LOGIN"Gak bisa kayak gini terus. Bagaimana mungkin Sasha tidak bisa aku temui?” tanya Raka dalam hatinya.“Mungkin kamu terlalu lemah di depan William jadi dia tahu modus kamu.” Ali sang predator mengepulkan asap di depan Raka.“Temanmu itu sungguh menjengkelkan, dia selalu sok berkuasa!!”Ali terkekeh, melempar Putung rokok sembarang.“Dia memang penguasa, kamu saja yang rendahan! Seharusnya kamu cari cara yang gak harus melibatkan tanganmu sendiri. Biar gak dimanfaatkan kayak sekarang.”Ali menyesap minumannya, matanya menyipit saat melihat keraguan di wajah Raka. Dia tahu persis kartu as apa yang sedang dia pegang, dan dia sangat menikmati momen saat dia bisa menghancurkan citra yang selama ini diagung-agungkan Raka..“Kamu itu terlalu naif, Raka. Kamu melihatnya sebagai gadis malang yang butuh diselamatkan, sementara William melihatnya sebagai berlian yang baru saja dia ambil dari lumpur,” Ali berbisik, suaranya parau namun tajam..Raka mendongak, matanya memerah. “Apa maksudmu?”Ali t
"Ahh…”Sasha mencengkeram sprei tatami di bawahnya hingga buku-bukunya memutih. Suara William yang biasanya memerintah dengan bariton yang angkuh kini berubah menjadi geraman rendah yang purba. Di tengah temaram lampu kamar yang remang-remang, Sasha melihat sisi lain dari suaminya, seorang pria yang melepaskan seluruh kendali logikanya demi insting.“William... pelan-pelan,” rintih Sasha, namun tubuhnya justru berkhianat dengan melengkung mendekat, seolah haus akan setiap sentuhan yang diberikan pria itu.William tidak menjawab. Dia bukan tipe pria yang mengumbar kata-kata manis di atas ranjang. Baginya, dominasi adalah bahasa cinta yang paling jujur. Lidahnya menelusuri setiap jengkal kulit Sasha, memberikan sensasi terbakar di tengah dinginnya udara Hakone. Saat dia mendongak, matanya bertemu dengan mata Sasha yang berkaca-kaca karena gairah. Ada kilat kepuasan di sana.“Kau yang memintanya, Sasha,” bisik William di depan bibir Sasha. “Jangan meminta ampun sekarang.”Malam itu, kama
Sasha menarik selimut itu erat-erat. Terasa hangat. Sangat hangat. Dan ada aroma William di sana. Sasha tahu, di balik kalimat ketus itu, William hanya tidak tahu cara mengatakan bahwa dia peduli.Diam diam dia tersenyum dan melirik pada William.“Baik gunakan matamu untuk melihat pemandangan di luar sana. Daripada melihat wajah orang lain yang bikin mual,” ucap William lagi dan lagi lagi Sasha merasa menghangat. Sasha tersenyum, lalu membiarkan perasaan aneh tumbuh subur di hatinya. Sesampainya di Tokyo, udara musim dingin langsung menyergap. William berjalan di depan dengan langkah lebar, sementara Sasha menggandeng Arlan di belakang. William sesekali menoleh ke belakang, memastikan jarak mereka tidak terlalu jauh, namun begitu matanya bertemu dengan mata Sasha, dia langsung membuang muka.Mereka menginap di sebuah villa mewah di daerah Hakone yang memiliki pemandangan langsung ke Gunung Fuji. Kamar mereka luas dengan lantai tatami dan aroma kayu cedar yang menenangkan.Malam itu,
"Pagi ini gak kerja?” tanya Sasha yang iseng saat melihat William masih di rumah padahal sudah waktunya bekerja.William melirik saja, lalu menutup tabnya. Dia berdiri, menjauh dari Sasha. Sasha bingung, dia merasa jika William marah padanya. Padahal, dia sudah berusaha untuk menjadi wanita yang patuh.“Mama!” Kedatangan Arlan membuat Sasha berhenti memikirkan hal tentang William. Dia tersenyum dan mengusap kepala Arlan.“Arlan ga sekolah?” “Mama lupa ya hari ini kita mau lanjut liburan?”“Liburan?” tanya Sasha bingung.“Iya, kata papa kita mau ke Jepang.”Sasha terpaku. Kata itu meluncur dari bibir mungil Arlan dengan begitu ringan, seolah itu hanyalah rencana piknik ke taman kota. Matanya segera beralih, mencari sosok William yang kini sudah berada di ambang pintu menuju lantai dua. Punggung pria itu tegap, kaku, dan seolah membentengi diri dari segala jenis percakapan emosional.“Jepang?” gumam Sasha pelan, lebih kepada dirinya sendiri.William tidak berhenti. Dia bahkan tidak m
Raka mematikan keran air, membiarkan keheningan kembali menguasai apartemen mewahnya yang dingin. Bayangan Clarissa di ambang pintu kamar mandi dengan mata sembab dan tubuh yang gemetar karena kelelahan setelah melayani para tamu masih tertancap di benaknya.Raka menatap pantulan dirinya di cermin. Wajah yang sama yang baru saja menjilat William lewat telepon, kini tampak begitu asing. Ia memakai topeng dengan sangat rapi hingga terkadang ia lupa di mana wajah Di Sisi Lain, hiruk pikuk klub malam The Velvet mulai berdenyut. Suara dentum bass yang berat terasa hingga ke tulang, sementara lampu neon ungu dan merah menyayat kegelapan ruangan. Ini bukan kantor mewah atau ballroom hotel tempat para bangsawan berpesta. Ini adalah wilayah abu-abu, tempat dosa dan kesepakatan rahasia berbaur menjadi satu.Clarissa berdiri di depan cermin ruang ganti khusus pemandu lagu. Gaunnya merah marun, sangat ketat, dengan belahan dada yang rendah. Ia menatap wajahnya sendiri yang tersembunyi di balik
Sasha terbangun oleh suara alarm ponselnya. Dia mengucek mata perlahan, lalu melihat jam yang ternyata sudah sangat kesiangan. Dia lupa jika William begitu disiplin dan dia lupa jika Arlan sanb anak berangkat sekolah sangat pagi. Sasha tersentak duduk, jantungnya berdegup kencang saat melihat angka 07:30 terpampang di layar ponselnya. Arlan seharusnya sudah berangkat satu jam yang lalu, dan William... William biasanya sudah berada di meja makan dengan kopi hitam dan koran digitalnya tepat pukul enam pagi."Ya Tuhan, Arlan!" gumamnya panik.Ia segera menyibak selimut sutranya, namun gerakannya terhenti saat merasakan beban dingin di pergelangan tangannya. Gelang emas putih itu berkilau tertimpa cahaya matahari yang masuk melalui celah gorden, mengingatkannya pada kejadian semalam. Tekanan dari logam itu seolah menjadi pengingat bisu bahwa ia bukan lagi pemegang kendali atas hidupnya sendiri.Sasha berlari kecil keluar kamar tanpa sempat mengganti gaun tidurnya, hanya menyambar sebuah
"Kecuali..." Bram menggantung kalimatnya, menatap mobil sport hitam yang semakin mendekat, cahayanya membelah kegelapan malam."Kecuali apa, Ayah?" Sasha meremas tangan Nenek yang terlelap di sampingnya. Ketakutan itu mencengkeramnya lagi, lebih kuat dari sebelumnya. William benar-benar tidak akan
"Oh Tuhan,” gumam Sasha frustrasi, meremas kertas tagihan itu hingga kusut. Jemarinya bergetar. William benar-benar tidak main-main. Ia telah mencabut semua bantuan. Bagaimana aku akan membayar ini? pikirnya, matanya menatap nenek yang terlelap pulas. Aku harus menemukan pekerjaan. Sekarang.Pagi b
Rawat jalan Nenek Wati menjadi aktivitas tambahan Sasha setelah keluar dari penjara William. Pulang ke rumah lama yang dulu dikuasai Clarisa, lalu ke kampus untuk menjadi mahasiswa biasa. Yang lebih menyedihkan, dia harus menjadi gadis yang memiliki banyak musuh saat ini. Dia tahu ini resikonya. Ba
"Mereka sudah tak mungkin mengganggu kita. Kita sudah tak punya apa apa.”“Kata siapa? Bukankah harta yang paling berharga adalah keluarga?”Kalimat terakhir Nenek Wati laksana petir di siang bolong, menghanguskan sisa-sisa ketenangan yang coba Sasha bangun. Clarissa dan Ibu Clarissa. Sosok yang se







