Share

bab 69

Author: Azzura Rei
last update Last Updated: 2026-02-11 22:38:44

William menurunkan tangannya perlahan. Tepukan itu berhenti, tapi efeknya justru seperti palu godam yang menghantam kesadaran Bram.

Wajah Bram menegang. Keringat tipis muncul di pelipisnya.

“Saya tidak pernah lupa siapa Anda,” jawab Bram kaku. “Anda dosen… dan pengusaha. Tapi ini urusan keluarga saya.”

William tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak hangat.

“Urusan keluarga?” Ia melirik Nenek Wati yang terbaring pucat, lalu kembali menatap Bram. “Menarik. Karena dari yang saya lihat, kel
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 69

    William menurunkan tangannya perlahan. Tepukan itu berhenti, tapi efeknya justru seperti palu godam yang menghantam kesadaran Bram.Wajah Bram menegang. Keringat tipis muncul di pelipisnya.“Saya tidak pernah lupa siapa Anda,” jawab Bram kaku. “Anda dosen… dan pengusaha. Tapi ini urusan keluarga saya.”William tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak hangat.“Urusan keluarga?” Ia melirik Nenek Wati yang terbaring pucat, lalu kembali menatap Bram. “Menarik. Karena dari yang saya lihat, keluarga Anda baru datang ketika kontrol atas Sasha mulai lepas.”Ia melangkah maju setengah langkah. Tidak agresif. Justru terlalu tenang.“Duduklah, Pak Bram,” lanjutnya. “Kita bicara seperti orang dewasa. Atau… Anda ingin saya bicara sebagai orang yang punya akses pada penyelidikan kasus Clarissa di kampus, laporan rumah sakit, dan beberapa nama investor yang akhir-akhir ini cukup sering menyebut nama Anda?”“Jadi yang membuat kaca perusahaanku benar-benar kamu?’ Tanya Bram menegang.“anda sedan

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 68

    “Sha…”Suara serak nenek Wati membuat Sasha terlepas dari jerat sang profesor dingin itu. “Ya, Nek. Sasha di sini.”Sasha tidak melihat Mbak Ana di sana. Padahal asisten yang dia sewa menemani sang nenek harus selalu ada di sisi sang nenek yang sakit. Dia belum berani bertanya pada William yang terlihat masih marah saat ini. “Apa kamu datang sama Raka?”William melirik pada Sasha, Sasha berharap langsung pasang badan di depan Nenek Wati. Namun ternyata tidak.“Kalian bertengkar lagi?” tanya Nenek Wati lagi.“Dia sudah berbohong sama nenek dan dia juga sudah membuat masalah besar di kampus Sasha.” “Bohong?”“Iya. Makanya Sasha di sini sama dosen di kampus, biar nenek percaya kalau Raka itu tidak baik selama ini. Dia sering berbohong tentang Sasha.”“Benarkah itu?” Nenek Wati melirik ke arah William.“Ya.” William menjawab meskipun singkat.“Astaghfirullah, maafkan Nenek, Sha.”“Dan Raka itu yang juga membuat asisten nenek harus cuti. Dia membuat Mbak Ana kecelakaan,” ucap William me

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 67

    Langkah Sasha tidak goyah meski teriakan Clarissa masih terngiang di belakangnya. Ia merasakan adrenalin yang aneh, campuran antara kelegaan yang tajam dan rasa hampa yang membeku. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sebagai korban yang gemetar di sudut ruangan. Namun, ia juga sadar bahwa keberaniannya barusan adalah pinjaman. Keberanian itu bersumber dari bayang-bayang besar bernama William.Ia berjalan menuju perpustakaan, mencari sudut yang paling tersembunyi. Ponselnya bergetar di dalam tas. Sebuah pesan singkat masuk tanpa nama pengirim, namun Sasha tahu siapa pemilik nomor itu. "Selesaikan urusanmu dalam sepuluh menit. Mobil menunggu di gerbang samping. Kita ada janji temu sore ini."Sasha menghela napas panjang. "Janji temu?" gumamnya. William tidak pernah memberitahunya tentang agenda apa pun selain kuliah. Tapi itulah William, setiap detik dalam hidup Sasha kini adalah bagian dari grafik yang ia susun di atas meja kerjanya.Sasha tidak menyangka bahwa efek domino dari ge

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 66

    Sasha menghabiskan sarapannya dalam diam. Setiap gerakan terasa diawasi, meski William sudah lebih dulu meninggalkan ruang makan untuk bersiap ke kampus. Denting sendok di piring terdengar terlalu nyaring di telinganya sendiri. Ia tahu, ketenangan ini bukan hadiah, melainkan jeda sebelum kontrol berikutnya diberlakukan sepenuhnya.Ia berangkat satu jam kemudian, sesuai instruksi William. Mobil hitam dengan sopir yang tak banyak bicara menjemputnya tepat waktu. Tidak ada pertanyaan ke mana, tidak ada basa-basi. Semua sudah diatur.Kampus menyambutnya dengan udara pagi yang terasa asing. Tatapan-tatapan itu masih ada berbisik, menilai, mengukur. Namun ada sesuatu yang berubah. Bisikannya tidak lagi liar, tidak lagi berani. Nama Clarissa disebut lebih sering, kali ini dengan nada curiga dan sinis.Sasha berjalan melewati koridor utama dengan langkah mantap, seperti yang William perintahkan. Kepala tegak. Bahu lurus. Ia memaksakan ekspresi netral, meski dadanya bergetar. Setiap langkah te

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 65

    William," kata Sasha, suaranya mantap dan jelas, "Jangan pernah lepaskan aku. Aku milikmu."William tersenyum lebar, senyum yang menunjukkan kemenangan total. Ia mengulang apa yang dia inginkan sampai Sasha merasa lemas tak berdaya.Keheningan kembali menyelimuti kamar William. Bau maskulin yang khas kini bercampur dengan aroma parfum mahal yang terperangkap di antara seprai sutra yang sedikit kusut. Setelah 'ritual' kepemilikan itu, William memeluk Sasha erat, seolah menjaga agar gadis itu tidak kembali menghilang ke dalam kekacauan dunia luar."Sudah selesai," bisik William ke rambut Sasha, suaranya terdengar lelah namun puas. "Semuanya selesai. Raka tidak akan pernah lagi mengganggumu, dan Clarissa harus berurusan dengan ayahnya yang pasti sudah di ambang kehancuran finansial."Sasha hanya bisa memejamkan mata, rasa aman yang tak terhingga membanjiri dirinya. Ia memeluk pinggang William, merasakan detak jantung pria itu yang kini lebih teratur. "Apa yang akan terjadi dengan video i

  • Dalam Dekap Hangat Pak Profesor   bab 64

    "Apa itu, Profesor?" tanya Sasha penasaran, melihat perubahan ekspresi William. Mereka ada di pentahouse setelah selesai dengan urusan William.William menutup tablet itu dengan kasar, matanya kini memancarkan kemarahan yang jauh melampaui amarahnya pada Raka. Ini adalah serangan langsung ke citra publiknya, dan Sasha ada di tengah rekaman itu."Sasha," kata William, suaranya tegang dan berbahaya. "Kamu tahu apa itu permainan kotor?”Ia mencengkeram erat lengan Sasha, menariknya berdiri dengan kekuatan yang mengkhawatirkan. “Apa maksud Bapak?”"Hanya sebuah balasan,” jawabnya.William tidak memberinya waktu untuk menjawab. Ia menarik Sasha menuju pintu kamar tidurnya yang luas, matanya menyala kegelapan yang memikat."Lupakan Raka. Lupakan semua. Sekarang, aku ingin kau tunjukkan padaku betapa kau rela menerima konsekuensinya bersamaku. Karena sebentar lagi, dunia akan menertawakan kebodohan mu!”William mendorong Sasha masuk ke kamar, menutup pintu dengan keras, dan menguncinya. Naf

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status