FAZER LOGINSasha menelan ludah, mengalihkan pandangan ke arah lembah yang mulai ditelan bayang-bayang malam. Kalimat William barusan bukan sekadar pernyataan ketahanan fisik, melainkan sebuah klaim kepemilikan yang dibungkus dengan nada dingin yang manipulatif. Di bawah tatapan turis yang lalu-lalang, Sasha merasa seolah hanya ada mereka bertiga di balkon itu, terikat dalam ketegangan yang hanya dipahami olehnya dan suaminya.William tidak melepaskan tatapannya. Meskipun suhu di sekitarnya mampu membekukan air, intensitas di matanya justru terasa membakar. Ia menarik Sasha sedikit lebih rapat ke tubuhnya yang kini hanya dibalut kaus leher tinggi, membiarkan istrinya merasakan sendiri betapa kulit lengannya mulai mendingin, sebuah bentuk protes bisu sekaligus umpan agar Sasha merasa bersalah."Arlan sudah hangat sekarang," bisik William tepat di telinga Sasha, suaranya serak dan nyaris tenggelam oleh deru angin. "Tapi aku tidak. Dan kau tahu betul, Sasha, aku tidak suka kedinginan sendirian di te
Raka menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kulit yang dingin, membiarkan tawa parau lolos dari tenggorokannya yang terasa kering. Di ruangan VIP yang remang itu, ia merasa seolah-olah seluruh dunia baru saja bergeser ke bawah telapak tangannya. Ia tidak lagi melihat dirinya sebagai pecundang yang ditinggalkan; ia adalah sutradara dari sebuah tragedi yang naskahnya sedang ia tulis dengan tinta kebencian.“Lihat dirimu sekarang, Clarissa,” ucap Raka sambil melirik wanita di sampingnya yang masih menyesap serutunya.“Dulu Sasha adalah primadona di Golden Velvet. Sekarang? Kamu hanya pion kecil yang kupakai untuk merobek topeng suci saudaramu itu.”Raka merasa sangat beruntung. Pengetahuannya tentang masa lalu kelam di klub malam itu adalah kunci yang membuka semua pintu. Dengan memegang rahasia Clarissa, termasuk keterlibatan adiknya dalam jaringan judi ilegal. Raka tidak perlu mengotori tangannya sendiri. Ia hanya perlu memberikan tekanan sedikit demi sedikit, memaksa sang mucikari
"Gak bisa kayak gini terus. Bagaimana mungkin Sasha tidak bisa aku temui?” tanya Raka dalam hatinya.“Mungkin kamu terlalu lemah di depan William jadi dia tahu modus kamu.” Ali sang predator mengepulkan asap di depan Raka.“Temanmu itu sungguh menjengkelkan, dia selalu sok berkuasa!!”Ali terkekeh, melempar Putung rokok sembarang.“Dia memang penguasa, kamu saja yang rendahan! Seharusnya kamu cari cara yang gak harus melibatkan tanganmu sendiri. Biar gak dimanfaatkan kayak sekarang.”Ali menyesap minumannya, matanya menyipit saat melihat keraguan di wajah Raka. Dia tahu persis kartu as apa yang sedang dia pegang, dan dia sangat menikmati momen saat dia bisa menghancurkan citra yang selama ini diagung-agungkan Raka..“Kamu itu terlalu naif, Raka. Kamu melihatnya sebagai gadis malang yang butuh diselamatkan, sementara William melihatnya sebagai berlian yang baru saja dia ambil dari lumpur,” Ali berbisik, suaranya parau namun tajam..Raka mendongak, matanya memerah. “Apa maksudmu?”Ali t
"Ahh…”Sasha mencengkeram sprei tatami di bawahnya hingga buku-bukunya memutih. Suara William yang biasanya memerintah dengan bariton yang angkuh kini berubah menjadi geraman rendah yang purba. Di tengah temaram lampu kamar yang remang-remang, Sasha melihat sisi lain dari suaminya, seorang pria yang melepaskan seluruh kendali logikanya demi insting.“William... pelan-pelan,” rintih Sasha, namun tubuhnya justru berkhianat dengan melengkung mendekat, seolah haus akan setiap sentuhan yang diberikan pria itu.William tidak menjawab. Dia bukan tipe pria yang mengumbar kata-kata manis di atas ranjang. Baginya, dominasi adalah bahasa cinta yang paling jujur. Lidahnya menelusuri setiap jengkal kulit Sasha, memberikan sensasi terbakar di tengah dinginnya udara Hakone. Saat dia mendongak, matanya bertemu dengan mata Sasha yang berkaca-kaca karena gairah. Ada kilat kepuasan di sana.“Kau yang memintanya, Sasha,” bisik William di depan bibir Sasha. “Jangan meminta ampun sekarang.”Malam itu, kama
Sasha menarik selimut itu erat-erat. Terasa hangat. Sangat hangat. Dan ada aroma William di sana. Sasha tahu, di balik kalimat ketus itu, William hanya tidak tahu cara mengatakan bahwa dia peduli.Diam diam dia tersenyum dan melirik pada William.“Baik gunakan matamu untuk melihat pemandangan di luar sana. Daripada melihat wajah orang lain yang bikin mual,” ucap William lagi dan lagi lagi Sasha merasa menghangat. Sasha tersenyum, lalu membiarkan perasaan aneh tumbuh subur di hatinya. Sesampainya di Tokyo, udara musim dingin langsung menyergap. William berjalan di depan dengan langkah lebar, sementara Sasha menggandeng Arlan di belakang. William sesekali menoleh ke belakang, memastikan jarak mereka tidak terlalu jauh, namun begitu matanya bertemu dengan mata Sasha, dia langsung membuang muka.Mereka menginap di sebuah villa mewah di daerah Hakone yang memiliki pemandangan langsung ke Gunung Fuji. Kamar mereka luas dengan lantai tatami dan aroma kayu cedar yang menenangkan.Malam itu,
"Pagi ini gak kerja?” tanya Sasha yang iseng saat melihat William masih di rumah padahal sudah waktunya bekerja.William melirik saja, lalu menutup tabnya. Dia berdiri, menjauh dari Sasha. Sasha bingung, dia merasa jika William marah padanya. Padahal, dia sudah berusaha untuk menjadi wanita yang patuh.“Mama!” Kedatangan Arlan membuat Sasha berhenti memikirkan hal tentang William. Dia tersenyum dan mengusap kepala Arlan.“Arlan ga sekolah?” “Mama lupa ya hari ini kita mau lanjut liburan?”“Liburan?” tanya Sasha bingung.“Iya, kata papa kita mau ke Jepang.”Sasha terpaku. Kata itu meluncur dari bibir mungil Arlan dengan begitu ringan, seolah itu hanyalah rencana piknik ke taman kota. Matanya segera beralih, mencari sosok William yang kini sudah berada di ambang pintu menuju lantai dua. Punggung pria itu tegap, kaku, dan seolah membentengi diri dari segala jenis percakapan emosional.“Jepang?” gumam Sasha pelan, lebih kepada dirinya sendiri.William tidak berhenti. Dia bahkan tidak m
Beberapa hari berlalu sejak William memastikan kehancuran Raka dan Clarissa hanya tinggal menunggu waktu. Ancaman surat kaleng itu, yang tadinya membuat Sasha ketakutan, kini terasa seperti pemantik api bagi sebuah pesta yang akan datang. Hari itu, sebuah memo elektronik beredar di kalangan fakulta
Mobil William berhenti dengan hentakan yang sangat halus di depan pintu apartemen Sasha. William mematikan mesin, dan keheningan yang mereka bagi setelah klimaks di bahu jalan tol terasa berat, membebani udara. Sasha, yang masih berpakaian seadanya hanya tersisa pakaian dalam menatap William dengan
Mobil William meluncur mulus dari area rumah sakit, membawa Sasha menjauh dari Raka yang semakin dikuasai paranoia. Setelah konfrontasi dingin dan tatapan mengancam William di lobi, Sasha duduk di kursi penumpang dengan perasaan campur aduk. Rasa bersalah karena mengkhianati Raka meskipun Raka pant
“Nenek, aku harus pulang. Ada hal yang harus aku urus,” ucap Sasha yang tidak ingin melihat keributan antara Raka dan William. Bahkan dia takut jika William memberikan hukuman padanya seperti biasa jika membuat kesalahan.“Kenapa buru-buru? Nenek masih rindu kamu, Sha,” ucap Nenek Wati.“Besok Sash







