Share

bab 33

Author: Azzura Rei
last update publish date: 2026-01-14 21:26:34

Sasha justru memilih maju mengabaikan larangan William. Jiwa simpatiknya tergali. Otak nya juga lama lama mulai memahami, kenapa William saat itu terlihat stres di club saat baru pertama kali dia jumpai.

"Pergi! Saya bilang pergi! Saya tak ingin melihatmu!" William mencoba mendorong Sasha, tapi tenaganya lemah. Tangannya gemetar hebat.

Sasha menangkap kedua tangan William yang dingin sedingin es. Ia mencengkeramnya erat.

"Lihat aku, William. Lihat aku," perintah Sasha, suaranya tenang namun be
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 226

    Sasha segera meletakkan ponselnya dengan jantung yang berdegup dua kali lebih kencang dari biasanya. Sesaat setelah pesan itu terkirim, ia baru menyadari apa yang baru saja ia ketik. Matanya membelalak, wajahnya seketika memerah padam hingga ke pangkal leher."Apa yang baru saja kulakukan?" bisiknya pada diri sendiri, napasnya tertahan.Ia ingin sekali menarik kembali pesan tersebut, namun tanda centang biru sudah muncul di sana. William telah membacanya.Detik demi detik berlalu terasa seperti jam. Sasha menatap layar ponsel yang sunyi, tangannya gemetar saat memegang sendok. Ia baru saja menggoda pria yang dikenal paling kaku dan otoriter itu dengan kalimat yang... sangat berani. Mungkin terlalu berani.Ting!Ponselnya bergetar di atas meja kayu. Pesan balasan dari William muncul, singkat dan dingin seperti biasanya, namun entah mengapa Sasha merasa bisa membayangkan seringai tipis di wajah pria itu saat mengetiknya.“Hukumanmu sudah menanti di rumah. Jangan berani mencoba menghinda

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 225

    Shasa memandangi jendela yang penuh dengan embun pagi ini. Senyumnya terbit kala melihat tawa tergambar jelas di wajah Arlan dan Bu Lastri. Ponselnya berdering, William menghubunginya sepagi ini. Entah karena waspada atau rindu, yang jelas Sasha tak mau mempermasalahkan hal itu. Yang terpenting, William sudah mengizinkan dia dan Arlan tinggal bersama Lastri beberapa hari ini.“Lama sekali,” ujar William saat panggilannya terangkat cukup lama oleh Sasha.“Aku sedang merapikan kamar tidur,” kilahnya.“Baru bangun?”“Hm,” jawab Sasha malas.“Jangan lupa hari ini kamu ada kuliah. Meski kamu sedang berada di luar rumah, kamu tak boleh mengulur waktu untuk mendapatkan predikat sarjana Filsafat tahun ini.”“Hm,” jawab Sasha lagi.“Jangan hanya ‘hm’ saja, Sasha. Aku mengawasimu,” suara William terdengar lebih berat di seberang sana, disusul helaan napas pendek. “Arlan sudah sarapan?”Sasha mengalihkan pandangannya kembali ke arah jendela. Di luar, Arlan sedang membantu Bu Lastri menyiram tan

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 224

    Sasha merasakan kenyamanan yang luar biasa berada di ruangan ini. Di sini, di dalam paviliun medis yang terisolasi dari hiruk-pikuk dunia luar, ia merasa seolah menemukan kembali rumah yang sesungguhnya. Tidak ada teror dari Bram, tidak ada tatapan menghakimi dari masyarakat, dan tidak ada ketegangan politik keluarga besar yang melelahkan. Hanya ada mereka bertiga dan bayangan perlindungan William yang terasa sangat nyata mengitari ruangan.Waktu menunjukkan pukul delapan malam ketika Arlan mulai kelelahan. Bocah itu akhirnya tertidur di sofa panjang yang terletak di sudut ruangan, berbantalkan jaket tebal milik Sasha. Suasana kamar kembali hening, hanya menyisakan suara detik jam dinding dan desis pendingin ruangan yang lembut.Sasha berjalan mendekati Bu Lastri yang kini sudah bersandar di ranjang rumah sakitnya. Ia membetulkan letak selimut wol tebal hingga sebatas dada wanita tua itu.Saat melihat wajah sepuh yang mulai memejamkan mata dengan damai, sebuah rasa enggan yang teramat

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 223

    Pintu kamar 402 kembali berdesis halus saat Sasha menuntun Arlan masuk. Bocah kecil itu masih tampak setengah mengantuk, matanya yang bulat mengerjap beberapa kali, menyesuaikan diri dengan cahaya matahari pagi yang terang benderang menembus jendela paviliun. Namun, begitu manik matanya menangkap sosok wanita tua yang duduk di kursi roda, seluruh sisa kantuknya lenyap seketika."Nenek Lastri!"Pekikan riang Arlan memecah keheningan ruangan yang semula terasa begitu tegang. Bocah itu melepaskan genggaman tangan Sasha dan berlari kecil, langsung menghambur ke pelukan Bu Lastri. Dengan hati-hati namun penuh kerinduan, ia menyandarkan kepalanya di pangkuan wanita tua itu.Bu Lastri tertawa lirih sebuah suara renyah yang sudah sangat dirindukan Sasha selama beberapa hari terakhir ini. Tangan Bu Lastri yang gemetar dan seputih perak itu mengusap rambut Arlan dengan penuh kasih sayang."Cucu Nenek yang tampan... sudah besar ya sekarang," bisik Bu Lastri, suaranya bergetar menahan haru. Air m

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   222

    Bu Lastri mengangguk pelan, menatap William dengan rasa sayang yang dalam, meski ada sedikit ketakutan di sana. "Nak William sebenarnya senang melihat ibu ada bersamamu, dia sempat khawatir saat kamu dibawa Bram. Ibu sengaja menghilangkan jejak demi keamanan mu dan tugas ibu selesai saat ibu membawamu kembali padanya. Namun, nasib ibu kurang beruntung. Ibu sakit dan harus menjalani perawatan. Dia membawaku ke rumah sakit terbaik, membiayai semuanya, tapi dia memintaku untuk tetap berada di dekatmu dan Arlan tanpa pernah menyebut namanya."Sasha berdiri, langkahnya terasa berat saat mendekati William. "Will? Kenapa? Kenapa kau menyembunyikan ini dariku? Kau membiarkanku menganggap Ibu sebagai malaikat penolong yang datang dari langit, sementara kau... kau berpura-pura membencinya?"William menarik napas panjang, merapikan lengan kemeja linennya yang sebenarnya sudah sempurna, sebuah gestur mekanis untuk menjaga kewibawaannya yang mulai retak. Suaranya terdengar stabil, dingin, namun m

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 221

    Keesokan paginya, langit di atas pegunungan masih berselimut kabut tipis saat mobil SUV hitam milik William membelah jalanan berkelok. Di kursi belakang, Arlan tertidur pulas dengan kepala bersandar pada bantal kecil, sementara di kursi depan, suasana hening menyelimuti. Bukan keheningan yang menyesakkan seperti biasanya, melainkan keheningan yang penuh dengan antisipasi dan beban rahasia yang mulai terkikis.William menyetir dengan rahang yang terkatup rapat, jemarinya terkadang mengetuk kemudi dengan ritme yang tidak beraturan tanda bahwa pria itu sedang berperang dengan kecemasannya sendiri. Sasha, yang duduk di sampingnya, hanya menatap hamparan pohon pinus di luar jendela, tangannya sesekali menyentuh lengan William seolah memberikan jangkar agar pria itu tidak hanyut dalam ketakutannya.Tujuan mereka bukan panti jompo biasa, melainkan sebuah paviliun medis khusus di rumah sakit swasta yang tersembunyi di pinggiran kota. Di sanalah William menyembunyikan masa lalunya, membayarnya

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 146

    "Semuanya hancur. Semua gara gara ayah begomu ini, Clarissa!”Clarisa pun dihubungi. Bukan hanya shock, Clarissa pun mendapat imbas dari perbuatan ayahnya. Dia bekerja di perusahaan besar Aditama, membuat dia dalam masalah besar.“Mama gak lagi bercanda kan? Aku baru saja akan naik jabatan.”“Entah

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 144

    "Banyakk. Termasuk….”William menyesap kopinya perlahan, matanya tidak pernah lepas dari wajah Bramanto yang mulai memucat. Keheningan di ruangan itu terasa mencekik, hanya menyisakan suara detak jam dinding yang seolah menghitung mundur sisa napas ketenangan Bramanto."Tentang golongan darah.Sasha

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 144

    “Jika benar Sasha masih hidup, aku akan balas kebohongan ini!”William menyandarkan kepalanya di sandaran kursi mobil yang empuk, namun pikirannya bekerja dengan kecepatan tinggi. Pantas selama ini dia curiga dengan Bram yang kembali dan meminta belas kasihnya dengan dalih kematian Sasha. Benar ben

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   143

    Ruangan kerja itu sewangi kayu ek dan aroma kopi arabika yang pekat, namun suasananya sedingin es sama seperti pemiliknya. William duduk di balik meja mahoninya yang luas, jemarinya yang panjang mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan irama yang monoton dan presisi. Di kepalanya terisi banyak hal ter

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status