LOGINSasha memekik, matanya terbelalak. Rasa penuh dan sesak itu seketika mengambil alih seluruh kesadarannya. Sudah terlalu lama. William berhenti sejenak, membiarkan tubuh Sasha beradaptasi dengan ukurannya."Kau masih sesempit dulu," geram William, urat-urat di lehernya menegang.Ia mulai bergerak, awalnya perlahan dan dalam, kemudian semakin cepat dan bertenaga. Setiap tumbukan membuat meja ek itu berderit, suara yang beradu dengan napas mereka yang memburu. William mencengkeram pinggul Sasha, memastikan setiap dorongannya mencapai titik terdalam.Sasha merasa seolah jiwanya akan tercerabut. Ia mencengkeram bahu William, kuku-kukunya tertanam di kulit pria itu. Dunia di sekelilingnya memudar; tidak ada lagi dendam, tidak ada lagi kontrak, tidak ada lagi Arlan. Hanya ada gesekan panas, aroma keringat, dan kenikmatan yang menyakitkan."William... lebih... cepat..." Sasha memohon, suaranya parau.William menuruti permintaan itu. Gerakannya menjadi semakin liar, hampir kasar. Ia menciumi w
Sasha terengah-engah, dadanya naik turun dengan ritme yang tidak beraturan. Dorongannya pada dada bidang William hanya membuat pria itu bergeming, layaknya sebuah karang yang dihantam ombak kecil. Ruang kerja yang dingin itu seketika terasa menyesakkan, seolah oksigen di dalamnya telah habis tersedot oleh kehadiran William yang dominan.William menyeka sudut bibirnya dengan ibu jari, sebuah senyum miring yang sarat akan kemenangan tersungging di wajahnya yang tegas. "Tidak benar?" bisik William, suaranya rendah dan serak, bergema di antara rak-rak buku yang menjulang. Sasha memalingkan wajah, benci dengan respon tubuhnya sendiri. "Apa yang tidak benar, Sasha? Bukankah kau yang memulai semua ketidakbenaran ini dengan kebohonganmu bertahun-tahun yang lalu?""Aku melakukannya untuk melindunginya!" balas Sasha sengit, meski matanya masih basah oleh sisa air mata. "Ayahmu adalah pengecut yang menggunakanmu sebagai pion, sekarang kau harus menebusnya," potong William cepat. Ia melangkah
“Papa? Apa dia_”“Ya, dia membohongiku dengan Kematianmu. Dan kamu tahu? Ayahmu tengah membual dan memanfaatkan semuanya demi bisa bahagia bersama anak dan istrinya. Benar benar kebohongan yang luar biasa.Sasha menggelengkan kepala, air mata kini deras mengalir membasahi pipinya yang tirus. Sungguh fi luar prediksi jika ayahnya benar benar memanfaatkan semua keadaan ini. "Lalu sekarang apa? Kau menjadikanku tawanan? Kau menggunakan Arlan untuk membalas dendam?""Arlan adalah anakku. Dia berhak mendapatkan fasilitas terbaik, pendidikan terbaik, dan nama belakang yang sah. Itu bukan balas dendam, itu adalah restorasi," William mencondongkan tubuh, tatapannya menghunus tepat ke manik mata Sasha yang bergetar. "Tapi kau... kau hanyalah 'bonus' yang harus kupelihara agar Arlan tidak rewel. Jangan merasa dirimu terlalu penting hingga aku harus repot-repot menyusun rencana balas dendam yang rumit."Kata-kata itu bagai sembilu yang menyayat jantung Sasha. Ia tak tahu William berbohong. Jika
"Halo, Jagoan. Sudah merasa lebih baik?"“Lumayan, Om sepatu kaca juga baik kah? Kata Mama, Om juga sakit!”“Sepertinya mama kamu salah, Om baik baik saja. Kamu lihat sendiri. Om sehat kan? Bahkan Om bawa hadiah buat kamu.”Mata Arlan membelalak melihat mainan itu. "Wah! Ini untuk Arlan, Om?""Tentu. Kamu senang?”“Senang, makasih, Om.”“Sama sama. Dan mulai besok, panggil Om Papa. Ya?”“Papa?” Arlan tampak bingung, bahkan dia sampai menengok ke arah Sasha. “Emang boleh, Ma, panggil Om sepatu kaca dengan Papa?”Sasha hanya membuang muka, menolak permintaan Willliam sama saja mencari mati.“Kenapa gak boeh? Kamu memang anakku.”“Iyakah? Tapi kata mama, aku gak punya ayah.”“Mulai sekarang, Om akan jadi ayahku.”Arlan tampak takut tapi William memeluknya. “Mamamu sudah memintamu ikut dengan Om. Nanti kamu tidak akan tinggal di kamar sempit lagi. Kamu akan punya kamar yang besarnya seperti lapangan bola, lengkap dengan kolam renang di luar jendelamu. Kau mau?"Arlan menoleh ke arah ibuny
"Kemiskinan bukan alasan untuk merampas seorang anak dari ibunya!” suara Sasha bergetar, tertahan di antara isak tangis yang mulai pecah. Ia berdiri tegak, meski kakinya terasa seperti jeli di hadapan tatapan tajam William yang menghunjam.William tersenyum menang, sebuah suara penuh amarah yang menyayat udara dingin di ruang ICU tersebut. "Lalu apa alasanmu? Cinta? Cinta tidak membayar tagihan rumah sakit ini, Sasha. Cinta tidak menyediakan sumsum tulang belakang yang baru saja aku berikan. Kau menyebutnya perampasan, aku menyebutnya hutang."Ia memutar roda kursi rodanya sedikit, mendekat ke arah ranjang Arlan yang masih terlelap dalam pengaruh sisa pembiusan. Matanya yang dingin sesaat melunak ketika menatap bocah itu, namun kembali membeku saat ia mendongak menatap Sasha."Kau memalsukan kematianmu, menghilang selama bertahun-tahun, dan membiarkan darah dagingku tumbuh di lingkungan yang bahkan tidak layak untuk anjing peliharaanku. Kau pikir aku akan membiarkannya kembali ke sana
Prosedur transplantasi pada Arlan sedang berjalan, Pak William. Anda harus istirahat," ujar seorang perawat.Namun, William bukanlah pria yang mudah diperintah. Dengan keras kepala, ia meminta kursi roda. Ia menolak untuk tetap berbaring sementara ada sebuah nyawa yang kini membawa bagian dari dirinya di tubuh lain.Malam telah larut ketika William, dengan wajah pucat dan keringat dingin di dahi, didorong oleh perawat menuju ruang perawatan Arlan. Di sana, Sasha sedang duduk di samping ranjang, menggenggam tangan kecil yang terpasang infus.Arlan masih belum sepenuhnya sadar. Wajah bocah itu sangat pucat, hampir menyatu dengan warna sprei rumah sakit. Namun, alat pemantau jantung di sampingnya menunjukkan irama yang lebih stabil dari sebelumnya."Sasha," panggil William lirih.Sasha menoleh, terkejut melihat William sudah berada di sana dengan kursi roda. Ia segera berdiri dan mendekat. "Pak, Anda seharusnya istirahat. Dokter bilang Anda kehilangan banyak energi.""Diamlah," potong W







