ログインUdara di balkon itu mendadak terasa lebih tipis. Nama yang baru saja diucapkan Sasha seolah menjadi belati yang mengiris selaput ketenangan manipulatif yang dibangun William sepanjang malam.William tidak langsung menjawab. Pelukannya pada pinggang Sasha tidak mengendur, namun otot-otot lengannya mengeras, menjadi sekaku besi. Sasha bisa merasakan hembusan napas William yang tertahan di ceruk lehernya, berubah dari hangat menjadi hembusan yang mengirimkan sinyal bahaya ke tulang belakangnya."Kenapa kau menanyakan wanita itu di saat seperti ini?" suara William kini terdengar jauh lebih rendah, ada nada berbahaya yang terselip di balik ketenangan yang dipaksakan."Dia ibu keduaku setelah nenek pergi dan dua juta pengasuh Arlan yang paling baik, William. Dia sudah bersama kita sejak Arlan lahir," Sasha memutar tubuhnya dalam kukungan William, memberanikan diri menatap mata gelap William."Apa yang kau lakukan padanya?"“Kamu sungguh ingin tahu jawabanya?”“Tentu saja.”William melepaska
Setelah seminggu menghabiskan liburan di luar negeri, kini William kembali pada rutinitas awalnya.Sasha berdiri di dapur bersih, menuangkan segelas air mineral ketika langkah kaki yang berat namun teratur terdengar di atas lantai marmer. Tanpa menoleh pun, ia tahu itu William. Pria itu baru saja pulang dari kantor, masih mengenakan kemeja kerja yang lengannya digulung hingga siku, menonjolkan urat-urat tangan yang kuat. "Arlan sudah tidur?" suara William memecah keheningan, rendah dan berat."Baru saja. Dia kelelahan setelah latihan renang," jawab Sasha tanpa berbalik.William mendekat. Ia tidak berhenti sampai tubuhnya berada tepat di belakang Sasha, memerangkapnya di antara meja konter dan dadanya. Ia tidak menyentuh Sasha dengan kasar, tapi kehadirannya terasa seperti gravitasi yang menarik paksa seluruh oksigen di ruangan itu."Kau menghindariku sejak kita mendarat, Sasha," bisik William. Ia meletakkan tangannya di pinggiran meja, mengunci Sasha. "Kenapa? Apa Jakarta tidak cukup
Sasha menelan ludah, mengalihkan pandangan ke arah lembah yang mulai ditelan bayang-bayang malam. Kalimat William barusan bukan sekadar pernyataan ketahanan fisik, melainkan sebuah klaim kepemilikan yang dibungkus dengan nada dingin yang manipulatif. Di bawah tatapan turis yang lalu-lalang, Sasha merasa seolah hanya ada mereka bertiga di balkon itu, terikat dalam ketegangan yang hanya dipahami olehnya dan suaminya.William tidak melepaskan tatapannya. Meskipun suhu di sekitarnya mampu membekukan air, intensitas di matanya justru terasa membakar. Ia menarik Sasha sedikit lebih rapat ke tubuhnya yang kini hanya dibalut kaus leher tinggi, membiarkan istrinya merasakan sendiri betapa kulit lengannya mulai mendingin, sebuah bentuk protes bisu sekaligus umpan agar Sasha merasa bersalah."Arlan sudah hangat sekarang," bisik William tepat di telinga Sasha, suaranya serak dan nyaris tenggelam oleh deru angin. "Tapi aku tidak. Dan kau tahu betul, Sasha, aku tidak suka kedinginan sendirian di te
Raka menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kulit yang dingin, membiarkan tawa parau lolos dari tenggorokannya yang terasa kering. Di ruangan VIP yang remang itu, ia merasa seolah-olah seluruh dunia baru saja bergeser ke bawah telapak tangannya. Ia tidak lagi melihat dirinya sebagai pecundang yang ditinggalkan; ia adalah sutradara dari sebuah tragedi yang naskahnya sedang ia tulis dengan tinta kebencian.“Lihat dirimu sekarang, Clarissa,” ucap Raka sambil melirik wanita di sampingnya yang masih menyesap serutunya.“Dulu Sasha adalah primadona di Golden Velvet. Sekarang? Kamu hanya pion kecil yang kupakai untuk merobek topeng suci saudaramu itu.”Raka merasa sangat beruntung. Pengetahuannya tentang masa lalu kelam di klub malam itu adalah kunci yang membuka semua pintu. Dengan memegang rahasia Clarissa, termasuk keterlibatan adiknya dalam jaringan judi ilegal. Raka tidak perlu mengotori tangannya sendiri. Ia hanya perlu memberikan tekanan sedikit demi sedikit, memaksa sang mucikari
"Gak bisa kayak gini terus. Bagaimana mungkin Sasha tidak bisa aku temui?” tanya Raka dalam hatinya.“Mungkin kamu terlalu lemah di depan William jadi dia tahu modus kamu.” Ali sang predator mengepulkan asap di depan Raka.“Temanmu itu sungguh menjengkelkan, dia selalu sok berkuasa!!”Ali terkekeh, melempar Putung rokok sembarang.“Dia memang penguasa, kamu saja yang rendahan! Seharusnya kamu cari cara yang gak harus melibatkan tanganmu sendiri. Biar gak dimanfaatkan kayak sekarang.”Ali menyesap minumannya, matanya menyipit saat melihat keraguan di wajah Raka. Dia tahu persis kartu as apa yang sedang dia pegang, dan dia sangat menikmati momen saat dia bisa menghancurkan citra yang selama ini diagung-agungkan Raka..“Kamu itu terlalu naif, Raka. Kamu melihatnya sebagai gadis malang yang butuh diselamatkan, sementara William melihatnya sebagai berlian yang baru saja dia ambil dari lumpur,” Ali berbisik, suaranya parau namun tajam..Raka mendongak, matanya memerah. “Apa maksudmu?”Ali t
"Ahh…”Sasha mencengkeram sprei tatami di bawahnya hingga buku-bukunya memutih. Suara William yang biasanya memerintah dengan bariton yang angkuh kini berubah menjadi geraman rendah yang purba. Di tengah temaram lampu kamar yang remang-remang, Sasha melihat sisi lain dari suaminya, seorang pria yang melepaskan seluruh kendali logikanya demi insting.“William... pelan-pelan,” rintih Sasha, namun tubuhnya justru berkhianat dengan melengkung mendekat, seolah haus akan setiap sentuhan yang diberikan pria itu.William tidak menjawab. Dia bukan tipe pria yang mengumbar kata-kata manis di atas ranjang. Baginya, dominasi adalah bahasa cinta yang paling jujur. Lidahnya menelusuri setiap jengkal kulit Sasha, memberikan sensasi terbakar di tengah dinginnya udara Hakone. Saat dia mendongak, matanya bertemu dengan mata Sasha yang berkaca-kaca karena gairah. Ada kilat kepuasan di sana.“Kau yang memintanya, Sasha,” bisik William di depan bibir Sasha. “Jangan meminta ampun sekarang.”Malam itu, kama
"Om, kenapa sepatunya mengkilap sekali? Seperti cermin," celetuk suara kecil yang datang dari arah bawah.William menghentikan langkahnya seketika. Di koridor marmer lantai dua Grand Ballroom yang biasanya steril dari interupsi, suara itu terdengar seperti anomali. William, seorang pria yang dikena
Sasha menatap layar ponselnya dengan tatapan kosong, namun jarinya bergerak cepat. Ia tidak peduli lagi pada harga diri yang sedang diinjak-injak oleh Clara melalui nominal angka. Baginya, uang 500 juta itu bukan sekadar sogokan, melainkan biaya penebusan dosa atas semua hinaan yang ia terima hari
Suasana di dalam ruangan itu mendadak mencekam, oksigen seolah tersedot habis oleh ketegangan yang memuncak. Clara terhuyung, punggungnya menabrak pinggiran lemari kaca tempat penyimpanan instrumen medis hingga menimbulkan bunyi denting logam yang memilukan. Matanya membelalak, bukan hanya karena d
Astaga,” lirih Sasha yang mendadak merasa aneh dengan gerakan anaknya di dalam perut.Sasha terduduk di pinggiran ranjang tuanya yang berderit. Napasnya memburu, sementara sisa-sisa mimpi buruk tadi masih melekat di pelipisnya dalam bentuk butiran keringat dingin. Di kegelapan kamar yang hanya dite







