Share

bab 47

Author: Azzura Rei
last update publish date: 2026-01-24 23:14:36

Mobil William berhenti dengan hentakan yang sangat halus di depan pintu apartemen Sasha. William mematikan mesin, dan keheningan yang mereka bagi setelah klimaks di bahu jalan tol terasa berat, membebani udara. Sasha, yang masih berpakaian seadanya hanya tersisa pakaian dalam menatap William dengan mata yang membelalak. William menatapnya balik, tatapannya dingin, posesif, namun ada kilau lembut yang kini lebih sering muncul.

"Masuklah," perintah William singkat. "Kita butuh istirahat."

Sasha m
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 229

    Sasha menahan napas sejenak, merasakan embusan napas William yang hangat menerpa kulit pelipisnya hingga mengirimkan gelenyar halus ke seluruh tubuh. Pertanyaan retoris yang berbisik begitu dekat itu membuat pertahanannya semakin terkikis.Ia melirik ke arah kaca spion depan dengan panik. Meskipun sekat kaca tipis dan profesionalitas supir pribadi William menjamin privasi mereka, posisi tubuh William yang teramat dekat ini tetap saja membuat Sasha merasa sedang melakukan sesuatu yang terlarang di tempat umum."P-Pak William, tolong mundur sedikit," cicit Sasha, mencoba mendorong dada bidang pria itu dengan tangan kirinya yang bebas. Namun, alih-alih bergeser, otot dada William yang keras di balik setelan jas mahalnya justru terasa seperti dinding kokoh yang mustahil dipindahkan.William terkekeh rendah, sebuah suara berat yang menggetarkan rongga dadanya dan terdengar begitu intim di telinga Sasha. Bukannya mundur, tautan jemari mereka di atas armest justru semakin dipererat, mengunci

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 228

    "Salah kirim?" “Hehehe, pis…” Sasha memasang wajah lugunya.Jantung Sasha seolah melompat keluar saat melihat ponselnya kini berada di genggaman tangan besar William. Pria itu membuka layarnya tanpa kesulitan—karena ia tahu kata sandinya dan menatap ruang obrolan mereka."Kalimat ranjang' itu... kamu tujukan untuk siapa lagi kalau bukan untuk aku, hm?" William membaca kembali pesan itu dengan nada datar, namun penuh intimidasi yang sensual.Wajah Sasha seketika memanas, merah padam hingga ke ujung telinga. Ia mencoba merebut ponselnya, namun William dengan mudah mengangkat benda itu tinggi-tinggi, menjauhkannya dari jangkauan Sasha."Pak William, ini di kampus! Kalau ada dosen atau mahasiswa lain yang lewat bagaimana?" bisik Sasha panik, suaranya parau karena menahan malu."Maka dari itu, ikut saya sekarang," ujar William tegas. Ia memasukkan ponsel Sasha ke dalam saku jasnya sendiri, lalu berbalik arah menuju koridor samping yang terhubung langsung dengan area parkir VIP, tempat m

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 227

    Sasha membeku. Suara bariton yang berat, dalam, dan sarat akan otoritas itu sama sekali tidak asing di telinganya. Jantungnya yang baru saja berdegup kencang karena aksi kejar-kejaran dengan Nina, kini serasa berhenti berdetak selama satu detik penuh.Ia mendongak perlahan, menyusuri sepasang sepatu pantofel hitam yang mengilat, celana kain berpotongan sempurna, hingga berakhir pada wajah tegas dengan rahang kokoh yang kini tengah menatapnya datar.William.Pria itu berdiri tegap di koridor kampus dengan setelan jas formalnya, tampak luar biasa mencolok di antara lingkungan para mahasiswa. Di belakangnya, beberapa jajaran dekanat dan rektorat kampus tampak mengekor dengan raut wajah sungkan."P-Pak William?" cicit Nina yang berada beberapa langkah di belakang Sasha. Nyali dosen muda itu seketika menciut. Ia buru-buru menyembunyikan ponsel Sasha di balik punggungnya, wajahnya memucat melihat siapa yang baru saja mereka tabrak.William tidak mengindahkan sapaan Nina. Sepasang mata elang

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 226

    Sasha segera meletakkan ponselnya dengan jantung yang berdegup dua kali lebih kencang dari biasanya. Sesaat setelah pesan itu terkirim, ia baru menyadari apa yang baru saja ia ketik. Matanya membelalak, wajahnya seketika memerah padam hingga ke pangkal leher."Apa yang baru saja kulakukan?" bisiknya pada diri sendiri, napasnya tertahan.Ia ingin sekali menarik kembali pesan tersebut, namun tanda centang biru sudah muncul di sana. William telah membacanya.Detik demi detik berlalu terasa seperti jam. Sasha menatap layar ponsel yang sunyi, tangannya gemetar saat memegang sendok. Ia baru saja menggoda pria yang dikenal paling kaku dan otoriter itu dengan kalimat yang... sangat berani. Mungkin terlalu berani.Ting!Ponselnya bergetar di atas meja kayu. Pesan balasan dari William muncul, singkat dan dingin seperti biasanya, namun entah mengapa Sasha merasa bisa membayangkan seringai tipis di wajah pria itu saat mengetiknya.“Hukumanmu sudah menanti di rumah. Jangan berani mencoba menghinda

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 225

    Shasa memandangi jendela yang penuh dengan embun pagi ini. Senyumnya terbit kala melihat tawa tergambar jelas di wajah Arlan dan Bu Lastri. Ponselnya berdering, William menghubunginya sepagi ini. Entah karena waspada atau rindu, yang jelas Sasha tak mau mempermasalahkan hal itu. Yang terpenting, William sudah mengizinkan dia dan Arlan tinggal bersama Lastri beberapa hari ini.“Lama sekali,” ujar William saat panggilannya terangkat cukup lama oleh Sasha.“Aku sedang merapikan kamar tidur,” kilahnya.“Baru bangun?”“Hm,” jawab Sasha malas.“Jangan lupa hari ini kamu ada kuliah. Meski kamu sedang berada di luar rumah, kamu tak boleh mengulur waktu untuk mendapatkan predikat sarjana Filsafat tahun ini.”“Hm,” jawab Sasha lagi.“Jangan hanya ‘hm’ saja, Sasha. Aku mengawasimu,” suara William terdengar lebih berat di seberang sana, disusul helaan napas pendek. “Arlan sudah sarapan?”Sasha mengalihkan pandangannya kembali ke arah jendela. Di luar, Arlan sedang membantu Bu Lastri menyiram tan

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 224

    Sasha merasakan kenyamanan yang luar biasa berada di ruangan ini. Di sini, di dalam paviliun medis yang terisolasi dari hiruk-pikuk dunia luar, ia merasa seolah menemukan kembali rumah yang sesungguhnya. Tidak ada teror dari Bram, tidak ada tatapan menghakimi dari masyarakat, dan tidak ada ketegangan politik keluarga besar yang melelahkan. Hanya ada mereka bertiga dan bayangan perlindungan William yang terasa sangat nyata mengitari ruangan.Waktu menunjukkan pukul delapan malam ketika Arlan mulai kelelahan. Bocah itu akhirnya tertidur di sofa panjang yang terletak di sudut ruangan, berbantalkan jaket tebal milik Sasha. Suasana kamar kembali hening, hanya menyisakan suara detik jam dinding dan desis pendingin ruangan yang lembut.Sasha berjalan mendekati Bu Lastri yang kini sudah bersandar di ranjang rumah sakitnya. Ia membetulkan letak selimut wol tebal hingga sebatas dada wanita tua itu.Saat melihat wajah sepuh yang mulai memejamkan mata dengan damai, sebuah rasa enggan yang teramat

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 22

    "Sasha! Ngapain kamu melamun di situ? Tamu penting Papa sebentar lagi datang!"Suara melengking Ibu Tirinya, Linda, memecah lamunan Sasha. Wanita paruh baya itu turun dari tangga dengan gaun warna emas yang terlalu mencolok dan perhiasan imitasi yang berlebihan di leher dan pergelangan tangannya. D

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 21

    Clarissa merangkak naik ke kasur lagi, mendekatkan wajahnya ke wajah Raka."Buat dia terlihat kotor, Raka. Buat dia terlihat seperti pelacur yang nggak punya etika. Papa itu orang kuno. Kalau dia tahu putrinya 'rusak', dia bakal coret nama Sasha dari daftar ahli waris seketika. Dan usaha Papa ... b

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 20

    Musik EDM yang memekakkan telinga Raka di club malam. Ia duduk di sudut bar yang remang, mencengkeram gelas vodka-nya seolah ingin meremukkannya."Sialan," umpat Raka, menenggak habis minumannya. Pikirannya dipenuhi bayangan Sasha. Gadis itu semakin sulit dikendalikan. Dulu, Sasha adalah boneka pen

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 19

    "Pak... William..." desah Sasha terputus-putus, suaranya serak."Bukan," William mempercepat temponya, menumbuk titik sensitif Sasha tanpa belas kasihan. "Sebut saya seperti yang seharusnya."Sasha menggeleng, air mata mengalir di pipinya, bercampur dengan keringat. Logikanya berteriak untuk berhen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status