, dia sempat khawatir saat kamu dibawa Bram. Ibu sengaja menghilangkan jejak demi keamanan mu dan tugas ibu selesai saat ibu membawamu kembali padanya. Namun, nasib ibu kurang beruntung. Ibu sakit dan harus menjalani perawatan. Dia membawaku ke rumah sakit terbaik, membiayai semuanya, tapi dia memintaku untuk tetap berada di dek
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   222

    Bu Lastri mengangguk pelan, menatap William dengan rasa sayang yang dalam, meski ada sedikit ketakutan di sana. "Nak William sebenarnya senang melihat ibu ada bersamamu, dia sempat khawatir saat kamu dibawa Bram. Ibu sengaja menghilangkan jejak demi keamanan mu dan tugas ibu selesai saat ibu membawamu kembali padanya. Namun, nasib ibu kurang beruntung. Ibu sakit dan harus menjalani perawatan. Dia membawaku ke rumah sakit terbaik, membiayai semuanya, tapi dia memintaku untuk tetap berada di dekatmu dan Arlan tanpa pernah menyebut namanya."Sasha berdiri, langkahnya terasa berat saat mendekati William. "Will? Kenapa? Kenapa kau menyembunyikan ini dariku? Kau membiarkanku menganggap Ibu sebagai malaikat penolong yang datang dari langit, sementara kau... kau berpura-pura membencinya?"William menarik napas panjang, merapikan lengan kemeja linennya yang sebenarnya sudah sempurna, sebuah gestur mekanis untuk menjaga kewibawaannya yang mulai retak. Suaranya terdengar stabil, dingin, namun m

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 221

    Keesokan paginya, langit di atas pegunungan masih berselimut kabut tipis saat mobil SUV hitam milik William membelah jalanan berkelok. Di kursi belakang, Arlan tertidur pulas dengan kepala bersandar pada bantal kecil, sementara di kursi depan, suasana hening menyelimuti. Bukan keheningan yang menyesakkan seperti biasanya, melainkan keheningan yang penuh dengan antisipasi dan beban rahasia yang mulai terkikis.William menyetir dengan rahang yang terkatup rapat, jemarinya terkadang mengetuk kemudi dengan ritme yang tidak beraturan tanda bahwa pria itu sedang berperang dengan kecemasannya sendiri. Sasha, yang duduk di sampingnya, hanya menatap hamparan pohon pinus di luar jendela, tangannya sesekali menyentuh lengan William seolah memberikan jangkar agar pria itu tidak hanyut dalam ketakutannya.Tujuan mereka bukan panti jompo biasa, melainkan sebuah paviliun medis khusus di rumah sakit swasta yang tersembunyi di pinggiran kota. Di sanalah William menyembunyikan masa lalunya, membayarnya

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 220

    “Mana mungkin aku seberani itu,” goda Sasha tapi jemari mengusap pipi William dan memicu hasrat terpendam itu keluar.William tertegun sejenak, napasnya tertahan di tenggorokan saat merasakan sentuhan lembut namun tegas dari jemari Sasha. Sentuhan itu tidak terasa seperti perlawanan, melainkan sebuah undangan yang selama ini ia dambakan namun terlalu gengsi untuk diminta. Ia menangkap tangan Sasha, mengecup telapak tangannya lama, lalu menatap istrinya dengan sorot mata yang tak lagi tajam karena kecurigaan, melainkan redup oleh gairah yang mulai membakar."Keberanianmu adalah hal yang paling berbahaya bagiku, Sasha," bisik William, suaranya kini serak dan rendah. Ia menarik Sasha lebih dekat hingga tidak ada lagi jarak di antara mereka, aroma tubuh Sasha yang menenangkan bercampur dengan udara dingin pegunungan menciptakan kontras yang memabukkan.Sasha hanya tersenyum tipis, membiarkan tubuhnya bersandar sepenuhnya pada dada bidang William."Siapa juga yang menggoda. Aku tidak ingi

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 219

    Sabtu pagi yang dijanjikan tiba dengan langit yang diselimuti kabut tipis, memberikan kesan misterius pada perjalanan mereka menuju sebuah vila pribadi di lereng pegunungan yang jauh dari hiruk-pikuk kota. William tampak lebih rileks, meski kewaspadaannya tidak pernah benar-benar padam. Di kursi belakang, Arlan duduk dengan tenang, jemarinya menggenggam sebuah buku gambar, sesekali menatap keluar jendela dengan tatapan yang jauh melampaui usianya."Lihat itu, Arlan," ujar Sasha lembut, menunjuk ke arah hamparan kebun teh yang menghijau. "Nanti di sana kita bisa jalan-jalan sebentar. Kamu mau menggambar pemandangan?"Arlan mengangguk pelan, memberikan senyum tipis yang jarang terlihat. William yang sedang mengemudi melirik melalui spion tengah, sebuah kilatan kepuasan muncul di matanya melihat pemandangan keluarga kecil yang "harmonis" itu. Baginya, ini adalah kesuksesan; sebuah keteraturan yang berhasil ia paksakan.Setibanya di vila, Sasha menjalankan perannya dengan sempurna. Ia tid

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 218

    "Cinta?" William mengulangi kata itu dengan nada yang seolah mengejek kesucian maknanya. "Cinta itu konsep yang sangat melelahkan, Sasha. Apa yang kita miliki saat ini jauh lebih stabil daripada itu. Ini adalah kepemilikan. Dan di dunia ini, kepemilikan jauh lebih sulit dihancurkan daripada perasaan yang bisa berubah seiring cuaca."Sasha tertawa sumbang, tawa yang penuh dengan kepahitan. "Kamu sakit, Will. Kamu memperlakukan istrimu seperti aset perusahaan. Kamu memanipulasi Arlan, kamu mengasingkan Bu Lastri, dan sekarang kamu berusaha membungkam suaraku dengan paksaan? Kamu pikir ini akan bertahan lama?"William berjalan menuju meja bar kecil di sudut ruangan, menuangkan cairan amber ke dalam gelas kristal. Denting es batu yang beradu dengan kaca terdengar sangat nyaring di ruangan yang sunyi itu."Ini akan bertahan selama aku menginginkannya," jawab William tenang setelah menyesap minumannya. "Besok, supir akan mengantarmu ke galeri. Aku sudah memerintahkan tim keamanan baru untuk

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 217

    Tapi Tuan... Non Sasha sangat menderita. Dia mengira saya dibuang. Tuan tahu sendiri betapa hancurnya hati dia kalau menyangkut orang-orang dari masa lalunya." Bu Lastri menunduk, jemarinya yang keriput saling bertautan.William terdiam. Keheningan di ruangan itu terasa berat, hanya interupsi suara detak jam dinding yang elegan. "Dia perlu belajar bahwa dunia tidak hanya berputar di atas perasaan, Bu. Dia harus cukup kuat untuk berdiri sendiri tanpa bergantung pada nostalgia."William kemudian berbalik, memberi kode pada Hendri untuk menyerahkan sebuah map cokelat kepada Bu Lastri."Apa ini, Tuan?""Sertifikat kepemilikan rumah di kampung halaman Anda. Atas nama Anda, sudah lunas. Ada dana pensiun yang sudah saya siapkan di rekening tersebut," ucap William dingin, seolah sedang membicarakan kontrak bisnis biasa. "Setelah pengobatan ini selesai, Anda punya pilihan. Anda kembali ke rumah saya sebagai 'kepala rumah tangga' dengan tugas yang jauh lebih ringan, atau menikmati masa tua di

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 142

    "Apa aku sudah keterlaluan?" bisik Sasha pada kesunyian.Beberapa hari setelah percakapan itu, ketegangan mulai mencair, namun Sasha menyadari perubahan drastis pada putranya. Arlan tidak lagi bertanya tentang ayahnya, bahkan ia berhenti membicarakan sekolahnya. Ia menjadi bayang-bayang yang patuh

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 141

    “Karena banyak orang jahat di luar sana yang bisa mencelakaimu, Nak.”"Itukah alasan kenapa kita harus pindah lagi dan lagi, kan Ma?"“Iya, makanya nurut sama mama ya? Mama sayang sama kamu, khawatir kalau kamu kenapa napa.”“Seharusnya kita punya papa, Ma. Biar kita aman dan gak khawatir lagi kan?

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 136

    Meskipun rasa mual terkadang masih menyentak perutnya, Sasha tetap memaksakan diri untuk memantau pesanan keripik di gawai miliknya. Strategi Sasha untuk memproteksi diri kini bukan hanya sekadar bersembunyi, melainkan membangun ekosistem kehidupan yang mandiri di dalam bangunan tua tersebut."Nduk

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 135

    Sasha menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong, namun jarinya bergerak cepat. Ia tidak peduli lagi pada harga diri yang sedang diinjak-injak oleh Clara melalui nominal angka. Baginya, uang 500 juta itu bukan sekadar sogokan, melainkan biaya penebusan dosa atas semua hinaan yang ia terima hari

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status