Share

bab 175

Penulis: Azzura Rei
last update Tanggal publikasi: 2026-04-15 21:52:57

"Apa yang kamu lakukan di sini, Hendri? Bukankah aku menyuruhmu pergi?"

Suara William terdengar seperti gesekan es, tajam dan tanpa emosi, meski ia baru saja melepaskan pelukan singkat dari Sasha yang terbangun karena mimpi buruk. Ia berdiri tegak, membalikkan tubuhnya dengan keangkuhan yang sudah mendarah daging, seolah kelembutan yang ia tunjukkan pada Sasha beberapa detik lalu hanyalah fatamorgana.

"Maaf, Tuan. Saya hanya ingin memastikan jadwal pengamanan berlapis untuk besok pagi."

Willia
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 176

    Jarum jam menunjukkan pukul tiga pagi. William masih belum memejamkan mata. Ia duduk di kursi kulit di samping ranjang Arlan, memerhatikan setiap tarikan napas putranya yang masih dibantu alat pernapasan.Rasa sakit di tangannya yang terbakar mulai berdenyut, namun ia mengabaikannya. Baginya, rasa sakit fisik ini adalah pengingat akan kegagalannya melindungi Arlan di hari kejadian itu. Dia menyentuh kening Arlan pelan, wajah anaknya itu benar benar mirip. Senyum pun terbit dan tidak menyangka jika dia akan mendapatkan keturunan semudah itu.Sasha menggeliat. William beralih menengok ke arah Sasha. Wanita itu tidur di sisi Arlan, menemani di sebelah kiri dengan tangan yang tak lepas di jadi telunjuk Arlan.William hampir menyentuh kepalanya karena membayangkan betapa sedihmya kala melahirkan Arlan tanpa dirinya. Dia tahu, setiap kejam yang dia lakukan pasti ada alasan dan entah kenapa, saat ini hatinya mulai goyah."Tuan William?"Suara lembut itu kembali terdengar. Sasha terbangun den

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 175

    "Apa yang kamu lakukan di sini, Hendri? Bukankah aku menyuruhmu pergi?"Suara William terdengar seperti gesekan es, tajam dan tanpa emosi, meski ia baru saja melepaskan pelukan singkat dari Sasha yang terbangun karena mimpi buruk. Ia berdiri tegak, membalikkan tubuhnya dengan keangkuhan yang sudah mendarah daging, seolah kelembutan yang ia tunjukkan pada Sasha beberapa detik lalu hanyalah fatamorgana. "Maaf, Tuan. Saya hanya ingin memastikan jadwal pengamanan berlapis untuk besok pagi."William tidak menjawab. Ia hanya memberikan isyarat mata yang memerintah Hendri untuk meletakkan berkas itu di meja dan segera angkat kaki. Setelah pintu tertutup rapat, keheningan kembali menguasai ruangan VVIP itu.Sasha masih terduduk di tepi sofa, matanya yang sembap menatap William dengan campuran rasa syukur dan ngeri. Ia mengenal sisi dingin pria ini, namun intensitas kemarahan William terhadap keluarga Bramantyo membuatnya sadar bahwa pria di hadapannya adalah sosok yang bisa menghancurkan hid

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 174

    "Mama? Apa yang terjadi? Kenapa apartemenku disegel?!" Clarissa berteriak histeris, mencoba menerobos petugas yang masih berjaga."Clarissa, berhenti!" Linda menarik lengan putrinya dengan kasar. "Kita harus pergi. Sekarang.""Pergi? Ini rumahku! Papa yang membelikannya untukku! Ini hadiah dari Pak William untukku.”“Justru Dia yang melakukannya. William sudah mengambilnya kembali,” lirih Linda.“Apa? Dia tidak mungkin melakukan ini!" Clarissa meronta, namun saat ia melihat tatapan kosong dan hancur di mata ibunya, keberaniannya surut."Semua ini karena Ayahmu... ayahmu sudah menghancurkan segalanya," bisik Linda dengan suara yang gemetar. "Apa maksud mama?”“Entahlah, mama juga tak mengerti. Tapi, asisten Willliam bilang jika ia menculik Arlan. Dia mencoba meledakkan gudang dengan William di dalamnya. Dan sekarang, William mencabut semua yang pernah dia berikan pada kita. Kita tidak punya apa-apa lagi, Clarissa.”"Tidak, ini tidak mungkin. Kita miskin lagi, Mama,” pekik Clarissa. C

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 173

    William tidak menoleh lagi. Pintu ambulans tertutup, memisahkan kehangatan pelukan Arlan dari dinginnya amarah yang masih berdesir di nadinya. Di dalam ruang medis yang sempit itu, Arlan akhirnya tertidur karena syok dan kelelahan, sementara petugas medis sibuk mengobati luka bakar di telapak tangan William."Tuan, luka Anda cukup dalam," bisik Hendri itu ragu-ragu."Balut saja. Jangan banyak bicara," potong William tanpa mengalihkan pandangan dari wajah putranya.Beberapa jam kemudian, , suasana mencekam masih terasa meski bahaya telah lewat. Sasha berdiri di ambang pintu kamar Arlan, wajahnya sembap. Ia menatap William yang duduk di kursi kayu, menatap kosong ke arah jendela yang menampilkan lampu-lampu kota.“Arlan. Bagaimana kondisinya?”“Dia di rumah sakit bersama Hendri. Kita ke sana sekarang.” Tanpa bertanya lagi, Sasha langsung mengikuti ke mana William membawanya. Begitu sampai di rumah sakit, William baru merasakan perih di tangannya."Dia sudah bangun?" tanya William tanpa

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 172

    Mobil sport William tidak lagi meluncur, ia terbang rendah. Jarum speedometer menyentuh angka 180 km/jam, meliuk di antara truk-truk kontainer menuju kawasan pelabuhan mati. Di sampingnya, pistol yang ia simpan di laci tersembunyi sudah berada di pinggang. "Tuan! Bram masuk ke area pengolahan limbah. Dia memasang barikade! Polisi tertahan karena dia mengancam akan meledakkan tangki gas jika ada yang mendekat!" suara Hendri di telepon terdengar panik oleh deru angin. William tidak mengerem. Ia justru menginjak gas lebih dalam saat melihat gerbang seng gudang di depannya. BRAKKK! Mobil itu menghantam gerbang hingga terpental, menciptakan suara dentuman logam yang memekakkan telinga. William keluar dari mobil sebelum debu sempat turun. Di depannya, di atas platform besi setinggi lima meter, Bram berdiri dengan wajah gila. Arlan diikat di kursi, tepat di bawah pipa uap panas yang meraung. Di tangan Bram, sebuah pemantik api menyala di dekat selang gas yang bocor. "Satu langkah la

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 171

    Dari kejauhan William menonton drama diseretnya Clarissa. Tepat di sisinya, Sasha diminta melihat dengan seksama bagaimana hukum berjalan untuk orang licik seperti Clarissa dan keluarganya.“Kamu kasihan?” tanya William lagi.Sasha hanya menatap tanpa kedip, jemari diletakkan di bawah dagu. Dia tampak melihatnya dengan serius.William mengusap pipi Sasha, membuat Sasha kaget dan langsung menurunkan tangannya. “Tadinya aku ingin menghukumya dengan sesuatu yang lebih pantas, tapi sepertinya tidak perlu. Ada kamu di sini yang harus siap menggantikan hukumannya,” ujar William yang langsung menarik Sasha dalam pangkuan.“A-pa yang kamu lakukan?” tanya Sasha terkejut.“Kamu bukan orang bodoh yang tak tahu bagaimana cara dosenmu ini menghukum muridnya yang licik kan?”William menarik tangan Sasha agar menyentuh dadanya yang bidang. Napas Sasha mendadak memburu, dia tahu maksud William kali ini.“Kita di kantor, Pakl. Apa tidak bisa kita melakukan hanya jika di rumah saja?”Bukannya menjawab

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 152

    "Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya William. “Maaf, Pak. Saya…”“Saya pikir kamu sudah mati. Ternyata, kamu dan ayahmu sama saja. Penipu!” Suara William terdengar rendah, datar, namun ada getaran keterkejutan yang gagal ia sembunyikan sepenuhnya. Tidak ada pelukan hangat, tidak ada kata maaf. H

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 151

    "Aku tahu, Bu. Aku tahu," rintih Sasha.“Kamu harus kuat, demi Arlan. Ibu yakin semua akan baik-baik saja.”Sasha mengusap wajahnya, matanya merah dan sembap. Cahaya lampu neon di koridor rumah sakit memantul di lantai keramik yang dingin, menciptakan suasana yang kian mencekam. "Ibu tahu sendiri

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 150

    Di dalam taksi online yang mereka pesan dengan terburu-buru, Sasha memeluk Arlan erat-erat. Kepala Arlan bersandar di dadanya, terasa begitu panas hingga menembus kaus yang dikenakan Sasha. Sepanjang jalan, Sasha terus membisikkan doa, namun pikirannya terus kembali pada gambar krayon tadi sore."M

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 146

    "Semuanya hancur. Semua gara gara ayah begomu ini, Clarissa!”Clarisa pun dihubungi. Bukan hanya shock, Clarissa pun mendapat imbas dari perbuatan ayahnya. Dia bekerja di perusahaan besar Aditama, membuat dia dalam masalah besar.“Mama gak lagi bercanda kan? Aku baru saja akan naik jabatan.”“Entah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status