Share

bab 6

Aвтор: Azzura Rei
last update Последнее обновление: 2025-12-29 12:23:16

Sasha kehabisan kata-kata. Mulutnya sedikit terbuka mendengar itu. Sasha memang yakin William sewaktu-waktu akan mengeluarkan kartu AS miliknya itu. Tetapi, sekarang!?

“Saya tunggu nanti malam. Prau Residence, lantai 17 nomor 1.”

Begitu selesai mengatakannya, William berpaling pergi. Ia menelaah berkas-berkas yang sedari tadi dihiraukannya, seolah William juga berdalih tentang suruhan barusan. Atau Sasha lebih suka menyebutnya sebagai sebuah ancaman.

Sasha mematung di selasar itu. Angin yang berembus menerpa wajahnya bahkan tak mampu mendinginkan pikiran. Ia menatap punggung William yang lama kelamaan hilang dimakan jarak.

Mata Sasha masih berkedip beberapa kali dengan cepat, tidak percaya obrolannya barusan. Ia kembali menimbang-nimbang dan apapun langkah yang dipilih, rasanya salah. Tetapi nyawa neneknya seolah menjadi pertaruhan sekarang. Ia benar-benar tidak boleh kehilangan pekerjaannya!

Sepulang kuliah, Sasha lemas duduk di dalam kosannya, memandangi ke luar jendela. Langit sudah mulai gelap. Ia mulai berpikir tentang ucapan William.

Prau Residence? Sasha tahu itu. Apartemen mewah di tengah kota. Beberapa kali ia melewati gedung tinggi itu ketika bepergian.

Sasha tidak pernah menyangka bahwa kali pertama ia akan menginjakan kaki di sana adalah untuk bertemu sang dosen yang juga merupakan kliennya di suatu malam. Sekarang, Sasha sudah tidak dapat melangkah mundur. Tidak ada penolakan, tidak ada kata enggan.

Sasha memberanikan diri memasuki lobi apartemen yang mengkilap di setiap sudutnya. Ia menekan tombol lift dengan sedikit gemetar.

Sesampainya di lantai 17, tidak sulit bagi Sasha untuk menemukan kamar nomor 1. Kamar di tiap lantainya tidak banyak, menandakan apartemen ini adalah model kondominium yang jauh lebih megah dari perkiraannya.

Tok tok tok.

Pemandangan yang langsung menyambut Sasha ketika pintu itu terbuka adalah William yang mengenakan kaos polos dengan rambut yang terlihat sedikit lembab.

“Se-selamat malam, Pak William.”

“Masuk, Sasha.”

Dipersilakan masuk, mata Sasha langsung memindai seluruh ruang. Interior polos dan monoton memanjakan maniknya.

William mengarahkan Sasha untuk duduk di sofa besar di tengah ruang. Meski terasa nyaman dan empuk, ia enggan berlama-lama di sini. Maka ia mulai membuka pembicaraan.

“Pak William-”

“Kenapa tidak panggil ‘om’, Sasha? Saya bukan dosenmu di sini.” Ada nada sindiran di sana. Ia berdiri di hadapan Sasha.

Lidah Sasha kelu sebelum mengulanginya. “O-om William, perlu bicara apa?”

“Buru-buru sekali? Harus mengunjungi tempat lain setelah ini?” William lemparkan pertanyaan itu. Sasha tahu lagi-lagi pria itu menyindir pekerjaannya.

Sasha menggeleng cepat. Ia tahu betul, salah satu kata saja pasti dapat membuat William berkata yang lain. Sasha mulai merasa terancam, apalagi ini menyangkut reputasinya di kampus. Sebuah rahasia yang jika terbongkar, maka akan memusnahkan seluruh masa depannya.

Dari posisi berdirinya, William perlahan duduk di sisi ujung sofa. Ia menyandarkan punggungnya dan memasang ekspresi yang terlihat angkuh. Dagunya naik tanda kepercayaan diri yang melambung.

“Sasha, berapa jumlah uang yang kamu butuhkan?”

Sasha meragukan telinganya sesaat. Alisnya langsung bertautan. “Maksud Om?”

“Jumlah uang yang kamu butuhkan, Sasha,” William mengulanginya, ia terdengar sedikit kesal. “Berapa jumlahnya?”

Tidak mengerti maksud dan arah percakapan ini, Sasha memilih untuk menyudahinya dengan berkata, “Saya tidak membutuhkan uang, Om. Apa pun yang Om William pikirkan, saya bukan seperti itu.”

“Saya tidak memikirkan apa-apa,” balasnya singkat. “Saya hanya khawatir, Sasha.”

Lagi-lagi Sasha tahu itu hanyalah berupa sindiran. Sasha ingin menghela napas, namun ia menahannya. “Om tidak perlu khawatir-”

“Saya khawatir dengan keadaan nenek kamu yang semakin memburuk. Harus segera dioperasi bukan?”

William kali ini memandang Sasha lekat-lekat, berusaha mencari reaksi atas ucapannya barusan. Sasha tentu saja terkejut. Ia tidak dapat menyembunyikan ekspresinya yang begitu kaget.

Tahu apa William tentang keadaan neneknya!?

“O-om tau dari mana!?” suaranya sedikit naik. William terkekeh melihatnya.

“Dengar, Sasha,” William mengabaikan pertanyaan Sasha kemudian beranjak dari duduknya dan merogoh sesuatu dari kantong celananya. Kartu berwarna hitam yang mengkilap. “Saya bisa berikan kamu uang. Kamu boleh pakai kartu ini sebebasnya, untuk biaya operasi nenekmu, juga untuk kuliahmu.”

Mata Sasha membulat besar. “Apa maksud, Om?”

“Pakai saja,” William menyodorkan kartu itu tepat di depan mata Sasha. Sasha memandanginya untuk beberapa saat. Ia menelan ludah. Ini tawaran yang akan menyelamatkannya, menyelamatkan sang nenek tersayang.

Tapi, tunggu. William pasti punya niat lain!

Sasha menengadah, menatap wajah William. “Om William nggak mungkin memberi ini secara cuma-cuma.”

William menyeringai. Sasha bisa melihat titik-titik menarik di wajah pria itu, namun sekarang ia terlihat menyebalkan dan penuh kuasa.

“Kamu memang pintar, Sasha,” puji William.

“Kalau begitu, aku tidak bisa menerimanya,” ucap Sasha tegas.

Kali ini, William mengangguk. Namun, tentu saja itu tidak berarti ia menerima kekalahannya. “Kalau begitu, bagian pimpinan kampus mana yang harus saya laporkan terlebih dahulu? Ketua prodi atau rektor, Sasha?”

Dalam hatinya, Sasha sudah mengumpat, namun ia tahan mati-matian agar umpatan itu tidak lolos begitu saja. Sasha memejamkan mata untuk berpikir cepat. Tetapi jawabannya tak kunjung datang ke dalam kepalanya.

“Saya….”

“Bagaimana Sasha?”

Reputasi dan masa depannya kini terancam benar-benar. Tapi ada jauh yang lebih penting, neneknya. Di hadapannya, William masih menunggu dalam diam sambil mengayunkan kartu kredit hitam di tangannya.

Beberapa detik berlalu, satu menit terasa seperti sebuah penderitaan yang tak ada habisnya. Hingga akhirnya Sasha menyerah pada sebuah jawaban.

“Baik. Apa yang Om inginkan?”

Lagipula, apa yang akan seorang dosen minta sebagai imbalan? Asistensi kelas? Mengecek segunung pekerjaan mahasiswa? Sasha masih mampu melakukannya.

Tetapi ketika Sasha melihat William menyeringai lagi, Sasha seolah tahu bahwa ia telah membawa dirinya masuk ke dalam jurang yang dalam.

“Layani saya!”

Продолжить чтение
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 73

    Begitu sampai di penthouse, keheningan malam terasa mencekam. William tidak langsung melepaskan Sasha. Ia menyeret gadis itu menuju balkon yang dingin, tempat di mana semuanya dimulai semalam."Kau tahu kenapa aku memilihmu, Sasha?" tanya William sambil memutar pergelangan tangannya sendiri. Sasha menggeleng pelan, tubuhnya menggigil ditiup angin malam."Karena kau memiliki cahaya yang ingin kuhancurkan. Aku ingin melihat seberapa lama kau bisa bertahan sebelum kau menjadi sama gelapnya denganku." William meletakkan gelasnya dan mendekati Sasha. Ia membelai pipi Sasha dengan punggung jari-jarinya yang dingin."Malam ini, kau akan membuktikan bahwa kau memang layak menjadi milikku. Tidak ada lagi keraguan. Tidak ada lagi masa lalu."“Apa ini jawaban atas pertanyaan saya tadi, Pak? Anda marah sama saya gara gara saya bertemu Raka?”Bukan menjawab, justru William mencium Sasha dengan kasar, sebuah ciuman yang tidak memberikan ruang untuk bernapas, sebuah penaklukan yang menuntut kepatuh

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 72

    Setelah konferensi pers yang brutal itu, William membawa Sasha ke sebuah penthouse mewah yang terletak di lantai tertinggi gedung miliknya. Ruangan itu luas, dingin, dan minimalis cerminan sempurna dari pemiliknya.William melempar jasnya ke sofa kulit dan membuka dua kancing teratas kemejanya. Ia tidak menoleh pada Sasha saat berbicara."Mulai hari ini, hidupmu di luar sana sudah berakhir," ujar William datar. "Kau dilarang keluar dari gedung ini tanpa seizinku. Semua akses komunikasimu akan dipantau. Ponselmu sudah kuganti dengan perangkat yang telah dipasangi pelacak dan penyadap."Sasha terperangah, rasa takut mulai merayap di punggungnya. "Ini bukan perlindungan, Pak William. Sejak kapan Bapak menjadi seorang hacker? Anda benar-benar membuatku kaget. Ini jadi semacam isolasi! Kau mengurungku!"William berbalik dengan cepat. Dalam dua langkah lebar, ia sudah berada di depan Sasha, menyudutkan gadis itu ke dinding kaca yang memperlihatkan jurang ketinggian kota di bawah mereka. Ia

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 71

    Pagi itu, udara di dalam kamar VIP rumah sakit terasa seberat timah. Bukan karena aroma obat-obatan yang tajam, melainkan karena kehadiran pria yang kini berdiri tegak di depan jendela besar, membelakangi ruangan. William Aditama tampak seperti monolit hitam di tengah cahaya pagi yang pucat. Postur tubuhnya yang kaku dan setelan jas yang tanpa cela memancarkan aura otoritas yang begitu mutlak, seolah oksigen di ruangan itu pun harus meminta izin padanya sebelum bisa dihirup.Sasha baru saja selesai mengancingkan blus sutranya ketika William berbalik. Matanya yang sedingin es menyapu penampilan Sasha dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tidak ada binar kagum, tidak ada kehangatan. Hanya penilaian dingin seorang predator yang sedang memeriksa kondisi aset berharganya."Kau terlambat tiga menit," suara William rendah, namun setiap suku katanya memiliki berat yang menekan dada."Aku hanya perlu memastikan dosis obat Nenek sudah benar sebelum aku pergi—""Aku tidak bertanya tentang alasa

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 70

    William melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka hingga ujung sepatu mereka bersentuhan. Aroma maskulin yang tajam campuran antara kayu cendana, tembakau mahal, dan dinginnya ubin menyerbu indra penciuman Sasha. Pria itu mengulurkan tangan, jemarinya yang panjang dan hangat menelusuri garis rahang Sasha, lalu berhenti untuk mengusap bibir bawah gadis itu dengan ibu jarinya."Harga yang kuminta adalah kepemilikan total," bisik William tepat di depan wajah Sasha. Napasnya yang hangat terasa kontras dengan kulit Sasha yang mendingin karena angin. "Jiwa, raga, dan setiap desah napasmu adalah milikku. Kau mengerti?"Sasha merasakan gelombang panas merambat dari titik di mana ibu jari William menekan bibirnya. Jantungnya berpacu liar. Alih-alih merasa takut, provokasi pria itu justru memicu sesuatu yang sudah lama terpendam dalam dirinya. Suatu keinginan untuk menyerah sekaligus dikuasai."Kalau begitu, ambil pembayarannya sekarang," tantang Sasha pelan, matanya menatap berani ke d

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 69

    William menurunkan tangannya perlahan. Tepukan itu berhenti, tapi efeknya justru seperti palu godam yang menghantam kesadaran Bram.Wajah Bram menegang. Keringat tipis muncul di pelipisnya.“Saya tidak pernah lupa siapa Anda,” jawab Bram kaku. “Anda dosen… dan pengusaha. Tapi ini urusan keluarga saya.”William tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak hangat.“Urusan keluarga?” Ia melirik Nenek Wati yang terbaring pucat, lalu kembali menatap Bram. “Menarik. Karena dari yang saya lihat, keluarga Anda baru datang ketika kontrol atas Sasha mulai lepas.”Ia melangkah maju setengah langkah. Tidak agresif. Justru terlalu tenang.“Duduklah, Pak Bram,” lanjutnya. “Kita bicara seperti orang dewasa. Atau… Anda ingin saya bicara sebagai orang yang punya akses pada penyelidikan kasus Clarissa di kampus, laporan rumah sakit, dan beberapa nama investor yang akhir-akhir ini cukup sering menyebut nama Anda?”“Jadi yang membuat kaca perusahaanku benar-benar kamu?’ Tanya Bram menegang.“anda sedan

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 68

    “Sha…”Suara serak nenek Wati membuat Sasha terlepas dari jerat sang profesor dingin itu. “Ya, Nek. Sasha di sini.”Sasha tidak melihat Mbak Ana di sana. Padahal asisten yang dia sewa menemani sang nenek harus selalu ada di sisi sang nenek yang sakit. Dia belum berani bertanya pada William yang terlihat masih marah saat ini. “Apa kamu datang sama Raka?”William melirik pada Sasha, Sasha berharap langsung pasang badan di depan Nenek Wati. Namun ternyata tidak.“Kalian bertengkar lagi?” tanya Nenek Wati lagi.“Dia sudah berbohong sama nenek dan dia juga sudah membuat masalah besar di kampus Sasha.” “Bohong?”“Iya. Makanya Sasha di sini sama dosen di kampus, biar nenek percaya kalau Raka itu tidak baik selama ini. Dia sering berbohong tentang Sasha.”“Benarkah itu?” Nenek Wati melirik ke arah William.“Ya.” William menjawab meskipun singkat.“Astaghfirullah, maafkan Nenek, Sha.”“Dan Raka itu yang juga membuat asisten nenek harus cuti. Dia membuat Mbak Ana kecelakaan,” ucap William me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status