เข้าสู่ระบบ"Jalan jalan dong, Sayang.” William menggendong dan menciumnya penuh kasih.“Mama ikut?”William menengok pada Sasha,” menurut Arlan, ikut nggak?”“Kalau mama ikut, Arlan mau. Kalau enggak, Arlan gak mau.”“Kenapa?”“Kasihan mama, selama ini mama sudah ngerawat Arlan sendirian, Papa. Ikut ya mama Arlan?”William tersenyum dan mengangguk. Keduanya keluar dan Sasha masih berdiri mematung di sana. Mencerna dengan baik apa yang dilakukan oleh Arlan kepada William.Bunyi klakson mengangetkan Sasha, dia pun mengambil tasnya dan bergegas menyusul keduanya sebelum William memberikan hukuman.Kantor pusat Van Doren Enterprises adalah monumen kaca dan baja yang melambangkan kekuasaan mutlak. Sasha merasa kerdil saat melangkah masuk ke lobi yang luas, dikawal oleh William yang berjalan dengan keangkuhan seorang raja. Para karyawan menunduk hormat, namun Sasha bisa merasakan tatapan penasaran dan bisik-bisik di belakang mereka.Di dalam lift pribadi menuju lantai teratas, keheningan menyelimuti m
"Pak?” Sasha yang berpikir William sudah pergi."Kau pikir dengan mandi air panas selama itu, kau bisa menghapus jejakku dari kulitmu?"Suara berat William memecah kecanggunhan, tepat saat Sasha melangkah keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang masih dibalut jubah mandi putih tebal. William tidak lagi berada di tempat tidur, ia berdiri di dekat jendela besar, membelakangi cahaya bulan, membuat siluetnya tampak seperti raksasa yang siap menelan mangsanya.Sasha tersentak, jemarinya refleks merapatkan kerah jubah di lehernya."Aku hanya ingin merasa bersih, Pak. Apa itu juga dilarang dalam kontrakmu?"William berbalik perlahan. Ia berjalan mendekat, langkah kakinya tidak bersuara di atas karpet bulu yang mahal. "Segala sesuatu tentangmu adalah urusanku sekarang. Termasuk seberapa lama kau menghabiskan waktu di bawah pancuran air."“Satu lagi.” Ia berhenti tepat di depan Sasha, aroma wiski dan maskulin yang tajam segera menyerbu indra penciuman wanita itu. William mengulurkan tangan,
Sasha memekik, matanya terbelalak. Rasa penuh dan sesak itu seketika mengambil alih seluruh kesadarannya. Sudah terlalu lama. William berhenti sejenak, membiarkan tubuh Sasha beradaptasi dengan ukurannya."Kau masih sesempit dulu," geram William, urat-urat di lehernya menegang.Ia mulai bergerak, awalnya perlahan dan dalam, kemudian semakin cepat dan bertenaga. Setiap tumbukan membuat meja ek itu berderit, suara yang beradu dengan napas mereka yang memburu. William mencengkeram pinggul Sasha, memastikan setiap dorongannya mencapai titik terdalam.Sasha merasa seolah jiwanya akan tercerabut. Ia mencengkeram bahu William, kuku-kukunya tertanam di kulit pria itu. Dunia di sekelilingnya memudar; tidak ada lagi dendam, tidak ada lagi kontrak, tidak ada lagi Arlan. Hanya ada gesekan panas, aroma keringat, dan kenikmatan yang menyakitkan."William... lebih... cepat..." Sasha memohon, suaranya parau.William menuruti permintaan itu. Gerakannya menjadi semakin liar, hampir kasar. Ia menciumi w
Sasha terengah-engah, dadanya naik turun dengan ritme yang tidak beraturan. Dorongannya pada dada bidang William hanya membuat pria itu bergeming, layaknya sebuah karang yang dihantam ombak kecil. Ruang kerja yang dingin itu seketika terasa menyesakkan, seolah oksigen di dalamnya telah habis tersedot oleh kehadiran William yang dominan.William menyeka sudut bibirnya dengan ibu jari, sebuah senyum miring yang sarat akan kemenangan tersungging di wajahnya yang tegas. "Tidak benar?" bisik William, suaranya rendah dan serak, bergema di antara rak-rak buku yang menjulang. Sasha memalingkan wajah, benci dengan respon tubuhnya sendiri. "Apa yang tidak benar, Sasha? Bukankah kau yang memulai semua ketidakbenaran ini dengan kebohonganmu bertahun-tahun yang lalu?""Aku melakukannya untuk melindunginya!" balas Sasha sengit, meski matanya masih basah oleh sisa air mata. "Ayahmu adalah pengecut yang menggunakanmu sebagai pion, sekarang kau harus menebusnya," potong William cepat. Ia melangkah
“Papa? Apa dia_”“Ya, dia membohongiku dengan Kematianmu. Dan kamu tahu? Ayahmu tengah membual dan memanfaatkan semuanya demi bisa bahagia bersama anak dan istrinya. Benar benar kebohongan yang luar biasa.Sasha menggelengkan kepala, air mata kini deras mengalir membasahi pipinya yang tirus. Sungguh fi luar prediksi jika ayahnya benar benar memanfaatkan semua keadaan ini. "Lalu sekarang apa? Kau menjadikanku tawanan? Kau menggunakan Arlan untuk membalas dendam?""Arlan adalah anakku. Dia berhak mendapatkan fasilitas terbaik, pendidikan terbaik, dan nama belakang yang sah. Itu bukan balas dendam, itu adalah restorasi," William mencondongkan tubuh, tatapannya menghunus tepat ke manik mata Sasha yang bergetar. "Tapi kau... kau hanyalah 'bonus' yang harus kupelihara agar Arlan tidak rewel. Jangan merasa dirimu terlalu penting hingga aku harus repot-repot menyusun rencana balas dendam yang rumit."Kata-kata itu bagai sembilu yang menyayat jantung Sasha. Ia tak tahu William berbohong. Jika
"Halo, Jagoan. Sudah merasa lebih baik?"“Lumayan, Om sepatu kaca juga baik kah? Kata Mama, Om juga sakit!”“Sepertinya mama kamu salah, Om baik baik saja. Kamu lihat sendiri. Om sehat kan? Bahkan Om bawa hadiah buat kamu.”Mata Arlan membelalak melihat mainan itu. "Wah! Ini untuk Arlan, Om?""Tentu. Kamu senang?”“Senang, makasih, Om.”“Sama sama. Dan mulai besok, panggil Om Papa. Ya?”“Papa?” Arlan tampak bingung, bahkan dia sampai menengok ke arah Sasha. “Emang boleh, Ma, panggil Om sepatu kaca dengan Papa?”Sasha hanya membuang muka, menolak permintaan Willliam sama saja mencari mati.“Kenapa gak boeh? Kamu memang anakku.”“Iyakah? Tapi kata mama, aku gak punya ayah.”“Mulai sekarang, Om akan jadi ayahku.”Arlan tampak takut tapi William memeluknya. “Mamamu sudah memintamu ikut dengan Om. Nanti kamu tidak akan tinggal di kamar sempit lagi. Kamu akan punya kamar yang besarnya seperti lapangan bola, lengkap dengan kolam renang di luar jendelamu. Kau mau?"Arlan menoleh ke arah ibuny







